
[Sumber gambar: Dokumentasi Penulis]
Penulis: Maria Utami
LANGKAH PANTOFEL DI KARPET MANAJER
Pantofelnya mengkilap pagi ini.
Bukan untuk membelah lobi,
tapi agar wajah manajer
bisa berkaca di ujung kakinya.
Angka, target, dan grafik
disusun berbaris tanpa spasi.
Di kepalanya,
kebetulan sudah lama dipecat.
Ia tahu kapan harus tertawa
saat lelucon hambar jatuh di meja rapat.
Kedekatan adalah saham
yang dibeli tanpa bursa.
Lantai teratas terasa empuk.
Karpet merah meredam rakus
dari langkah yang menjalar pelan.
Malam mulai mengemas gedung,
tapi pantofel itu menolak pulang.
Setia menjaga kursi pimpinan,
menunggu waktu yang tepat
untuk duduk menggantikan.
Jogja, 2026
GARIS DEMARKASI DALAM KUBIKEL
Tiga lapis sekat plastik.
Sebuah negara merdeka di sudut ruang,
menolak basa-basi
yang gemar mengetuk tanpa permisi.
Telinganya diatur mode senyap.
Tangannya hanya berteman tetikus,
dan tumpukan kertas
yang minta lekas disahkan.
Rekan kerja sebatas alamat surel.
Tak butuh nama anak,
atau rencana akhir pekan.
Hidup tak perlu diseduh
di depan mesin dispenser.
Wajahnya layar mode tidur.
Tak ada tawa saat grup kantor gaduh,
tak ada keluh saat pendingin mati.
Ia menyusutkan drama menjadi nol.
Pukul lima teng.
Komputer padam tanpa pamit.
Ia melangkah menembus batas kubikel,
menjadi manusia yang tak berutang cerita
pada siapa-siapa.
Jogja, 2026
KANTOR BERITA DI MEJA PANTRY
Pantry adalah stasiun pemancar.
Di antara termos dan toples kosong,
ia meracik kopi dan warta,
menyeduh rahasia yang masih panas.
Antenanya menangkap sinyal lirih.
Cicilan mobil yang tersendat,
surat peringatan di laci manajer,
hingga cinta yang sembunyi di tangga darurat.
Katanya melompat lincah.
Dari cangkir ke cangkir,
mengunyah nama orang layaknya keripik sisa.
Rahasia akan lekas basi
jika hanya dikunci di laci meja.
Ia menyapa semua orang
dengan tawa dan jaring laba-laba.
Seluruh kubikel telah dipasangi mikrofon,
merekam hal-hal yang luput dicatat HRD.
Sore surut, dispenser kering.
Siaran dihentikan sementara.
Ia pulang membawa koper penuh curiga,
siap dirakit menjadi tajuk utama
esok pagi.
Jogja, 2026
PAKTA INTEGRITAS PUKUL LIMA
Berkas dilipat. Layar ditutup.
Tak ada lembur yang perlu ditagih.
Ia datang bukan untuk membeli muka,
hanya menukar peluh dengan harga diri.
Kubikelnya biasa saja.
Tak ada ambisi mengejar plang nama di pintu.
Pekerjaan adalah utang
yang dibayar lunas sebelum matahari miring.
Jam dinding adalah atasan mutlak.
Begitu angka lima diketuk,
sakelar lampu ditekan mati.
Sebuah ritual yang menolak tawar-menawar.
Ransel dipanggul ringan.
Melewati lobi yang masih sibuk meracik senyum.
Kakinya menembus pintu kaca,
bergegas menjemput kereta sebelum senja habis.
Di luar gedung, ia menyatu dengan aspal.
Menjadi pemenang yang sesungguhnya:
merebut kembali sisa usia
yang tak bisa dibeli oleh perusahaan.
Jogja, 2026
GUNTING KERTAS DI BALIK LAPORAN
Senyumnya diketik rapi.
Dicetak tebal layaknya sampul laporan.
Tubuhnya membungkuk di depan bos,
membawakan kopi bersalut gula.
Namun di balik kemeja yang licin disetrika,
ia menyembunyikan gunting kertas.
Mencatat salah ketik teman di sebelah,
menyimpannya sebagai peluru di ruang sidang.
Ia memotong dari belakang.
Memutus tali rapuh milik rekan meja,
agar jalan menuju lantai atas
tak perlu mengantre terlalu lama.
Di depan direksi, keringat tim
dicuci bersih menjadi namanya sendiri.
Kegagalan dilempar pelan
ke pundak mereka yang sedang lengah.
Malamnya ia tertidur pulas.
Topengnya digantung di balik pintu.
Lupa bahwa gunting yang terus mengerat,
kelak akan tumpul oleh karatnya sendiri.
Jogja, 2026
BIONARASI
Maria Utami, lahir di Riau dan kini menetap di Yogyakarta. Lulusan sarjana akuntansi yang menekuni dunia sastra secara khusus puisi. Sebagian naskah puisinya telah dimuat di beberapa media literasi daring seperti SukuSastra.com, LanggamPustaka.com, Buruan.co, Tatkala.co, dan Sippublishing.co.id. Buku kumpulan puisi perdananya berjudul “Manuskrip Jeda” (2025). Boleh disapa melalui akun Instagram: @maria.oetami.












Tinggalkan Balasan