Literatura Nusantara

Membumikan Sastra Melangitkan Kata

Mengatasi Siswa “Bermasalah” melalui Pendekatan Personal oleh Wali Kelas

[Sumber gambar: Dokumentasi penulis]

Penulis: Dita Miranti

Menjadi guru bukan sekadar sebagai pengajar, tetapi juga sebagai pendidik siswa yang diamanahkan kepada kita. Mendidik berarti kita harus mampu memberikan nasihat, masukan, dan membantu memperbaiki karakter siswa yang dirasa kurang baik. Ketika pertama kali menjadi wali kelas, saya berpikir bahwa anak yang bermasalah pada dasarnya adalah anak yang nakal. Namun, setelah saya lebih mendalami siswa yang bermasalah tersebut, saya menemukan bahwa siswa yang seperti ini adalah siswa yang haus akan kasih sayang dan perhatian orang tua. Siswa terkadang melakukan kenakalan semata-mata untuk mendapatkan perhatian orang tua.

Pada kali berikutnya saya menjadi wali kelas, saya melakukan pendekatan personal kepada semua siswa yang menjadi tanggung jawab saya. Setiap jam wali kelas, saya memanggil beberapa siswa secara bergantian dan “mewawancarai” mereka untuk mengetahui latar belakang siswa, terutama dari segi keluarga. Di akhir wawancara, saya menekankan kepada siswa bahwa jika ada hal-hal yang ingin dibicarakan, bahkan hal di luar masalah sekolah, mereka boleh menghubungi saya. Dengan cara ini, saya merasa lebih “dekat” dengan siswa dan mengetahui hal-hal yang mereka sukai dan tidak sukai. Saya juga dapat memberikan masukan atau nasihat kepada siswa yang disinyalir memiliki permasalahan keluarga karena anak yang menunjukkan perilaku bermasalah terkadang berasal dari hubungan keluarga yang tidak harmonis.

Menjadi wali kelas membuat saya semakin menyadari bahwa setiap siswa memiliki cerita yang berbeda. Ada siswa yang terlihat aktif dan ceria, tetapi sebenarnya menyimpan masalah yang tidak pernah diceritakannya kepada siapa pun. Ada pula siswa yang sering membuat keributan, tidak mengerjakan tugas, atau sulit mengikuti aturan. Jika hanya melihat perilakunya, kita mungkin mudah memberikan label sebagai anak “nakal”. Namun, ketika kita mau mendekat dan mendengarkan, ternyata ada alasan yang melatarbelakangi perilaku tersebut.

Pendekatan personal menjadi salah satu cara yang menurut saya cukup efektif untuk memahami kondisi siswa. Saya berusaha tidak langsung memberikan hukuman ketika menemukan siswa melakukan kesalahan. Saya lebih memilih mengajaknya berbicara secara perlahan, mencari tahu apa yang sedang dirasakan, dan memberikan kesempatan kepada siswa untuk menyampaikan apa yang ada dalam pikirannya. Dalam suasana yang lebih tenang dan tidak menghakimi, siswa biasanya lebih terbuka menceritakan persoalannya.

Dalam proses tersebut, kesabaran menjadi hal yang sangat penting bagi seorang wali kelas. Tidak semua siswa dapat langsung terbuka ketika diajak berbicara. Ada siswa yang membutuhkan waktu untuk merasa nyaman dan percaya kepada gurunya. Karena itu, pendekatan personal tidak cukup dilakukan hanya sekali. Hubungan yang baik perlu dibangun secara perlahan melalui perhatian, komunikasi, dan kepedulian yang konsisten.

Saya juga menyadari bahwa seorang wali kelas tidak mungkin bekerja sendiri dalam menghadapi siswa yang membutuhkan perhatian khusus. Komunikasi dengan guru mata pelajaran, guru BK, dan orang tua sangat diperlukan agar permasalahan siswa dapat dipahami secara lebih menyeluruh. Dengan adanya komunikasi tersebut, guru dapat mengetahui apakah perubahan perilaku siswa hanya terjadi di sekolah atau juga terjadi di lingkungan rumah.

Dalam menghadapi siswa, saya berusaha membedakan antara perilaku dan pribadi anak. Ketika seorang siswa melakukan kesalahan, yang perlu diperbaiki adalah perilakunya, bukan memberikan cap buruk kepada dirinya. Siswa perlu memahami bahwa melakukan kesalahan bukan berarti dirinya adalah anak yang buruk. Dengan cara seperti ini, siswa tetap memiliki kesempatan untuk memperbaiki diri tanpa merasa dirinya sudah terlanjur dicap negatif oleh gurunya.

Hal yang tidak kalah penting adalah memberikan kepercayaan kepada siswa. Ketika siswa merasa bahwa gurunya dapat dipercaya, mereka akan lebih berani menyampaikan masalah yang sedang dihadapi. Terkadang mereka tidak membutuhkan nasihat panjang. Mereka hanya membutuhkan seseorang yang mau mendengarkan tanpa langsung menyalahkan. Dari situlah hubungan antara guru dan siswa dapat tumbuh menjadi lebih dekat dan penuh rasa percaya.

Berdasarkan pengalaman saya selama menjadi wali kelas, kini saya dapat lebih mudah mengenali ciri-ciri awal siswa yang membutuhkan perhatian lebih dari wali kelas. Saya belajar untuk tidak langsung menghakimi anak sebagai “nakal” tanpa melihat latar belakang dan keadaan keluarganya. Perubahan sikap, penurunan prestasi, sering melanggar aturan, atau menarik diri dari lingkungan pertemanan dapat menjadi tanda bahwa seorang siswa sedang menghadapi persoalan tertentu.

Pada akhirnya, menjadi wali kelas bukan hanya tentang mengelola administrasi kelas atau memastikan siswa mengikuti aturan sekolah. Lebih dari itu, wali kelas memiliki kesempatan untuk menjadi orang dewasa yang hadir ketika siswa sedang membutuhkan tempat untuk bercerita. Setiap siswa memiliki potensi untuk berkembang. Karena itu, tugas kita bukan sekadar mencari kesalahan mereka, melainkan membantu mereka memahami kesalahan, memperbaikinya, dan menemukan kembali arah untuk menjadi pribadi yang lebih baik.

Saya semakin percaya bahwa perhatian kecil dari seorang guru dapat memberikan dampak besar bagi kehidupan seorang siswa. Sapaan sederhana, pertanyaan tentang keadaan mereka, atau kesediaan meluangkan waktu untuk mendengarkan dapat membuat siswa merasa dihargai dan diperhatikan. Ketika seorang anak merasa bahwa dirinya masih dipercaya dan memiliki tempat untuk kembali, ia akan memiliki alasan untuk terus berusaha menjadi lebih baik.

Karena itu, saya memandang pendekatan personal bukan sekadar metode untuk menangani siswa yang dianggap bermasalah. Pendekatan ini merupakan bentuk kepedulian seorang guru terhadap perkembangan siswa secara utuh. Guru tidak hanya melihat nilai, kedisiplinan, dan prestasi, tetapi juga berusaha memahami perasaan, lingkungan, serta kebutuhan siswa. Dengan pendekatan yang humanis, diharapkan siswa yang semula dianggap “bermasalah” justru dapat menemukan potensi dirinya dan tumbuh menjadi pribadi yang lebih percaya diri, bertanggung jawab, dan memiliki masa depan yang lebih baik.


Eksplorasi konten lain dari Literatura Nusantara

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Categories: