Literatura Nusantara

Membumikan Sastra Melangitkan Kata

Di Balik Jawaban, Sebuah Kotak Kosong

[Sumber gambar: dokumentasi penulis]

Penulis: Gabrielle Esther

“Hahahaha” suara seseorang yang tertawa dengan lantang dalam kelas, tanpa mempedulikan fakta bahwa ada seorang guru yang sedang menjelaskan sesuatu.

Hari ini, sama seperti biasanya, anak-anak kelas 12 masuk kelas. Sekilas, kita bisa melihat anak-anak yang sedang memperhatikan pelajaran dengan ‘antusias’. Tapi kalau kalian mencoba mengamati lebih lama, kalian akan sadar, dari deretan pertama,  yang biasanya dikenal sebagai sarangnya anak-anak pintar, sampai ke deretan terakhir, tidak ada yang benar kelakuannya.

Di sudut jendela, ada dua orang yang sibuk mengobrol sambil menahan tawa. Di sebelahnya, seseorang menaruh kepala di atas meja, terlelap, dengan posisi sedemikian rupa yang membuat orang-orang tidak sadar ia sedang terbawa mimpi. Di barisan tengah, beberapa anak sedang bermain blackjack, yang disembunyikan di balik buku pelajaran. Tidak ada satupun orang yang benar-benar memperhatikan kelas dengan baik. Namun, pelajaran tetap berjalan, guru di depan sesekali menulis sesuatu di papan dan menjelaskan materi yang entah benar-benar didengarkan atau tidak.

Pak Bambang, guru sejarah mereka, sedang bersantai di kursi gurunya itu, setelah memberi tugas. Ia tidak peduli bagaimana ributnya kelas itu, dan tidak mau peduli apakah mereka benar-benar mengerjakan tugas yang diberikan. Tapi, matanya sesekali melihat jam, jarinya mengetuk pelan, matanya terlihat cemas memburu waktu. Beberapa menit berlalu, kelas dibubarkan begitu saja. Lebih cepat dari biasanya.

Alasannya klasik, ‘saya ada kerjaan’. Begitulah kehidupan guru di sekolah. Mengajar di satu sekolah, lalu pindah ke tempat lain untuk menambah penghasilan.

                                                                        ~

Kartu-kartu dikeluarkan, ponsel muncul di meja, tidak lagi disembunyikan. Serentak beberapa orang pindah tempat duduk, entah untuk ikut main kartu, atau mengobrol. Tidak ada seorang pun yang peduli tentang pengumuman Pak Bambang tadi, kalau hari Kamis akan ujian. Termasuk aku.

Setelah Pak Bambang keluar, aku langsung pindah posisi, mengusir seseorang yang duduk di kursi sekitar geng aku.

“Ah… gampang kokk”

“Semalam juga beres”

“Ngafal doang”

“Kalo lupa juga tinggal nyontek”
 Begitulah reaksi teman-teman setongkronganku.

Hari Selasa berlalu seperti biasanya. Pelajaran demi pelajaran lewat tanpa banyak yang memperhatikan, sementara kami sibuk bercanda dan tidak berniat mencicil materi untuk ujian. Baru pada hari Rabu, kurasa beberapa teman sekelasku mulai membuka buku catatan, entah untuk membaca dan menghafal materi atau sekadar membuat contekan. Aku sendiri

masih sibuk bermain game sampai malam, kupikir nantilah, masih ada waktu banyak.

Saat aku membuka mata, sinar matahari sudah menembus jendela kamarku, mewarnai meja. Aku mengangkat kepala pelan, leherku terasa pegal. Ponselku menyala di genggaman tanganku. 06.19

Kamis, dan aku belum belajar sama sekali. Aku langsung duduk tegak. Buku catatan yang sejak kemarin malam kubuka masih tergeletak di samping laptop, bahkan belum dibaca sama sekali. Kalau dibilang kosong, sebenarnya tidak juga. Ada beberapa catatan di dalamnya.

Untung saja gampang, pikirku. Hanya butuh sekitar 15 menit setengah materi pelajaran sudah menempel di otakku. Bukan karena aku pintar atau apa, tapi memang bahan ujiannya sangat mudah.

Suasana kelas tidak berubah jauh. Masih ada yang sibuk mengobrol dan bercanda-canda, tapi tidak sedikit yang membuka catatan dan serius belajar. Saat aku membuka pintu kelas, kepala-kepala tertunduk menyambutku. Sibuk membaca dan menghafalkan, atau sekadar membuat contekan.

KRINGG!

Bunyi bel itu menandakan dimulainya jam pelajaran sejarah. Buku ditutup, ponsel disimpan, dan wajah-wajah penuh dosa mendadak berubah menjadi wajah-wajah polos yang baru selesai belajar. Aku dan teman-temanku duduk anteng di deretan belakang, berpura-pura menjadi anak alim.

Pak Bambang berdiri di depan kelas sambil membagikan lembar soal.

“Ikuti instruksi dan jawab dengan baik. Kalian boleh istirahat setelah selesai mengerjakan”

Aku merasa yakin bisa mengerjakan, bahkan aku hampir percaya kalau aku tidak butuh contekan itu. Dan benar saja, saat aku mendapatkan lembar soal, senyum menghiasi mukaku, senyum yang sama yang memenuhi muka teman-temanku. Hafalan belaka, dan kabar baiknya kami sangat pintar dalam menghafal.

30 menit berlalu.

Satu demi satu, anak-anak kelas kami maju ke depan, menyerahkan kertas soal dan jawaban yang hanya memenuhi seperempat lembar jawaban. Dalam hal ujian, memang kelas selalu bubar lebih cepat, tergantung seberapa cepat kalian menyelesaikan ujian. Itu juga mempermudah guru untuk memeriksa jawaban kami. Hanya dalam hitungan jam, kami sudah mendapatkan nilai. Seperti biasa, nilai kami bagus, rata-rata kelas mencapai 90-an keatas. Kami semua percaya masa depan kami cerah, pasalnya nilai rapor kami tidak pernah merah.

Setelah ujian selesai, semua yang kami pelajari dan hafalkan semalaman seolah hilang begitu saja, ditelan bumi. Kebiasaan itu terus berulang, guru menjelaskan materi, kami tidak memperhatikan, lalu mulai belajar dengan sistem kebut semalam ketika ujian tiba. Begitu nilai keluar dan hasilnya bagus, kami tertawa lega, kemudian melupakan semuanya sampai ujian berikutnya datang.

Belajar hanya untuk ujian.

Ujian hanya untuk nilai.

Hanya untuk sebuah angka yang tertulis di kertas.

Hari berganti minggu, minggu berganti bulan.

Hingga akhirnya, bulan terakhir sebelum ujian tiba.

Kebiasaan itu terus berulang hingga akhirnya kami tiba di bulan terakhir sebelum ujian kelulusan

Mungkin kalian akan membayangkan suasana yang adem ayem, satu angkatan fokus belajar dan belajar, mata hitam, raut wajah yang kelelahan, yang berlalu tanpa masalah. Tapi, angkatan kami memang beda.

Justru di detik-detik terakhir, aku dan teman-temanku sibuk nongkrong dan main game.

Kelas kami, semakin hari semakin ribut, makin tidak bisa diatur. Guru-guru juga tidak lagi mengajar kami, mungkin mereka terlalu malas mengajar untuk angkatan yang sudah mau lulus. Belakangan ini, kami masuk sekolah hanya untuk jamkos dan berbincang bersama teman, guru di kelas seolah menjadi patung pajangan di kelas yang sibuk dengan ponsel mereka.

Seminggu terakhir sebelum ujian, mulai ada beberapa temanku yang gugup dan mencoba belajar. Ada yang membuka buku, membaca catatan, atau hanya sibuk menghafal materi.

Walaupun begitu, mayoritas masih tidak terlalu peduli. Termasuk aku.

Tapi hari ini berbeda.

Setiap guru yang masuk kelas hari ini memberi fotokopi bahan ujian, dan… kami disuruh pelajari baik-baik.

Biasanya nilai ujian kami bagus, sehingga mereka tidak terlalu peduli. Kami selalu berandai-andai mungkin mereka pikir tanpa diajari kami juga sudah bisa.

Tapi akhir-akhir ini memang sedikit aneh, Setiap guru seolah-olah menjadi satu pemikiran, semua yang masuk dalam kelas kami membagikan fotokopi dan menekankan agar kami belajar baik-baik, katanya ‘kita harus menjaga citra baik sekolah’, ‘Jangan sampai ada yang tidak lulus dari kami’.

Awalnya aku kira mereka akhirnya benar-benar peduli pada kami. Mungkin setelah tiga tahun, mereka baru sadar kalau kami sebentar lagi akan meninggalkan sekolah. Mungkin mereka ingin memastikan kami benar-benar siap menghadapi ujian.

Tapi kalau dipikir-pikir lagi, yang paling sering mereka katakan bukan tentang apa yang akan kami pelajari.

Mereka selalu mengatakan jangan sampai ada yang tidak lulus. Jadi kami belajar. Atau setidaknya, duduk dengan buku terbuka dan membaca apa pun yang diberikan.

Bahkan satu hari penuh kami hanya duduk di kursi untuk membaca bertumpuk-tumpuk materi yang akan diuji.

Tapi, yang membuatku heran, guru-guru yang biasanya duduk main ponsel, sekarang senantiasa mengawasi kami saat membaca, sangat ketat bahkan.

Belakangan ini, tidak ada lagi yang bisa bersantai seperti biasanya. Siapa pun yang mengobrol langsung ditegur, ponsel yang digunakan saat belajar akan disita, dan murid yang ketiduran segera dibangunkan. Guru-guru yang sebelumnya hampir tidak pernah memedulikan keadaan kelas, kini mengawasi kami dengan ketat. 

Mata elang mereka (yang kami kira sudah pensiun) belakangan ini sering beraksi, dan TAK! sebuah spidol terbang ke kepalaku tepat sasaran.

“Baca yang serius!”

“Jangan tidur-tiduran”

“Jangan sibuk sendiri”

“Kalian itu sudah mau ujian, serius dikit”

Begitulah kira-kira omongan yang terus kami dengar sepanjang hari. Setiap ada yang mulai mengobrol, bermain ponsel, atau sekadar terlihat tidak membaca, pasti teguran akan menyusul.

Akhirnya, mau tidak mau, kami semua mendalami kertas-kertas dengan serius, bahaya kalau ketahuan tidak. Lagipula, semua materi itu mudah dimengerti, jadi tidak ada yang begitu keberatan. Sejauh ini.

Besoknya tidak terlalu berbeda, hanya jumlah fotokopi yang diberikan semakin banyak saja. Rasanya setiap guru hari ini berlomba-lomba memberikan fotokopi materi, pembahasan, latihan soal, dan soal-soal tahun lalu. Sebenarnya aku senang-senang saja, tidak perlu repot-repot meminta catatan ke anak-anak rajin seperti pengemis meminta sedekah. Tinggal duduk, terima kertas, baca, selesai.

Dan hari ini, hari ini adalah hari terakhir sebelum ujian.

Dari awal aku sampai sekolah, kemana pandanganku melayang, disitu ada guru yang sedang berjalan menuju antah-berantah. Sepertinya mereka mondar mandir terus sambil membawa tumpukan kertas, dan beberapa malah sibuk memeriksa sesuatu di meja guru.

Hari itu, setiap pelajaran diselingi dengan latihan soal dan TO.

“Anggap saja ini ujian besok”

Kalimat itu terus terdengar sepanjang hari.

Bahkan beberapa guru mengatakan hal yang hampir sama.

“Pelajari yang ini baik-baik.”

“Kemungkinan model soalnya tidak jauh dari ini.”

“Kalau kalian bisa mengerjakan latihan ini, harusnya aman.”

Aku hanya mengangguk. Kalau begitu, memang tinggal menghafalnya saja.

Aneh rasanya melihat guru-guru yang biasanya hampir tidak pernah peduli sekarang begitu sibuk mempersiapkan kami. Tapi, jujur saja aku tidak terlalu memikirkannya

Hari itu berlalu lebih cepat dari biasanya. Kertas-kertas latihan terus berpindah tangan, papan tulis penuh dengan pembahasan, dan guru-guru seperti tidak kehabisan bahan untuk diberikan.

Lalu datanglah kelas tambahan, kelas yang paling membosankan dan menyebalkan. Kami harus berada di sekolah lebih lama hanya untuk review materi-materi dari sejak kelas 10. Yang berarti, fotokopi lagi, bacaan lagi. Kuakui itu sangat berguna, tapi lama-lama juga malas, fotokopi segunung dalam seminggu.

Aku memasukkan semua kertas yang diberikan hari ini ke dalam tas. Begitu bel pulang berbunyi, aku dan teman-temanku langsung keluar kelas seperti biasa.

Ujian besok?

Masih nanti kok, kami layak mendapatkan istirahat sebentar dari semua materi-materi.

Kami tetap pergi nongkrong, duduk di tempat biasa, membeli makanan, bermain game, dan membicarakan hal-hal yang sama sekali tidak berhubungan dengan ujian.

Sore mulai berganti malam, satu per satu temanku mulai pulang.

Akhirnya aku ikut pulang tidak lama setelahnya. Sesampainya di rumah, aku meletakkan tas di meja. Semua fotokopi yang diberikan guru hari ini masih ada di dalamnya.

Aku mengeluarkannya.

Aku mulai membaca lebih serius, mencatat hal-hal yang menurutku penting, lalu mencoba mengingatnya tanpa melihat kertas. Tapi bahkan malam itu pun, aku tidak benar-benar mencoba memahami semuanya. Aku hanya memastikan bahwa kalau soal-soal ini muncul besok, aku tahu harus menulis apa. Bukan karena aku tiba-tiba menjadi rajin, atau aku takut tidak lulus. Tapi, besok sudah ujian. Kalau aku tetap tidak belajar malam ini, rasanya keterlaluan juga.

Awalnya, aku hanya berniat membaca dua atau tiga lembar saja. Namun, setelah menyelesaikan satu materi dan beralih ke materi berikutnya, aku menyadari bahwa semuanya tidak terlalu sulit karena sudah pernah dibahas di kelas.

Aku mulai membaca lebih serius. Sesekali aku mencatat hal-hal yang menurutku penting, lalu mencoba mengingatnya tanpa melihat kertas.

Sesekali ponselku berbunyi karena grup kelas ramai. Teman-temanku masih mengirim pesan.

“Ada yang udah hafal semua?”

‘Yang sejarah bab ini keluar gak?”

Aku kembali menatap tumpukan kertas di meja. Entah kenapa, malam ini rasanya berbeda. Biasanya aku akan membaca sebentar, merasa sudah cukup, lalu kembali bermain game.

Tapi kali ini aku benar-benar serius belajar.

Hampir tengah malam, aku mulai mengantuk. Akhirnya aku menutup buku dan menyandarkan tubuh ke kursi.

“Udahlah”

Semua materi sudah kubaca. Beberapa soal latihan bahkan masih kuingat jawabannya. Aku memasukkan kembali semua fotokopi ke dalam tas dan menaruhnya di samping meja.

Besok tinggal ujian.

Pagi datang lebih cepat dari yang kuharapkan.

Alarm berbunyi, dan dengan sedikit rasa malas aku bangun dari tempat tidur.

Hari ini ujian.

Aku bersiap seperti biasa, tidak ada ritual khusus, tidak ada belajar sambil sarapan. Aku hanya memasukkan alat tulis ke dalam tas dan berangkat ke sekolah.

Sesampainya di kelas, suasananya jauh lebih ramai dari biasanya. Banyak anak-anak masih santai sekarang sibuk membuka catatan. Ada yang membaca sambil berdiri, ada yang duduk bergerombol sambil saling bertanya, dan beberapa orang terlihat masih menghafalkan materi di detik-detik terakhir.

Bel berbunyi.

Kali ini tidak ada yang langsung beranjak santai seperti biasanya. Semua orang mulai kembali ke tempat duduk masing-masing.

Beberapa guru masuk membawa tumpukan lembar soal.

Aku menerima kertas dari teman di depanku, lalu membaliknya.

Soal pertama, aku membaca perlahan, lalu mulai menulis jawaban.

Gampang.

Soal kedua juga masih bisa aku kerjakan.

Begitu pula soal ketiga.

Aku terus mengisi lembar jawaban tanpa terlalu memikirkan apa-apa, sampai sebuah pertanyaan membuat tanganku berhenti.

Aku membaca soal itu sekali lagi. Entah kenapa, pertanyaannya terasa familier, seolah pernah kulihat sebelumnya. Awalnya aku mengira ini hanya karena materinya sudah kupelajari semalam, jadi aku kembali menulis jawaban dan melanjutkan ke nomor berikutnya. Namun, perasaan itu muncul lagi beberapa nomor kemudian. Kali ini, bukan hanya materinya yang terasa familier, melainkan bentuk pertanyaannya juga. Aku mencoba mengingat-ingat tumpukan fotokopi yang diberikan guru selama beberapa hari terakhir.

Lalu aku ingat.

Soal ini pernah kukerjakan dalam latihan.

Aku memperhatikan pilihan katanya sekali lagi. Memang ada sedikit perbedaan, tetapi inti pertanyaannya hampir sama persis. Aku melirik sekeliling kelas, berharap menemukan seseorang yang juga menyadarinya. Namun, semua orang masih sibuk dengan lembar jawaban masing-masing.

Aku kembali menunduk dan melanjutkan ujian.

Tidak ada yang aneh. Namanya juga latihan soal, wajar kalau ada pertanyaan yang mirip.

Nomor demi nomor terisi. Beberapa soal bisa kujawab tanpa berpikir terlalu lama, sementara beberapa lain butuh beberapa lama untuk mengingat kembali yang aku pelajari kemarin.

 Sampai aku tiba ke bagian berikutnya. Soal ini…

Aku pernah mengerjakannya. Aku yakin.

Aku mulai teringat pada tumpukan fotokopi yang memenuhi meja belajarku selama seminggu terakhir. Latihan soal, pembahasan, sampai soal-soal tahun lalu, semuanya terasa seperti sedang muncul kembali di hadapanku.

Apakah ini kebetulan?

Bodoh amat, intinya aku harus selesaikan dulu ujiannya.

Aku memeriksa jawabanku sekali lagi, lalu meletakkan pensil di atas meja.

Selesai.

Aku menyerahkan lembar jawabanku kepada guru.

Begitu keluar kelas, suasana langsung berubah. Yang tadinya semua orang duduk diam dan serius, sekarang sudah kembali ribut seperti biasa.

“Gimana ujiannya?”

“Gampang lahh”

Kami berjalan bersama sambil mendiskusikan jawaban masing-masing.

Awalnya aku hanya ikut mendengarkan. Beberapa jawaban kami berbeda, beberapa lainnya sama. Ada yang merasa salah menjawab, ada juga yang yakin jawabannya benar.

“Eh, nomor sebelas itu kayak pernah ada deh.”

“Yang mana?”

“Yang soal itu.”

“Oh iya…”

Kami mulai mengingat-ingat soal latihan yang diberikan guru beberapa hari terakhir.

“Bukannya ini ada di latsol?”

“Iya, kayaknya.”

“Yang ini juga pernah dibahas.”

Aku ikut memperhatikan.

Semakin dibicarakan, semakin banyak soal yang terasa familiar.

“Eh, tapi bener nggak sih? Kok banyak yang mirip?”

Aku mulai mengingat soal-soal yang tadi aku kerjakan.

“Yang nomor tujuh juga sama.”

“Serius?”

“Iya, gue inget. Itu ada di latihan kemarin.”

Aku mulai mengingat kembali soal-soal yang tadi kukerjakan. Ternyata bukan hanya aku yang menyadarinya. Teman-temanku juga menemukan kemiripan yang sama, bahkan beberapa soal memiliki pertanyaan yang hampir persis dengan latihan sebelumnya.

Kalau cuma satu atau dua soal yang sama, itu masih wajar. Tapi ini sudah terlalu banyak untuk sekadar kebetulan, bisa dibilang lebih dari setengahnya sebelas dua belas dengan latsol dan banyak yang sama persis.

Kami saling melihat sebentar, dan anehnya tidak ada yang benar-benar merasa keberatan.

Mungkin karena kami tidak merasa sedang diuji. Kami hanya sedang mengulang sesuatu yang sudah pernah diberi jawabannya.

“Tapi ya udahlah.”

“Yang penting nilai bagus.”

“Betul, yang penting lulus.”

Kami akhirnya tertawa dan kembali berjalan seperti biasa. Toh, ujian sudah selesai. Tidak ada gunanya memikirkan soal-soal yang sudah lewat.

Beberapa minggu kemudian, hasil ujian akhirnya keluar.

Kami semua lulus. Nilai-nilai kami juga cukup bagus, bahkan ada beberapa yang lebih tinggi dari perkiraan. Seperti biasa, kami kembali membicarakan nilai, saling membandingkan, dan menertawakan hasil masing-masing.

Semua orang terlihat lega.

Setelah pengumuman itu, hari-hari di sekolah terasa berbeda. Tidak banyak lagi yang perlu kami lakukan. Kami hanya datang untuk beberapa kegiatan terakhir, mengurus berbagai keperluan kelulusan, dan sesekali berkumpul bersama teman-teman.

Sampai akhirnya, hari yang sejak awal tahun terasa masih jauh itu datang juga.

Hari pelepasan.

Kami duduk bersama di tempat yang sudah disiapkan untuk acara. Setelah berbagai sambutan dan acara lainnya, satu per satu nama kami dipanggil untuk menerima ijazah.

Setelah semuanya selesai, kami dipanggil ke atas panggung untuk foto bersama. Satu per satu kami naik dan berdiri sesuai posisi yang sudah ditentukan. Kami saling merapat, beberapa masih bercanda kecil sebelum akhirnya semua menghadap ke kamera.

“Siap!”

Kami tersenyum ketika kamera diarahkan kepada kami.

Klik.

Satu foto lagi.

Klik.

Lalu semuanya terasa hening.

Aku hanya berdiri di sana, melihat teman-temanku di sekelilingku.

Aku lulus. Setelah tiga tahun sekolah, akhirnya aku sampai juga di titik ini. Namun, selama tiga tahun itu, sebenarnya apa yang sudah kulakukan? Aku selalu belajar ketika ujian sudah dekat, menghafal materi semalaman, lalu mengerjakan soal dan melupakan semuanya setelah mendapatkan nilai. Begitu terus, sampai akhirnya aku berdiri di panggung ini dengan ijazah yang membuktikan bahwa aku lulus.

Bertahun-tahun kemudian, aku kembali duduk di depan sebuah meja.

Di depanku ada beberapa lembar kertas. Bukan soal ujian kali ini, melainkan daftar pekerjaan yang sudah kukirimkan.

Satu per satu lamaran sudah dikirim. Satu per satu pula jawabannya datang.

Ada yang tidak pernah membalas. Ada yang mengatakan bahwa posisinya sudah terisi. Ada juga yang mengundangku untuk mengikuti proses selanjutnya, sebelum akhirnya berhenti di tahap berikutnya.

Hari ini pun tidak berbeda.

Aku membuka email yang baru masuk.

“Terima kasih atas ketertarikan Anda, tetapi…”

Aku berhenti membaca.

Sudah berapa kali kalimat itu muncul di layar? Aku tidak tahu.

Aku meletakkan ponsel di atas meja dan bersandar di kursi. Di samping laptop, ijazah yang dulu kubanggakan masih tersimpan di dalam sebuah map.

Nilai-nilaiku cukup bagus. Aku lulus. Aku bahkan pernah merasa bahwa semuanya akan baik-baik saja selama aku berhasil mendapatkan nilai yang bagus. Tapi sekarang, saat seseorang bertanya apa yang benar-benar bisa kulakukan, aku tidak tahu harus menjawab apa.

Aku membuka kembali halaman lowongan pekerjaan dan memilih salah satu posisi yang belum kulamar. Aku mengisi nama, alamat email, dan beberapa data lainnya. Sampai akhirnya aku tiba di bagian berikutnya.

“Jelaskan kemampuan dan pengalaman yang Anda miliki.”

Aku terdiam ketika kursor berkedip di kotak jawaban. Setelah membaca pertanyaan itu sekali lagi, aku mengalihkan pandangan ke pertanyaan berikutnya.

“Apa kontribusi yang dapat Anda berikan kepada perusahaan?”

Lalu: “Jelaskan bagaimana Anda menyelesaikan suatu masalah yang pernah Anda hadapi.”

Aku masih belum mengetik apa-apa. Tanganku berhenti di atas keyboard.

Untuk pertama kalinya, tidak ada pilihan jawaban.

Tidak ada kisi-kisi. Tidak ada fotokopian. Tidak ada soal latihan yang bisa dihafalkan malam sebelumnya.

Hanya ada sebuah kotak kosong di layar.

Kursor berkedip di kotak jawaban, seolah menungguku memberikan sesuatu yang bahkan tidak kumiliki. Dan kali ini, aku benar-benar tidak tahu jawabannya.

Aku mencoba memikirkan apa yang bisa kutulis.

Kemampuan? Aku bisa menghafal.

Pengalaman? Aku pernah mengerjakan banyak ujian.

Kontribusi?

Aku tidak tahu.

Penulis:
Gabrielle Esther adalah seorang pelajar SMA yang yang memiliki ketertarikan terhadap dunia literasi, khususnya membaca novel dan menulis fiksi. Ketertarikannya terhadap dunia kepenulisan tumbuh dari kegemarannya membaca serta mengamati berbagai hal di sekitarnya. Melalui tulisan, ia senang mengeksplorasi gagasan dan mengangkat persoalan kehidupan sehari-hari menjadi cerita yang mengajak pembaca untuk berpikir dari sudut pandang berbeda.

Eksplorasi konten lain dari Literatura Nusantara

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Categories:

Satu tanggapan untuk “Di Balik Jawaban, Sebuah Kotak Kosong”

  1. Avatar Ahmad Maul
    Ahmad Maul

    Cerpen yang menarik, Kak

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *