Literatura Nusantara

Membumikan Sastra Melangitkan Kata

Gapura Pancawaluya Membangun Karakter Bangsa

[Sumber gambar: Dokumentasi penulis]

Penulis: Nuraeni

Pendidikan tidak pernah hanya tentang angka-angka di rapor. Di balik nilai yang tinggi, ada hal yang jauh lebih penting untuk dibangun, yaitu karakter. Seorang peserta didik mungkin memiliki kemampuan akademik yang baik, tetapi pendidikan akan terasa belum lengkap jika kemampuan tersebut tidak disertai kejujuran, kepedulian, tanggung jawab, kesehatan, dan kemampuan beradaptasi. Karena itu, pendidikan idealnya tidak hanya membuat anak menjadi pintar, tetapi juga membentuk mereka menjadi manusia yang baik dan mampu hidup berdampingan dengan orang lain.

Semangat tersebut sejalan dengan hadirnya Gapura Pancawaluya, sebuah program pendidikan yang digagas oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Program ini tercantum dalam Surat Edaran Gubernur Jawa Barat Nomor 43/PK.03.04/KESRA yang ditujukan kepada para pemangku kepentingan pendidikan, mulai dari bupati, wali kota, Kepala Dinas Pendidikan Jawa Barat, hingga jajaran Kementerian Agama.

Nama Pancawaluya sendiri menjadi pengingat bahwa pendidikan harus membangun manusia secara utuh. Ada lima karakter utama yang menjadi fondasinya, yaitu cageur, bageur, bener, pinter, dan singer. Lima karakter tersebut bukan sekadar istilah yang perlu dihafalkan oleh peserta didik. Lebih jauh, kelimanya merupakan nilai yang diharapkan hadir dalam kebiasaan dan perilaku sehari-hari.

Bayangkan seorang peserta didik datang ke sekolah dengan tubuh yang sehat, pikiran yang tenang, perilaku yang baik, kejujuran yang kuat, kemampuan akademik yang terus berkembang, serta kepedulian terhadap lingkungan sekitarnya. Inilah gambaran manusia yang ingin dibangun melalui semangat Pancawaluya. Pendidikan tidak berjalan hanya dari buku menuju kepala, tetapi juga dari nilai menuju sikap dan tindakan.

Karakter pertama adalah cageur. Dalam konteks pendidikan, cageur tidak hanya berarti sehat secara fisik. Peserta didik diharapkan memiliki kesehatan fisik, mental, dan spiritual. Kebiasaan sederhana seperti rajin berolahraga, menjaga kebersihan diri, menghindari narkoba, rokok, dan alkohol, menjaga kesehatan mental, serta menjalankan ibadah merupakan bagian dari upaya membangun pribadi yang cageur.

Kesehatan mental juga tidak boleh dipandang sebelah mata. Peserta didik menghadapi berbagai tantangan, mulai dari tuntutan belajar, pertemanan, keluarga, hingga pengaruh media sosial. Karena itu, sekolah perlu menjadi ruang yang aman dan nyaman bagi mereka. Peserta didik perlu belajar mengenali emosinya, berani bercerita ketika menghadapi masalah, serta memahami bahwa meminta bantuan bukanlah tanda kelemahan.

Karakter kedua adalah bageur. Sederhananya, bageur berarti memiliki perilaku baik dan budi pekerti luhur. Namun, maknanya dapat diwujudkan melalui tindakan-tindakan sederhana yang sering kali justru menentukan kualitas seseorang. Menghormati guru, menyayangi orang tua, menghargai teman, tidak melakukan perundungan, serta mampu memperlakukan orang lain dengan baik merupakan bagian dari karakter bageur.

Nilai bageur juga dekat dengan filosofi Sunda silih asih, silih asah, dan silih asuh. Silih asih mengajarkan kasih sayang, silih asah mengajarkan untuk saling belajar dan mencerdaskan, sedangkan silih asuh mengajarkan kepedulian dan saling membimbing. Jika nilai-nilai tersebut tumbuh di lingkungan sekolah, kelas tidak hanya menjadi tempat belajar mata pelajaran, tetapi juga menjadi ruang untuk belajar menjadi manusia.

Karakter berikutnya adalah bener. Karakter ini berkaitan erat dengan integritas, kejujuran, tanggung jawab, dan kedisiplinan. Menjadi bener berarti berusaha melakukan sesuatu dengan benar meskipun tidak ada orang yang mengawasi. Nilai ini sangat penting karena kecerdasan tanpa kejujuran dapat kehilangan maknanya.

Contoh karakter bener dapat ditemukan dalam kehidupan sekolah. Peserta didik tidak menyontek ketika ujian, berani mengakui kesalahan, bertanggung jawab atas tugas yang diberikan, serta membiasakan diri datang tepat waktu. Kebiasaan-kebiasaan kecil tersebut sebenarnya sedang membangun fondasi karakter yang akan dibawa hingga dewasa.

Selanjutnya ada karakter pinter. Karakter ini berkaitan dengan kecerdasan, pengetahuan, keterampilan, dan kemauan untuk terus belajar. Peserta didik yang pinter bukan hanya mereka yang mendapatkan nilai tinggi, tetapi juga mereka yang memiliki rasa ingin tahu, mampu mencari informasi, berani bertanya, dan mau mengembangkan kemampuan dirinya.

Di era perkembangan teknologi yang begitu cepat, makna pinter menjadi semakin luas. Peserta didik perlu mampu menggunakan teknologi secara bijak. Internet dan berbagai perangkat digital tidak hanya digunakan untuk hiburan, tetapi juga dapat menjadi sarana belajar, mencari informasi, mengembangkan keterampilan, mengikuti kegiatan ilmiah, dan menghasilkan karya yang bermanfaat.

Karakter terakhir adalah singer. Bagi sebagian orang, istilah ini mungkin terdengar sederhana, tetapi maknanya sangat penting. Singer berkaitan dengan kepedulian, empati, kesiapsiagaan, kreativitas, dan kemampuan beradaptasi terhadap perubahan zaman. Peserta didik yang singer tidak hanya memikirkan dirinya sendiri, tetapi juga peka terhadap keadaan orang-orang dan lingkungan di sekitarnya.

Sikap singer dapat dimulai dari hal-hal kecil. Ketika melihat teman mengalami kesulitan, misalnya, seorang peserta didik dapat menawarkan bantuan. Ketika lingkungan sekolah kotor, ia tidak sekadar menunggu petugas kebersihan, tetapi ikut menjaga kebersihan. Ketika terjadi bencana, ia dapat berpartisipasi dalam kegiatan sosial atau membantu menggalang donasi sesuai kemampuan.

Di tengah perubahan zaman yang semakin cepat, karakter singer menjadi semakin relevan. Dunia pendidikan saat ini menghadapi perkembangan teknologi, kecerdasan buatan, perubahan pola komunikasi, dan berbagai tantangan sosial. Peserta didik perlu memiliki kemampuan beradaptasi tanpa kehilangan nilai-nilai kemanusiaan.

Lima karakter tersebut sesungguhnya tidak dapat berdiri sendiri. Cageur memberikan fondasi kesehatan, bageur membangun hubungan yang baik dengan sesama, bener menguatkan integritas, pinter mengembangkan kemampuan berpikir, sedangkan singer membentuk kepedulian dan kemampuan menghadapi perubahan. Kelimanya saling melengkapi untuk membentuk pribadi yang utuh.

Penerapan Gapura Pancawaluya juga tidak cukup hanya melalui slogan atau tulisan yang terpampang di lingkungan sekolah. Nilai-nilai tersebut perlu dihidupkan melalui kebiasaan. Guru dapat menjadi teladan dalam kedisiplinan dan kejujuran. Peserta didik dapat diberi ruang untuk bekerja sama dan membantu sesama. Sekolah dapat membangun budaya yang sehat, aman, ramah, dan menghargai setiap individu.

Di sinilah peran guru menjadi sangat penting. Guru bukan hanya menyampaikan materi pembelajaran, tetapi juga menjadi contoh nyata bagi peserta didik. Ketika guru datang tepat waktu, berbicara dengan santun, mengakui kesalahan, menghargai perbedaan, dan menunjukkan kepedulian, sebenarnya guru sedang mengajarkan karakter tanpa harus selalu menjelaskannya dalam bentuk teori.

Begitu pula dengan keluarga. Pendidikan karakter tidak mungkin sepenuhnya dibebankan kepada sekolah. Apa yang dipelajari anak di kelas perlu mendapatkan penguatan di rumah. Kebiasaan menghormati orang lain, menjaga kesehatan, berkata jujur, bertanggung jawab, dan peduli terhadap lingkungan akan lebih kuat ketika sekolah dan keluarga berjalan dalam arah yang sama.

Masyarakat juga memiliki peran yang tidak kalah penting. Peserta didik tumbuh di tengah lingkungan sosial yang sangat beragam. Mereka belajar bukan hanya dari guru dan orang tua, tetapi juga dari apa yang mereka lihat dan alami setiap hari. Karena itu, lingkungan yang memberikan contoh positif akan membantu nilai-nilai Pancawaluya tumbuh secara alami.

Jika diterapkan secara konsisten, Gapura Pancawaluya dapat menjadi lebih dari sekadar program pendidikan. Ia dapat menjadi gerakan bersama untuk membangun budaya pendidikan yang menempatkan karakter sebagai bagian penting dari proses belajar. Prestasi akademik tetap penting, tetapi prestasi tersebut perlu berjalan bersama dengan moral, kepedulian sosial, kesehatan, dan kemampuan beradaptasi.

Pada akhirnya, tujuan pendidikan bukan hanya menghasilkan peserta didik yang mampu menjawab soal dengan benar. Pendidikan juga harus melahirkan manusia yang mampu mengambil keputusan dengan benar, memperlakukan orang lain dengan baik, menjaga dirinya, menggunakan kecerdasannya untuk kebaikan, serta peka terhadap perubahan dan persoalan di sekitarnya.

Inilah semangat yang dapat kita temukan dalam Gapura Pancawaluya. Cageur, bageur, bener, pinter, dan singer bukan sekadar lima kata, melainkan lima pintu menuju pembentukan karakter manusia yang lebih utuh. Jika nilai-nilai tersebut tumbuh sejak bangku sekolah dan menjadi kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari, pendidikan Jawa Barat tidak hanya akan melahirkan generasi yang cerdas, tetapi juga generasi yang memiliki karakter kuat.

Pada akhirnya, membangun karakter bangsa bukanlah pekerjaan satu malam. Ia membutuhkan keteladanan, pembiasaan, kesabaran, dan kerja sama antara sekolah, keluarga, masyarakat, serta peserta didik itu sendiri. Dari ruang kelas yang sederhana, dari kebiasaan kecil yang dilakukan setiap hari, karakter bangsa dapat mulai dibangun.

Maka, ketika peserta didik belajar untuk hidup sehat, berbuat baik, berlaku jujur, terus belajar, dan peduli terhadap sesama, sesungguhnya mereka sedang mempraktikkan semangat Pancawaluya. Dari merekalah harapan tentang generasi masa depan mulai tumbuh. Generasi yang bukan hanya siap menghadapi Indonesia Emas 2045, tetapi juga memiliki bekal karakter untuk mengisinya dengan kehidupan yang lebih bermartabat.

Biografi Penulis

Nuraeni merupakan seorang guru yang telah mengabdikan diri di dunia pendidikan selama lebih dari 11 tahun. Ia menempuh pendidikan dasar di SDN Pasir Huni, melanjutkan pendidikan di SMP Negeri 1 Ngamprah dan SMA Negeri 2 Padalarang, kemudian meraih gelar Sarjana Pendidikan dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Program Studi Pendidikan Bahasa Sunda. Kariernya sebagai pendidik dimulai di SMK BIB Ngamprah. Selama lebih dari satu dekade, Nuraeni terus berkomitmen menghadirkan pembelajaran yang kreatif, inovatif, dan berpusat pada peserta didik, sekaligus berupaya berkontribusi dalam membangun generasi yang berkarakter, berprestasi, dan siap menghadapi tantangan masa depan.


Eksplorasi konten lain dari Literatura Nusantara

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Categories: