Literatura Nusantara

Membumikan Sastra Melangitkan Kata

Pendidikan Karakter Harus Tuntas di Pendidikan Dasar, SMA Menjadi Tahap Penguatan

[Sumber gambar: https://www.quipper.com/]

Penulis: Teti Andriani, S.Pd.

Setiap kali muncul berbagai persoalan yang melibatkan peserta didik, mulai dari perundungan, rendahnya kedisiplinan, kurangnya rasa hormat kepada guru, hingga penyalahgunaan media sosial, perhatian publik hampir selalu tertuju kepada jenjang pendidikan menengah atas. Sekolah menengah sering kali dianggap sebagai pihak yang gagal membentuk karakter peserta didik. Padahal, jika dicermati lebih mendalam, karakter bukanlah sesuatu yang dapat dibangun secara instan dalam waktu tiga tahun di bangku SMA. Karakter merupakan hasil dari proses panjang yang dimulai sejak anak lahir, diperkuat dalam lingkungan keluarga, kemudian dibentuk secara sistematis pada jenjang pendidikan usia dini dan sekolah dasar.

Sebagai seorang guru SMA, saya berpendapat bahwa pendidikan karakter seharusnya telah selesai dibentuk pada jenjang pendidikan dasar. Ketika seorang peserta didik memasuki SMA, tugas sekolah bukan lagi membentuk karakter dari nol, melainkan memperkuat karakter yang telah tumbuh sehingga menjadi kebiasaan yang melekat dalam kehidupan sehari-hari. Perbedaan antara membentuk dan memperkuat karakter sering kali tidak dipahami secara utuh, sehingga muncul ekspektasi yang kurang realistis terhadap sekolah menengah.

Pembentukan karakter memiliki makna menanamkan nilai-nilai dasar yang menjadi fondasi kehidupan seseorang. Nilai-nilai seperti kejujuran, disiplin, tanggung jawab, rasa hormat, kepedulian, empati, kerja sama, dan kemandirian idealnya mulai ditanamkan sejak anak berusia dini. Pada masa inilah perkembangan otak, emosi, dan perilaku anak berlangsung sangat cepat sehingga setiap kebiasaan yang dilakukan secara berulang akan menjadi bagian dari kepribadiannya.

Berbagai penelitian perkembangan anak menunjukkan bahwa usia dini hingga sekolah dasar merupakan masa emas pembentukan kebiasaan. Anak-anak belajar melalui contoh, pengulangan, pembiasaan, serta lingkungan yang konsisten. Mereka belum banyak dipengaruhi oleh tekanan kelompok sebaya sebagaimana yang terjadi pada masa remaja. Oleh karena itu, proses internalisasi nilai menjadi lebih mudah dilakukan dibandingkan ketika anak telah memasuki usia SMA.

Di sekolah dasar, guru masih memiliki kesempatan yang luas untuk mendampingi hampir seluruh aktivitas peserta didik. Guru mengenal muridnya secara lebih dekat, mengamati perubahan perilaku setiap hari, bahkan sering menjalin komunikasi intensif dengan orang tua. Situasi seperti ini memberikan ruang yang sangat besar untuk menanamkan karakter melalui pembiasaan. Mengucapkan salam, antri dengan tertib, menjaga kebersihan, meminta maaf ketika melakukan kesalahan, menghargai teman, serta menyelesaikan tugas dengan penuh tanggung jawab merupakan contoh-contoh sederhana yang jika dilakukan secara konsisten akan membentuk karakter yang kuat.

Sebaliknya, ketika peserta didik telah berada di SMA, mereka telah memasuki fase perkembangan remaja. Pada tahap ini, mereka sedang mencari jati diri, mulai mempertanyakan berbagai nilai yang selama ini mereka yakini, serta lebih banyak dipengaruhi oleh lingkungan pergaulan. Mereka memiliki kemampuan berpikir abstrak yang lebih berkembang sehingga cenderung mempertanyakan aturan, menguji batas-batas, bahkan kadang menolak otoritas. Inilah sebabnya mengapa pembentukan karakter dari awal menjadi jauh lebih sulit dibandingkan pada masa kanak-kanak.

Pengalaman saya sebagai guru SMA menunjukkan bahwa sebagian besar masalah perilaku siswa bukan muncul secara tiba-tiba ketika mereka duduk di bangku SMA. Kebiasaan datang terlambat, kurang disiplin, sulit menghargai orang lain, rendahnya tanggung jawab terhadap tugas,tidak bisa mengantri hingga kebiasaan berkata tidak sopan biasanya merupakan pola perilaku yang telah berlangsung bertahun-tahun. SMA hanya menjadi tempat di mana kebiasaan tersebut tampak semakin jelas karena tuntutan akademik dan sosial semakin tinggi.

Oleh karena itu, menurut saya kurang tepat apabila seluruh tanggung jawab pembentukan karakter dibebankan kepada SMA. Tiga tahun bukanlah waktu yang cukup untuk mengubah kebiasaan yang telah terbentuk selama lebih dari sepuluh tahun. Perubahan tentu tetap mungkin terjadi, tetapi membutuhkan usaha yang jauh lebih besar serta dukungan dari keluarga dan lingkungan masyarakat.

Oleh karena itu menurut saya pemerintah harus turun tangan untuk melakukan  pendidikan karakter ditingkat dasar bahkan dari tk .Atur kurikulum yang menitik beratkan pada pembentukan karakter mulai dari tk sampai sekolah dasar  atur pembelajaran   untuk melatih siswa supaya disiplin,mau mendengarkan,taat mengantri,bertanggungjawab mau memaafkan menghargai orang lain dan lain-lain.selain itu  keluarga juga harus belajar bagaimana membangun karakter anak sejak dini dan ini bisa dimulai disaat anaknya masih duduk dibangku sekolah dasar bahkan di tk dengan mengundang para orangtua untuk sama sama belajar.

Sebagai guru SMA, saya tetap optimistis bahwa karakter peserta didik dapat terus berkembang menjadi lebih baik. Namun, saya juga meyakini bahwa upaya tersebut akan jauh lebih efektif apabila fondasi karakter telah dibangun sejak pendidikan dasar. SMA bukanlah tempat untuk memulai semuanya dari awal, melainkan tempat memperkuat, mematangkan, dan menguji karakter agar siap menghadapi kehidupan yang sesungguhnya.

Sudah saatnya kita mengubah cara pandang terhadap pendidikan karakter. Jangan hanya berharap SMA mampu menyelesaikan seluruh persoalan karakter remaja dalam waktu yang singkat. Bangunlah fondasi sejak usia dini melalui pembiasaan yang konsisten di rumah dan sekolah dasar. Ketika fondasi itu kokoh, SMA dapat menjalankan perannya secara optimal sebagai ruang penguatan karakter, tempat peserta didik belajar menerapkan nilai-nilai luhur dalam kepemimpinan, tanggung jawab sosial, pembelajaran, dunia digital, dan kehidupan bermasyarakat.

Pada akhirnya, pendidikan karakter bukanlah proyek tiga tahun di SMA, melainkan perjalanan panjang sejak seorang anak mengenal dunia. Jika fondasi dibangun dengan benar sejak pendidikan dasar, maka sekolah menengah atas akan menjadi tempat lahirnya generasi muda yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga matang secara moral, tangguh menghadapi tantangan, mampu bekerja sama, memiliki integritas, dan siap menjadi warga negara yang bertanggung jawab. Dengan demikian, cita-cita menciptakan sumber daya manusia Indonesia yang unggul tidak hanya diwujudkan melalui peningkatan prestasi akademik, tetapi juga melalui karakter yang telah dibentuk sejak dini dan diperkuat secara berkelanjutan hingga memasuki kehidupan dewasa.

Bionarasi Penulis

Saya seorang guru di SMAN 2 Padalarang mengajar mata pelajaran Matematika yang gereget melihat  karakter siswa disekolah saya, nama saya TETI ANDRIANI, S.Pd. umur 50 tahun sudah menjadi guru selama kurang lebih 18 tahun dan sudah mengabdi di SMAN 2 Padalarang kurang lebih 3 tahun


Eksplorasi konten lain dari Literatura Nusantara

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Categories:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *