Literatura Nusantara

Membumikan Sastra Melangitkan Kata

Syukur atas Nikmat Menjadi Guru

[Sumber gambar: Dokumentasi penulis]

Penulis: Ai Sri Rohayati

Pagi itu, seperti pagi-pagi sebelumnya, saya kembali melangkahkan kaki menuju sekolah. Tidak ada yang terlalu istimewa dari perjalanan itu. Jalan yang sama, suasana yang hampir selalu sama, dan rutinitas yang terus berulang dari hari ke hari. Namun, setiap kali melewati gerbang sekolah, ada satu hal yang selalu saya rasakan: syukur.

Saya sering bertanya kepada diri sendiri, sebenarnya apa yang membuat saya begitu bersyukur?

Hidup saya sederhana. Tidak ada kemewahan yang perlu dipamerkan, tidak pula pencapaian luar biasa yang harus dibanggakan. Tetapi saya merasa memiliki sesuatu yang jauh lebih berharga, yaitu kesempatan untuk menjalani hidup sebagai seorang guru.

Saya bersyukur kepada Allah atas segala nikmat yang diberikan-Nya. Di antara begitu banyak nikmat yang hadir dalam kehidupan, pekerjaan adalah salah satu yang paling saya syukuri. Allah mempercayakan kepada saya sebuah profesi yang mulia: menjadi guru.

Bagi sebagian orang, menjadi guru mungkin hanya sebuah pekerjaan. Datang ke sekolah, mengajar, memberikan tugas, memeriksa pekerjaan siswa, lalu pulang. Begitu seterusnya. Namun, bagi saya, menjadi guru jauh lebih besar daripada sekadar rutinitas untuk mendapatkan penghasilan. Menjadi guru adalah amanah.

Setiap kali saya membuka pintu kelas, ada 42 pasang mata yang memandang ke arah saya. Tatapan mereka kadang penuh semangat, kadang mengantuk, terkadang bahkan membuat saya harus menarik napas panjang. Di antara wajah-wajah itu, saya melihat anak-anak dengan karakter, masalah, impian, dan masa depan yang berbeda-beda.

Saat itulah saya kembali diingatkan bahwa saya tidak sekadar berdiri di depan kelas untuk menyampaikan pelajaran. Ada tanggung jawab besar yang ikut berdiri bersama saya: mencerdaskan, menguatkan, dan menuntun mereka.

Saya mungkin tidak selalu mampu memberikan jawaban untuk semua persoalan mereka. Saya juga bukan guru yang sempurna. Ada kalanya saya lelah, kehilangan kesabaran, atau merasa apa yang saya lakukan belum memberikan hasil seperti yang diharapkan. Namun, setiap kali keraguan itu datang, saya kembali mengingat bahwa menjadi guru adalah sebuah kepercayaan.

Dan untuk sebuah kepercayaan, saya hanya bisa berusaha menjalaninya sebaik mungkin.

Allah pun ternyata tidak pernah membiarkan saya berjalan sendirian. Dalam perjalanan menjadi guru, saya dipertemukan dengan rekan-rekan kerja yang baik. Mereka hadir bukan sekadar sebagai teman di tempat kerja, tetapi juga sebagai orang-orang yang membuat perjalanan ini terasa lebih ringan.

Ada yang mengingatkan ketika saya lupa. Ada yang membantu ketika pekerjaan terasa terlalu banyak. Ada yang datang ketika saya sedang kewalahan. Bahkan ada yang diam-diam mendoakan tanpa pernah saya ketahui.

Dari mereka saya belajar bahwa menjadi guru tidak harus selalu kuat seorang diri. Ada kalanya kita membutuhkan tangan orang lain untuk membantu mengangkat beban yang terasa berat.

Lingkungan sekolah yang baik juga menjadi salah satu nikmat yang sering kali saya abaikan. Ketika orang-orang di sekitar saling mendukung, hati menjadi lebih tenang. Mengajar pun terasa lebih ringan. Mungkin itulah cara Allah menunjukkan kasih sayang-Nya kepada saya—melalui orang-orang baik yang ditempatkan di sekitar saya.

Kini, di usia saya yang tidak lagi muda, cara pandang saya terhadap kehidupan pun perlahan berubah. Dahulu mungkin saya masih mengejar banyak hal. Jabatan, popularitas, pengakuan, atau keinginan untuk dianggap berhasil. Namun, semakin bertambah usia, saya justru semakin memahami bahwa tidak semua yang terlihat besar di mata manusia memiliki arti besar di hadapan Allah.

Saya tidak lagi ingin terlalu sibuk mengejar dunia.

Yang saya inginkan sekarang sederhana: menjadi guru yang mampu mendidik dengan kasih sayang.

Saya tahu, mendidik dengan kasih sayang bukanlah perkara mudah. Ada murid yang sulit diatur. Ada kelas yang terkadang begitu riuh hingga kesabaran terasa berada di ujung batas. Ada tugas yang menumpuk dan pekerjaan administratif yang seolah tidak pernah selesai. Ada pula masalah-masalah pribadi yang terkadang harus disimpan rapat-rapat agar tidak mengganggu tugas di depan kelas.

Ada hari-hari ketika saya pulang dengan tubuh yang sangat lelah.

Namun, semua rasa lelah itu sering kali hilang hanya karena sebuah kalimat sederhana.

“Terima kasih, Bu.”

Atau ketika seorang siswa berkata dengan polos, “Kami sayang, Bu.”

Lebih mengharukan lagi ketika suatu hari seorang alumni datang kembali ke sekolah. Bukan untuk meminta sesuatu, bukan pula karena ada kepentingan tertentu. Ia hanya datang untuk menyapa, mengingat masa lalu, lalu memeluk gurunya.

Pada saat-saat seperti itu, saya tersadar bahwa ternyata ada bentuk gaji yang tidak bisa dihitung dengan uang.

Gaji itu adalah kenangan.

Gaji itu adalah doa.

Gaji itu adalah rasa hormat yang tetap tumbuh meskipun waktu telah membawa murid-murid saya pergi jauh dari ruang kelas.

Mungkin kelak saya tidak akan meninggalkan gedung megah. Saya juga mungkin tidak memiliki harta yang berlimpah untuk diwariskan. Nama saya barangkali tidak akan dikenal banyak orang. Namun, saya memiliki sebuah harapan kecil: semoga setelah saya tidak lagi berdiri di depan kelas, masih ada murid-murid yang mengingat saya dalam doa-doa baik mereka.

Saya ingin dikenang bukan karena seberapa hebat saya mengajar, tetapi karena pernah berusaha mengajar dengan tulus.

Sebab pada akhirnya, seorang guru mungkin tidak selalu dikenang karena banyaknya materi yang disampaikan. Tetapi ia akan selalu memiliki tempat di hati murid ketika pernah membuat mereka merasa dihargai, didengarkan, dikuatkan, dan dipercaya.

Dari sanalah saya semakin memahami bahwa menjadi guru bukan tentang seberapa tinggi kita berdiri di depan murid, melainkan seberapa besar kita bersedia menunduk untuk memahami mereka.

Saya pun masih belajar.

Belajar untuk lebih sabar.

Belajar untuk lebih ikhlas.

Belajar memaafkan kesalahan.

Belajar menerima bahwa tidak semua murid akan berubah sesuai dengan harapan saya.

Dan yang paling penting, saya belajar bahwa mendidik bukanlah tentang mengubah seorang anak menjadi seperti yang kita inginkan, melainkan membantu mereka menemukan jalan untuk menjadi versi terbaik dari dirinya.

Mungkin suatu hari nanti saya akan meninggalkan sekolah ini. Papan tulis akan berganti. Ruang kelas akan diisi oleh guru yang lain. Nama-nama siswa yang pernah saya ajar mungkin akan semakin banyak yang saya lupa. Namun, saya berharap ada sedikit kebaikan yang pernah saya tanam dan tumbuh dalam kehidupan mereka.

Jika kelak ada seorang mantan murid yang mengingat saya dan berkata, “Dulu ada seorang guru yang pernah membuat saya percaya bahwa saya bisa,” saya rasa itu sudah lebih dari cukup.

Sebab sebaik-baik kehidupan bukanlah tentang seberapa banyak yang kita miliki, tetapi tentang seberapa banyak manfaat yang mampu kita tinggalkan.

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.”

Karena itu, selama Allah masih memberikan saya kesempatan untuk berdiri di depan kelas, saya ingin terus mengajar dengan hati. Saya ingin terus belajar menjadi guru yang lebih sabar, lebih ikhlas, dan lebih penuh kasih sayang.

Saya tidak tahu sampai kapan perjalanan ini akan berlangsung. Saya hanya berharap ketika suatu hari Allah memanggil saya pulang, saya telah menjalankan amanah ini dengan sebaik-baiknya.

Semoga langkah-langkah kecil saya di ruang kelas menjadi bagian dari amal yang tidak berhenti ketika saya berhenti mengajar.

Semoga setiap ilmu yang pernah saya sampaikan menjadi kebaikan yang terus mengalir.

Semoga setiap nasihat yang pernah saya berikan menjadi bekal bagi mereka.

Dan semoga setiap murid yang pernah saya didik tumbuh menjadi manusia yang baik dan bermanfaat bagi sesamanya.

Jika itu semua terjadi, saya tidak membutuhkan penghargaan apa pun lagi.

Cukuplah Allah menjadi saksi bahwa saya pernah berusaha menjalankan amanah ini dengan segenap hati.

Alhamdulillah atas nikmat menjadi guru.

Alhamdulillah atas setiap lelah yang mengajarkan keikhlasan.

Alhamdulillah atas setiap murid yang mengajarkan kesabaran.

Dan alhamdulillah atas kesempatan untuk menjadi bagian kecil dari perjalanan hidup mereka.

Semoga saya bisa terus bermanfaat sampai Allah memanggil saya dalam keadaan rida kepada-Nya.

Aamiin Ya Rabbal ‘Aalamiin.

Ditulis oleh: Seorang Guru SMA yang sedang belajar ikhlas dalam segala hal.

Bionarasi Penulis

Aisyah, mereka memanggil aku dengan nama itu, aku seneng dipanggil Aisyah karena sama dengan nama salah  satu istri Nabi Muhammad S.A.W . Sejak tahun 2000 aku bekerja di Instansi Pemerintah dalam bidang pendidikan sebagai tenaga kependidikan sampai tahun 2021, lalu tahun 2022 aku diberi amanah untuk menjadi seorang pendidik di salah satu sekolah yang ada di KBB , lalu tahun 2026 Alhamdulillah aku bisa relokasi ke sekolah yang dekat dengan tempat tinggal aku. “Nikmat manalagi yang aku dustakan“. O Iya…Ai Sri Rohayati nama aku yang tercatat di semua dokumen, tempat lahirku  di Bandung tanggal dua belas pebruari tahun seribu sembilan ratus tujuh puluh lima.


Eksplorasi konten lain dari Literatura Nusantara

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Categories:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *