
[Sumber gambar: Dokumentasi penulis]
Penulis: Aqila Widayanti Zahrani
SERAGAM MERAH PUTIH DALAM INGATAN
1. Bangku Paling Belakang
Aku pernah duduk di bangku paling belakang,
dengan seragam yang warnanya mulai pudar dimakan waktu siang.
Tas kecilku berat oleh buku-buku dan harapan,
meski kadang aku sendiri tidak tahu apa arti masa depan.
Di kelas itu aku bukan anak yang paling pintar,
sering terlambat memahami pelajaran yang berputar.
Ketika teman-teman lain selesai menulis dengan lancar,
aku masih diam memegang pensil dengan jemari yang gemetar.
Pernah suatu hari aku diminta maju ke depan papan,
menjawab soal matematika yang terasa seperti hukuman.
Satu kelas tertawa saat jawabanku berantakan,
sedangkan aku hanya menunduk menahan air mata yang jatuh pelan.
Ibu guru menghampiri lalu mengusap pundakku perlahan,
katanya, “Tidak semua anak harus hebat lebih duluan.”
Kalimat itu sederhana, bahkan mungkin terdengar biasa saja,
namun bagiku waktu itu rasanya seperti diselamatkan dari kecewa.
Sekarang kelas itu mungkin sudah berubah bentuk dan warna,
tetapi rasa malu hari itu masih tinggal di dalam kepala.
Dan anehnya, dari semua pelajaran yang pernah diajarkan sekolah,
aku justru paling mengingat seseorang yang membuatku merasa tidak gagal.
2. Kapur yang Tidak Pernah Mati
Ibu guru menulis Pelajaran di papan hijau tua.
Kapur di tangannya berjatuhan
seperti salju kecil yang diam-diam mengajarkan harapan.
Huruf demi huruf lahir dari tangan sederhana
masuk ke kepala kami
yang masih penuh permainan.
Kami mungkin lupa berapa nilai matematika waktu itu,
tetapi tidak dengan cara beliau berkata,
“Tidak apa-apa salah,
yang penting mau mencoba.”
Dan sejak hari itu
aku tahukadang pendidikan bukan tentang angka,
melainkan tentang seseorang
yang percaya kita bisa.
3. Hujan di Jam Istirahat
Langit tiba-tiba runtuh di jam istirahat.
Anak-anak bersorak,berlarian ke teras kelas
sambil menadahkan tangan kecil mereka.
Bau tanah basah
bercampur dengan aroma gorengan kantin.
Kami tertawa tanpa alasan besar,
karena saat kecil bahagia memang sesederhana itu.
Aku ingat seorang teman yang meminjamkan payungnya
meski ia sendiri kebasahan.
Dan sampai hari ini aku percaya pelajaran paling indah di sekolah
kadang datang bukan dari buku,
melainkan dari hati manusia.
4. Meja Kayu di Kelas Tiga
Ada ukiran nama di sudut meja kayu itu.
Bekas tangan kecil yang ingin dikenang waktu.
Di sana aku pernah menangis karena nilai ulanganku jelek.
Di sana juga aku pernah tertawa terlalu keras
hingga dihukum berdiri di depan kelas.
Betapa lucu hidup masa kecil,sedih dan bahagia datang
hanya sejauh bunyi lonceng sekolah.
Kini meja itu mungkin sudah usang,
catnya mengelupas dimakan usia.
Tetapi kenangan yang tertinggal di atasnya masih hidup
di dalam dada seseorang
yang sedang belajar dewasa.
5. Anak-anak Berseragam Merah Putih
Mereka berjalan pagi-pagi dengan langkah kecil
dan mimpi yang terlalu besar
untuk ukuran tubuh mereka.
Seragam merah putih berkibar diterpa angin jalanan.
Tas mereka berat,
tetapi mata mereka ringan karena masih dipenuhi rasa ingin tahu.
Ada yang bercita-cita menjadi guru,dokter, pelukis,bahkan astronaut.
Dan dunia mendengarkan mereka dengan diam-diam tersenyum.
Sebab anak-anak SD adalah puisi paling jujur
yang pernah ditulis kehidupan.
6. Pulang Sekolah
Langit sore berwarna jingga
ketika kami keluar gerbang sekolah.Suara sandal,
tawa kecil,dan pedagang mainan
menjadi musik paling akrab saat itu.
Kami berjalan pulang
tanpa tahubahwa suatu hari nanti masa kecil akan menjadi sesuatu
yang sangat ingin diulang.
Aku merindukan hal-hal sederhana itu:
membeli es seribuan,berebut tempat duduk,dan mengerjakan PR
dengan tulisan yang miring ke sana kemari.
Karena ternyata,kenangan masa SD
tidak pernah benar-benar selesai.
Ia hanya bersembunyi di dalam hati
dan muncul kembali
saat seseorang mulai dewasa.
7. Meja Kayu di Sudut Kelas
Di sudut kelas ada meja kayu yang mulai rapuh dimakan waktu,
menyimpan ukiran nama kecil yang pernah dibuat dengan malu-malu.
Catnya mengelupas perlahan disentuh usia yang berlalu,
namun kenangannya tetap hidup meski tahun terus melaju.
Di meja itu aku pernah menulis mimpi yang terlalu jauh,
tentang masa depan yang bahkan belum kupahami dengan utuh.
Aku juga pernah menangis diam-diam karena nilai yang jatuh,
lalu tertawa lagi beberapa menit kemudian tanpa merasa runtuh.
Teman-teman sebangku saling berbagi penghapus dan buku,
kadang saling mengejek kecil lalu baikan sebelum bel berlalu.
Persahabatan masa SD memang sederhana tanpa ragu,
tidak rumit seperti dunia dewasa yang sering penuh semu.
Kini mungkin meja itu sudah diganti dengan yang baru,
dan suara kami telah hilang dari lorong-lorong yang bisu.
Namun setiap mengingat kelas kecil dengan jendela biru itu,
hatiku selalu kembali menjadi anak kecil yang merindukan masa lalu.
Karena sekolah dasar bukan sekadar tempat belajar membaca buku,
melainkan tempat kenangan tumbuh diam-diam di dalam kalbu.
8. Pohon Tua di Halaman Sekolah
Ada pohon tua berdiri diam di halaman sekolah kami,
menjadi saksi tawa kecil yang tak pernah benar-benar pergi.
Daunnya bergoyang pelan setiap pagi,
seolah ikut menyapa anak-anak yang datang silih berganti.
Di bawah pohon itu kami sering bermain saat matahari tinggi,
berlari kecil sambil tertawa tanpa mengenal rasa sepi.
Kadang kami duduk melingkar sambil berbagi roti,
dan dunia terasa cukup hanya dengan teman serta hari yang ceria sekali.
Pohon itu melihat kami tumbuh sedikit demi sedikit setiap hari,
dari anak kecil yang takut membaca hingga berani berdiri sendiri.
Ia mendengar janji-janji polos tentang mimpi yang ingin digapai nanti,
meski sebagian mungkin hilang bersama waktu yang terus berlari.
Sekarang aku kembali melihat halaman itu dengan langkah yang sunyi,
dan pohon tua itu masih berdiri dengan bayangan yang sama seperti dulu lagi.
Hanya kami yang berubah menjadi lebih dewasa dan penuh isi,
sedangkan kenangan masa SD tetap tinggal di sana dengan hati yang abadi.
9. Suara Bel Terakhir
Bel terakhir berbunyi pelan di ujung sore yang mulai redup,
anak-anak berhamburan keluar kelas dengan wajah yang hidup.
Langkah kecil memenuhi lorong sekolah yang sempit dan cukup,
sementara cahaya senja jatuh perlahan di atap yang mulai tertutup.
Aku berjalan pelan sambil membawa buku yang kupeluk erat,
memandang papan tulis yang sebentar lagi akan menjadi lewat.
Tak ada yang tahu bahwa waktu ternyata berjalan sangat cepat,
dan masa kecil hanya singgah sebentar sebelum akhirnya tersesat.
Kami pernah merasa sekolah adalah hal yang melelahkan,
bangun pagi, mengerjakan PR, lalu mendengar nasihat yang diulang-ulangkan.
Namun saat dewasa datang membawa banyak kehilangan,
baru kusadari masa SD adalah rumah paling hangat untuk dikenang.
Kini suara bel itu tak lagi terdengar setiap petang,
tetapi gema kenangannya masih tinggal tenang.
Tentang guru-guru sederhana yang mengajar dengan tulang,
tentang teman-teman kecil yang pernah membuat dunia terasa terang.
Dan jika suatu hari aku boleh mengulang satu bagian kehidupan,
aku ingin kembali menjadi anak SD yang berlari tanpa ketakutan.
Karena di masa itu, hidup belum dipenuhi banyak pertanyaan,
dan bahagia masih sesederhana mendengar bel pulang berbunyi pelan.
Bionarasi Penulis
Halo semuanya, kenalin nama aku Aqila Widayanti Zahrani, mahasiswi aktif jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD). Saya memiliki minat dalam dunia pendidikan anak dan pengembangan pembelajaran di sekolah dasar. Bagi saya, menjadi seorang guru bukan hanya tentang mengajar, tetapi juga tentang membimbing, memahami, dan membantu siswa berkembang dengan baik. Saya percaya bahwa pendidikan yang bermakna dapat tercipta dari guru yang sabar, kreatif, dan terus belajar untuk menjadi lebih baik.











Tinggalkan Balasan