
[Sumber gambar: dokumentasi penulis]
Penulis: Titin Suhartini, S.Pd. (Guru Bahasa Indonesia, SMKN 12 Bandung)
Ketika Rindu Menjelma Cerita: Membaca Dunia Imajinatif dalam Sajak-Sajak Tentang Lie
Ada yang menarik dari Sajak-Sajak Tentang Lie, antologi cerpen karya Heri Isnaini yang diterbitkan Hyang Pustaka pada September 2026. Judulnya menghadirkan semacam paradoks genre: sajak yang lazim diasosiasikan dengan puisi justru menjadi bagian dari sebuah buku cerita pendek. Namun, pilihan tersebut bukan sekadar permainan istilah. Sajak di dalam antologi ini dapat dibaca sebagai representasi suara batin, sedangkan Lie menjadi nama yang menghubungkan berbagai pengalaman tentang cinta, kehilangan, ingatan, dan keberadaan manusia. Judul itu membuka ruang tafsir yang tidak berhenti pada pertanyaan mengenai siapa Lie, tetapi bergerak menuju persoalan yang lebih mendasar: apa yang sesungguhnya dicari manusia ketika ia merindukan seseorang?
Antologi ini memuat beragam cerita yang mempertemukan pengalaman sehari-hari dengan peristiwa ganjil, imajinasi, mitos, spiritualitas, dan kritik sosial. Rindu menjadi salah satu benang merah yang mempertautkan cerita-cerita tersebut, meskipun setiap cerpen memiliki cara berbeda dalam mengolahnya. Dalam sejumlah cerita, rindu hadir sebagai pengalaman personal yang intim; dalam cerita lainnya, ia menjadi pintu masuk untuk mempersoalkan ingatan, identitas, ketimpangan sosial, bahkan cara manusia membangun kebenaran tentang masa lalunya sendiri.
Lie dan Pencarian terhadap Diri yang Hilang
Cerpen pembuka, โAh, Mungkin Kau Lupa Aku Begitu Merindumuโ, memperkenalkan pembaca kepada Lie yang terpikat oleh suara seorang penyiar radio bernama Rie. Suara tersebut perlahan menjadi bagian penting dalam kehidupan batinnya, hingga Lie merasa menemukan seseorang yang mampu memahami perasaan-perasaan yang selama ini tidak terucapkan. Akan tetapi, ketika keberadaan Rie dipertanyakan dan jejak suara itu justru mengarah kembali kepada tulisan-tulisan lama milik Lie sendiri, cerita bergerak melampaui pola romansa konvensional.
Pengungkapan tersebut mengubah arah pembacaan. Sosok yang dirindukan tidak lagi semata-mata dapat dipahami sebagai orang lain, melainkan sebagai bagian dari diri yang telah lama ditinggalkan. Radio menjadi medium yang mempertemukan dunia luar dengan ruang batin, sedangkan suara berfungsi sebagai metafora bagi pengalaman yang belum memperoleh pengakuan. Rindu dalam cerita ini bekerja seperti sebuah mekanisme pencarian: manusia merasa kehilangan sesuatu di luar dirinya, padahal yang hilang mungkin justru kemampuan untuk mengenali dirinya sendiri.
Pilihan tersebut menarik karena menghadirkan persoalan psikologis melalui perangkat naratif yang bersifat simbolis. Radio tua, suara statik, puisi, dan kesunyian tidak hanya membangun atmosfer, tetapi juga membentuk jaringan makna yang mengarahkan pembaca kepada pertanyaan tentang batas antara kenyataan dan imajinasi. Pembaca tidak sekadar mengikuti perjalanan Lie, melainkan turut menafsirkan bagaimana ingatan dapat menyusun kembali pengalaman yang pernah terlupakan.
Pola serupa berkembang dalam โSajak-Sajak Tentang Lieโ. Kehadiran sajak-sajak anonim yang terus muncul di meja kerja Lie membangun misteri tentang identitas pengirim sekaligus memperlihatkan cinta sebagai pengalaman yang tidak selalu menuntut kepemilikan. Kertas-kertas itu menjadi jejak seseorang yang tidak sepenuhnya hadir, tetapi mampu memengaruhi kehidupan tokoh. Bandara, ruang tunggu, buku kecil, dan penantian memperluas persoalan cinta menjadi pertanyaan tentang pertemuan yang tertunda serta kemungkinan bahwa seseorang dapat tetap bermakna meskipun keberadaannya tidak pernah sepenuhnya terjelaskan.
Dalam dua cerita tersebut, Lie bukan hanya tokoh yang menggerakkan alur, melainkan juga figur yang membawa pembaca memasuki wilayah pengalaman manusia yang rapuh. Identitasnya menjadi terbuka bagi berbagai penafsiran, dan keterbukaan inilah yang membuat judul antologi memperoleh daya resonansi lebih luas daripada sekadar nama seorang tokoh.
Benda-Benda, Ingatan, dan Kebenaran yang Disembunyikan
Kekuatan lain antologi ini tampak pada kemampuannya menjadikan benda sehari-hari sebagai pusat persoalan naratif. Dalam โSepeda Tua Kakekโ, sepeda ontel yang dirawat seorang kakek selama puluhan tahun semula diperlakukan sebagai warisan keluarga. Benda itu menjadi penghubung antara tokoh dan bayangan tentang ayahnya, sekaligus jangkar yang menahan ingatan agar tidak hanyut oleh perubahan waktu.
Namun, penemuan catatan lama membongkar keyakinan yang selama ini menopang hubungan tersebut. Sepeda itu ternyata bukan warisan yang membanggakan, melainkan benda hasil pencurian. Fakta tersebut memaksa sang kakek menghadapi kenyataan bahwa kenangan yang dipeliharanya telah bercampur dengan ilusi mengenai sosok ayah.
Konflik ini menghadirkan salah satu persoalan paling menarik dalam antologi: ingatan tidak selalu menjadi tempat yang aman untuk kembali. Ia dapat menjadi ruang perlindungan, tetapi sekaligus menjadi perangkat yang mempertahankan kebohongan. Ketika kakek akhirnya meninggalkan sepeda itu, tindakan tersebut dapat ditafsirkan sebagai upaya membebaskan diri dari narasi keluarga yang telah kehilangan dasar kebenarannya.
Sepeda tua dengan demikian melampaui fungsi benda dalam cerita. Ia menjadi tanda yang menyimpan sejarah, rasa kehilangan, dan persoalan moral. Perubahan maknanyaโdari warisan menjadi bukti kejahatan, kemudian menjadi sesuatu yang harus dikembalikan kepada kebenaranโmemperlihatkan bagaimana benda memperoleh arti melalui hubungan manusia dengan masa lalu.
Pendekatan simbolis semacam ini juga tampak dalam โSungai yang Mengalir Ke dalam Rumahโ. Sungai yang berbalik arah dan memasuki halaman rumah penduduk membentuk gambaran surealis tentang kepulangan. Air membawa benda-benda yang seharusnya tidak berada di dalamnya, seolah-olah ruang alam sedang mengembalikan berbagai jejak kehidupan yang pernah tercerai-berai. Keanehan tersebut tidak semata-mata ditujukan untuk menciptakan kejutan, tetapi membuka kemungkinan pembacaan tentang hubungan manusia dengan asal-usul, rumah, dan ingatan kolektif.
Dalam konteks ini, imajinasi menjadi perangkat untuk membaca kenyataan melalui jalan yang tidak selalu realistis. Sesuatu yang mustahil secara empiris dapat memperoleh kebenaran simbolis ketika ia mengungkap pengalaman manusia yang sulit dijelaskan melalui peristiwa sehari-hari.
Cinta, Doa, Hujan, dan Dimensi Spiritual
Antologi ini tidak menempatkan cinta hanya sebagai hasrat romantis atau pengalaman kehilangan. Dalam โDoa Itu Adalah Istrikuโ, misalnya, cinta memperoleh bentuk melalui kesadaran terhadap kehidupan sehari-hari. Tangan yang menyiapkan kopi, rumah yang masih dihuni, dan tubuh yang perlahan menua menjadi bagian dari pengalaman kasih yang tidak memerlukan peristiwa dramatis untuk membuktikan keberadaannya.
Di sini, doa dapat dibaca sebagai cara memandang kehidupan dengan kesadaran yang lebih utuh. Ia tidak hanya berkaitan dengan ucapan yang diarahkan kepada Tuhan, tetapi juga dengan kemampuan mengenali kehadiran orang yang selama ini begitu dekat. Cinta menemukan maknanya melalui laku merawat, menerima perubahan, dan memahami bahwa kebersamaan memiliki nilai yang sering baru disadari ketika waktu mulai mengubah segala sesuatu.
Sementara itu, โPerempuan yang Menenun Hujanโ memperlihatkan kecenderungan lain dalam pengolahan imajinasi. Hujan tidak sekadar menjadi latar suasana, melainkan medium simbolis yang mempertemukan pengalaman manusia dengan wilayah yang tidak sepenuhnya dapat diterangkan. Ia berada di antara kenyataan dan kemungkinan, antara sesuatu yang dapat dilihat dengan sesuatu yang hanya dapat dirasakan.
Hujan, beranda, kopi, senja, dan rumah berulang kali muncul sebagai unsur yang menghubungkan pengalaman personal dengan ingatan. Pengulangan motif tersebut menciptakan semacam kelindan antarteks di dalam antologi: cerita-cerita yang berbeda dapat dibaca secara mandiri, tetapi sejumlah simbol membuatnya saling beresonansi.
Kecenderungan tersebut memperlihatkan bahwa dunia imajinatif Heri Isnaini tidak sepenuhnya memisahkan pengalaman keseharian dari dimensi spiritual. Justru melalui benda, suasana, dan peristiwa yang tampak sederhana, cerita-cerita ini mencoba menjangkau persoalan tentang keberadaan, keterbatasan manusia, serta kebutuhan untuk menemukan makna di tengah kehilangan.
Ketika Cerita Menjadi Kritik Sosial
Membaca Sajak-Sajak Tentang Lie hanya melalui tema cinta dan kerinduan tentu akan mempersempit jangkauan persoalan yang ditawarkan. Sejumlah cerpen dalam buku ini bergerak ke wilayah sosial dengan menghadirkan tokoh-tokoh yang berhadapan dengan ketimpangan, penilaian publik, dan institusi yang tidak selalu memahami pengalaman manusia secara utuh.
โAku Masih Seorang Guruโ memperlihatkan kehidupan Raka, seorang guru honorer yang harus menghadapi kesulitan ekonomi ketika menjalankan profesinya. Cerita tersebut kemudian menghadirkan persoalan yang lebih rumit ketika Raka menemukan bahwa citra dirinya sebagai guru inspiratif telah berkembang menjadi sebuah kisah yang tidak sepenuhnya sesuai dengan pengalaman yang ia jalani.
Di dalamnya terdapat pertanyaan tentang bagaimana masyarakat membentuk ingatan kolektif dan bagaimana pengorbanan seseorang dapat diubah menjadi narasi yang lebih nyaman bagi orang-orang yang mewarisinya. Penghormatan terhadap guru, dalam konteks ini, tidak cukup berhenti pada penciptaan figur teladan. Ada kehidupan konkret di balik figur tersebut, termasuk kesulitan ekonomi dan pengalaman yang mungkin tidak pernah tercatat dalam cerita resmi.
Sementara itu, โIjazah Pak Idrisโ mengangkat persoalan pengakuan terhadap pengetahuan melalui tokoh pedagang yang terbiasa mencatat menggunakan aksara Arab Pegon. Ketidakmampuannya menggunakan aksara Latin membuatnya berhadapan dengan penilaian yang menyederhanakan kemampuan literasi menjadi ukuran administratif tertentu. Cerita ini mempertanyakan siapa yang berhak menentukan batas pengetahuan, bagaimana pendidikan formal memperoleh otoritas sosial, dan mengapa pengetahuan yang tumbuh melalui tradisi lain kerap dipandang lebih rendah.
Pak Idris menjadi representasi seseorang yang pengetahuannya tidak sepenuhnya dapat dibaca melalui ukuran institusional. Catatan, doa, dan pengalaman belajarnya bersama seorang kiai menghadirkan pengertian tentang ilmu yang bertaut dengan kehidupan. Kritik sosial dalam cerita ini muncul melalui benturan antara sistem pengakuan formal dan pengalaman pengetahuan yang hidup di tengah masyarakat.
Kedua cerita tersebut memperlihatkan bahwa antologi ini tidak hanya menengok ke dalam ruang batin individu, tetapi juga mempersoalkan struktur sosial yang ikut membentuk kehidupan mereka. Rindu terhadap sesuatu yang hilang dalam cerita-cerita personal memperoleh padanan sosial berupa kerinduan terhadap pengakuan, keadilan, dan penghargaan yang lebih manusiawi.
Bahasa, Intertekstualitas, dan Watak Penceritaan
Salah satu ciri yang patut diperhatikan dari antologi ini ialah kecenderungan menghadirkan dunia sastra sebagai bagian dari kehidupan tokoh. Dalam โRuang Untuk Kitaโ, pengalaman mengajar Mekanika Fluida berkelindan dengan lamunan, mitologi Jaka Tarub dan Nawangwulan, serta ingatan terhadap tokoh-tokoh dan karya sastra Indonesia. Perjumpaan tersebut menghasilkan ruang naratif yang tidak sepenuhnya tunduk pada batas realistis.
Intertekstualitas menjadi salah satu cara cerita memperluas cakrawala maknanya. Tokoh dan gagasan yang berasal dari dunia sastra lain tidak hanya hadir sebagai rujukan, tetapi dapat mengubah cara tokoh utama memahami pengalaman yang sedang dihadapinya. Akan tetapi, strategi ini juga menuntut perhatian pembaca. Ketika rujukan datang berturut-turut, perpindahan dari satu asosiasi ke asosiasi lain dapat membuat fokus cerita bergeser. Pada bagian-bagian semacam ini, keterpaduan antara rujukan, konflik, dan perkembangan tokoh menjadi aspek penting dalam menilai keberhasilan narasi.
Dari segi bahasa, prosa dalam antologi ini cenderung reflektif, dengan perhatian kuat pada suasana dan gerak batin. Benda-benda kecil memperoleh ruang deskripsi yang cukup besar, sementara peristiwa sering kali menjadi jalan masuk menuju renungan yang lebih luas. Teknik tersebut sesuai dengan tema ingatan dan kehilangan, sebab pengalaman batin memang tidak selalu bergerak melalui urutan kejadian yang tegas.
Meskipun demikian, kecenderungan reflektif itu menghadirkan tantangan estetik. Dalam beberapa bagian, penjelasan mengenai makna suatu peristiwa dapat muncul berdekatan dengan simbol yang sebenarnya telah cukup kuat untuk menyampaikan makna tersebut. Pengulangan gagasan tentang rindu, ingatan, kesunyian, dan kepulangan juga berpotensi mengurangi daya kejut apabila tidak disertai perkembangan konflik atau perubahan perspektif yang memadai.
Catatan tersebut bukan berarti bahwa refleksi harus dihindari. Sebaliknya, refleksi merupakan salah satu kekuatan prosa ini. Yang diperlukan ialah pengaturan kadar penjelasan agar pembaca tetap memiliki ruang untuk menyusun tafsirnya sendiri. Simbol yang bekerja melalui tindakan, konflik, dan perubahan tokoh sering kali meninggalkan kesan lebih panjang daripada makna yang diterangkan secara langsung.
Dari sudut penyuntingan, ketelitian terhadap tanda baca, konsistensi dialog, pilihan kata, serta pengulangan kalimat juga penting untuk menjaga kelancaran pembacaan. Pada naskah yang ditelaah, terdapat beberapa bagian yang masih dapat dipoles, baik pada tingkat kalimat maupun kesinambungan narasi. Penyuntingan semacam itu akan membantu kekuatan gagasan dan simbol tampil lebih jernih tanpa menghilangkan watak reflektif penulis.
Antologi sebagai Ruang Pertemuan Berbagai Pengalaman
Keberagaman cerita merupakan salah satu hal yang membedakan antologi ini dari kumpulan cerpen yang hanya bergerak pada satu jenis persoalan. Pembaca menemukan kisah tentang cinta dan penantian, tetapi juga berhadapan dengan guru honorer, pengetahuan tradisional, mitos, kesepian, dan peristiwa surealis. Variasi tersebut menunjukkan bahwa pengalaman manusia tidak dapat dipisahkan secara mutlak ke dalam wilayah personal dan sosial, realistis dan imajinatif, atau rasional dan spiritual.
Meski demikian, keberagaman itu juga menimbulkan tantangan mengenai kesatuan antologi. Tidak semua cerita berhubungan secara langsung dengan Lie, dan tidak semua cerita menempatkan rindu sebagai persoalan utama. Karena itu, judul buku lebih tepat dipahami sebagai poros interpretatif daripada penanda bahwa seluruh cerpen memiliki tokoh dan konflik yang sama.
Dari perspektif tersebut, Lie dapat dibaca sebagai figur pengikat yang memungkinkan pembaca menemukan hubungan antartema. Ia bukan satu-satunya pusat cerita, melainkan semacam titik pertemuan bagi pengalaman-pengalaman yang berlainan. Kesatuan buku tumbuh bukan semata-mata dari kesinambungan plot, melainkan dari kemiripan pertanyaan yang diajukan cerita-ceritanya: apa yang tersisa ketika seseorang pergi, bagaimana masa lalu membentuk masa kini, dan sejauh mana manusia mampu memahami dirinya sendiri melalui sesuatu yang hilang?
Pertanyaan-pertanyaan itu memberikan arah pembacaan tanpa harus menyeragamkan karakter setiap cerpen. Justru ketika cerita bergerak ke persoalan sosial, mitos, atau pengalaman surealis, cakrawala antologi menjadi lebih luas dan memperlihatkan bahwa kehilangan dapat dialami dalam banyak bentuk.
Menemukan Jalan Pulang melalui Cerita
Sajak-Sajak Tentang Lie memperlihatkan ikhtiar seorang penulis untuk mempertemukan pengalaman batin dengan persoalan sosial melalui bahasa yang reflektif dan imajinasi simbolis. Rindu menjadi pintu masuk bagi berbagai pengalaman, tetapi cerita-cerita di dalamnya tidak berhenti pada romantisasi kehilangan. Rindu dapat mengantarkan seseorang kepada pengenalan diri, memaksa tokoh membongkar kebohongan yang diwariskan, menghidupkan kembali pengetahuan yang terpinggirkan, atau menyingkap jarak antara citra sosial dan kenyataan hidup.
Kekuatan antologi ini terletak pada perhatiannya terhadap hal-hal yang kerap luput dari pandangan: sebuah radio tua, sepeda yang berdebu, secangkir kopi, catatan dalam aksara yang tidak dipahami semua orang, atau ruang tunggu bandara yang menyimpan penantian. Melalui benda dan ruang tersebut, pengalaman yang tampak biasa memperoleh kemungkinan makna yang lebih luas.
Di sisi lain, antologi ini masih menyediakan ruang untuk pematangan estetik, terutama dalam pengendalian repetisi reflektif, pemadatan sejumlah bagian narasi, dan penguatan hubungan antara simbol dengan perkembangan konflik. Penyempurnaan pada aspek-aspek tersebut dapat membuat cerita bekerja lebih efektif tanpa mengurangi kedalaman perenungannya.
Pada akhirnya, nilai Sajak-Sajak Tentang Lie tidak terletak pada anggapan bahwa semua cerita harus memberikan jawaban, melainkan pada kesediaannya mempertahankan pertanyaan. Siapa yang sebenarnya kita rindukan ketika seseorang telah pergi? Apakah masa lalu yang kita kenang benar-benar sama dengan masa lalu yang pernah terjadi? Dan apakah kepulangan selalu berarti kembali kepada tempat, atau justru menemukan keberanian untuk mengenali diri yang selama ini kita tinggalkan?
Antologi ini mengajak pembaca memasuki pertanyaan-pertanyaan tersebut melalui jalan cerita yang beragam. Di dalamnya, sastra tidak hanya menjadi ruang untuk mengingat, tetapi juga ruang untuk menguji ingatan, menafsirkan kembali pengalaman, dan memahami bahwa sesuatu yang hilang tidak selalu harus ditemukan dalam bentuk semula. Kadang-kadang, yang perlu ditemukan kembali adalah cara kita memandangnya.
Bandung, 28 Oktober 2026












Tinggalkan Balasan