
[Sumber gambar: Dokumentasi penulis]
Penulis: Astri Wijayanti, S.Pd.
Matahari pukul tiga belas siang di Padalarang sedang terik-teriknya. Suara deru truk bermuatan pasir yang melintasi jalan raya di luar sekolah berpadu dengan dengung kipas angin kelas yang berputar malas. Di jam-jam krusial seperti ini, jam terakhir dari pukul 13.00 sampai bel pulang berbunyi, semangat belajar siswa kelas XII biasanya sudah menguap bersama udara panas.
Sebagai guru Matematika yang menghadapi dinamika SMAN 2 Padalarang, saya tahu betul bahwa mengajarkan rumus di jam kritis ini adalah cara terbaik untuk membuat mereka tertidur. Siang itu, saat saya berjalan dari ruang guru menuju kelas XII, langkah saya dihadang di koridor kelas oleh gerombolan penunggu setianya: Dika, Aundri, dan Helbi. Tiga sekawan yang punya alergi akut terhadap angka, tetapi memiliki bakat alami dalam berdiplomasi.
“Eh, si Ibu! Selamat siang, Bu!” sapa Dika lantang begitu melihat saya berjalan melewatinya. Langkahnya mendekat, wajahnya dibuat senyaman dan seantusias mungkin. “Ibu, sekarang masuk kelas kita enggak? Duh, saya sama teman-teman udah semangat banget ini mau belajar Matematika dari subuh, padahal.”
Aundri dan Helbi di belakangnya kompak mengangguk-angguk dramatis, menahan senyum.
Saya menghentikan langkah, melirik jam di HP yang menunjukkan pukul 12.55, lalu menatap mereka bergantian dengan senyum penuh arti. Kalimat “Ibu sekarang masuk enggak?” yang dibalut rayuan “udah semangat belajar” adalah templat pertahanan diri mereka. Mereka tidak sedang merindukan Matematika; mereka sedang mengetes peruntungan, berdoa dalam hati agar saya menjawab, “Ibu ada keperluan dinas, kalian belajar mandiri saja, ya.” Jam kosong di jam terakhir adalah surga dunia anak sekolah.
“Semangat belajar atau semangat mau pulang duluan, Dik?” sindir saya santai.
“Masuk dong. Malah Ibu sengaja bawa sesuatu yang seru biar kalian enggak ngantuk. Ayo masuk kelas!”
Ketiganya langsung pundung. Pundak mereka merosot lemas saat berjalan mengekor di belakang saya menuju kelas.
Suasana kelas XII persis seperti perkiraan: sebagian siswa sudah menyandarkan kepala di meja, sebagian lagi sibuk mengipasi diri dengan buku tulis. Buku paket Matematika masih terkunci rapat di dalam tas, sebuah simbol enggan yang tak perlu diucapkan.
“Semangat pagi menjelang pulang,” sapa saya, disambut gumaman lemas seisi kelas. “Tolong jangan ada yang mengeluarkan buku paket atau coret-coret rumus dulu. Ibu tahu ini jam ngantuk. Sekarang Ibu mau tanya sesuatu yang santai.”
Mendengar kata “tidak ada rumus”, beberapa kepala yang tadinya menempel di meja langsung tegak kembali.
“Di sini siapa yang sering nongkrong di KBP kalau malam Minggu?”
Lebih dari separuh kelas, termasuk Dika dan gengnya, langsung mengacungkan jari.
“Oke. Bayangkan kalian lagi nongkrong, lalu cuaca di luar mulai mendung pekat. Angin bertiup kencang dari arah gunung. Di kantong kalian hanya ada uang pas-pasan untuk beli es teh dan baso tahu. Pilihannya dua: kalian nekat nongkrong atau langsung memutuskan pulang ke rumah?”
“Langsung balik kanan, Bu! Takut kehujanan di jalan, repot,” seru Helbi.
“Nah, pertanyaan Ibu: kenapa kalian memutuskan pulang? Apakah kalian pasti tahu kalau lima menit lagi bakal hujan?”
“Ya, enggak pasti tahu sih, Bu. Tapi kan mendungnya udah gelap banget, anginnya juga gede. Kemungkinan besarnya mah pasti hujan,” jawab Dika logis.
“Tepat sekali!” kata saya sambil mengetuk papan tulis. “Keputusan yang kalian ambil itu didasarkan pada perkiraan. Di Matematika, perhitungan tentang seberapa besar kemungkinan sesuatu terjadi itu disebut dengan peluang suatu kejadian.”
Saya menuliskan satu kata besar di papan tulis:
PELUANG
“Anak-anak, hidup kita penuh dengan ketidakpastian, sama seperti cuaca Padalarang atau jodoh kalian nanti. Tapi, Matematika memberikan kita alat untuk mengukur ketidakpastian itu supaya kita bisa mengambil keputusan yang cerdas dan enggak tebak-tebak buah manggis.”
Untuk mempermudah, saya mengeluarkan sebuah dadu bermata enam dari saku baju saya. Anak-anak mulai tertarik melihat benda tersebut. Suasana kelas yang tadinya pengap dan mengantuk perlahan berubah. Saya tidak memberikan mereka deretan simbol abstrak, melainkan logika yang bisa diterima akal sehat mereka yang sedang lelah.
“Peluang itu nilainya selalu berada di antara 0 sampai 1,” lanjut saya. “Kalau nilainya 0, artinya kejadian mustahil terjadi. Contohnya: peluang besok pagi truk pasir dilarang lewat jalan raya Padalarang. Itu mustahil, kan? Nah, kalau nilainya 1, artinya kejadian itu pasti terjadi. Contohnya: peluang kita semua yang ada di kelas ini bakal menua.”
Anak-anak tertawa mendengarnya. Contoh riil yang dekat dengan kehidupan sehari-hari mereka berhasil meruntuhkan dinding tebal bernama “benci Matematika”.
“Jadi,” saya menatap Dika sambil tersenyum simpul, “seperti pertanyaan kamu di koridor tadi: ‘Ibu sekarang masuk enggak?’ Di jam terakhir yang terik begini, peluang Ibu untuk tetap masuk kelas dan mengajar kalian itu bernilai 1 alias pasti, sedangkan peluang Ibu untuk ngasih jam kosong itu mendekati 0 alias mustahil.”
Seketika seisi kelas meledak oleh tawa dan sorakan yang ditujukan kepada Dika. Dika hanya bisa garuk-garuk kepala sambil ikut terkekeh.
Tepat saat tawa mereka mereda, bel panjang berbunyi nyaring ke seluruh penjuru sekolah. Pukul 14.30, tanda waktu pelajaran telah usai dan gerbang kepulangan telah dibuka.
“Pelajaran hari ini selesai. Kita tutup dengan hamdalah bersama-sama. Tugas kalian di rumah hanya satu: perhatikan lingkungan sekitar kalian saat pulang, lalu sebutkan satu kejadian yang peluang terjadinya hampir pasti dan satu kejadian yang mustahil. Kita bahas minggu depan,” ujar saya sambil merapikan tas.
Saat saya berjalan keluar pintu kelas, Dika setengah berlari menyusul saya, hendak bersalaman dan menyalami tangan saya.
“Bu, makasih, ya, Bu. Ternyata Matematika peluang seru juga, enggak bikin pusing pas jam terakhir,” bisik Dika jujur, kali ini tanpa ada kalimat sarkas atau pura-pura.
Saya tersenyum lebar melihatnya melompat ringan menyusul teman-temannya menuju gerbang. Siang itu, di antara debu jalanan Padalarang dan kantuk yang menyerang, Matematika kembali berhasil merebut satu ruang kecil di hati mereka.
Profil Penulis
Astri Wijayanti, S.Pd., biasa dipanggil Bu Achi atau Bu Astri, merupakan anak kedua dari lima bersaudara. Ia lahir di Subang pada 14 Juli 1991 dan saat ini berdomisili di G-Land Padalarang Valley. Ia memiliki hobi bermain bulu tangkis dan memasak. Menurutnya, sesuatu akan menjadi kebanggaan jika dikerjakan, begitu pula cita-cita akan menjadi kesuksesan jika diawali dengan usaha untuk mencapainya, bukan hanya mimpi. Ia menempuh pendidikan dasar di SD Negeri Mekarsari, melanjutkan ke SMP Negeri 2 Wanayasa dan SMA Negeri 1 Wanayasa jurusan IPA, kemudian melanjutkan pendidikan tinggi di FKIP UNINUS Bandung. Saat ini, ia tercatat sebagai guru Matematika di SMA Negeri 2 Padalarang.











