Literatura Nusantara

Membumikan Sastra Melangitkan Kata

Mimpi di Bawah Cahaya Subuh

[Sumber gambar: Dokumentasi penulis]

Penulis: Martin Landaou, S.Pd.I.

Suara alarm dari ponsel Arafat berbunyi tepat pukul 04.00 pagi.

Ia meraih ponsel itu dengan mata masih setengah tertutup. Jarinya hampir saja menekan tombol snooze ketika suara ayahnya terdengar dari luar kamar. Arafat mengingat akan guru ngajinya yang mengatakan, jika kamu bangun tidur, duduk terlebih dahulu, terus gunakan kedua punggung tangan bagian luar untuk menyeka kedua mata, setelah itu membaca doa. Arafat kembali mendengar suara ayahnya.

“Arafat, Subuh.”

Satu kalimat sederhana yang sudah ia dengar selama bertahun-tahun.

“Ya, Yah…”

Arafat menghela napas panjang lalu bangkit dari tempat tidur. Udara pagi masih dingin. Sebagian teman-temannya mungkin masih tertidur pulas, tetapi baginya, pagi adalah waktu paling penting.

Ia berwudu lalu berjalan menuju masjid kecil di ujung gang bersama ayahnya. Langit masih gelap. Lampu-lampu jalan berpendar temaram.

Namun, justru pada saat seperti inilah Arafat merasa paling dekat dengan mimpinya.

Setelah salat Subuh berjamaah, ia duduk bersandar di salah satu tiang masjid sambil membuka buku catatan. Mungkin sebagian anak-anak lain jarang melaksanakan salat Subuh berjamaah, yang menurutnya datang ke masjid adalah bagian dari kebiasaan selama beberapa tahun ini.

Di halaman pertama tertulis:

“Target 2027: Beasiswa Universitas Internasional.”

Tulisan itu sudah mulai memudar karena terlalu sering dibuka.

Sejak kecil Arafat memiliki satu mimpi besar.

Ia ingin kuliah di luar negeri, bukan karena ingin terlihat keren, bukan pula karena ingin hidup mewah.

Ia ingin belajar teknologi pendidikan agar suatu hari nanti bisa membangun sekolah digital gratis untuk anak-anak kurang mampu.

Mimpi yang terdengar terlalu besar bagi anak penjual sembako di gang sempit seperti dirinya.

Namun, Arafat percaya.

Allah tidak pernah meminta manusia memastikan hasil. Allah hanya meminta manusia berusaha.

Jam setengah tujuh pagi, Arafat mulai berangkat dengan berjalan kaki karena menurutnya jaraknya tidak terlalu jauh.

SMAN 2 Padalarang mulai ramai.

Suara siswa bercampur dengan deru motor yang memenuhi area parkir.

Arafat berjalan menuju kelas sambil membawa tas yang sudah mulai kusam.

Beberapa temannya langsung menyapanya.

“Bro, tugas fisika udah jadi?”

“Udah.”

“Boleh lihat?”

“Nggak.”

“Hemat banget lu.”

“Biar lu belajar.”

Teman-temannya tertawa.

Arafat memang dikenal pintar, tetapi bukan tipe kutu buku yang kaku.

Ia mudah bergaul, mengenal teman sekelas, bahkan beda kelas. Aktif di Rohis. Aktif di organisasi sekolah. Bahkan, beberapa guru menjadikannya contoh siswa teladan.

Meski begitu, hidup Arafat tidak semudah yang terlihat.

Setiap sore sepulang sekolah, ia harus membantu orang tuanya menjaga toko sembako milik ayahnya.

Sementara malam hari digunakan untuk belajar. Waktu bermainnya jauh lebih sedikit dibanding teman-temannya. Namun, ia tidak pernah mengeluh.

Hari itu wali kelas mengumumkan sesuatu yang membuat seluruh siswa langsung bersemangat.

“Bulan depan akan ada seleksi program beasiswa nasional.”

Ruangan langsung riuh ramai.

Beasiswa itu terkenal bergengsi. Pemenangnya akan mendapat pembinaan khusus dan peluang besar untuk kuliah di luar negeri.

Jantung Arafat berdetak lebih cepat.

Inilah kesempatan yang ia tunggu.

Namun, kemudian wali kelas melanjutkan.

“Persaingan tahun ini ketat. Dari sekolah kita hanya boleh mengirim dua peserta.”

Suasana langsung hening.

Semua tahu siapa kandidat terkuat.

Arafat.

Dan satu nama lagi.

Nisa Azzahra.

Nama itu sudah tidak asing di sekolah SMAN 2 Padalarang.

Nisa adalah siswi kelas sebelah.

Pintar.

Rajin.

Aktif dalam berbagai kompetisi.

Dan yang paling membuat banyak siswa kagum, prestasinya nyaris sempurna.

Namun, berbeda dengan sebagian siswa populer yang suka mencari perhatian, Nisa justru terkenal pendiam.

Ia selalu mengenakan hijab syar’i dengan rapi.

Tidak banyak bicara.

Tetapi ketika berbicara, semua orang mendengarkan.

Arafat pernah beberapa kali bertemu dengannya saat lomba akademik.

Sekadar saling menyapa, tidak lebih. Di tengah zaman sekarang, anak muda sangat berpacaran, itu hal yang biasa. Karena keduanya sama-sama menjaga batas interaksi.

Siang itu perpustakaan sekolah terasa lebih ramai.

Arafat sedang mencari buku persiapan beasiswa ketika seseorang mengambil buku yang sama dari sisi rak yang berlawanan.

Mereka sama-sama terkejut.

“Nisa?”

Nisa tersenyum kecil.

“Arafat?”

Keduanya langsung melepaskan pegangan buku itu secara bersamaan.

“Cari buku ini juga?” tanya Arafat.

“Iya.”

“Silakan duluan.”

“Kamu saja.”

“Enggak, kamu.”

Mereka saling diam beberapa detik.

Lalu Nisa tertawa pelan.

“Bukunya ada dua ternyata.”

Arafat ikut tersenyum malu.

Momen itu terasa lucu sekaligus canggung.

Bukan karena mereka memiliki hubungan khusus. Justru karena mereka nyaris tidak pernah berbicara secara langsung.

“Persiapan beasiswa?” tanya Arafat.

Nisa mengangguk.

“Insyaallah.”

“Semoga berhasil.”

“Kamu juga.”

Percakapan singkat itu berakhir.

Tetapi entah mengapa, sepanjang perjalanan pulang Arafat masih mengingat senyum sederhana tadi.

Bukan karena jatuh cinta.

Setidaknya belum.

Namun, ada sesuatu yang membuatnya terkesan.

Mungkin karena ia jarang menemukan orang yang memiliki tujuan hidup sejelas itu.

Malam harinya Arafat membantu ayah di toko.

Pembeli datang silih berganti.

Saat toko mulai sepi, ayah duduk di sampingnya.

“Kamu serius mau ikut seleksi beasiswa itu?”

“Iya, Yah.”

Ayah mengangguk.

“Lanjutkan.”

“Cuma takut nggak lolos.”

Ayah tersenyum.

“Kita bukan bertugas memastikan lolos.”

Arafat langsung menoleh.

Kalimat itu terasa familiar.

“Yang penting Allah Maha Melihat usaha kita.”

Arafat tersenyum.

Ayah selalu punya cara sederhana untuk menenangkan hatinya.

Hari-hari berikutnya dipenuhi latihan dan persiapan.

Arafat belajar lebih keras dari biasanya.

Begitu pula Nisa.

Meski berasal dari kelas berbeda, mereka sering bertemu dalam sesi pembinaan sekolah.

Interaksi mereka tetap seperlunya.

Tidak ada obrolan pribadi.

Tidak ada chat larut malam.

Tidak ada hubungan yang melampaui batas.

Namun, justru karena itu, mereka saling menghormati.

Suatu sore setelah sesi pembinaan selesai, hujan turun sangat deras.

Sebagian siswa menunggu jemputan.

Sebagian lagi berteduh di koridor.

Nisa berdiri sambil memandangi halaman sekolah yang basah.

Arafat kebetulan berada tidak jauh darinya.

“Ada yang jemput?” tanya Arafat dari jarak yang sopan.

“Masih perjalanan.”

“Oh.”

Hening.

Kemudian Nisa berkata pelan.

“Aku sebenarnya gugup.”

Arafat menoleh.

“Gugup?”

“Beasiswa itu penting buat aku.”

“Kenapa?”

Nisa tersenyum tipis, tetapi memendam motivasi besar di dalam.

“Aku ingin jadi dokter.”

“Masyaallah.”

“Tapi biaya kuliah kedokteran mahal.”

Arafat mengangguk pelan.

Ia memahami perasaan itu.

Perjuangan yang sama.

Mimpi yang besar.

Keadaan yang terbatas.

“Aku yakin kamu bisa.”

Nisa menatapnya.

“Kok yakin?”

“Karena orang yang bangun untuk mengejar mimpi setelah salat Subuh biasanya sulit dikalahkan.”

Nisa tampak terkejut.

“Kamu tahu?”

“Kamu pernah cerita waktu pembinaan.”

“Oh, iya.”

Mereka tertawa kecil.

Untuk pertama kalinya, percakapan terasa lebih nyaman.

Tetap sopan.

Tetap terjaga.

Tetapi hangat.

Sejak hari itu, mereka mulai saling mengenal sebagai sesama pejuang mimpi.

Bukan sebagai pasangan.

Bukan sebagai hubungan yang tidak jelas.

Melainkan dua anak muda yang sedang berusaha memperbaiki masa depan.

Kadang mereka bertukar buku melalui guru pembimbing.

Kadang berdiskusi dalam forum belajar kelompok.

Kadang saling memberi semangat ketika nilai simulasi menurun.

Semuanya dilakukan dalam koridor yang baik.

Tanpa melanggar prinsip yang mereka yakini.

Dan justru karena itulah, rasa hormat perlahan tumbuh.

Rasa yang lebih dalam daripada sekadar ketertarikan fisik.

Rasa kagum terhadap akhlak.

Terhadap perjuangan.

Terhadap kesungguhan.

Malam menjelang hari seleksi.

Arafat tidak bisa tidur.

Ia membuka jendela kamar.

Langit tampak gelap.

Angin malam berembus pelan.

Di meja belajarnya tergeletak berbagai catatan.

Semua usaha yang telah ia lakukan selama berbulan-bulan.

Ia lalu mengambil mushaf Al-Qur’an.

Membacanya perlahan.

Sampai akhirnya rasa tenang mulai memenuhi dadanya.

Jika besok berhasil, itu karena Allah.

Jika gagal, itu juga karena Allah.

Tugasnya hanyalah berusaha.

Sebelum tidur, ia membuka buku targetnya.

Lalu menambahkan satu kalimat baru di bawah tulisan lama.

“Ya Allah, jika mimpi ini baik, dekatkanlah. Jika tidak, gantilah dengan yang lebih baik.”

Ia menutup buku itu.

Tersenyum.

Dan untuk pertama kalinya dalam beberapa minggu terakhir, ia tidur dengan hati yang benar-benar tenang.

Karena terkadang, mimpi terbesar tidak dimulai dari ruang kelas.

Tidak pula dari panggung penghargaan.

Melainkan dari doa yang dipanjatkan dalam sunyi, di bawah cahaya Subuh yang menjadi saksi perjuangan seorang anak muda.

Biografi Penulis

Martin Landaou, atau biasa dipanggil Deden sejak kecil, lahir pada tahun 1981 dan merupakan anak pertama dari empat bersaudara. Ia tinggal di Padalarang dan memiliki ketertarikan pada membaca buku, mendengarkan audiobook, serta menonton YouTube bernarasi. Ia menempuh pendidikan di SD Kertamulya 4, SMP Negeri 2 Padalarang, SMK Pusdikpal, kemudian melanjutkan kuliah di STAI Yamisa Soreang, Jurusan Tarbiyah. Dalam perjalanan kariernya, ia pernah mengajar di Madrasah Tsanawiyah Uswatun Hasanah Padalarang dan Pesantren Riyadhul Huda, hingga kemudian mengajar di SMAN 2 Padalarang. Saat ini, ia mengajar Pendidikan Agama Islam.


Eksplorasi konten lain dari Literatura Nusantara

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Categories: