
[Sumber gambar: Dokumentasi penulis]
Penulis: Ceng Apip Solehudin
Yo, Guys! Pernah nggak sih lo ngerasa capek banget sama rutinitas sekolah yang isinya cuma hafalan rumus, ngejar nilai matematika, atau pusing mikirin tugas sejarah? Emang sih, sekolah itu tempatnya kita diasah buat jadi orang yang cerdas secara intelektual (alias pinter otak). Lo dikasih ilmu pengetahuan se-abrek biar bisa bersaing di dunia luar.
But, wait… Sadar nggak sih, pinter akademis doang itu sebenernya baru setengah jalan?
Ada satu hal penting banget yang sering kelupaan: Kecerdasan Spiritual. Pinter otak itu keren, tapi kalau hatinya kosong, jadinya zombie berjalan. Cerdas spiritual itu simpelnya adalah gimana caranya lo bisa mempraktikkan kebaikan dari ilmu yang lo punya. Bukan cuma buat diri sendiri, tapi juga buat orang lain.
Kenapa Hati Juga Butuh “Sekolah”?
Secara fitrah, kita sebagai manusia tuh punya space di dalam diri kita buat connect sama Sang Pencipta. Buat yang muslim, ini udah jelas banget di-notice di QS. Adz-Dzariyat ayat 56
,وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ
Artinya: “Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.”
Big no! Para ulama ngejelasin kalau ibadah di ayat itu tuh luas banget maknanya. Nggak cuma ritual formal doang, tapi mencakup segala bentuk ketaatan, ketundukan, dan gimana cara kita kenal lebih dekat sama Pencipta kita (istilah kerennya Ma’rifatullah).
Plot twist-nya: Allah itu nggak butuh sama sekali sama ibadah kita, Guys. Mau satu dunia males salat pun, nggak bakal ngurangin keagungan-Nya. Justru sebaliknya, kita yang butuh ibadah itu! Ibadah itu self-care spiritual terbaik yang kita butuhin supaya hidup kita di dunia nggak terombang-ambing, dan punya ‘investasi’ yang aman buat di akhirat nanti.
kalau tujuan kita diciptakan emang buat beribadah.
Jadi, esensi mendidik itu bukan cuma transfer teori dari otak guru ke otak lo. Tapi lebih ke gimana cara melatih, mengarahkan, dan mendidik hati lo. Nah, proses inilah yang dinamakan pendidikan spiritual.
Gimana caranya di sekolah? Biasanya lewat vibes kegiatan keagamaan yang seru dan konsisten, kayak:
- Salat Zuhur berjamaah (biar tetep grounded di tengah sibuknya kelas).
- Salat Duha & kultum bareng (booster energi positif di pagi hari).
- Pembiasaan sedekah (biar makin peka sama sekitar dan nggak egois).
- Peringatan Hari Besar Islam (PHBI) (ajang seru-seruan yang berkah).
Realitanya: The Struggle is Real!
Tapi, jujur-jujuran aja nih, guys. Ngedapetin soul balance kayak gini di lapangan tuh nggak segampang bikin story Instagram. Tantangannya bejibun! Dan plot twist-nya, kadang tantangan itu bukan datang dari magernya siswa, tapi dari lingkungan pendidik itu sendiri.
Apalagi kalau posisinya di Sekolah Negeri. Sering banget muncul mindset atau selentingan kayak:
“Halah, ini kan sekolah umum, bukan sekolah Islam. Nggak usah lebay lah bikin program ginian.”
Statement kayak gitu akhirnya bikin program-program bimbingan spiritual jadi kayak dianaktirikan atau sulit terlaksana. Padahal, mau sekolah umum atau sekolah berbasis agama, yang namanya pembentukan karakter dan pembersihan hati itu hak semua siswa. Sekolah umum bukan berarti kita nge-blank soal nilai-nilai ketuhanan, kan?
So, What’s Next?
Tantangan emang pasti ada, tapi bukan berarti kita harus surrender. Sebagai generasi muda yang smart dan religius, yuk kita mulai dari diri sendiri. Ikut aktif di kegiatan rohis, antusias kalau ada salat jamaah, dan tunjukin kalau anak gaul itu juga bisa punya vibes positif yang deket sama Tuhan.
Yuk, seimbangin antara otak yang cerdas dan hati yang berkualitas! Stay smart, stay spiritual!
Bionarasi penulis
Saya seorang laki laki yang terlahir 39 tahun lalu tepatnya 08-08 – Agustus 1987 mungkin jika dihitung tanggal 08 Agustus 2026 pas 39 tahun, yang dilahirkan dari sorang Ibu yang bernama unung Rohmah dan ayah K.H Amas Badrudin, saya merupakan anak ke 8 dari 9 bersaudara dan juga menikah dengan seorang perempuan anak ke 8 pula dari keluarganya. Ceng Apip Solehudin itulah nama saya, satu nama yang identik dengan satu daerah yaitu Garut yang terkenal dengan panggilan ACENG, memang leluhur saya dari garut waloupun saya dilahirkan dibandung padalarang, tepatnya kampung babakan loa Rt 03 RW 7 desa padalarang kecamatan padalarang, setelah lulus SD hingga SMA saya mengenyam pendidikan formal sambil pesantren di daerah cililin tepatnya kampung saar karang tanjung cililin, nama pondoknya Nurul Falah, maklum semua keluarga dimasukan ke pondok pesantren oleh orang tua. nah dipesantren saya di dik berbagai ilmu bukan hanya ilmu agama saja, akan tetapi dilatih dalam berbagai keahlian, seperti bela diri Karate, kepemimpinan dalam bidang PRAMUKA juga Tak lepas Paskibranya Juga termasuk kemandirian mengurus diri sendiri, masak, nyuci sendiri, manajemen waktu… pada tahun 2006 Lulus dari pesantren, langsung memanfaatkan ilmu Melatih pramuka disekolah tingkat SMP, namun saya berfikir jika hidup dalam lingkup pendidikan maka harus Kuliah, pada Tahun 2009 saya kuliah Jurusan bahasa Indonesia di STKIP Siliwangi yang sekarang dikenal IKIP Siliwangi, namun pada semester 5 tepatnya tahun 2011 ikut tes Beasiswa di UIN Sunan Gunung Jati Bandung dan lulus dapet beasiswa Full, shingga kuliah beralih ke UIN sgd Bandung dan akhirnya menjadi sorang guru di SMA negeri 2 padalarang hingga sekarang.











