
[Sumber gambar: Dokumentasi penulis]
Penulis: Hestika Sulistiawati
Di sudut kelas, seorang guru menghabiskan waktu berjam-jam untuk menyusun modul ajar yang di dalamnya terdapat lembar kerja peserta didik (LKPD) untuk memfasilitasi siswa agar mampu berdiskusi dan memecahkan masalah. Guru membuatnya dengan berbagai pertimbangan dan cara agar siswa terasah nalar kritisnya serta mampu berkolaborasi dengan teman-temannya. Sementara itu, siswa sembunyi-sembunyi, hanya dalam waktu tiga menit, meminta ChatGPT untuk menjawab soal-soal tersebut secara instan. Peristiwa itu menjadi sebuah gambaran bagaimana proses pembelajaran di kelas akhir-akhir ini terjadi. Di era ketika AI bisa menjawab segala pertanyaan dengan lebih cepat dan akurat, guru dipaksa memilih: ikut bertarung melawan mesin atau menjadikannya sekutu.
Teknologi kecerdasan buatan atau AI menjadi sebuah fenomena yang marak berkembang di era digital ini. Meskipun penggunaan AI menyasar segala kalangan, mulai dari anak-anak hingga dewasa, pengguna aktifnya adalah golongan produktif, salah satunya pelajar. Kecerdasan AI dalam mengolah dan menyajikan data secara cepat dan akurat sangat membantu dan mempermudah pekerjaan manusia. Namun, penggunaan AI dalam pembelajaran, terutama oleh siswa, di satu sisi dapat menghambat pola nalar kritis dan analitis.
Diperlukan peran guru untuk memfasilitasi siswa dalam penggunaan AI. Pada dasarnya, AI bukanlah ancaman yang akan menggantikan peran guru, melainkan sebuah realitas baru yang menuntut guru untuk mengubah perannya dari “sumber ilmu” menjadi “fasilitator kebijaksanaan”. Menentang secara keras penggunaan AI dalam kegiatan belajar bukan solusi yang terbaik karena siswa pun dituntut untuk adaptif dalam menghadapi perubahan. Hanya saja, dibutuhkan peran guru agar AI diposisikan sebagai penyaji data saja, sedangkan kerangka berpikir, nalar kritis, dan opini siswa harus digali serta dilatih dalam setiap kegiatan di kelas. Uniknya, untuk mengembangkan kerangka berpikir siswa tersebut, AI justru bisa dimanfaatkan oleh guru sebagai alat yang efektif, terutama dalam memetakan kebutuhan belajar siswa yang berbeda-beda, misalnya membuat video pembelajaran atau menyusun artikel naratif yang memantik rasa penasaran siswa.
Perubahan terbesar yang dibawa AI ke ruang kelas sebenarnya bukan sekadar hadirnya teknologi baru, melainkan berubahnya cara siswa memperoleh pengetahuan. Dahulu, ketika siswa tidak memahami sebuah materi, guru dan buku menjadi tempat utama untuk mencari jawaban. Kini, cukup dengan mengetikkan sebuah pertanyaan, berbagai jawaban dapat muncul dalam hitungan detik. Kondisi ini tentu tidak perlu disesali. Justru di sinilah guru perlu mengubah pertanyaan dari “Bagaimana agar siswa tidak menggunakan AI?” menjadi “Bagaimana agar siswa menggunakan AI tanpa kehilangan kemampuan berpikirnya?”
Sebab, persoalan utamanya bukan terletak pada ada atau tidaknya AI, melainkan pada bagaimana teknologi tersebut digunakan. Siswa yang menggunakan AI untuk mencari alternatif penjelasan, membandingkan informasi, menemukan sudut pandang baru, atau mendapatkan inspirasi tentu memperoleh manfaat yang berbeda dengan siswa yang sekadar menyalin jawaban tanpa memahami isinya. Perbedaan tersebut terletak pada proses berpikir. Karena itu, tugas guru bukan mematikan akses siswa terhadap teknologi, tetapi memastikan bahwa teknologi tidak mematikan rasa ingin tahu mereka.
Guru juga perlu mulai mengubah bentuk pertanyaan dan tugas yang diberikan kepada siswa. Jika soal hanya menuntut jawaban yang sudah tersedia di internet atau dapat dihasilkan AI, siswa akan semakin mudah menyerahkan proses berpikirnya kepada mesin. Sebaliknya, guru dapat memberikan pertanyaan yang menuntut pengalaman pribadi, pengamatan lingkungan, argumentasi, refleksi, atau pemecahan masalah nyata. Dengan demikian, AI mungkin dapat membantu mencari informasi, tetapi siswa tetap harus mengolah informasi tersebut menjadi pemikiran mereka sendiri.
Misalnya, daripada meminta siswa sekadar menjelaskan pengertian perubahan iklim, guru dapat mengajak mereka mengamati perubahan kondisi lingkungan di sekitar sekolah, mengumpulkan data sederhana, kemudian meminta mereka menyusun pendapat berdasarkan hasil pengamatan tersebut. AI boleh digunakan untuk membantu mencari referensi atau memperjelas istilah yang belum dipahami. Namun, kesimpulan tetap harus lahir dari hasil pengamatan, diskusi, dan pemikiran siswa. Dengan pola seperti ini, teknologi tidak menjadi jalan pintas, tetapi menjadi alat bantu untuk memperkaya proses belajar.
Di sisi lain, guru juga perlu membangun kesadaran bahwa jawaban AI tidak selalu harus dipercaya begitu saja. Siswa perlu dilatih untuk memeriksa kembali informasi yang diperoleh, membandingkannya dengan sumber lain, dan mempertanyakan kebenarannya. Inilah momentum yang sebenarnya dapat digunakan guru untuk memperkuat literasi digital. Siswa tidak cukup hanya mampu menggunakan teknologi, tetapi juga harus memiliki kemampuan untuk menilai, menyaring, dan menggunakan informasi secara bertanggung jawab.
Lebih jauh lagi, penggunaan AI dalam pembelajaran dapat menjadi kesempatan untuk memperkuat hubungan antara guru dan siswa. Ketika pengetahuan tidak lagi menjadi satu-satunya sumber otoritas guru, hubungan pembelajaran dapat bergeser menjadi lebih dialogis. Guru dapat menjadi pendamping yang mengajak siswa berdiskusi, mempertanyakan jawaban, menguji gagasan, dan melihat sebuah persoalan dari berbagai sudut pandang. Dengan demikian, kehadiran AI justru dapat mendorong kelas menjadi lebih hidup jika guru mampu merancang pembelajaran yang tepat.
Pada akhirnya, guru tidak perlu merasa harus mengalahkan AI. Guru juga tidak perlu berlomba menunjukkan bahwa dirinya lebih cepat daripada mesin dalam memberikan jawaban. Kekuatan guru justru berada pada sesuatu yang tidak mudah digantikan oleh algoritma: kemampuan memahami manusia, membaca emosi siswa, memberikan teladan, membangun motivasi, menanamkan nilai, dan mendampingi siswa ketika mereka mengalami kegagalan. AI dapat memberikan jawaban dalam hitungan detik, tetapi guru dapat membantu siswa memahami mengapa sebuah jawaban penting dan bagaimana menggunakannya secara bijaksana.
Di sinilah pentingnya membangun cara pandang baru terhadap AI. Teknologi tidak seharusnya diposisikan sebagai musuh yang harus dijauhi, tetapi juga tidak boleh diperlakukan sebagai “guru” yang selalu benar. AI hanyalah alat. Nilai dan manfaatnya sangat bergantung pada manusia yang menggunakannya. Jika digunakan secara tepat, AI dapat membantu guru menghemat waktu, mengembangkan media pembelajaran, mencari ide aktivitas kelas, dan memberikan variasi dalam proses pembelajaran.
Sebaliknya, jika digunakan tanpa kendali, AI dapat membuat siswa terbiasa mencari jawaban instan. Kebiasaan tersebut tentu berbahaya jika berlangsung terus-menerus. Belajar pada akhirnya bukan sekadar memperoleh jawaban, tetapi mengalami proses menemukan, mencoba, gagal, memperbaiki, dan memahami. Jika semua proses tersebut digantikan oleh mesin, siswa mungkin mendapatkan jawaban yang benar, tetapi belum tentu mendapatkan pengalaman belajar yang bermakna.
Karena itu, guru perlu berani mendesain ulang pembelajaran. Tugas yang diberikan kepada siswa tidak harus selalu berupa pertanyaan yang memiliki jawaban tunggal. Guru dapat menghadirkan persoalan terbuka yang memungkinkan siswa berargumentasi, berdiskusi, menyampaikan pengalaman, dan mempertahankan pendapatnya. Dengan demikian, siswa tidak hanya dituntut untuk menghasilkan jawaban, tetapi juga mampu menjelaskan bagaimana mereka sampai pada jawaban tersebut.
Pembelajaran di era AI juga membutuhkan kejujuran akademik. Siswa perlu memahami kapan AI boleh digunakan dan kapan mereka harus mengandalkan kemampuan sendiri. Penggunaan AI untuk mencari inspirasi tentu berbeda dengan menyerahkan seluruh tugas kepada AI. Guru dapat membangun kesepakatan bersama siswa mengenai penggunaan teknologi secara etis sehingga AI tidak menjadi alat untuk melakukan kecurangan, melainkan menjadi bagian dari proses belajar yang bertanggung jawab.
Pada saat yang sama, guru pun perlu melakukan refleksi terhadap dirinya sendiri. Jangan sampai kita meminta siswa beradaptasi dengan teknologi, sementara guru justru menutup diri terhadap perkembangan zaman. Guru tidak harus menjadi ahli teknologi dalam semalam. Namun, guru perlu memiliki kemauan untuk belajar, mencoba, dan memahami cara kerja teknologi yang digunakan oleh siswanya.
Peningkatan kompetensi digital menjadi bagian penting dari perjalanan tersebut. Guru dapat mengikuti pelatihan, berdiskusi dengan rekan sejawat, mencoba berbagai perangkat AI, dan mengevaluasi manfaatnya dalam pembelajaran. Proses ini tidak harus dilakukan dengan terburu-buru. Yang paling penting adalah adanya kemauan untuk terus belajar dan tidak merasa cukup dengan pengetahuan yang dimiliki hari ini.
Pada akhirnya, diperlukan kebijaksanaan dalam pemanfaatan AI dalam kegiatan pembelajaran, dan dalam hal ini guru memiliki peran yang sangat krusial. AI punya kecerdasan, tetapi tidak punya kesadaran, moral, emosi, dan keteladanan hidup. Biarkan AI mengolah data. Toh, jika menolak AI merupakan kemunduran, maka berkolaborasi dengan AI menjadi suatu pilihan yang paling bijak untuk guru. Untuk itu, guru harus beradaptasi dan meningkatkan literasi digital (upskilling) yang bisa dilakukan melalui pelatihan-pelatihan, baik di lingkup sekolah maupun di luar sekolah.
Pada akhirnya, pertanyaan “bersaing atau berkolaborasi dengan AI?” seharusnya tidak lagi menjadi dilema yang menakutkan. Guru tidak perlu bersaing dengan mesin dalam hal kecepatan mengolah informasi. Guru perlu menggunakan keunggulan manusia untuk mengarahkan teknologi agar memberikan manfaat bagi pembelajaran. AI dapat menjadi partner kerja, sementara guru tetap menjadi sosok yang menentukan arah dan nilai dari proses pendidikan.
AI mungkin bisa melahirkan siswa yang pintar, tetapi hanya guru yang hebat yang bisa melahirkan manusia yang bijaksana dan berkarakter. Semangat meng-upgrade diri bagi guru-guru di era ketika otoritas pengetahuan guru sedang diuji oleh algoritma dalam genggaman siswa.











