
[Sumber gambar: dokumentasi penulis]
Penulis: Asep Khoerul Koswara
Ada masa ketika sastra hidup di rak-rak perpustakaan. Sunyi. Berdebu. Jauh dari hiruk-pikuk manusia modern. Namun hari ini, sastra justru lahir di tempat yang paling ramai: media sosial. Di layar telepon genggam. Di caption Instagram. Di utas tengah malam. Di kolom komentar yang ditulis seseorang pukul dua pagi karena merasa hidupnya terlalu sesak untuk dipendam sendiri.
Generasi hari ini hidup di tengah banjir kata-kata. Setiap hari mata kita membaca ribuan kalimat tentang kesuksesan, kegagalan, cinta, kehilangan, kesehatan mental, hingga rasa takut tertinggal dari orang lain. Tidak semua kata datang seperti nasihat. Sebagian hadir seperti luka. Sebagian lagi terasa seperti pelukan.
Bahasa akhirnya tidak lagi sekadar alat komunikasi. Ia berubah menjadi cara manusia memahami dirinya sendiri.
Kita bisa melihatnya dari istilah-istilah yang begitu akrab di telinga generasi muda: healing, burnout, insecure, overthinking, toxic. Kata-kata itu mungkin terdengar sederhana, tetapi diam-diam sedang membentuk cara seseorang melihat hidupnya. Dahulu orang hanya berkata “aku capek”. Hari ini manusia merasa perlu menjelaskan dirinya dengan lebih spesifik: “aku burnout.” Dahulu seseorang hanya merasa minder. Kini ia mengatakan dirinya insecure.
Bahasa berkembang karena manusia sedang berusaha memahami rasa yang semakin rumit.
Di titik itu, bahasa bertemu sastra.
Sebab sastra selalu lahir dari kegelisahan manusia terhadap hidupnya sendiri. Hanya bentuknya yang berubah. Jika dulu sastra hadir dalam novel panjang dan puisi berlembar-lembar, hari ini ia menjelma menjadi tulisan singkat yang viral di media sosial:
“ternyata tumbuh dewasa adalah belajar terlihat kuat meski sering hancur diam-diam.”
Kalimat seperti itu menyebar begitu cepat bukan karena indah semata, tetapi karena banyak orang merasa hidupnya sedang dibacakan.
Fenomena ini terlihat nyata beberapa tahun terakhir. Banyak unggahan tentang kesehatan mental viral bukan karena menawarkan solusi, melainkan karena berhasil mengungkapkan rasa yang selama ini sulit dijelaskan. Video seseorang menangis di kamar sambil berkata,
“aku capek jadi kuat terus,”
bisa ditonton jutaan kali karena publik merasa memiliki luka yang sama. Kata-kata akhirnya berubah menjadi ruang kolektif tempat manusia saling menemukan dirinya.
Namun media sosial juga menciptakan paradoks. Di satu sisi, bahasa menjadi alat untuk menyuarakan emosi. Di sisi lain, ia melahirkan tekanan sosial yang baru. Orang-orang berlomba terlihat produktif, bahagia, dan berhasil. Kalimat motivasi yang tampak sederhana perlahan berubah menjadi standar hidup:
“kalau dia bisa sukses di usia muda, kenapa kamu tidak?”
Tanpa sadar, bahasa digital membentuk budaya membandingkan diri. Banyak anak muda akhirnya merasa tertinggal hanya karena terlalu sering membaca kehidupan orang lain.
Konflik sosial ini semakin terasa ketika media sosial menjadi ruang validasi. Seseorang bisa merasa berharga karena jumlah “like”, komentar, atau pujian yang diterimanya. Ketika unggahannya sepi, ia mulai mempertanyakan dirinya sendiri. Ironisnya, manusia modern semakin mudah berbicara di internet, tetapi semakin sulit jujur terhadap dirinya sendiri.
Di sinilah sastra kembali menemukan relevansinya.
Sastrawan Indonesia Sapardi Djoko Damono pernah menunjukkan bahwa hal-hal paling sederhana dalam hidup manusia dapat terasa begitu dalam melalui bahasa yang jujur dan tenang. Sastra tidak selalu harus rumit. Kadang ia hanya perlu dekat dengan rasa manusia.
Sementara itu, filsuf bahasa Ludwig Wittgenstein pernah mengatakan,
“Batas bahasaku adalah batas duniaku.”
Kutipan itu terasa semakin relevan hari ini. Cara seseorang berbicara tentang dirinya akan memengaruhi cara ia menjalani hidupnya. Ketika manusia terus mengatakan dirinya gagal, lemah, atau tertinggal, kata-kata itu perlahan berubah menjadi keyakinan.
Karena itu, yang paling mengkhawatirkan hari ini mungkin bukan manusia yang kehilangan suara, melainkan manusia yang kehilangan bahasa untuk memahami dirinya sendiri. Kita hidup di zaman ketika semua orang terlihat berbicara, tetapi tidak semua benar-benar didengar.
Di tengah dunia yang bising dan serba cepat, sastra hadir bukan untuk memberi jawaban pasti. Sastra hanya membantu manusia merasa bahwa emosinya valid, bahwa lukanya nyata, dan bahwa ia tidak sendirian.
Mungkin itu sebabnya tulisan-tulisan sederhana di media sosial terasa begitu dekat dengan banyak orang. Karena pada akhirnya, manusia selalu mencari kata-kata yang mampu memeluk hal-hal yang tidak bisa dijelaskan oleh logika.












Tinggalkan Balasan