
[Sumber gambar: Kover buku]
Penulis: Agnan Masykuri
Karya sastra tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sebagai media refleksi yang mampu merepresentasikan kompleksitas kehidupan manusia. Melalui bahasa, pengarang menghadirkan realitas yang sarat dengan nilai, kritik, dan gagasan mengenai kondisi sosial serta psikologis masyarakat. Oleh karena itu, pembacaan karya sastra perlu dilakukan secara kritis dan analitis agar makna yang terkandung di dalamnya dapat dipahami secara mendalam.
Cerpen Robohnya Surau Kami karya A. A. Navis merupakan salah satu karya sastra Indonesia yang menampilkan kritik sosial secara tajam melalui narasi yang sederhana. Cerita ini berpusat pada tokoh Kakek, seorang penjaga surau yang mengabdikan hidupnya untuk beribadah. Ia digambarkan sebagai sosok yang tekun dan religius, tetapi di balik itu terdapat persoalan mendasar terkait pemaknaan ibadah dan relasi manusia dengan kehidupan sosial. Konflik utama dalam cerpen ini bukanlah konflik fisik, melainkan konflik batin yang mengarah pada krisis makna.
Dalam tinjauan simbolik, unsur yang paling menonjol adalah simbol “surau”. Secara literal, surau merupakan tempat ibadah umat Islam. Namun, dalam cerpen ini, surau memiliki makna yang lebih luas, yakni sebagai representasi nilai-nilai spiritual dan moral masyarakat. Hal ini terlihat dari penggambaran surau yang semakin sepi dan tidak terurus, yang mencerminkan kemunduran praktik sosial keagamaan. Dalam salah satu bagian cerita, digambarkan bahwa surau hanya ramai oleh aktivitas Kakek seorang diri, sementara masyarakat sekitar tidak lagi menjadikannya pusat kehidupan sosial dan spiritual.
Makna simbolik tersebut diperkuat melalui kutipan berikut:
“Engkau terlalu mementingkan dirimu sendiri. Engkau hanya beribadat saja, tetapi tidak mempedulikan kehidupan orang lain.”
Kutipan ini menunjukkan bahwa surau tidak hanya dimaknai sebagai tempat ibadah secara fisik, tetapi juga sebagai simbol praktik keagamaan yang seharusnya menyatu dengan kehidupan sosial. Dengan demikian, keruntuhan surau dalam cerita dapat ditafsirkan sebagai runtuhnya keseimbangan antara hubungan manusia dengan Tuhan (hablumminallah) dan hubungan manusia dengan sesama (hablumminannas).
Selain itu, cerita yang disampaikan oleh Ajo Sidi berfungsi sebagai simbol kritik terhadap pemahaman agama yang sempit. Tokoh dalam cerita tersebut digambarkan rajin beribadah, tetapi tetap mendapatkan hukuman karena mengabaikan tanggung jawab sosial. Hal ini menegaskan bahwa nilai spiritual tidak dapat dipisahkan dari dimensi sosial.
Dari sudut pandang psikologis, tokoh Kakek mengalami guncangan batin yang signifikan setelah mendengar cerita dari Ajo Sidi. Kondisi ini dapat dianalisis menggunakan teori disonansi kognitif dari Leon Festinger, yang menjelaskan bahwa individu akan mengalami ketegangan psikologis ketika terdapat ketidaksesuaian antara keyakinan dan realitas yang dihadapi. Dalam hal ini, Kakek meyakini bahwa ibadah yang dilakukan secara konsisten sudah cukup untuk mencapai keselamatan. Namun, cerita tersebut menghadirkan perspektif baru yang bertentangan dengan keyakinannya.
Akibatnya, Kakek mengalami konflik internal yang ditandai dengan kebingungan, kecemasan, dan kehilangan arah hidup. Perubahan kondisi psikologis ini terlihat dari sikapnya yang menjadi lebih murung, pasif, dan penuh keraguan. Ia mulai mempertanyakan makna ibadah yang selama ini dijalaninya. Hal ini menunjukkan bahwa krisis yang dialami Kakek tidak hanya bersifat intelektual, tetapi juga emosional.
Selain teori disonansi kognitif, kondisi Kakek juga dapat dikaitkan dengan konsep krisis eksistensial. Dalam psikologi eksistensial, krisis ini terjadi ketika seseorang kehilangan makna hidup akibat runtuhnya sistem nilai yang selama ini diyakini. Kakek yang sebelumnya memiliki tujuan hidup yang jelas—yakni beribadah—tiba-tiba dihadapkan pada kenyataan bahwa pemahamannya tersebut tidak cukup. Hal ini menyebabkan munculnya perasaan hampa dan putus asa.
Perubahan perilaku Kakek menjadi bukti konkret dari kondisi psikologis tersebut. Ia tidak lagi aktif menjaga surau seperti sebelumnya dan cenderung menarik diri dari lingkungan. Dalam konteks ini, perilaku tersebut mencerminkan gejala depresi ringan yang ditandai dengan kehilangan motivasi dan penurunan aktivitas.
Fenomena yang dialami Kakek memiliki relevansi dengan kehidupan nyata. Dalam masyarakat, masih banyak individu yang menjalankan praktik keagamaan secara ritualistik tanpa diimbangi dengan kepedulian sosial. Misalnya, terdapat orang yang rajin beribadah di tempat ibadah, tetapi kurang peduli terhadap kondisi lingkungan sekitar, seperti tidak membantu tetangga yang kesulitan atau bersikap acuh terhadap masalah sosial. Contoh lain dapat ditemukan dalam kehidupan sehari-hari, seperti individu yang aktif dalam kegiatan keagamaan, tetapi masih melakukan tindakan yang merugikan orang lain, seperti tidak jujur atau tidak memiliki empati.
Contoh-contoh tersebut menunjukkan bahwa kesalehan individu tidak selalu sejalan dengan perilaku sosial yang baik. Hal ini sejalan dengan kritik yang disampaikan dalam cerpen, bahwa pemaknaan agama yang sempit dapat menyebabkan ketimpangan antara nilai spiritual dan praktik sosial.
Fokus analisis dalam tulisan ini terletak pada aspek psikologis dan simbolik. Oleh karena itu, pembahasan diarahkan untuk memperdalam kedua aspek tersebut. Secara simbolik, surau menjadi representasi utama dari nilai keagamaan yang mengalami degradasi makna. Sementara itu, secara psikologis, tokoh Kakek menjadi representasi individu yang mengalami krisis akibat perubahan cara pandang terhadap kehidupan.
Keterkaitan antara aspek simbolik dan psikologis terlihat dari bagaimana simbol surau memengaruhi kondisi batin tokoh. Ketika makna surau sebagai simbol keagamaan mengalami pergeseran, hal tersebut turut mengguncang keyakinan Kakek. Dengan kata lain, simbol tidak hanya berfungsi sebagai elemen naratif, tetapi juga sebagai pemicu konflik psikologis.
Dalam penutup, dapat disimpulkan bahwa cerpen Robohnya Surau Kami karya A. A. Navis tidak hanya menyajikan kritik sosial, tetapi juga menghadirkan analisis mendalam mengenai kondisi psikologis manusia. Melalui simbol surau, pengarang menggambarkan kemunduran nilai spiritual yang tidak diimbangi dengan kepedulian sosial. Sementara itu, melalui tokoh Kakek, pengarang menunjukkan bagaimana perubahan pemahaman dapat memicu krisis kejiwaan yang kompleks.
Dengan demikian, tinjauan psikologis dalam cerpen ini mencakup aspek kejiwaan, emosi, dan perilaku tokoh yang mengalami disonansi kognitif dan krisis eksistensial. Adapun tinjauan simbolik menegaskan bahwa surau bukan sekadar latar tempat, melainkan simbol nilai keagamaan yang mengalami pergeseran makna. Karya ini mengajak pembaca untuk merefleksikan kembali keseimbangan antara ibadah dan tanggung jawab sosial dalam kehidupan sehari-hari.
Bionarasi Penulis

Agnan Masykuri merupakan mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) IKIP Siliwangi angkatan 2023. Ketertarikannya terhadap sastra tidak berhenti pada aktivitas membaca, tetapi berkembang menjadi upaya untuk memahami makna yang tersembunyi di balik teks. Ia mulai menyadari bahwa karya sastra bukan sekadar cerita, melainkan representasi pengalaman manusia yang kompleks. Hal ini mendorongnya untuk mendalami pendekatan psikologis dan simbolik, karena keduanya memberikan ruang untuk membaca karya sastra secara lebih mendalam, baik dari sisi tokoh maupun makna yang dibangun.
Membaca sastra bukan hanya memahami alur, tetapi juga menelusuri pertanyaan-pertanyaan yang lebih mendasar tentang kehidupan. Ia melihat bahwa teks sastra sering kali merefleksikan persoalan manusia, seperti keyakinan, konflik batin, serta cara seseorang memaknai realitas. Pandangan tersebut memengaruhi cara berpikirnya dalam menulis kritik sastra yang tidak hanya deskriptif, tetapi juga analitis dan reflektif.
Melalui tulisan kritik terhadap cerpen Robohnya Surau Kami, ia berupaya menunjukkan bahwa persoalan yang diangkat dalam karya tersebut masih memiliki relevansi dengan kehidupan saat ini. Konflik yang dialami tokoh tidak hanya dipahami sebagai bagian dari cerita, tetapi juga sebagai cerminan realitas sosial yang masih dapat ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Menulis menjadi salah satu cara baginya untuk mengasah kepekaan berpikir sekaligus memperdalam pemahaman terhadap manusia dan lingkungannya. Ia memandang bahwa proses ini tidak bersifat instan, melainkan terus berkembang seiring dengan pengalaman belajar yang dijalani.
Ke depan, Agnan Masykuri berharap dapat terus mengembangkan kemampuan analisis dan penulisan, serta menjadikan sastra sebagai sarana untuk berpikir kritis dan reflektif dalam menghadapi berbagai persoalan kehidupan.











Tinggalkan Balasan