Literatura Nusantara

Membumikan Sastra Melangitkan Kata

Selubung Tawa Sang Badut: Membedah Psikoanalisis Tokoh Yozo dalam ‘No Longer Human’ Karya Osamu Dazai

[Sumber gambar: Kover buku]

Penulis: Ayu Lestari

“Sekarang aku sudah bukan lagi manusia.” Penggalan kalimat dalam novel yang akan kita bahas ini, seakan menusuk dan merangkum sebuah keputusasaan yang absolut.

Mari kita sejenak bercermin pada realitas hari ini. Di era modern yang serba digital, kita sangat akrab dengan budaya memperlihatkan kebahagiaan. Membuka layar ponsel dan berselancar di media sosial berarti bersiap melihat deretan senyum yang dikurasi sempurna, pencapaian hidup yang gemilang, dan momen liburan yang estetik.

Namun, di balik layar yang menyala terang itu, berapa banyak dari kita yang sebenarnya sedang bersembunyi di balik selubung kepalsuan? Berapa banyak yang merasa kosong dan hancur di dalam, namun merasa dituntut untuk tetap membangun fasad “baik-baik saja” di mata dunia?

Keresahan manusia modern yang sering berpura-pura bahagia ini nyatanya bukanlah hal baru. Puluhan tahun yang lalu, melalui sebuah mahakarya sastra yang kelam dan mendalam, Osamu Dazai memotret tragedi keterasingan ini lewat novelnya, No Longer Human. Melalui tokoh utamanya, Oba Yozo, Dazai melukiskan bagaimana seseorang bisa menghabiskan seluruh hidupnya hanya untuk berpura-pura menjadi “normal”.

Sejak kecil, Yozo hidup dalam ketakutan yang melumpuhkan terhadap eksistensi umat manusia. Ia merasa terasing, tidak mampu memahami apa yang membuat manusia lain merasa bahagia, marah, atau sedih. Untuk bertahan hidup di tengah rasa cemas yang akut dan agar tidak dijauhi oleh komunitasnya, Yozo memilih sebuah peran yang ironis namun tragis, ia memutuskan untuk menjadi seorang badut yang terus melucu.

Jika dibedah menggunakan pisau psikoanalisis, apa yang dilakukan Yozo adalah bentuk nyata dari defense mechanism (mekanisme pertahanan diri ego), yakni strategi psikologis bawah sadar yang digunakan manusia untuk melindungi diri dari kecemasan, stres, atau bahkan ancaman terhadap harga diri.

Ego manusia sering kali terlalu rapuh untuk menghadapi tekanan realitas yang menyakitkan. Dalam kajian psikologi kepribadian disebutkan bahwa ketika seseorang mengalami dorongan yang menyebabkan kecemasan berlebihan, ego pada akhirnya memanipulasi kenyataan untuk menyembunyikan kelemahan tersebut dan mengarahkannya pada hal lain. Demi melindungi jiwanya yang rentan dari penolakan sosial, ego milik Yozo terpaksa membangun sebuah topeng komedi.

Tingkah laku Yozo yang memalsukan emosinya dengan lelucon adalah sebuah bentuk mekanisme reaction formation (pembentukan reaksi). Seseorang yang tersiksa di dalam batinnya justru menampilkan hal yang 180 derajat berlawanan dari perasaan aslinya. Hal ini dibuktikan melalui pengakuan Yozo di dalam cerita, “Meskipun aku sangat takut pada manusia, aku tampaknya sama sekali tidak mampu melepaskan diri dari pergaulan mereka.” Karena keterpaksaan itulah, meskipun batinnya dipenuhi teror terhadap manusia, di luar ia secara semu membagikan tawa semata agar diterima.

Namun, mempertahankan selubung kepalsuan secara terus-menerus menuntut bayaran psikis yang sangat mahal. Sigmund Freud merumuskan bahwa jiwa manusia dikendalikan oleh tarik-menarik antara dorongan insting (Id), kesadaran rasional (Ego), dan nilai moral serta ekspektasi masyarakat (Superego).

Bagi Yozo, aturan tak tertulis masyarakat atau Superego tentang bagaimana manusia “seharusnya” hidup terasa begitu memusingkan dan mengancam. Konflik batin Yozo terus berkecamuk karena di kedalaman alam tak sadarnya, ia merasa selamanya cacat dan gagal memenuhi standar normalitas tersebut. Ia tidak mengerti konsep kemunafikan atau bagaimana orang bisa berinteraksi tanpa rasa saling mencurigai.

Keterasingan dan kebingungan batin tersebut ia tegaskan melalui pengakuannya, “Aku yakin kehidupan manusia dipenuhi dengan contoh-contoh ketidaktulusan yang murni, bahagia, dan tenang… orang-orang yang saling menipu tanpa luka yang ditimbulkan… aku merasa sulit untuk memahami jenis manusia yang hidup… sementara terlibat dalam tipu daya.” Mengingat struktur Ego di dalam dirinya sangatlah lemah untuk mengatasi tuntutan lingkungan yang keras dan munafik tersebut, batin Yozo pada akhirnya terus-menerus dihantui oleh kecemasan eksistensial.

Ia harus mencurahkan energi mental yang besar hanya untuk mempertahankan topeng badutnya. Kelelahan batin ini pada akhirnya melahirkan konflik internal yang mematikan. Pada titik nadirnya, Yozo merasa terlucuti dari esensi kemanusiaannya dan mendeklarasikan dirinya telah “didiskualifikasi sebagai manusia”.

Kisah Yozo bukanlah sekadar fiksi usang dari sastra Jepang klasik. Ia adalah potret presisi dari fenomena kesehatan mental yang mewabah di era modern. Hal yang membuat novel ini terasa begitu tajam dan meremukkan hati adalah sifatnya yang semi-otobiografi.

Sebagaimana dijelaskan dalam kajian psikologi sastra, sebuah karya hakikatnya merupakan produk dari kondisi kejiwaan dan pemikiran pengarangnya sendiri yang bermula dari alam tak sadar lalu dituangkan ke dalam tulisan (Didipu, 2021). Melalui Yozo, Osamu Dazai sesungguhnya sedang menyuarakan depresi, rasa terasing, dan keputusasaannya sendiri, tepat sebelum sang penulis benar-benar mengakhiri hidupnya di dunia nyata.

Di masa sekarang, kita sering menjumpai fenomena smiling depression, yakni fenomena di mana seseorang terlihat bahagia, gampang tertawa, dan sukses di luar, namun remuk redam di dalam. Banyak manusia modern yang mungkin merasa, persis seperti Yozo, menggunakan humor yang sinis, prestasi, atau persona media sosial yang ceria sebagai selubung untuk lari dari ketakutan akan penolakan.

Kegagalan Yozo untuk berterus terang tentang lukanya adalah tragedi yang masih diputar ulang oleh jutaan orang saat ini. Kita sering lupa bahwa menyembunyikan diri dalam selubung kepalsuan lambat laun hanya akan menggerogoti sisa-sisa kewarasan kita.

Buku No Longer Human karya Osamu Dazai adalah sebuah peringatan keras bagi kita semua. Kisah Oba Yozo memaksa kita menelisik kembali fasad yang mungkin sedang kita pertahankan dengan susah payah setiap harinya.

Mekanisme pertahanan diri memang terbentuk secara alamiah untuk melindungi emosi dari rasa sakit. Namun, pelindung itu tidak pernah diciptakan untuk menjadi rumah permanen. Kegagalan Yozo untuk berani jujur pada lukanya sendiri pada akhirnya merenggut eksistensi kemanusiaannya.

Sebelum kita melangkah terlalu jauh dan kehilangan esensi diri yang sebenarnya, kita harus berani mengambil keputusan yang paling menakutkan, yaitu berani menanggalkan topeng badut itu. Kita perlu merangkul kerapuhan, dan berani jujur pada rasa sakit yang bersemayam di dada. Sebab pada akhirnya, mengakui kelemahan dan berhenti berpura-pura bahagia adalah satu-satunya jalan untuk tetap selamat, dan bertahan sebagai manusia seutuhnya.

Bionarasi

Ayu Lestari lahir di Cianjur pada 29 November 2004. Saat ini merupakan mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di IKIP Siliwangi. Kecintaannya pada menulis dan membaca karya sastra telah tumbuh sejak ia duduk di bangku sekolah dasar. Waktu luangnya lebih banyak dihabiskan untuk mendengarkan musik favoritnya, memotret objek-objek random, atau menggambar. Kalau kamu penasaran dengan hasil coretan tangannya, silakan mampir ke akun Instagram-nya di @idkwhoayu.


Eksplorasi konten lain dari Literatura Nusantara

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Categories:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *