
[Sumber gambar: AI]
Penulis: Selfi Novita Mariam
Karya sastra pada dasarnya tidak bisa dipisahkan dari kenyataan hidup. Dalam analisis sastra, pendekatan mimetik melihat karya sebagai cerminan dari realitas kehidupan. Dengan cara ini, berbagai kejadian dalam karya dapat diinterpretasikan sebagai cerminan keadaan sosial di masyarakat. Oleh karena itu, novel Ternyata Menjadi Dewasa Itu… karya Yoga Maulana bisa dianalisis sebagai gambaran kehidupan generasi muda yang menghadapi berbagai tekanan dalam perjalanan menuju kedewasaan. Pendekatan ini memudahkan pembaca untuk menyadari bahwa pertikaian dalam karya bukan hanya hasil khayalan, tetapi memiliki hubungan dengan kenyataan yang sebenarnya di masyarakat.
Novel ini menggambarkan proses pertumbuhan sebagai suatu perjalanan yang cukup rumit. Kedewasaan tidak terlihat sebagai keadaan yang sempurna, tetapi lebih sebagai hasil dari perjalanan hidup yang penuh liku. Karakter utama menghadapi berbagai situasi yang memengaruhi pandangan dan sikapnya terhadap hidup. Dalam salah satu kutipan, dinyatakan, “Jadikan masa lalu sebagai guru terbaik di masa yang akan datang.” Pernyataan ini menekankan bahwa pengalaman yang lalu sangat berkontribusi dalam membentuk kedewasaan. Proses ini terjadi melalui merenungkan, menerima, serta belajar dari kegagalan yang dialami. Oleh karena itu, pengalaman hidup tidak hanya memengaruhi karakter seseorang, tetapi juga memengaruhi cara orang tersebut membuat keputusan di kemudian hari.
Tekanan ekonomi muncul sebagai salah satu faktor penting yang dapat mengakibatkan konflik dalam cerita. Dalam buku tersebut, tokoh utama digambarkan mengalami masalah finansial yang berpengaruh pada keberlangsungan pendidikannya, misalnya saat ia mempertimbangkan untuk menghentikan kuliah akibat terbatasnya dana. Kejadian ini menunjukkan bahwa akses pendidikan tidak hanya ditentukan oleh kemampuan individu, tetapi juga sangat berkaitan dengan situasi ekonomi. Hal ini sesuai dengan informasi yang menunjukkan bahwa masih terdapat mahasiswa yang terpaksa menghentikan pendidikan mereka karena kurangnya dana (Kompas, 26 Mei 2024). Oleh karena itu, masalah dalam novel ini tidak terpisah, tetapi mencerminkan kenyataan sosial yang lebih luas, terutama mengenai dampak situasi ekonomi terhadap masa depan seseorang.
Selain faktor keuangan, kewajiban terhadap keluarga juga memberikan tekanan yang cukup besar. Karakter utama tidak hanya berusaha untuk memenuhi kebutuhan pribadinya, tetapi juga berkontribusi dalam memenuhi keperluan keluarga. Kondisi ini menggambarkan fenomena generasi sandwich, yaitu kondisi ketika individu harus menghadapi tanggung jawab ganda secara bersamaan. Fenomena ini banyak dialami oleh generasi muda dan menyebabkan beban sosial yang cukup besar (CISDI, 22 Juli 2023). Dalam konteks ini, kedewasaan terlihat sebagai tuntutan sosial yang sulit untuk dihindari.
Dampak dari tekanan ekonomi dan sosial tersebut kemudian memengaruhi keadaan psikologis tokoh. Dalam bagian kalimat yang berbeda diungkapkan, “Aku telah menjalani banyak malam untuk belajar mengikhlaskan dan memilih untuk beristirahat sejenak untuk mempersiapkan diri. Pernyataan ini mencerminkan adanya kelelahan emosional dan usaha untuk bertahan di tengah tekanan yang dihadapi. Selain itu, timbul rasa ketidakpuasan terhadap pencapaian yang sudah diperoleh. Situasi ini mencerminkan pertempuran internal yang berlangsung tanpa henti. Fenomena ini sejalan dengan riset bertambahnya isu kesehatan mental di kalangan remaja dan orang dewasa muda (Universitas Airlangga, 15 Oktober 2025). Dengan cara ini, tekanan sosial dalam novel tidak hanya mempengaruhi secara eksternal, tetapi juga berimbas pada kondisi internal individu.
Pengaruh media sosial bertambah pada tekanan yang dirasakan oleh karakter. Dalam salah satu pernyataan, dijelaskan bahwa ‘Mengakses media sosial terasa seperti berada di neraka, karena melihat orang lain menjalani kehidupan yang lebih baik sementara diri sendiri merasa tertinggal. ‘ Ungkapan ini menunjukkan adanya kecenderungan untuk membandingkan diri dengan orang lain, yang berdampak pada penilaian individu terhadap dirinya sendiri. Media sosial bukan hanya berfungsi sebagai sarana komunikasi, tetapi juga menetapkan standar hidup yang sering kali sulit dicapai, sehingga berdampak pada kesehatan mental generasi muda. Oleh karena itu, kenyataan sosial dalam novel mencerminkan tekanan dari dunia virtual yang memperburuk beban psikologis tokoh.
Dari sudut pandang representasi, buku ini menunjukkan kemampuan yang kuat dalam mencerminkan kondisi sosial yang berhubungan dengan kehidupan para pembaca. Ketegangan yang ditampilkan bukan hanya hasil imajinasi, melainkan juga berhubungan dengan keadaan yang sebenarnya di masyarakat. Dengan demikian, pembaca dapat lebih menghayati pengalaman karakter dan menyadari hubungan antara narasi dan kehidupan sehari-hari. Karya ini berhasil melaksanakan peran sastra sebagai alat untuk merefleksikan isu sosial.
Namun, jika dilihat dari segi estetika, ada beberapa kekurangan yang cukup terlihat. Penggambaran konflik emosional yang sering terjadi membuat alur cerita tidak terasa berkembang dengan baik. Di samping itu, penggunaan bahasa yang sederhana mengakibatkan makna yang lebih dalam tidak sepenuhnya terungkap. Narasi yang terlalu fokus pada rasa sakit juga berpotensi menciptakan kesan bahwa karakter tidak memiliki kesempatan untuk mengubah keadaan yang mereka hadapi. Hal ini menjadikan dinamika cerita kurang bervariasi.
Meskipun demikian, kesederhanaan bahasa bisa dianggap sebagai pilihan penulis untuk menjangkau audiens yang lebih besar, terutama di kalangan remaja. Bahasa yang mudah dimengerti membantu pembaca menangkap pesan yang ingin disampaikan. Pilihan ini memberikan keuntungan dari segi keterbacaan, tetapi di sisi lain mengurangi kedalaman makna yang bisa dieksplorasi lebih lanjut.
Secara umum, novel yang berjudul Ternyata Menjadi Dewasa Itu… karya Yoga Maulana berhasil menggambarkan kenyataan sosial pada generasi muda, khususnya mengenai tekanan finansial, harapan keluarga, dan keadaan psikologis. Dengan menggunakan pendekatan mimetik, karya ini mengungkapkan bahwa perjalanan menuju kedewasaan tidak terlepas dari bermacam tekanan sosial yang mempengaruhi cara individu memahami kehidupan. Karya ini tidak hanya merefleksikan kenyataan, tetapi juga menawarkan kesempatan untuk merenungkan dinamika kehidupan yang dihadapi oleh generasi muda saat ini. Dengan representasi tersebut, pembaca dapat meraih pemahaman yang lebih mendalam tentang tantangan yang dihadapi dalam perjalanan menuju kedewasaan.












Tinggalkan Balasan