Literatura Nusantara

Membumikan Sastra Melangitkan Kata

Representasi Krisis Sosial-Politik dalam Novel Danur: Kajian Kritik Sastra Mimetik

[Sumber gambar: https://bukune.com/]

Penulis: Feby Aulia Trihapsari

Novel Danur oleh Risa Saraswati merupakan karya sastra populer Indonesia yang mengangkat pengalaman personal penulis dalam berinteraksi dengan entitas supranatural. Karya ini tidak hanya menampilkan unsur horor sebagai daya tarik utama, tetapi juga memuat representasi realitas psikologis dan kultural yang kompleks. Melalui pendekatan mimetik, karya sastra dipahami sebagai refleksi kehidupan, sehingga unsur supranatural dalam Danur dapat ditafsirkan sebagai representasi pengalaman manusia yang memiliki relevansi dengan realitas sosial.

Secara teoretis, pendekatan mimetik berakar pada pemikiran Plato yang memandang karya sastra sebagai tiruan realitas. Pandangan tersebut dikembangkan oleh Aristoteles yang menegaskan bahwa mimesis merupakan representasi kehidupan yang bermakna. Dalam perkembangan modern, Erich Auerbach menekankan bahwa karya sastra mampu menghadirkan realitas secara kompleks, termasuk dimensi batin manusia. Berdasarkan kerangka tersebut, Danur tidak hanya berfungsi sebagai karya imajinatif, tetapi juga sebagai medium refleksi terhadap kondisi psikologis individu serta sistem kepercayaan yang berkembang dalam masyarakat.

Representasi realitas psikologis dalam novel tampak melalui tokoh Risa kecil yang mengalami kesepian dan keterasingan sosial. Kondisi tersebut mendorong terbentuknya relasi dengan entitas gaib seperti Peter dan kawan-kawan. Relasi ini tidak dapat dipahami secara literal, melainkan sebagai simbol kebutuhan emosional yang tidak terpenuhi. Dalam perspektif psikologi perkembangan, anak dengan keterbatasan interaksi sosial cenderung membangun dunia imajinatif sebagai mekanisme pertahanan diri. Argumen ini memperkuat bahwa kehadiran makhluk gaib dalam Danur merepresentasikan kondisi batin individu yang mencari rasa aman, afeksi, serta pengakuan.

Dimensi kultural dalam Danur juga menunjukkan keterkaitan yang kuat dengan realitas masyarakat Indonesia. Kepercayaan terhadap hantu, roh, serta fenomena supranatural masih menjadi bagian dari sistem nilai yang hidup dalam masyarakat. Dalam kerangka mimetik, representasi tersebut menunjukkan bahwa karya sastra berfungsi sebagai cermin budaya. Fenomena ini dapat diamati melalui tingginya produksi dan konsumsi konten horor dalam media massa dan platform digital. Film, acara televisi, serta kanal digital bertema mistis terus mendapatkan perhatian luas, sehingga memperlihatkan bahwa kepercayaan terhadap hal supranatural tetap memiliki legitimasi sosial.

Fakta empiris di lapangan semakin memperkuat argumen tersebut. Praktik ritual spiritual seperti pesugihan, konsultasi dengan dukun, serta penggunaan jasa paranormal masih berlangsung di berbagai daerah di Indonesia. Selain itu, sejumlah laporan media menunjukkan bahwa sebagian masyarakat mengaitkan gangguan psikologis dengan pengaruh makhluk halus. Dalam beberapa kasus, individu yang mengalami depresi atau gangguan kecemasan tidak langsung memperoleh penanganan medis, tetapi dibawa ke praktisi spiritual. Fenomena ini memperlihatkan adanya hubungan erat antara kepercayaan budaya dan cara masyarakat memahami realitas. Oleh karena itu, representasi dalam Danur memiliki kesesuaian dengan kondisi faktual yang masih berlangsung dalam kehidupan sosial.

Dari sudut pandang simbolisme, istilah “danur” merujuk pada bau khas yang diasosiasikan dengan kehadiran makhluk halus. Simbol ini tidak sekadar berfungsi sebagai elemen naratif, tetapi juga merepresentasikan batas antara dunia nyata dan dunia supranatural. Batas tersebut bersifat ambigu dan mencerminkan ketegangan antara rasionalitas dan kepercayaan tradisional. Dalam analisis mimetik, ambiguitas tersebut menunjukkan bahwa realitas manusia tidak sepenuhnya dapat dijelaskan melalui logika rasional, tetapi juga dipengaruhi oleh sistem kepercayaan yang hidup dalam masyarakat.

Suasana horor dalam novel memiliki fungsi representatif yang signifikan. Deskripsi mengenai ketakutan, kemunculan entitas tak kasatmata, serta pengalaman mistis tidak hanya bertujuan menciptakan efek dramatik, tetapi juga merepresentasikan kecemasan eksistensial manusia. Ketakutan tersebut berkaitan dengan ketidakpastian, kehilangan, serta keterasingan. Dalam perspektif mimetik, pengalaman horor tersebut mencerminkan kondisi psikologis manusia yang berhadapan dengan realitas yang kompleks dan tidak sepenuhnya dapat dipahami.

