Literatura Nusantara

Membumikan Sastra Melangitkan Kata

Persahabatan dalam Balutan Horor dan Misteri pada Novel Fantasteen Gone Karya Dini Ocktarina: Kajian Sosiologi Sastra

[Sumber gambar: Dokumentasi penulis]

Penulis: Salwa Rachmadini

Novel Fantasteen Gone karya Dini Ocktarina merupakan salah satu novel remaja yang memadukan unsur horor, misteri, dan persahabatan. Cerita dalam novel ini berawal dari perjalanan karyawisata beberapa siswa yang kemudian berubah menjadi pengalaman yang menegangkan ketika salah satu dari mereka tiba-tiba menghilang. Peristiwa tersebut memicu berbagai kejadian aneh yang harus dihadapi oleh para tokoh. Meskipun suasana cerita dipenuhi dengan ketegangan, novel ini tetap menonjolkan hubungan persahabatan antar tokohnya.

Salah satu hal yang dapat dikritisi dalam novel ini adalah cara pengarang membangun unsur horor dalam hubungannya dengan tema persahabatan. Beberapa bagian cerita menggambarkan situasi yang menegangkan, terutama ketika salah satu tokoh tidak ditemukan setelah berada di sekitar penginapan tempat mereka menginap. Keadaan tersebut membuat para tokoh lain merasa panik dan berusaha mencarinya. Hal ini tergambar dalam dialog seperti “Kami semua panik. Tidak ada yang tahu ke mana dia pergi, padahal tadi dia masih bersama kami.” Kutipan tersebut menunjukkan bahwa rasa takut yang muncul juga diikuti dengan kepedulian antar teman.

Jika dilihat melalui teori struktural dalam sastra, konflik memiliki peran penting dalam menggerakkan alur cerita. Konflik merupakan unsur penting dalam karya fiksi karena berfungsi sebagai penggerak utama alur cerita (Nurgiyantoro, 2015). Konflik awal berupa peristiwa hilangnya tokoh dalam novel ini berhasil menciptakan rasa penasaran bagi pembaca. Namun, terdapat beberapa bagian cerita yang terasa kurang kuat karena kejadian misterius muncul tanpa penjelasan yang cukup jelas. Dalam karya fiksi, termasuk cerita fantasi, peristiwa yang tidak biasa tetap perlu memiliki logika cerita agar pembaca dapat memahami hubungan antar peristiwa yang terjadi. Hal ini sejalan dengan pendapat Suryaman (2012) yang menjelaskan bahwa alur cerita yang baik harus memiliki hubungan sebab-akibat yang jelas agar peristiwa dalam cerita dapat dipahami secara logis oleh pembaca.

Di sisi lain, novel ini memiliki kelebihan dalam menggambarkan hubungan persahabatan antar tokohnya. Nilai persahabatan dalam karya sastra sering ditampilkan sebagai bentuk solidaritas sosial yang memperkuat hubungan antar tokoh (Atmazaki, 2013). Ketika menghadapi situasi yang menakutkan, para tokoh tidak memilih untuk menghadapi masalah sendirian. Mereka justru saling membantu dan berusaha mencari jalan keluar bersama. Hal ini terlihat dalam dialog seperti “Kita harus tetap bersama. Kalau kita terpisah, kita tidak akan bisa keluar dari tempat ini.” Kutipan tersebut menunjukkan bahwa persahabatan menjadi kekuatan utama yang membuat para tokoh tetap bertahan dalam situasi yang sulit.

Penggambaran persahabatan tersebut dapat dipahami melalui pendekatan sosiologi sastra. Menurut Alan Swingewood, karya sastra sering kali mencerminkan nilai-nilai sosial yang ada dalam kehidupan masyarakat. Dalam novel ini, persahabatan digambarkan sebagai hubungan yang tidak hanya menghadirkan kebahagiaan, tetapi juga menjadi sumber dukungan ketika seseorang menghadapi masalah atau ketakutan. Hal ini membuat cerita terasa dekat dengan pengalaman pembaca remaja yang sering mengandalkan teman dalam kehidupan sehari-hari.

Walaupun demikian, terdapat beberapa hal yang masih dapat dikritisi dalam novel ini. Salah satunya adalah pengembangan karakter tokoh yang belum terlalu mendalam. Beberapa tokoh dalam cerita lebih banyak berperan dalam menjalankan peristiwa, tetapi latar belakang maupun perkembangan kepribadian mereka tidak dijelaskan secara rinci. Kedalaman karakter dalam karya sastra sangat dipengaruhi oleh penggambaran latar belakang dan konflik batin tokoh (Affandi, dkk. 2019). Menurut M.H. Abrams, tokoh yang kuat dalam karya sastra biasanya memiliki perkembangan karakter yang terlihat jelas sepanjang cerita. Dalam novel ini, perkembangan tersebut belum sepenuhnya terlihat sehingga beberapa tokoh terasa kurang memiliki kedalaman.

Selain itu, unsur fantasi dan horor yang muncul dalam cerita terkadang tidak dijelaskan secara rinci. Peristiwa yang berkaitan dengan dimensi lain atau kejadian misterius memang dapat meningkatkan ketegangan cerita, tetapi kurangnya penjelasan mengenai sebab terjadinya peristiwa tersebut membuat beberapa bagian cerita terasa kurang logis. Hal ini dapat memengaruhi kekuatan struktur cerita secara keseluruhan.

Dalam beberapa bagian cerita, ketegangan muncul melalui kejadian-kejadian yang tiba-tiba tanpa proses penggambaran suasana yang cukup mendalam. Padahal, dalam teori naratif, suasana atau atmosfer merupakan unsur penting untuk membangun pengalaman emosional pembaca. Menurut Abrams, suasana dalam karya sastra berfungsi memperkuat konflik dan membantu pembaca merasakan kondisi psikologis tokoh. Dalam novel ini, beberapa adegan misterius sebenarnya memiliki potensi besar untuk menimbulkan rasa takut, tetapi kurang dimaksimalkan melalui deskripsi latar dan emosi tokoh.

Di sisi lain, keberadaan konflik misterius justru berfungsi sebagai alat untuk menguji hubungan persahabatan antar tokoh. Situasi yang menakutkan membuat para tokoh harus mengambil keputusan bersama dan saling mempercayai satu sama lain. Hal ini menunjukkan bahwa konflik dalam cerita tidak hanya berfungsi sebagai penggerak alur, tetapi juga sebagai sarana untuk memperlihatkan nilai solidaritas antar tokoh. Ketika mereka menghadapi situasi yang tidak dapat dijelaskan secara rasional, pilihan untuk tetap bersama menjadi bentuk kekuatan sosial yang menonjol dalam cerita.

Jika dilihat dari sudut pandang sosiologi sastra, penggambaran tersebut memperlihatkan bahwa hubungan sosial dalam kelompok remaja sering kali terbentuk melalui pengalaman bersama, terutama ketika menghadapi kesulitan. Swingewood (1972) menyatakan bahwa karya sastra tidak hanya mencerminkan realitas sosial, tetapi juga memperlihatkan bagaimana manusia membangun hubungan dan nilai dalam masyarakat. Dalam novel ini, persahabatan tidak hanya digambarkan sebagai hubungan yang menyenangkan, tetapi juga sebagai ikatan yang diuji melalui rasa takut dan ketidakpastian.

Selain itu, kekuatan lain dari novel ini terletak pada kemampuannya meninggalkan kesan yang cukup lama bagi pembaca. Meskipun alurnya relatif sederhana, perpaduan antara misteri dan hubungan persahabatan membuat cerita mudah diingat. Banyak pembaca yang masih dapat mengingat bagian-bagian penting dari cerita, seperti peristiwa hilangnya salah satu tokoh atau usaha para sahabat untuk mencari jalan keluar dari situasi yang mereka hadapi. Dalam perspektif estetika sastra, daya ingat pembaca terhadap suatu cerita sering kali menunjukkan bahwa karya tersebut memiliki konflik yang kuat dan tema yang dekat dengan pengalaman emosional pembaca.

Meskipun demikian, novel ini tetap memiliki daya tarik tersendiri bagi pembaca. Banyak pembaca yang masih dapat mengingat bagian-bagian penting dari cerita meskipun sudah lama tidak membaca kembali novel tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa cerita dalam novel ini mampu memberikan kesan yang cukup kuat bagi pembaca. Dalam kajian estetika sastra, karya yang mampu meninggalkan kesan mendalam biasanya memiliki kekuatan dalam membangun konflik dan suasana cerita.

Kesan yang kuat tersebut kemungkinan muncul karena perpaduan antara suasana horor yang menegangkan dan tema persahabatan yang dekat dengan kehidupan remaja. Situasi berbahaya yang dialami para tokoh justru memperlihatkan bagaimana mereka saling mendukung dan tidak meninggalkan satu sama lain. Dengan demikian, ketegangan dalam cerita tidak hanya berfungsi untuk menciptakan suasana horor, tetapi juga untuk memperlihatkan pentingnya kebersamaan dalam persahabatan.

Berdasarkan analisis tersebut, dapat disimpulkan bahwa Fantasteen Gone memiliki kelebihan dalam membangun suasana misteri serta menggambarkan persahabatan remaja yang cukup kuat. Namun, novel ini juga masih memiliki beberapa kelemahan, terutama dalam pengembangan karakter dan penjelasan unsur fantasi dalam cerita. Melalui kritik sastra ini, novel tersebut dapat dipahami tidak hanya sebagai bacaan hiburan, tetapi juga sebagai karya yang menggambarkan nilai solidaritas dan hubungan sosial di kalangan remaja.

Bionarasi Penulis

Salwa Rachmadini lahir di Cimahi pada 19 November 2003, sebuah kota yang hingga kini masih menjadi ruang tumbuh dan pulangnya. Ia adalah mahasiswa semester enam Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di IKIP Siliwangi. Bagi Salwa, bahasa bukan sekadar alat komunikasi, dan sastra bukan hanya rangkaian kata, melainkan ruang sunyi tempat perasaan menemukan bentuknya.

Jauh sebelum ia memahami makna kata, dunia seni telah lebih dulu menyapanya. Pada usia sekitar tiga hingga lima tahun, ia pernah mengikuti kompetisi bernyanyi dan model, dan ditetapkan sebagai juara favorit. Sebuah cerita dari sang nenek menyimpan kemungkinan lain bahwa jika saat itu ia tidak mengalami kecelakaan, mungkin langkah kecilnya telah membawanya hingga tiga besar. Kisah itu menjadi semacam tanda awal, bahwa hidupnya akan selalu bersinggungan dengan panggung, suara, dan ekspresi.

Ketertarikannya pada dunia seni terus tumbuh sejak ia duduk di bangku kelas 7. Sejak saat itu, ia akrab dengan nada-nada dalam paduan suara dan larik-larik puisi yang perlahan membentuk cara pandangnya terhadap kehidupan. Puisi menjadi salah satu medium yang paling dekat dengannya, sebuah cara sederhana untuk memahami dan merasakan dunia dengan lebih dalam.

Pada masa SMA, kecintaannya terhadap puisi menemukan momentumnya. Sebuah tantangan dari guru Bahasa Indonesia di kelas 10 membawanya pada pengalaman pertama, puisinya bersama karya teman sebangkunya, terpilih untuk dipajang di mading sekolah. Dari sana, ia belajar bahwa kata-kata yang lahir dari kejujuran mampu menemukan tempatnya sendiri. Setahun kemudian, ia dipercaya mewakili kelas dalam lomba puisi pada perayaan 17 Agustus, dan berhasil meraih juara 3, sebuah pencapaian yang semakin menguatkan langkahnya di dunia sastra.

Tidak hanya berhenti di ruang sekolah, Salwa juga pernah menjadikan dunia digital sebagai tempat berbagi makna. Pada tahun 2017 hingga 2019, ia mengelola sebuah akun Instagram berisi kutipan-kutipan singkat yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Dalam waktu yang tidak lama, tulisannya menemukan pembacanya sendiri, tumbuh dari ratusan hingga hampir 3.000 pengikut. Dari sana, ia menyadari bahwa tulisan sederhana pun dapat menjangkau banyak hati.

Dalam kesehariannya, musik adalah teman yang hampir tak pernah absen. Ia bernyanyi di sela aktivitas, seolah menjadikan hidup sebagai irama yang terus bergerak. Ketertarikannya pada hal-hal berbau cerita juga terlihat dari kegemarannya menonton, terutama kisah-kisah horor yang menyimpan ketegangan sekaligus makna tersembunyi. Menulis, menghias catatan, dan merangkai kata menjadi cara lain baginya untuk merawat pikiran dan perasaan.

Melalui UKM Siliwangi Choir, Salwa terus melatih suaranya, sementara di ruang akademik ia memperdalam pemahamannya tentang sastra. Ia dikenal sebagai pribadi yang komunikatif dan terbuka terhadap hal-hal baru. Baginya, sastra adalah tempat pulang, tempat di mana kata-kata tidak hanya dibaca, tetapi juga dirasakan. Ke depan, ia berharap dapat terus menumbuhkan suaranya, baik dalam bunyi maupun tulisan, dan menghadirkannya sebagai sesuatu yang bermakna bagi orang lain.


Eksplorasi konten lain dari Literatura Nusantara

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Categories:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *