
[Sumber gambar: Dokumentasi penulis]
Penulis: Hersy Aprian Fitriadi
Tidak pernah terbayangkan saya akan pergi ketempat yang sangat jauh dari tanah kelahiran, cerita dimulai ketika saya mengikuti program SM3T tahun 2012. SM3T adalah singkatan dari Sarjana Mendidik di daerah Terdepan, Terluar dan Tertinggal, Saya adalah angkatan ke-dua dari program SM3T yang dikeluarkan oleh Kementrian Pendidikan. Awalnya saya tahu program ini dari teman saya SMP juga SMA, dan juga kita sama-sama kuliah di UPI Bandung yang bernama Dominggus Oktavianus Simatupang. Kita dekat ketika organisasi Pramuka di SMAN 1 Padalarang. Dominggus yang saya kenal orang Batak yang sangat Nyunda dari bahasanya, walaupun wajah Batak tapi gaya bicaranya sudah sangat lembut seperti orang sunda mungkin karena dari kecil sudah tinggal di Bandung.
Dominggus kuliah di UPI beda jurusan dan angkatan karena Dominggus tidak langsung masuk kuliah ketika lulus SMA. Saat itu Dominggus memberi info tentang SM3T ketika dia baru lulus kuliah dan saya sudah duluan lulus beberapa bulan. Pada saat itu kita mendaftar sama-sama, saya dan teman saya pun pada saat pertama pendaftaran online tidak langsung lulus. Saat itu pendaftaran online SM3T berupa upload berkas-berkas persyaratan sesuai ketentuan pendaftaran. Saya pun tidak tahu kenapa saat pertama mendaftar tidak lulus bersama teman saya itu. Tetapi tidak lama tiba-tiba dibuka kembali pendaftaran SM3T, saya dan teman saya pun mencoba daftar kembali. Saya mendaftar dari pertama seperti biasa, tetapi saya kaget ketika teman saya bilang tiba-tiba jurusan Pendidikan Teknik Informatikan tidak ada pilihannya untuk mendaftar. Akhir pada saat pengumuman kelulusan pemberkasan online saya lulus ketahap selanjutnya untuk wawancara. Sayang teman saya memberi tahu informasi tentang SM3T ini tidak bisa sama-sama mengikuti program ini karena tidak ada jurusanya.
Ketika saya lihat pengumuman saat itu, saya rasa sedikit aneh kenapa teman-teman saya yang satu angkatan jurusan Pendidikan Kewarganegaraan hanya satu orang yang daftar SM3T. Teman satu angkatan saya hanya ada satu orang perempuan, itu pun yang berbeda kelas dengan saya. Dan hanya ada dua orang perempuan adik kelas saya angkatan 2008 juga yang daftar SM3T dua tahun 2012.
Ternyata program SM3T angkatan kedua saat itu masih sepi peminat. Setelah itu saya harus mengikuti wawancara langsung yang bertempat di kampus UPI Bandung, wawancara yang menanyakan kesiapan saya mengajar dan bertahan hidup di daerah terpencil. Sayapun menjawab dengan kesiapan dan kepasrahan kepada Alloh SWT. dalam hati. Setelah dinyatakan lulus tahap wawancara, kita semua diminta untuk mengikuti prakondisi indoor dari tanggal 24-29 September 2012 dan prakondisi outdoor dari tanggal 30 September sampai 5 Oktober 2012. Saat prakondisi indoor kita banyak menerima materi tentang daerah tempat tugas kita nanti, saat itu saya ingat yang memberi materi ada Kepala Dinas pendidikan Kabupaten Aceh Timur. Dan saat indoor ada juga sesi peer teaching bersama dosen jurusannya masing-masih, materi kepramukaan dan lain-lain.
Pada saat prakondisi outdoor saat itu kita dilatih oleh TNI-AD dari Yon Arhanud 3 selama kurang lebih satu Minggu di CIC (Ciwangun Indah Camp) Parompong Bandung Barat, Kita disana banyak diberi materi mulai dari BDM (Bela Diri Militer), Caraka Malam, sampai halang rintang yang menaiki tali, uji mental,dll. Dengan persiapan yang cukup matang untuk kita tugas di daerah terpencil. Saat prakondisi outdoor kita saling mengenal teman-teman yang berbeda jurusan dan juga berbeda kampus. Kegiatan prakondisi outdoor yang padat dari pagi sampai malam dan banyak kegiatan fisik yang dibimbing oleh pelatih dari Arhanud yang sangat melelahkan. Setelah selesai semua kegiatan prakondisi outdoor, kitapun di bagi oleh pihak kampus penempatan SM3T nya. Kita dari kampus UPI Bandung terbagi dua tempat tugas penempatan, yaitu Aceh Timur Provinsi Aceh dan Kabupaten Kupang Provinsi Nusa Tenggara Timur.
Ketika akan pengumuman penempatan yang menegangkan, saya berfikir kemana kah takdir ini akan melangkah. Akhirnya sayapun kebagian ke Kabupaten Aceh Timur Provinsi Aceh di Pulau Sumatera. Dalam hati inilah perjalan pertama terjauh saya yang saya akan tempuh, dan bakal menjadi perjalanan pertama saya naik pesawat terbang ke Aceh Timur. Pada saat pemberangkatan saya rasa haru ketika harus pamitan dengan kedua orang tua dan adik saya. Kita Berangkat dari Kampus UPI Bandung menggunakan bus menuju Bandara Soekarno Hatta, karena kita tidak berangkat langsung dari Bandara Husen yang ada di Bandung.
Dalam perjalanan bus dari Bandung ke Tangerang saya duduk dengan Kang Geugeut yang Jurusan PJOK dan senior diatas saya satu tahun yaitu angkatan 2006. Saya sedikit cerita dengan Kang Geugeut selama perjalan dari Bandung ke Tangerang, tahu kalau Kang Geugeut orang Baleendah Kabupaten Bandung. Sampai di Bandara Soekarno Hatta saya merasa senang dan sedikit tegang karena ini akan menjadi perjalanan pertama saya naik pesawat terbang. Mulai dari bording pass, timbang barang-barang untuk masuk bagasi pesawat, dan sampai jalan jauh ke gate pintu menuju pesawat, itu adalah hal pertama yang saya rasakan.
Dalam pesawat saya rasa kedinginan dari AC pesawat, ketika mulai mau take off untuk terbang itu rasa yang cukup menegangkan dengan getaran pesawat dan rasa badan yang terangkat tiba-tiba ketika pesawat mulai terbang. Ternyata ketika sudah diatas, tidak banyak getaran seperti naik mobil tetapi telinga saja yang mulai terasa tidak nyaman. Dan baru saya tahu ketika sudah terbang bahwa kita semua nanti turun di Bandara Polonia Medan bukan seperti yang saya fikir di Bandara Banda Aceh. Perjalanan dari bandara Soekarno Hatta menuju Polonia Medan di tempuh dengan waktu kurang lebih dua jam setengah. Setelah sampai di Bandara Polonia Medan kita pun harus menempuh perjalanan darat dari Medan ke Aceh Timur. Dan ternyata jarak dari Medan ke Aceh Timur lebih dekat jarak dan waktu tempuhnyadari pada Banda Aceh ke Aceh Timur. Kalau dari Medan waktu yang di tempuh kurang lebih enam jam perjalanan darat, tetapi kalau dari Banda Aceh sekitar sembilam jam menggunakan bus.
Setelah sampai di Aceh Timur kita di kumpulkan di salah satu sekolah unggulan di Kabupaten Aceh Timur untuk pengumuman tempat tugas masing orang yang ditentukan oleh Dinas Pendidikan Kabupaten Aceh Timur. Ditempat itu juga kita dipertemukan dengan SM3T angkatan pertama dari UPI Bandung yang bertugas di Aceh Timur, disitu juga kita ketemu semua Kepala Sekolah yang dapat penempatan dari peserta SM3T angkatan kedua. Kitapun satu persatu di umumkan nama Masing-masing dan tempat penugasannya di saksikan angkatan pertama SM3T dan seluruh kepala sekolah yang datang.
Terjadi hal yang saya tidak mengerti, ketika di umumkan satu persatu peserta SM3T dan tempat penugasan ada yang diberi tepuk tangan yang meriah oleh SM3T angkatan pertama. Awalnya saya bertanya-tanya kenapa bisa sepeti itu, ternyata semaraknya tepuk tangan itu menandakan dapat sekolah yang tempat tugas sangat jauh dan terpencil. Dan sayapun termasuk dapat tepuk tangan yang semarak karena termasuk tempat tugas terjauh dan terekstrim ke tiga di daerah Aceh Timur, setelah Simpang Jernih dan Sijuk. Daerah paling ekstrim di Aceh Timur adalah Simpang Jernih karena akses ketempat tugas harus lewat sungai tidak ada jalur darat. Kendaraan yang menuju tempat tugas simpang jernih harus menggunakan perahu.
Ketika nama saya disebut dan tempat penugasan yang di sebut SMP Negeri 4 Pantee Bidari, cukup mendapat tepuk tangan yang semarak. Setelah pengumuman itu saya diketemukan dan dengan Kepala Sekolah SMPN 4 Pantee Bidari, Beliau bernama Drs. Abdul Aziz atau sering kita Pak Aziz. Saya pun kenalan dengan teman yang dari Universitas Medan yang sama SM3T penempatan SMPN 4 Pantee Bidari. Nama Doin Putra Padang, saya panggil Bang Doin dan saat itu saya fikir Bang Doin beragama Kristen dan orang suku Padang karena nama belakangnya padang. Bang Doin dan Pak Aziz datang bersama karena memang mau menjemput saya yang bertugas di SMPN 4 Pantee Bidari.
Kita pun naik mobil kepala sekolah teman pak Aziz ke rumah nya Pak Aziz, kita sampai malam hari ke rumah Pak Aziz. Saya kira yang satu penempatan dengan saya hanya Bang Doin saja tetapi ada satu lagi Bang Yudi dari UNIMED. Bang Doin yang saya sangka jurusan PJOK karena badannya berisi ternyata asli jurusan fisika, Bang Doin juga sempat bilang saya tidak nampak kayak orang jurusan fisika ya katanya. Sedangkan satu lagi Bang Yudi jurusan matematika, kedua teman yang satu tempat penugasan ternyata jurusan eksakta dan saya sendiri yang jurusan sosial.
Saat sampai malam hari di ibu kota kecamatan Pantee Bidari, yaitu namanya Gampong Keuda Lhok Nibung. Saya sangka kita diajak ke rumah Pak Aziz pada malam itu, tetapi setalah pagi harinya Bang Doin banyak cerita dengan saya. Bang Doin bilang jangan kaget kalau dengar cerita ini, terus saya bilang iya Bang. Ternyata rumah yang saya datangi itu adalah rumah istri ke tiga nya Pak Aziz, dan itu pun bukan rumah tetapi kontrakan. Pantasan saya bilang dalam hati rumah Kepala Sekolah kenapa sangat kecil dan memang dipetak-petak layaknya rumah kontrakan. Sayapun kaget dan Bang Doin bilang sudah jangan banyak bicara Kang Rian, sayapun bilang iya saja. Istri ke tiga Pak Aziz juga ternyata seorang guru agama di SD dan belum punya anak kata Bang Doin. Bang Doin datang ke Aceh Timur satu minggu lebih cepat dari pada saya sampai. Kata Bang Doin dia pernah diajak ke rumah istri pertama Pak Aziz, istri pertama Pak Aziz ternyata guru SMA dan sudah punya anak yang sudah besar dan tampan.
Sebelum ke tempat tugas, saya sama Bang Doin dan Bang Yudi hampir satu minggu di rumah kontrakan Pak Aziz. Pernah suatu ketika saya di tinggal berdua dengan istri ketiga Pak Aziz dikontrakan, pada saat itu Pak Aziz sedang keluar dan Bang Doin dan Bang Yudi ada kumpul dengan teman-teman SM3T yang dari UNIMED. Pada saat malam saya di suruh istri bapak Kepala Sekolah untuk beli mie karena hari itu ibu tidak memasak.
Saya kira beli mie itu maksudnya beli mie instan biasa, ternyata maksudnya beli mie aceh yang ada jual di warung-warung depan pasar. Ketika saya pulang beli mie instan indomie biasa ibu pun ketawa. Beliau bilang maksudnya beli mie aceh yang sudah matang, saya bilang juga kenapa ibu tidak bilang beli mie aceh. Ternyata saya mulai mengerti bahwa ibu bilang mie saja, karena orang disana sudah cukup bilang mie saja maksudnya mie aceh. Jadi lumayan banyak bahasa Indonesia yang arti dan maksudnya jadi berbeda, jadi saya mulai mengerti ternyata walaupun kita satu negara yang sama Indonesia tetapi ada beberapa kata yang arti dan maksudnya jadi berbeda di Aceh.
Saya, Bang Doin, dan Bang Yudi mulai mempersipan peralatan memasak yang harus di beli untuk kita nanti di tempat tugas. Kitapun patungan uang untuk semua itu, termasuk membeli bahan makanan selama beberapa minggu ke depan. Kita pun sama belanja ke pasar Lhok Nibung, saya pertama ke pasar tidak sedikit bahasa aceh yang saya mengerti dan perasaan tidak ada yang pakai sedikit pun pakai bahasa Indonesia saat itu. Pada saat itu kita sendiri yang belanja pakai bahasa Indonesia, dan ketika bertransaksi dengan pedagang kita sangat susah memahami bahasa Indonesia yang mereka ucapkan karena kental dengan logat aceh dan menurut saya pengucapan yang cepat. Jujur dengan Pak Aziz pun saya kadang-kadang tidak mengerti apa yang di ucapkannya dan perlu satu dan dua kali bertanya balik apa yang di ucapkannya.
Hari yang ditunggupun tiba, akhirnya kita harus berangkat ketempat tugas dengan naik mobil bak terbuka dan penggerak empat roda. Selama perjalanan kita menyusuri daerah Langkahan yang termasuk Kabupaten Aceh Utara. Kita menyusuri irigasi air yang panjang dan besar, dan disampingnya hamparan sawah yang Luas. Setelah itu kita mulai masuk pemukiman warga yang termasuk daerah transmigrasi, dan mulai memasuki kawasan perkebunan Kelapa Sawit. Menyusuri perkebunan kelapa sawit yang luas dan naik turun bukit dengan lawan tanah bercampur sedikit batu. Kitapun melewati yang namanya bukit tengkorak, bukit ini dinamai bukit tengkorak karena menurut Pak Aziz tempat ini adalah tempat pembuangan mayat GAM atau TNI yang meninggal ketika masih terjadi perang di Aceh.
Setelah melewati bukit tengkorak, kilapun harus melewati jembatan besi terapung yang cukup panjang dan menegangkan karena besi kanan dan kiri terpisah untuk roda mobilnya. Kata Pak Aziz jembatan ini dibuat oleh perusahaan Exxon, yaitu perusahaan Ameika yang mengolah minyak bumi dan gas bumi. Pembukaan jalan dari kota menuju SMPN 4 Pantee Bidari juga Exxon yang buka, jadi kalau tidak perusahaan Exxon yang punya kepentingan ke Dusun Sijudo dan Sara Galah mungkin tidak akses jalan ke Dusun tersebut. Jalan yang masih kebanyakan tanah dan dicampur sedikit batu masih gampang amblas kalau musim hujan. Setelah perjalan yang cukup lama akhirnya kitapun sampai di SMPN 4 Pantee Bidari. Sekolah SMPN 4 Pantee Bidari dulu adalah bekas Pos Penjagaan TNI ketika masih perang, daerah Dusun Sijudo termasuk daerah merah karena tempat persembunyian para GAM waktu dulu karena letaknya masih termasuk hutan.
SMPN 4 Pantee Bidari yang baru dua tahun berdiri, baru memiliki dua local kelas saja dan satu kelas disekat untuk kantor. Kitapun ketemu Komite sekolah yang sangat baik, namanya Pak Ismail atau kita sebut Pak Is. Ternyata Pak Is dan lingkungan Dusun Sijudo sudah beda Suku dengan Kepala Sekolah. Ternyata Dusun Sijodo masyarakatnya termasuk Suku Gayo, Suku ini berbeda bahasa dengan Suku Aceh. Jadi siswa-siswa SMPN 4 Pantee Bidari sudah pasti suku nya adalah suku Gayo yang kesehariannya juga menggunakan Bahasa Gayo. Istri Pak Is ternyata keturunan transmigrasian dari Suku Sunda yang katanya tidak tahu dari daerah mana asalnya di Jawa Barat. Seketika itu saya merasa senang karena ada yang satu bahasa dengan saya, tetapi istri Pak Is bilang malu katanya pakai bahasa sunda dengan saya karena bahasa sundanya kasar.
Pak Ismail pada saat itu bilang ketika kalau nanti kita tinggal dikantor SD Negeri Sijudo saja, Jarak dari SMP ke SD kurang lebih 700 meter, dan kita disana tinggal dengan Pemuda asli Sijudo Bang Sahrim dan Hamzah guru honoren SD yang asli orang Sijudo yang baru lulus dari pesantrennya. Kita Semua disana tinggal berlima dikantor SDN Sijodo, saat itu saya merasa senang saja karena merasa banyak teman di daerah terpencil tidak terlalu sepi apalagi ditemani asli pemuda kampong. Pak Is bilang nanti saya yang izin ke Kepala Sekolah SD Negeri Sijudo untuk kalian tinggal di Kantor SD. Kitapun di izinkan tinggal dengan membantu satu hari masing-masing dari kita mengajar di SDN Sijudo.
Awal-awal tinggal disana saya merasa ingin cepat pulang karena mungkin belum adaptasi dengan keadaan lingkungan daerah terpencil. Mulai dari mandi di air rawa, yang pertama aroma dan rasanya berbeda dengan air yang di Bandung. Tetapi seiring jalan nya waktu, yang setiap malam kita cerita bersama, masak bersama, mencuci baju bersama, dan susah senang bersama. Saya rasa mulai dengan dekat dengan Bang Doin, Bang Yudi, Bang Sharim dan Hamzah. Sayapun mulai adaptasi dan apalagi ketika dekat-dekat mau selesai tugas rasanya ingin tetap tinggal dan tugas disitu.
Ketika baru satu bulan tugas ada kejadian yang dilupakan dari SM3T angkatan kita penugasan Aceh Timur. Adanya teman dua orang yang meninggal karena kecelakaan perahu yang tenggelam. Yang meninggal tenggelam yaitu Teh Winda jurusan Matematika dan Kang Geugeut jurusan PJOK yang dulu pernah sama satu kursi bus ketika perjalanan dari Bandung menuju Jakarta. Mereka berdua mendapat tugas di Simpang Jernih, yaitu tempat yang terekstrim karena harus menggunakan perahu menyusuri sungai. Kita semua sangat berduka, dan kitapun menjadi lebih dekat satu angkatan SM3T angkatan kedua UPI Bandung setelah kejadian tersebut. Kejadian tersebut menjadi berita Nasional tentang Guru SM3T yang penempatan Aceh Timur tenggelam dalam perjalanan ke tempat tugas pada tahun 2012.
Demikianlah sedikit cerita tentang pengalaman saya selama tugas di Aceh Timur, rasa susah senang yang telah saya rasakan disana menjadi pengalaman yang tidak terlupakan di tanah rencong.
Bionarasi Penulis
Nama lengkap saya Hersy Aprian Fitriadi, nama panggilan Rian. Lahir di Cimahi, 26 April 1990. Asli orang sunda yang tinggal di Kp. Situ Saeur Padalarang Bandung Barat. Lulusan UPI Bandung Jurusan Pendidikan Kewarganegaraan, yang pernah menjalani Takdir Alloh SWT. Mengajar SMP di Aceh Timur selama satu tahun dan mengajar SD di Kepulauan Aru Maluku selama kurang lebih sembilan tahun. Alhamdullillah baru bisa mutasi ke SMAN 2 Padalarang, yang baru bertugas selama empat bulan. Selama sembilan tahun LDR dengan anak istri merupakan cobaan yang sangat menguras perasaan dan air mata. Inilah takdir terbaik untuk saya untuk merasakan semua cobaan dari-Nya.












Tinggalkan Balasan