Lebih lanjut, posisi tokoh Risa sebagai individu yang berada di antara dua realitas menunjukkan adanya ambiguitas identitas. Ia tidak sepenuhnya berada dalam ranah rasional, tetapi juga tidak terlepas dari pengalaman supranatural. Kondisi ini merepresentasikan individu yang hidup dalam tekanan sosial dan budaya yang beragam. Identitas tidak terbentuk secara tunggal, melainkan melalui interaksi antara pengalaman personal dan konstruksi sosial. Analisis ini menunjukkan bahwa Danur menghadirkan gambaran kompleks mengenai posisi manusia dalam memahami realitas.

Dalam konteks analisis mimetik, karya ini juga memperlihatkan bahwa pengalaman subjektif memiliki nilai representatif terhadap realitas sosial. Pengalaman supranatural yang dialami tokoh utama dapat dipahami sebagai bentuk artikulasi dari realitas batin yang sulit diungkapkan secara langsung. Dengan demikian, sastra berfungsi sebagai medium untuk mengungkap pengalaman yang tidak selalu dapat dijelaskan melalui bahasa rasional.

Secara keseluruhan, Danur memiliki nilai representatif yang kuat dalam merefleksikan realitas kehidupan manusia. Karya ini tidak hanya menyajikan cerita horor, tetapi juga mengungkap dimensi psikologis dan kultural yang relevan dengan kondisi masyarakat. Pendekatan mimetik menegaskan bahwa unsur supranatural dalam novel berfungsi sebagai simbol yang merepresentasikan pengalaman nyata manusia. Oleh karena itu, Danur dapat dipahami sebagai karya sastra yang tidak hanya bersifat imajinatif, tetapi juga memiliki kedalaman makna yang berkaitan dengan realitas sosial dan budaya.

Bionarasi

Feby Aulia Trihapsari, yang di kenal dengan panggilan Eby, merupakan mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di IKIP Siliwangi, lahir di Bandung pada 03 Februari 2005. merupakan mahasiswa yang aktif dan memiliki minat besar dalam bidang komunikasi serta organisasi. Ia dikenal sebagai pribadi yang terbuka, komunikatif, dan memiliki ketertarikan dalam dunia cerita serta interaksi sosial. Ketertarikannya dalam bercerita menjadikannya sosok yang ekspresif dan mampu menyampaikan gagasan dengan cara yang menarik.

Dalam perjalanan organisasinya, Feby telah aktif mengikuti Himpunan Mahasiswa selama kurang lebih dua tahun. Selama bergabung dalam himpunan, ia memperoleh banyak pengalaman dalam bekerja sama, mengelola kegiatan, serta berkontribusi dalam berbagai program organisasi. Pengalaman tersebut membentuk sikap tanggung jawab, kepemimpinan, serta kemampuan beradaptasi dalam berbagai situasi.

Saat ini, Feby melanjutkan perjalanannya dalam organisasi dengan bergabung di Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM). Keikutsertaannya di BEM menjadi langkah lanjutan untuk mengembangkan potensi diri, memperluas jaringan, serta berperan lebih aktif dalam lingkungan kampus. Ia berkomitmen untuk terus belajar dan memberikan kontribusi yang positif melalui perannya di organisasi.

Dalam kepenulisan, Feby Aulia Trihapsari juga aktif menuangkan gagasannya melalui berbagai bentuk karya sastra. Ia pernah menulis novel yang mengangkat perjalanan hidupnya sebagai refleksi pengalaman dan proses pendewasaan diri. Selain itu, ia juga pernah menghasilkan beberapa puisi yang menjadi media ekspresi perasaan, pemikiran, serta kepekaan terhadap realitas di sekitarnya. Tidak hanya dalam karya kreatif, ia juga mulai mengembangkan kemampuan dalam penulisan ilmiah, termasuk pengembangan karya berbentuk jurnal, sebagai bagian dari upaya memperdalam kemampuan analisis dan akademiknya. Melalui esai Representasi Krisis Sosial-Politik dalam Novel Risa saraswati:DANUR

Selain aktif berorganisasi dan menulis, Feby juga memiliki hobi bercerita. Baginya, bercerita bukan sekadar kegiatan sederhana, melainkan sarana untuk mengekspresikan diri, berbagi pengalaman, dan membangun kedekatan dengan orang lain. Melalui kemampuan ini, ia mampu menciptakan komunikasi yang hangat dan bermakna.

Bagi Feby Aulia Trihapsari, sastra dan organisasi merupakan dua hal yang saling melengkapi dalam proses pengembangan diri. Ia percaya bahwa pengalaman, cerita, dan interaksi yang dijalani akan menjadi bekal berharga untuk masa depan.

Gmail: febya307@gmail.com

IG: fbyyaulia___


Eksplorasi konten lain dari Literatura Nusantara

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Categories:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *