Literatura Nusantara

Membumikan Sastra Melangitkan Kata

Bahasa Tidak Pernah Netral: Dari Percakapan Warung Kopi Sampai Media Sosial

[Sumber gambar: Gemini AI]

Penulis: Refi Murfianto

Di sebuah warung kopi, percakapan sederhana seperti “Sudah makan?”, “Kumaha damang?”, atau “Sekarang kerja di mana?” mungkin terdengar biasa dan tidak memiliki makna yang istimewa. Namun, jika diperhatikan lebih jauh, pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak hanya berfungsi untuk menyampaikan informasi. Di dalamnya terdapat perhatian, keakraban, rasa hormat, bahkan keinginan untuk mengetahui posisi seseorang dalam kehidupan sosial. Bahasa ternyata tidak pernah hadir di ruang yang kosong.

Setiap kata muncul dalam situasi tertentu, digunakan oleh orang tertentu, kepada orang tertentu, dan untuk tujuan tertentu. Karena itu, bahasa bukan sekadar alat untuk menyampaikan pikiran, melainkan bagian dari kehidupan sosial manusia. Pilihan kata, cara berbicara, dan konteks penggunaannya dapat memperlihatkan bagaimana seseorang berhubungan dengan orang lain. Pada titik inilah muncul sebuah pertanyaan penting: apakah bahasa benar-benar netral? Jika bahasa selalu digunakan dalam konteks sosial tertentu, maka bahasa sesungguhnya tidak pernah sepenuhnya netral.

Dalam kehidupan sehari-hari seringkali kita mengganti cara berbahasa menyesuaikan dengan siapa kita berbicara. Situasi yang berbeda, lawan bicara yang berbeda sadar ataupun tidak membuat cara kita berkomunikasi menjadi berbeda juga. Saat di kelas misalanya kita sebagai siswa atau mahasiswa dengan sesama teman akan berbeda manakala kita berbicara pada saat bertemu guru ataupun dosen.

Situasi saat percakapan bisa saja berlangsung cepat tetapi bahasa yang kita gunakan bisa cepat pula berubah. Misalnya saat menunggu kelas kita mengobrol dengan teman menunggu guru atau dosen, ketika guru datang baik sadar ataupun tidak cara kita berbicara dan kosakata yang kita gunakan bisa cepat berubah dari santai menjadi formal. Hal ini bukan menunjukan ketidak konsistenan dalam berbahasa namun kita sadar atau tidak dari peristiwa itu terdapat kaitan antara bahasa dengan situasi sosial. Kata sapaan, pilihan kosakata, intonasi, bahkan tingkat kesantunan dapat menunjukkan jarak ataupun kedekatan antara penutur dan lawan bicara.

Ketika dengan teman kita gunakan bahasa santai, ketika dengan guru kita gunakan bahasa sopan, dalam rapat kita menggunakan bahasa formal dan ketika kembali ke tongkrongan di warung kopi kita kembali menggunakan bahasa santai. Perbedaan tersebut menunjukan bahwa sadar ataupun tidak kita menyesuaikan diri dalam menggunakan bahasa tergantung pada lingkungan sosial dimana kita berada.

Bahasa bukan saja hanya sebagai alat komunikasi saja diantara sesama kita, akan tetapi bahasa juga bisa menjadi identitas sosial seseorang. Bagaimana seseorang berbicara seringkali menunjukan bagaimana latar belakang pergaulan, budaya, kelompok sosial bahkan wilayah asalanya. Dalam masyarakat indonesia yang memiliki beragam suku, daerah, budaya dan bahasa yang berbeda proses berbahasa juga bisa membangun identitas yang berbeda. Masyarakat Indonesia banyak yang billingual atau bahkan ada juga yang multilungual karena majemuknya masyarakat bahasa di Indonesia. Contohnya jika seseorang adalah penutur bahasa sunda dan bahasa indonesia manakala bertemu dengan pengguna bahasa yang sama akan secara otomatis melakukan perpindahan bahasa.

Ketika bertemu dengan penutur bahasa sunda di daerah yang umumnya tidak berbahasa sunda maka bahasa akan spontan menjadi bahasa sunda, dan ketika bertemu dengan orang yang tidak berbahasa sunda tentu akan menggunakan bahasa Indonesia sebagai sarana komunikasinya, perpindahan bahasa bisa terjadi baik secara sadar ataupun tidak. Pergantian tersebut bukan semata-mata persoalan linguistik, tetapi juga dapat menjadi cara untuk membangun rasa kebersamaan.

Demikian pula penggunaan istilah-istilah tertentu di kalangan anak muda, komunitas, akademisi, atau kelompok profesional dapat menunjukkan keanggotaan seseorang dalam lingkungan sosial tertentu. Dengan demikian, bahasa tidak hanya menjelaskan siapa kita, tetapi dalam banyak keadaan juga membantu kita menunjukkan kepada orang lain siapa diri kita.

Namun, bahasa tidak berhenti sebagai cermin identitas dan hubungan sosial. Bahasa juga dapat menjadi alat kekuasaan. Kata-kata seperti “meminta”, “mengimbau”, “memerintahkan”, dan “menginstruksikan” mungkin merujuk pada tindakan yang hampir sama, tetapi memiliki nuansa kekuasaan yang berbeda. Orang yang memiliki posisi sosial tertentu biasanya memiliki kemampuan lebih besar untuk menentukan bahasa apa yang digunakan, bagaimana suatu peristiwa disebut, dan bagaimana orang lain harus memahaminya.

Dalam lingkungan pendidikan, misalnya, guru memiliki otoritas untuk memberikan instruksi kepada peserta didik. Dalam lembaga pemerintahan, bahasa digunakan melalui peraturan, kebijakan, surat keputusan, dan berbagai bentuk komunikasi resmi yang memiliki konsekuensi bagi masyarakat. Bahkan dalam percakapan sehari-hari, pilihan kata dapat digunakan untuk meyakinkan, memengaruhi, membujuk, atau menekan orang lain. Oleh sebab itu, memahami bahasa juga berarti memahami relasi kekuasaan yang bekerja di balik penggunaan bahasa tersebut.

Bahasa menjadi alat komunikasi dan interaksi sosial antara satu individu dengan individu lain secara langsung seperti di rumah, di pasar, di sekolah, di tempat kerja sampai di tempat nongkrong hari ini telah berkembang sampai ke media sosial. Perkembangan zaman telah membawa kita pada suatu pola berbahasa yang berbeda dengan berbahasa secara konvensional di masa sebelumnya. Berbahasa itu adalah bagaimana kita berkomunikasi secara lisan maupun tulisan untuk menyampaikan suatu informasi, gagasan atau ekspresi diri.

Namun hari ini di zaman digital kita juga dapat berkomunikasi emoji, gambar, video, meme, tagar, komentar, dan berbagai bentuk simbol lainnya. Melalui perkembangan bahasa komunikasi yang berkembang terus menerus seiring perubahan zaman telah membuat kosakata dalam berbahasa lebih berkembang dan hal tersebut juga mempengaruhi perkembangan masyarakat bahasa yang ada.

Menariknya, media sosial bukan hanya menjadi tempat bagi masyarakat menggunakan bahasa, tetapi juga menjadi ruang tempat bahasa berkembang dengan sangat cepat. Sebuah istilah suatu masyarakat bahasa melalui media sosial dan kecepatan digital dapat menyebar dengan cepat dan menjadi populer. Berdasarkan hal tersebut dapat kita sadari bahwa perubahan bahasa tidak dapat dipisahkan dengan adanya perubahan masyarakat. Ketika cara iteraksi manusia berubah maka secara sadar ataupun tidak bahasa juga mengikuti arah perubahan tersebut.

Lebih jauh lagi, bahasa bisa menjadi alat untuk masyarakat memahami berbagai fenomena yang terjadi dan realitas sosial yang ditemui. Sebuah peristiwa bisa menjadi memperoleh kesan yang berbeda manakala diberikan label bahasa yang berbeda. Seseorang dapat disebut sebagai “demonstran”, tetapi dapat pula disebut sebagai “perusuh”. Suatu tindakan dapat disebut sebagai “kritik”, tetapi pada situasi lain dapat disebut sebagai “serangan”.

Perbedaan istilah tersebut bukan sekadar persoalan pilihan kata, karena setiap istilah membawa sudut pandang tertentu. Dengan demikian bahasa bisa digunakan untuk menggambarkan suatu realitas yang terjadi dan bagaimana penilaian terhadap suatu realitas tersebut. Selain itu bahasa juga bisa digunakan sesuai pemikiran penutur atau pembuat ujaran bahasa, maka bahasa secara sadar ataupun tidak dapat bersifat subjektif ataupun objektif bergantung pada pemikiran penutur yang dipengaruhi oleh berbagai latar belakang. Dan dalam kehidupan di dalam bermedia sosial hal-hal tersebut dapat diperkuat juga oleh judul, pilihan kata, komentar, dan pelihat yang mana hal tersebut dapat tersebar kepada ribuah orang dalam waktu yang sangat cepat.

Pada ahirnya masyarakat tidak hanya dihadapkan pada fakta tersebut saja, akan tetapi juga dihadapkan pada berbagai cara pengungkapan dan penggambaran bahasa terhadap fakta tersebut. Berdasarkan hal tersebut dapat kita sadari bahwa bahasa bukan saja menjadi alat komunikasi semata, akan tetapi bahasa juga dapat ikut serta dalam menentukan realitas sosial mana yang dianggap penting, benar, menarik, atau bahkan layak dipercaya.

Pada akhirnya, percakapan di warung kopi dan percakapan di media sosial sebenarnya memiliki satu kesamaan: keduanya menunjukkan bahwa bahasa selalu hidup di tengah masyarakat. Kita menggunakan bahasa untuk menyapa, membangun hubungan, menunjukkan identitas, menyampaikan pendapat, memengaruhi orang lain, dan memahami berbagai peristiwa di sekitar kita. Namun, pada saat yang sama, bahasa juga ikut membentuk cara kita melihat diri sendiri, orang lain, dan dunia sosial yang kita tempati.

Karena itu, bahasa tidak pernah benar-benar netral. Di balik sebuah sapaan sederhana dapat terdapat hubungan sosial; di balik sebuah pilihan kata dapat terdapat identitas; dan di balik sebuah istilah dapat terdapat kekuasaan serta cara tertentu dalam melihat realitas. Barangkali kita terlalu sering menganggap kata-kata hanya sebagai sesuatu yang keluar dari mulut dan kemudian hilang begitu saja. Padahal, kata-kata dapat meninggalkan jejak, memengaruhi pikiran, membangun hubungan, bahkan mengubah cara masyarakat memahami dunia. Maka, persoalannya bukan lagi apakah bahasa memiliki kekuatan sosial, melainkan apakah kita cukup sadar bahwa setiap kata yang kita pilih ikut membentuk dunia sosial yang kita tinggali.


Eksplorasi konten lain dari Literatura Nusantara

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Categories:

3 tanggapan untuk “Bahasa Tidak Pernah Netral: Dari Percakapan Warung Kopi Sampai Media Sosial”

  1. Avatar
    Anonim

    bahas tentang teknologi kang

  2. Avatar Soe
    Soe

    Bahasa memang selalu memiliki tujuan.

  3. Avatar RN
    RN

    bagus tulisannya semangat pak tetap berkarya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *