
[Sumber gambar: https://www.gramedia.com/]
Penulis: Hana Ghina Hanifah
Novel “Laut Bercerita” oleh Leila S. Chudori: Menolak Amnesia Sejarah dalam “Laut Bercerita”
Sastra sering kali menjadi mesin waktu yang paling jujur untuk menjemput ingatan yang dipaksa hilang, dan novel “Laut Bercerita” oleh Leila S. Chudori adalah salah satu monumen pengingat yang paling menyakitkan sekaligus penting untuk dibaca. Melalui narasi yang terbagi antara suara Biru Laut dan Asmara Jati, novel ini tidak hanya sekadar menyuguhkan cerita fiksi tentang aktivis mahasiswa, namun juga membedah luka kolektif bangsa yang hingga kini belum sepenuhnya mengering. Gaya penulisan Leila yang liris namun tajam membawa pembaca masuk ke dalam ruang-ruang gelap interogasi, rasa sakit yang fisik, hingga kesunyian di dasar laut yang menjadi tempat peristirahatan terakhir bagi mereka yang dianggap ancaman oleh penguasa.
Secara analitis, novel ini sangat menarik jika dibedah menggunakan teori Semiotika Ruang. Ruang dalam karya ini bukan sekadar latar tempat, melainkan alat penindasan sekaligus simbol perlawanan. Tubuh para aktivis yang disiksa di dalam sel sempit merupakan representasi dari ruang privat yang diinvasi oleh kekuasaan absolut. Salah satu kutipan yang menggetarkan logika kemanusiaan dalam novel ini adalah: ”Matilah engkau mati, kau akan lahir berkali-kali.” Kalimat tersebut menjadi argumen kuat bahwa ideologi dan kebenaran tidak akan pernah bisa dimusnahkan hanya dengan menghancurkan fisik pembawanya. Kematian tokoh utama justru menjadi benih yang menumbuhkan keberanian bagi karakter lain untuk terus menuntut keadilan.
Kaitan antara fiksi dan fakta di lapangan dalam novel ini terasa sangat menyesakkan. Realitas sosiologis menunjukkan bahwa setiap hari Kamis, keluarga korban penghilangan paksa masih berdiri tegak di depan Istana Negara dalam Aksi Kamisan. Mereka adalah perwujudan nyata dari karakter keluarga dalam novel yang terus menunggu jawaban atas kepastian anggota keluarga mereka yang tidak pernah pulang. Keberadaan gerakan ini membuktikan bahwa isu yang diangkat oleh Leila bukan sekadar nostalgia sejarah, melainkan sebuah kasus hak asasi manusia yang masih terus berjalan dan menuntut penyelesaian nyata dari negara.
Argumentasi mengenai kualitas novel ini juga terletak pada keberanian penulis mengeksplorasi metabahasa yang menggabungkan keindahan diksi dengan kekejaman fakta sejarah. Leila berhasil menghindari jebakan romantisasi penderitaan dengan memberikan porsi yang seimbang pada dampak psikologis keluarga yang ditinggalkan. Hal ini menunjukkan bahwa pelanggaran kemanusiaan memiliki efek domino yang menghancurkan struktur sosial paling kecil, yaitu keluarga. Melalui esai ini, kita bisa menyimpulkan bahwa “Laut Bercerita” adalah sebuah teguran keras bagi bangsa yang sering kali menderita amnesia sejarah, sekaligus pengingat bahwa kebebasan yang kita hirup saat ini berakar pada pengorbanan mereka yang dilarung ke dasar laut.
Secara garis besar, “Laut Bercerita” oleh Leila S. Chudori adalah sebuah novel yang membedah tragedi kemanusiaan dan penculikan aktivis mahasiswa pada tahun 1998. Ceritanya terbagi ke dalam dua bagian besar yang saling berkaitan, bagian yang pertama yaitu Suara Biru Laut (Si Korban). Bagian ini mengambil sudut pandang “Biru Laut”, seorang mahasiswa sastra yang aktif dalam organisasi gerakan mahasiswa di era Orde Baru, cerita berfokus pada aktivitas laut dan teman-temannya dalam melakukan aksi protes, diskusi terlarang, hingga upaya membela petani yang haknya dirampas (Perjuangan Bawah Tanah), bagaimana mereka dikhianati oleh orang dalam kelompok mereka sendiri hingga akhirnya ditangkap dan disekap di sebuah tempat rahasia (Pengkhianatan dan Penangkapan), penggambaran yang sangat detail dan menyakitkan mengenai siksaan fisik dan mental yang mereka alami di penjara bawah tanah demi mendapatkan informasi (Penyiksaan), dan bagian ini diakhiri dengan nasib tragis Laut yang dilarung ke dasar laut dalam kondisi tak bernyawa (Eksistensi di “Dasar Laut).
Untuk bagian yang kedua yaitu Suara Asmara Jati (Keluarga yang Ditinggalkan), bagian ini mengambil sudut pandang adik Laut. “Asmara Jati”, pada tahun 2000-an (setelah reformasi) fokusnya beralih pada Ketidakpastian dan Luka, bagaimana keluarga para aktivis menghadapi kenyataan bahwa anggota keluarga mereka tidak pernah pulang. Ayah dan Ibu Laut digambarkan tetap menyiapkan piring makan untuk Laut setiap minggu karena percaya anaknya masih akan kembali, ada pula Perjuangan Asmara bersama lembaga bantuan hukum dan keluarga korban lainnya (yang terinspirasi dari Aksi Kamisan) untuk menuntut pemerintah agar mengakui keberadaan mereka yang hilang, lalu untuk Penyembuhan Trauma nya dengan bagaimana para penyintas (teman-teman Laut yang dilepaskan) dan keluarga korban mencoba melanjutkan hidup di tengah trauma yang mendalam.
Jadi, novel ini bukan sekadar cerita tentang politik, melainkan tentang “kehilangan”. Ia menceritakan bahwa di balik angka-angka statistik “orang hilang” dalam sejarah, ada manusia yang memiliki hobi, keluarga yang mencintai mereka, dan impian yang dihancurkan secara paksa. Leila S. Chudori merangkainya menjadi pengingat agar kita tidak pernah lupa pada mereka yang “ditiadakan” demi sebuah perubahan besar di negara ini.
Bionarasi Penulis

Nama saya Hana Ghina Hanifah, anak kedua dari dua bersaudara. Saya lahir dan tinggal di Bandung, dengan tempat dan tanggal lahir di Bandung, 1 Maret 2005. Saat ini saya sedang menempuh pendidikan di program studi Bahasa dan Sastra Indonesia, semester 6, angkatan 2023.
Dalam kehidupan sehari-hari, saya memiliki beberapa hobi yang cukup beragam, seperti menonton tontonan yang berbau sastra baik secara langsung maupun melalui YouTube, memasak, bermain game, menulis cerita random, membaca novel, berjalan-jalan, dan kulineran. Saya memilih novel Laut Bercerita karya Leila S. Chudori karena saya tertarik pada karya sastra yang tidak hanya menyajikan cerita, tetapi juga memuat nilai sejarah dan kemanusiaan yang mendalam. Novel ini menarik perhatian saya untuk dianalisis karena mengangkat tragedi sejarah penting pada masa Orde Baru yang sering terlupakan.
Selain itu, novel ini menunjukkan bagaimana bahasa dan alur cerita digunakan untuk menyampaikan kritik terhadap kekuasaan serta membangun empati terhadap para korban. Analisis terhadap novel ini juga penting karena memuat pesan “menolak amnesia sejarah”, sehingga relevan dalam upaya memahami dan mengingat kembali persoalan kemanusiaan di Indonesia.











Tinggalkan Balasan