Literatura Nusantara

Membumikan Sastra Melangitkan Kata

Ketika Perempuan Berhenti Takut: Pembacaan Feminisme Eksistensialis dalam Perempuan di Titik Nol

[Sumber gambar: AI]

Penulis: Laraswati

Membaca Perempuan di Titik Nol karya Nawal El Saadawi terasa seperti membaca luka yang selama ini disimpan diam-diam oleh banyak perempuan. Novel ini menceritakan Firdaus, seorang perempuan yang sejak kecil hidup dalam kekerasan, penghinaan, dan penolakan sampai akhirnya dijatuhi hukuman mati karena membunuh seorang laki-laki yang menindasnya. Di tangan Nawal El Saadawi, kisah ini tidak hanya menjadi cerita tentang penderitaan seorang perempuan, tetapi berubah menjadi kritik terhadap masyarakat yang menempatkan perempuan sebagai makhluk kelas dua. Novel ini menjadi semakin kuat karena Nawal tidak menulis dari kejauhan. Ia menulis dari pengalaman hidup yang benar-benar pernah menyentuh tubuh dan hidupnya sendiri. Karena itu, Perempuan di Titik Nol dapat dibaca melalui teori feminisme eksistensialis Simone de Beauvoir yang melihat bahwa perempuan sering diposisikan sebagai Liyan (the Other), yaitu pihak yang keberadaannya hanya dilihat melalui pandangan laki-laki.

Simone de Beauvoir menjelaskan bahwa dalam masyarakat patriarki, laki-laki dianggap sebagai pusat, sedangkan perempuan diposisikan sebagai “yang lain”. Perempuan tidak diberi ruang untuk menentukan dirinya sendiri karena identitasnya dibentuk oleh aturan sosial yang dibuat oleh laki-laki. Dalam novel ini, Firdaus mengalami hal itu sejak masa kecil. Ia hidup di lingkungan yang membuat perempuan harus menerima penderitaan sebagai sesuatu yang biasa. Ketika Firdaus ingin memperoleh pendidikan yang lebih tinggi, ia justru mendengar kalimat, “Ia tertawa dan menjelaskan bahwa El-Azhar hanya untuk kaum pria” (hlm. 25). Kutipan ini memperlihatkan bahwa bahkan pengetahuan pun dibatasi oleh jenis kelamin. Tawa dalam kalimat itu terasa penting karena menunjukkan bahwa keinginan perempuan untuk berkembang sering dianggap tidak layak. Dalam teori Beauvoir, keadaan seperti ini menunjukkan bagaimana perempuan sejak awal diarahkan untuk menerima batas hidup yang dibuat oleh orang lain.

Penindasan yang dialami Firdaus tidak berhenti pada pendidikan. Ia juga melihat bahwa dunia di sekelilingnya hampir sepenuhnya dikendalikan oleh laki-laki. Firdaus berkata, “Saya dapat mengetahui bahwa semua yang memerintah adalah laki-laki. Persamaan antar mereka adalah kerakusan dan kepribadian yang penuh distorsi, nafsu tanpa batas mengepul uang, seks dan kekuasaan tanpa batas” (hlm. 47). Kutipan ini menunjukkan bahwa Firdaus mulai memahami bahwa penindasan terhadap perempuan bukan hanya soal satu laki-laki yang jahat, tetapi soal sistem yang memberi kuasa besar kepada laki-laki. Dalam pandangan Simone de Beauvoir, laki-laki ditempatkan sebagai subjek utama yang menentukan dunia, sementara perempuan hanya dianggap pelengkap. Menurut saya, bagian ini penting karena Nawal memperlihatkan bahwa Firdaus tidak hanya menderita secara pribadi, tetapi juga mulai sadar bahwa penderitaannya berhubungan dengan struktur sosial yang lebih luas.

Novel ini juga menunjukkan bagaimana tubuh perempuan sering bukan milik perempuan itu sendiri. Firdaus menyadari bahwa relasinya dengan laki-laki selalu berhubungan dengan tubuh dan kekuasaan. Ia berkata, “Betapa pun suksesnya pelacur, ia tidak pernah dapat mengenal semua lelaki” (hlm. 16). Kalimat ini memperlihatkan bahwa bahkan ketika seorang perempuan tampak memiliki kuasa atas tubuhnya sendiri, tetap saja laki-laki menjadi pihak yang menentukan makna tubuh tersebut. Dalam feminisme eksistensialis, Beauvoir menekankan bahwa perempuan sering dipandang sebagai tubuh, bukan sebagai manusia utuh. Saya melihat kutipan ini bukan hanya bicara tentang pelacuran, tetapi tentang bagaimana perempuan dalam sistem patriarki sering dipaksa memahami dirinya melalui kebutuhan laki-laki.

Bentuk penindasan lain muncul dalam rumah tangga. Firdaus hidup dalam pernikahan yang penuh kekerasan dan dibungkus oleh norma yang seolah membenarkannya. Dalam novel tertulis, “Aturan agama mengizinkan untuk melakukan hukuman itu. Seorang istri yang bijak tidak layak mengeluh tentang suaminya. Kewajibannya adalah kepatuhan yang sempurna” (hlm. 83). Kutipan ini menunjukkan bahwa patriarki sering bersembunyi di balik tradisi dan tafsir moral. Simone de Beauvoir menjelaskan bahwa perempuan sering dibentuk untuk hidup demi orang lain, bukan demi dirinya sendiri. Dalam bagian ini, Firdaus dipaksa menerima bahwa kepatuhan adalah bentuk ideal perempuan. Menurut saya, yang paling menyakitkan dari kutipan ini adalah bagaimana kekerasan tidak lagi terlihat sebagai kekerasan, tetapi berubah menjadi sesuatu yang dianggap wajar oleh masyarakat.

Akibat pengalaman yang terus berulang, Firdaus akhirnya kehilangan kepercayaan terhadap laki-laki. Ia mengatakan, “Tidak… saya sudah tidak percaya lagi kepada lelaki” (hlm. 119). Kalimat ini terdengar sederhana, tetapi sebenarnya menunjukkan perubahan besar dalam kesadaran Firdaus. Dalam teori Beauvoir, kesadaran perempuan terhadap posisinya sebagai pihak yang ditindas menjadi langkah awal untuk keluar dari peran sebagai objek. Firdaus mulai melihat bahwa hidupnya selama ini selalu ditentukan oleh orang lain. Saya melihat bagian ini bukan sebagai kebencian terhadap laki-laki semata, tetapi sebagai titik ketika Firdaus mulai memahami bahwa dirinya berhak menentukan cara memandang hidupnya sendiri.

Kesadaran Firdaus mencapai titik yang lebih tajam ketika ia berkata, “Saya bukan seorang pelacur. Tetapi sejak semula, Ayah, Paman, suami saya, mereka semua, mengajarkan untuk menjadi dewasa sebagai pelacur” (hlm. 195). Kutipan ini sangat kuat karena menunjukkan bahwa pelacuran dalam novel bukan hanya pekerjaan, tetapi simbol dari bagaimana perempuan diajarkan untuk menyerahkan dirinya kepada orang lain. Dalam perspektif Simone de Beauvoir, perempuan sering tidak memiliki kebebasan untuk mendefinisikan dirinya sendiri karena sejak kecil identitasnya sudah dibentuk oleh laki-laki. Firdaus menyadari bahwa dirinya tidak tiba-tiba menjadi korban dunia, tetapi sejak kecil sudah dibesarkan dalam sistem yang membuat perempuan kehilangan dirinya pelan-pelan.

Puncak perlawanan Firdaus terlihat ketika ia berkata, “Setiap orang harus mati. Saya lebih suka mati karena kejahatan yang saya lakukan daripada mati untuk salah satu kejahatan yang kau lakukan” (hlm. 200). Dalam kalimat ini, Firdaus akhirnya mengambil alih hidupnya sendiri. Beauvoir menyatakan bahwa manusia menjadi bebas ketika berani bertanggung jawab atas pilihannya sendiri. Firdaus memang tidak bisa mengubah masyarakat yang menindasnya, tetapi ia memilih untuk tidak lagi hidup menurut aturan yang dibuat untuk menghancurkannya. Banyak pembaca melihat Firdaus sebagai simbol kemenangan perempuan. Saya justru melihat kebebasan Firdaus terasa sangat pahit, karena ia baru bisa menjadi dirinya sendiri ketika hidupnya hampir berakhir. Kebebasan dalam novel ini bukan kebebasan yang indah, melainkan kebebasan yang lahir dari luka yang terlalu lama dipendam.

Novel ini juga masih relevan dengan kehidupan nyata. Pengalaman yang dialami Firdaus memiliki hubungan dengan kehidupan Nawal sendiri yang pernah mengalami sunat perempuan saat kecil. Hingga hari ini, praktik sunat perempuan masih terjadi di beberapa negara atas nama tradisi dan moral. UNICEF mencatat bahwa jutaan perempuan di dunia masih mengalami kekerasan berbasis budaya yang membuat tubuh perempuan dikontrol sejak kecil. Karena itu, Perempuan di Titik Nol tidak hanya berbicara tentang satu tokoh fiksi, tetapi juga tentang kenyataan yang masih dialami banyak perempuan di berbagai tempat. Hal inilah yang membuat novel ini terasa dekat meskipun ditulis puluhan tahun lalu.

Pada akhirnya, Perempuan di Titik Nol bukan hanya novel tentang perempuan yang menderita, tetapi tentang perempuan yang akhirnya menyadari dirinya sebagai manusia. Melalui teori feminisme eksistensialis Simone de Beauvoir, Firdaus dapat dilihat sebagai perempuan yang berusaha keluar dari posisi sebagai objek dan menjadi subjek dalam hidupnya sendiri. Bagi saya, kekuatan novel ini bukan hanya terletak pada kisahnya yang menyakitkan, tetapi pada keberaniannya menunjukkan bahwa perempuan sering baru dianggap berbahaya ketika mereka berhenti takut. Di situlah Nawal El Saadawi berhasil membuat kisah Firdaus menjadi suara yang lebih besar daripada dirinya sendiri.


Eksplorasi konten lain dari Literatura Nusantara

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Categories:

Satu tanggapan untuk “Ketika Perempuan Berhenti Takut: Pembacaan Feminisme Eksistensialis dalam Perempuan di Titik Nol”

  1. Avatar Olaf
    Olaf

    Pembahasan yang menarik. Saya suka cara pembahasannya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *