
[Sumber gambar: ilustrasi AI]
Penulis: Yulia Herliani
Kopi, Puisi, dan Ingatan yang Tidak Pernah Dingin
[Membaca “Aroma Penjual Kopi” karya Heri Isnaini]
Puisi kadang-kadang bekerja seperti aroma kopi yang baru diseduh: ia tidak selalu hadir melalui sesuatu yang dapat disentuh, tetapi mampu membangkitkan ingatan, menghadirkan kembali peristiwa yang telah lama berlalu, bahkan mempertemukan seseorang dengan ruang sejarah yang sebelumnya hanya dikenalnya melalui cerita. Aroma memiliki cara tersendiri untuk membuka pintu kenangan. Ia bergerak tanpa suara, menyusup ke dalam kesadaran, lalu menghubungkan pengalaman personal dengan sesuatu yang lebih luas daripada kehidupan seseorang. Dalam puisi “Aroma Penjual Kopi”, kopi menjadi pintu masuk bagi pertemuan semacam itu.
Puisi ini merupakan salah satu karya yang dimuat dalam buku Kepada Toean Dekker: Antologi Puisi Festival Seni Multatuli 2018, sebuah antologi bersama yang diterbitkan oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Lebak pada September 2018. Buku tersebut menghimpun puisi-puisi para penyair yang berkelindan dengan sosok Multatuli dan novel Max Havelaar. Antologi ini diterbitkan dalam rangka Festival Seni Multatuli yang diselenggarakan pada 6–9 September 2018 di Rangkasbitung, Kabupaten Lebak, Banten.
Di dalam antologi tersebut, “Aroma Penjual Kopi” karya Heri Isnaini tercantum pada halaman 137–138 dengan subjudul persembahan “Kepada Max Havelaar”. Posisi ini penting karena puisi tidak berdiri sebagai penggambaran kebiasaan minum kopi semata. Sejak awal, pembaca telah diarahkan untuk memasuki ruang intertekstual yang mempertemukan pengalaman sehari-hari dengan ingatan kolonial, terutama melalui hubungan dengan Max Havelaar, karya Multatuli yang merekam kritik terhadap praktik kolonialisme di Hindia Belanda.
Pada bait pertama, penyair menulis:
Pagi ini, kau menawarkan aroma kopi yang baru diseduh
Wanginya menyeruak seperti angin di beranda selepas hujan siang tadi
Petikan tersebut memperlihatkan bagaimana aroma kopi bekerja sebagai pemantik ingatan. Kopi tidak sekadar hadir sebagai minuman, melainkan sebagai pengalaman inderawi yang membuka hubungan antara masa kini dan masa lalu. Kata “pagi ini” memberikan penanda waktu yang konkret, sementara perbandingan aroma kopi dengan angin selepas hujan menghadirkan suasana yang akrab, tenang, dan sedikit nostalgis. Pengalaman sederhana itu kemudian bergerak menuju wilayah yang lebih kompleks ketika penyair menghadirkan nama Max Havelaar dan sejarah Hindia.
Dalam bagian pertama, percakapan tentang kopi perlahan-lahan bersinggungan dengan persoalan kolonialisme. Aku lirik mengingat kebiasaannya meminum kopi, tetapi kebiasaan tersebut kini dibatasi oleh dokter karena kandungan kafein. Percakapan yang tampaknya ringan itu kemudian berbelok ke arah sejarah ketika muncul ungkapan tentang Hindia dan “traktat balas budi”. Peralihan ini memperlihatkan cara puisi menghubungkan tubuh personal dengan tubuh sejarah. Larangan dokter terhadap kafein merupakan pengalaman individual, sedangkan penyebutan Hindia dan traktat balas budi membawa pembaca pada ingatan mengenai relasi kuasa kolonial.
Di sinilah kopi memperoleh lapisan makna yang lebih luas. Secara historis, kopi bukan sekadar komoditas yang dikonsumsi masyarakat, melainkan juga bagian dari sejarah ekonomi kolonial. Tanaman kopi pernah menjadi salah satu komoditas penting dalam sistem perdagangan dan eksploitasi di Hindia Belanda. Dengan demikian, secangkir kopi dapat dibaca sebagai benda sehari-hari yang menyimpan jejak hubungan ekonomi, politik, dan kekuasaan. Puisi ini tidak menyampaikan sejarah tersebut melalui uraian panjang, tetapi menghadirkannya melalui percakapan yang tampak sederhana.
Penyebutan Max Havelaar juga bukan pilihan yang kebetulan. Novel Max Havelaar karya Multatuli dikenal sebagai kritik terhadap penyalahgunaan kekuasaan kolonial dan penderitaan masyarakat pribumi di Hindia Belanda. Melalui dedikasi “Kepada Max Havelaar”, puisi ini membangun hubungan intertekstual dengan karya tersebut. Jika Max Havelaar menghadirkan kritik kolonial melalui narasi prosa, “Aroma Penjual Kopi” mengolah kembali ingatan sejarah itu melalui metafora, percakapan, dan perjalanan imajinatif.
Pada bagian kedua, suasana puisi mengalami pergeseran. Sosok penjual kopi mulai berhadapan dengan laki-laki bersyal kotak-kotak yang menawarkan bait-bait sajak. Penyair menegaskan bahwa laki-laki itu bukan penjual kopi. Ia menawarkan sesuatu yang berbeda: puisi. Peristiwa ini menghadirkan permainan identitas yang menarik. Penjual kopi dan penjual sajak seolah-olah merupakan dua sosok yang berbeda, tetapi keduanya bertemu dalam ruang yang sama, yakni ruang pertukaran.
Pernyataan bahwa aku lirik tetap menjadi penjual kopi, bukan penjual bait-bait sajak, menyimpan ironi. Puisi dipandang terlalu jujur untuk dijadikan barang dagangan. Ungkapan tersebut dapat dibaca sebagai refleksi mengenai posisi karya sastra dalam kehidupan sosial. Di satu sisi, puisi merupakan hasil kerja kreatif yang dapat diterbitkan, dipasarkan, dan dipertukarkan dalam ekosistem industri kebudayaan. Di sisi lain, ada sesuatu dalam puisi yang tidak sepenuhnya dapat diukur dengan nilai ekonomi. Kejujuran, pengalaman batin, dan pergulatan penciptaan tidak selalu dapat dikonversi menjadi harga.
Pada titik ini, kopi dan puisi bertemu dalam satu metafora yang saling menerangkan. Kopi dapat dijual sebagai komoditas, tetapi aroma dan pengalaman yang ditimbulkannya tidak mudah diperjualbelikan. Puisi pun demikian. Buku dapat dipasarkan, tetapi pengalaman pembaca ketika berhadapan dengan sebuah sajak merupakan peristiwa yang lebih personal. Nilai sebuah puisi tidak berhenti pada benda cetaknya, sebagaimana pengalaman menikmati kopi tidak selesai pada harga secangkir minuman.
Bagian ketiga membawa pembaca pada perjalanan yang lebih luas. Penjual kopi dan laki-laki bersyal itu berlayar menembusi kabut, menyusuri baris-baris sajak tanpa rima dan tanpa birama. Mereka berlabuh di Batavia, bergerak menuju Buitenzorg, kemudian sampai di Kota Kembang. Rangkaian nama tempat tersebut bukan sekadar penanda geografis. Batavia, Buitenzorg, dan Bandung menghadirkan lapisan ruang yang menyimpan sejarah panjang Hindia Belanda. Ketiganya menjadi semacam peta ingatan yang menghubungkan masa kolonial dengan pengalaman kekinian.
Perjalanan itu juga dapat dibaca sebagai perjalanan puisi melintasi ruang dan waktu. Puisi tidak hanya berdiam dalam halaman buku, tetapi bergerak, menembus batas geografis, dan membangun kembali hubungan antara tempat, manusia, serta sejarah. Ketika aku lirik menyatakan dirinya seperti mengada, pembaca berhadapan dengan pengalaman eksistensial yang tidak sepenuhnya dapat dijelaskan secara rasional. Ia seolah-olah hadir sekaligus tidak hadir, berada di antara pengalaman nyata dan perjalanan imajinatif yang dibangun oleh sajak.
Ungkapan “aku seperti mengada” menjadi salah satu titik penting dalam puisi ini. Kata mengada mengisyaratkan proses keberadaan, suatu keadaan ketika subjek mengalami dirinya sebagai bagian dari ruang yang sedang dilalui. Aku lirik bukan sekadar pengamat yang melihat perjalanan dari kejauhan. Ia ikut terlibat, larut, dan menjadi bagian dari perjalanan tersebut. Dalam konteks ini, puisi memperlihatkan bagaimana ingatan dapat membentuk pengalaman keberadaan seseorang. Masa lalu tidak selalu hadir sebagai sesuatu yang telah selesai, tetapi dapat kembali melalui tempat, benda, aroma, dan percakapan.
Bagian keempat justru ditutup dengan kalimat yang singkat: “Malam ini, kau ceritakan perihal pertemuanmu dengan penjual kopi itu.” Penutup tersebut tidak memberikan kesimpulan yang benar-benar final. Pembaca justru dikembalikan pada sebuah cerita tentang pertemuan. Siapa yang bercerita, siapa yang ditemui, dan bagaimana hubungan antara penjual kopi dengan laki-laki bersyal itu, tetap menyisakan ruang tafsir. Struktur puisi yang bergerak dari pagi, siang, petang, hingga malam seakan-akan membentuk satu siklus pengalaman. Namun, ketika malam tiba, cerita tidak benar-benar berakhir. Ia hanya berpindah menjadi ingatan yang diceritakan kembali.
Susunan empat bagian berdasarkan penanda waktu tersebut memperlihatkan arsitektur puitik yang cukup menarik. Pagi menghadirkan aroma dan ingatan personal; siang mempertemukan kopi dengan puisi; petang membawa keduanya ke dalam perjalanan sejarah; sedangkan malam mengembalikan pengalaman itu ke dalam sebuah cerita. Waktu dalam puisi ini bukan sekadar latar, melainkan perangkat yang mengatur gerak kesadaran aku lirik. Setiap penanda waktu membuka lapisan pengalaman yang berbeda, tetapi semuanya tetap terhubung oleh satu benda yang sama: kopi.
Jika dibaca melalui pendekatan intertekstualitas, “Aroma Penjual Kopi” memperlihatkan bagaimana sebuah puisi dapat berdialog dengan teks dan sejarah yang mendahuluinya. Max Havelaar menjadi salah satu titik rujukan yang memungkinkan pembaca menemukan hubungan antara kopi, Hindia, dan ingatan kolonial. Puisi ini tidak sedang menceritakan ulang novel Multatuli, juga tidak sekadar menjadikan tokoh atau judul novel tersebut sebagai ornamen. Ia mengambil sebagian jejak sejarah yang melekat pada Max Havelaar, kemudian mengolahnya menjadi pengalaman puitik yang lebih personal dan reflektif.
Dengan demikian, kopi dalam puisi ini dapat dibaca melalui beberapa lapisan makna. Pertama, kopi sebagai pengalaman inderawi yang membangkitkan kenangan. Kedua, kopi sebagai komoditas yang menyimpan sejarah ekonomi kolonial. Ketiga, kopi sebagai metafora pertemuan antara manusia, percakapan, dan karya sastra. Ketiga lapisan tersebut saling berkelindan, membentuk hubungan antara pengalaman personal dan ingatan kolektif.
Pembacaan ini sekaligus memperlihatkan bahwa puisi tidak selalu harus menyampaikan kritik sosial melalui pernyataan yang keras atau bahasa yang demonstratif. Kritik dapat hadir melalui benda-benda yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Secangkir kopi, misalnya, dapat menjadi jalan untuk membaca sejarah perdagangan, kolonialisme, dan hubungan manusia dengan masa lalu. Melalui strategi semacam itu, pengalaman sehari-hari memperoleh dimensi historis, sedangkan sejarah yang tampak jauh kembali hadir dalam ruang kehidupan yang akrab.
“Aroma Penjual Kopi” pada akhirnya mengajak pembaca untuk memahami bahwa benda-benda sederhana sering kali menyimpan cerita yang lebih panjang daripada keberadaannya. Kopi mungkin hanya tinggal cairan dalam cangkir, tetapi sejarah yang melekat padanya tidak selesai ketika tegukan terakhir ditelan. Demikian pula puisi: ia mungkin hanya terdiri atas sejumlah baris yang tersusun dalam halaman buku, tetapi maknanya terus bergerak mengikuti pengalaman dan pengetahuan pembaca.
Kopi boleh habis dalam secangkir perjamuan, tetapi aroma yang ditinggalkannya dapat bertahan lebih lama daripada rasa yang pernah singgah di lidah. Demikian pula puisi: baris-barisnya mungkin telah selesai ditulis, tetapi kemungkinan tafsirnya tidak pernah benar-benar berakhir.












Tinggalkan Balasan