
[Sumber gambar: Gemini AI]
Penulis: Patimah Suningsih
Pentingnya Kemampuan Literasi dalam Proses Pembelajaran Kimia
Ilmu kimia merupakan cabang ilmu pengetahuan yang memiliki kekhasan tersendiri, terutama dalam berbagai istilah kimia yang dipergunakan dalam konsep-konsep kimia yang hanya dapat ditemukan dalam materi kimia yang belum tentu dapat ditemukan dalam cabang ilmu lainnya.
Bagi siswa SMA, terutama kelas X, istilah-istilah yang ditemukan banyak yang merupakan hal baru yang mungkin akan sulit diingat. Padahal, tuntutan dari kurikulum deep learning, siswa diharapkan memiliki pemahaman yang mendalam, bahkan mampu memecahkan berbagai permasalahan dalam kehidupan sehari-hari serta mampu mengaplikasikannya dalam berbagai penemuan dan inovasi baru yang bermanfaat bagi sesama manusia di muka bumi ini.
Untuk memudahkan mengingat istilah baru tersebut, siswa harus terbiasa melatih menggunakan empat keterampilan berbahasa, yaitu kemampuan membaca, menulis, menyimak, serta mengomunikasikan, baik dalam proses tanya jawab maupun presentasi dalam diskusi kelompok.
Tahapan pertama adalah ketika siswa membaca, akan terjadi satu kali transfer ilmu dari sumber ilmu ke dalam otak siswa. Begitu pun pada tahap-tahap berikutnya, seperti menulis, menyimak penjelasan dari guru, ataupun ketika proses tanya jawab dan diskusi, maka akan terjadi empat kali proses transfer keilmuan dalam otak siswa sehingga diharapkan melalui pembiasaan proses seperti itu siswa dapat berkembang kemampuan berpikirnya sesuai tujuan pembelajaran yang diharapkan oleh kurikulum.
Mengingat menurunnya kemampuan siswa dalam berliterasi akhir-akhir ini, marilah selalu melatih empat keterampilan berbahasa dalam setiap proses pembelajaran, terutama untuk mempelajari ilmu kimia.
Pembelajaran kimia tidak cukup hanya dengan menghafalkan istilah, rumus, atau konsep. Siswa perlu memahami makna dari setiap istilah yang dipelajari agar pengetahuan tersebut tidak berhenti sebagai hafalan semata. Kemampuan literasi dapat membantu siswa menghubungkan istilah kimia dengan konsep yang sedang dipelajari sehingga materi terasa lebih mudah dipahami dan tidak cepat dilupakan.
Membaca menjadi langkah awal yang penting dalam membangun pemahaman tersebut. Ketika siswa membaca materi kimia, mereka tidak hanya melihat kumpulan kata dan istilah, tetapi juga berusaha menemukan informasi penting yang terdapat di dalamnya. Kebiasaan membaca secara teliti akan membantu siswa mengenali istilah-istilah baru dan memahami hubungan antara satu konsep dengan konsep lainnya.
Setelah membaca, siswa dapat menuangkan kembali apa yang dipahaminya melalui kegiatan menulis. Menulis dapat menjadi cara sederhana untuk mengetahui sejauh mana siswa memahami materi yang telah dipelajari. Misalnya, siswa dapat menuliskan kembali pengertian suatu konsep dengan bahasanya sendiri, membuat rangkuman, atau menjelaskan proses yang terjadi dalam suatu materi kimia.
Kegiatan menyimak juga tidak kalah penting. Penjelasan guru sering kali memberikan pemahaman yang lebih luas terhadap materi yang sedang dipelajari. Dengan menyimak secara aktif, siswa dapat menangkap informasi yang mungkin belum mereka pahami ketika membaca. Karena itu, suasana pembelajaran perlu memberikan kesempatan kepada siswa untuk benar-benar mendengarkan, memahami, dan mencatat hal-hal penting dari penjelasan yang diberikan.
Selanjutnya, kemampuan mengomunikasikan apa yang telah dipelajari menjadi bagian penting dalam proses literasi. Ketika siswa menjawab pertanyaan, berdiskusi, atau melakukan presentasi, mereka belajar menyampaikan gagasan secara runtut dan dapat dipahami oleh orang lain. Pada tahap ini, siswa tidak hanya belajar berbicara, tetapi juga belajar mempertanggungjawabkan pemahamannya terhadap materi kimia.
Diskusi kelompok dapat menjadi salah satu cara untuk membiasakan siswa menggunakan kemampuan literasi secara bersamaan. Siswa dapat membaca materi, menuliskan hasil pemahamannya, menyimak pendapat teman, kemudian mengomunikasikan hasil diskusi di depan kelas. Proses tersebut membuat pembelajaran menjadi lebih aktif karena siswa tidak hanya menerima informasi dari guru, tetapi juga terlibat dalam membangun pemahamannya sendiri.
Pada akhirnya, kemampuan literasi merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari pembelajaran kimia. Istilah-istilah kimia yang pada awalnya terasa asing dapat menjadi lebih mudah dipahami apabila siswa dibiasakan membaca, menulis, menyimak, dan mengomunikasikan materi secara berulang dalam proses pembelajaran. Dengan pembiasaan tersebut, siswa diharapkan tidak hanya mampu mengingat konsep kimia, tetapi juga mampu memahami, menjelaskan, dan menggunakannya dalam kehidupan sehari-hari.
Oleh karena itu, mari menjadikan literasi sebagai bagian dari setiap proses pembelajaran kimia. Guru tidak hanya mengajarkan konsep dan rumus, tetapi juga memberikan ruang kepada siswa untuk membaca, menulis, menyimak, bertanya, berdiskusi, dan menyampaikan gagasan. Dengan demikian, pembelajaran kimia dapat menjadi proses yang lebih bermakna sekaligus membantu siswa mengembangkan kemampuan berpikir yang diperlukan untuk menghadapi berbagai persoalan kehidupan.










