Literatura Nusantara

Membumikan Sastra Melangitkan Kata

Dualitas Emosi dan Tekanan Sosial dalam Novel Dua Barista Karya Najhaty Sharma

[Sumber gambar: ttps://www.indonesiana.id/]

Penulis: Tia Latifah

Karya sastra kerap kali berfungsi sebagai cermin terhadap dinamika kehidupan manusia, baik dari sisi emosional maupun interaksi sosial yang kompleks. Novel Dua Barista karya Najhaty Sharma dijadikan kajian utama karena menyajikan konflik relasional yang dekat dengan pengalaman generasi muda, terutama dalam menghadapi tekanan sosial dan gejolak batin yang muncul dalam praktik poligami. Karya ini tidak hanya menghibur, tetapi juga menghadirkan benturan antara perasaan pribadi dan tuntutan lingkungan, khususnya dari perspektif perempuan yang berada dalam hubungan yang timpang. Fenomena ini terlihat jelas sejak awal melalui ungkapan tokoh utama, “Aku tidak tahu harus bertahan atau pergi,” yang langsung menyoroti dilema emosional pusat cerita. Kalimat ini menjadi dasar analitis untuk mengurai dualitas emosi—yaitu perasaan yang saling bertolak belakang—serta tekanan sosial yang menjadi inti konflik naratif dalam novel.

Pendekatan mimetik memandang karya seni sebagai cermin realitas kehidupan, relevan untuk diterapkan dalam analisis ini. Dalam Dua Barista, dualitas emosi dialami oleh kedua istri dalam hubungan poligami. Keduanya memiliki status hukum yang setara sebagai istri sah, namun pengalaman batin mereka justru beragam dan sering kali saling bertabrakan, menciptakan ketegangan yang dramatis. Untuk memahami fenomena ini, kita dapat merujuk pada pemikiran Carl Gustav Jung, psikolog analitik yang mengemukakan bahwa setiap individu memiliki dua sisi jiwa: kesadaran dan ketidaksadaran, serta persona (topeng sosial) dan shadow (sisi gelap yang ditekan).

Oleh karena itu, perasaan tokoh yang bergolak antara bertahan demi stabilitas rumah tangga sekaligus ingin pergi untuk menyelamatkan integritas diri, atau menerima poligami sambil diam-diam menolaknya, bukanlah anomali, melainkan manifestasi wajar dari dinamika psikis. Para ahli seperti Paul Ekman dan penelitian neuropsikologi menemukan bahwa otak manusia tidak bekerja satu emosi saja, tapi bisa memproses beberapa emosi sekaligus saling bertentangan.

Dalam narasi Dua Barista, dualitas emosi ini secara spesifik muncul dari keinginan tokoh istri pertama untuk mempertahankan pernikahannya demi nilai-nilai keluarga, tetapi dihadapkan pada dorongan kuat untuk menolak karena merasakan ketidakadilan yang mendalam. Latar belakang poligami dalam cerita dipicu oleh tuntutan keluarga suami yang mendesaknya menikahi wanita kedua untuk memperoleh keturunan, karena istri pertama belum dikaruniai anak setelah bertahun-tahun pernikahan. Situasi ini bukan hanya menimbulkan rasa gagal, tetapi juga memperburuk konflik batin, sebagaimana tergambar dalam ungkapan menyentuh dari istri pertama, “Aku hanya ingin dihargai, bukan sekadar dipahami.” Kalimat ini menegaskan kerinduan akan pengakuan emosional yang autentik, bukan sekadar simpati permukaan, yang sering kali absen dalam hubungan poligami.

Di sisi lain, tekanan sosial memainkan peran krusial dalam memperkuat dilema tersebut, memaksa tokoh untuk terus tampil kuat di hadapan orang lain. Ini terungkap melalui kata-katanya yang penuh kepedihan, “Aku lelah berpura-pura kuat di depan semua orang.” Kalimat ini dapat dijelaskan melalui ungkapan Solomon Asch, yang membuktikan bahwa individu cenderung menyesuaikan pandangan dan perilakunya dengan mayoritas kelompok demi menghindari penolakan sosial, meskipun keyakinan pribadinya bertentangan. Dalam novel ini, tokoh Perempuan terjebak dalam lingkaran ekspektasi keluarga besar dan masyarakat yang memandang poligami sebagai norma wajar, terutama jika tujuannya adalah kelangsungan garis keturunan. Norma ini lahir dari tradisi patriarkal yang masih kuat di kalangan tertentu, di mana kegagalan istri pertama dalam memberikan anak dianggap sebagai “masalah” kolektif yang harus diselesaikan melalui pernikahan tambahan.

Tekanan sosial tersebut tidak hanya memengaruhi perilaku luar, tetapi juga meresap ke lapisan psikis yang lebih dalam, menciptakan benturan antara kebutuhan individu akan rasa aman dengan tuntutan untuk menyesuaikan diri. Istri pertama merasa tertekan sebagai “yang gagal”, sementara kehadiran istri kedua memicu kecemburuan dan rasa ketidakadilan yang memperdalam konflik batinnya.

Novel Dua Barista menyimpan lapisan simbolis yang kaya, tidak sekadar merujuk pada profesi penyeduh kopi. Kata “dua” secara eksplisit mengarah pada dua istri dalam kehidupan tokoh pria, sementara “barista” melambangkan peran perempuan yang harus mahir “meracik” emosi kompleks seperti mencampur rasa manis dan pahit untuk memenuhi kebutuhan afektif rumah tangga yang retak. Proses ini melahirkan dualitas emosi ketika tokoh berjuang menyeimbangkan penerimaan terhadap realitas poligami dengan penolakan intuitif terhadapnya, sementara tekanan sosial hadir dalam bentuk harapan lingkungan akan keharmonisan yang hanya semu belaka. Simbolisme judul ini menggarisbawahi bahwa poligami bukanlah sekadar pembagian tanggung jawab domestik, melainkan arena konflik emosional yang sarat kecemburuan, persepsi ketidakadilan, dan hasrat akan pengakuan diri yang setara. Dengan demikian, “dua barista” menjadi metafora kuat bagi dua perempuan yang terikat dalam satu rumah tangga, masing-masing membawa beban psikis unik yang saling bersinggungan.

Secara keseluruhan, novel Dua Barista karya Najhaty Sharma berhasil menampilkan hubungan yang kuat antara dualitas emosi dan tekanan sosial dalam konteks poligami. Melalui konflik yang dialami para tokohnya, novel ini merepresentasikan realitas sosial kontemporer yang masih sarat dengan tuntutan norma, khususnya dalam kehidupan rumah tangga. Kedua tokoh perempuan digambarkan sebagai individu yang terjebak dalam pertentangan antara keinginan pribadi untuk memperoleh kebahagiaan dan ketenangan batin dengan tuntutan sosial yang mengharuskan mereka menyesuaikan diri terhadap situasi yang ada. Konflik tersebut menunjukkan bagaimana tekanan sosial mampu memengaruhi kondisi psikologis seseorang secara mendalam.

Konflik batin para tokoh tergambar melalui upaya mereka untuk mempertahankan identitas diri di tengah situasi yang tidak ideal. Hal ini tercermin dalam ungkapan tokoh, “Aku hanya ingin menjadi diriku sendiri tanpa harus kehilangan siapa pun,” yang merepresentasikan keinginan manusia untuk tetap autentik tanpa harus mengorbankan hubungan maupun nilai yang diyakini. Ungkapan tersebut menjadi inti dari keseluruhan konflik yang dibangun penulis, sekaligus menunjukkan kompleksitas emosi yang muncul akibat benturan antara kebutuhan personal dan tekanan eksternal.

Novel ini dapat dipahami sebagai bahan kajian yang relevan dari perspektif psikologis maupun sosiologis. Dari sisi psikologis, konflik batin tokoh dapat dianalisis melalui teori dualitas emosi dan tekanan sosial yang memengaruhi proses pengambilan keputusan. Dari sisi sosiologis, novel ini menghadirkan refleksi terhadap isu gender, norma pernikahan, serta stigma sosial yang berkembang dalam masyarakat modern. Dengan kedalaman naratif yang dimilikinya, karya ini membuka ruang diskusi yang luas tentang bagaimana sastra tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sebagai medium refleksi dan kritik sosial yang mampu mendorong pembaca untuk memahami realitas kehidupan secara lebih mendalam.

Bionarasi

Kecintaanku terhadap dunia literasi tumbuh melalui kebiasaan membaca berbagai karya sastra dan cerita digital yang memberikan banyak wawasan serta pengalaman baru. Melalui kegiatan membaca, aku belajar memahami berbagai sudut pandang kehidupan, konflik, serta pesan yang disampaikan penulis dalam setiap karya. Minat tersebut kemudian mendorongku untuk lebih mendalami kajian sastra secara akademik.

Aku, Tia Latifah, lahir di Bandung pada 10 September 2005 dan merupakan mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia angkatan 2023. Saat ini aku sedang menempuh pendidikan tinggi dengan fokus pada pengembangan kemampuan di bidang bahasa, sastra, dan pendidikan. Sejak awal perkuliahan, aku memiliki ketertarikan yang besar terhadap kajian sastra, khususnya dalam membaca, memahami, dan menganalisis karya sastra Indonesia.

Kegemaranku dalam membaca telah tumbuh sejak lama. Selain membaca buku-buku sastra, aku juga senang membaca novel digital di platform Wattpad serta cerita bergambar di Webtoon. Hobi tersebut membuatku semakin tertarik untuk memahami berbagai bentuk karya sastra, baik yang disajikan secara konvensional maupun digital. Melalui kebiasaan membaca, aku memperoleh banyak wawasan tentang alur cerita, karakter tokoh, konflik, serta pesan yang terkandung dalam sebuah karya.

Dalam kegiatan akademik, aku aktif mengikuti proses pembelajaran yang berkaitan dengan kebahasaan dan kesastraan, seperti analisis karya sastra, kritik sastra, apresiasi sastra, serta kajian unsur intrinsik dan ekstrinsik novel. Salah satu bentuk penerapan kemampuan tersebut adalah melalui tugas analisis novel Dua Barista Karya Najhaty Sharma, yang membahas konflik rumah tangga, poligami, serta dinamika psikologis tokoh-tokohnya. Bagiku, kegiatan menganalisis novel bukan hanya sekadar memenuhi tugas akademik, tetapi juga menjadi sarana untuk memperluas wawasan, meningkatkan kemampuan interpretasi, dan memperdalam apresiasi terhadap sastra Indonesia.


Eksplorasi konten lain dari Literatura Nusantara

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Categories:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *