
[Sumber gambar: Dokumentasi penulis]
Penulis: Sifa Wulansari
Kertas Lusuh di Laci Guru
Bel pulang baru saja berbunyi, seketika kelas mulai sepi. Anak-anak berhamburan keluar sambil tertawa riang. Namun, Bu Melati masih sibuk merapikan buku di meja guru.
“Siti, tolong ambilkan spidol hitam di laci meja Ibu” katanya.
Siti berjalan mendekat lalu membuka laci perlahan. Di antara buku absen dan beberapa lembar kertas, ada satu kertas lusuh yang terlihat berbeda. Kertas itu sudah terlipat berkali-kali hingga sudutnya mulai robek. Baru saja Siti ingin mengambilnya, suara Bu Melati terdengar jelas.
“Yang itu jangan diambil apalagi dibuka.”
Nada suaranya membuat Siti terkejut. Bu Melati segera menutup laci dan tersenyum kecil, seolah tidak terjadi apa-apa.
“Itu cuma kertas lama” katanya.
Namun sejak hari itu, Siti mulai memperhatikan sesuatu. Setiap kelas kosong, Bu Melati sering membuka laci meja lalu memandangi kertas lusuh itu diam-diam.
“Kayaknya surat rahasia deh” bisik Edo pada saat itu.
“Atau surat cinta?” tambah murid lain sambil tertawa terbahak-bahak.
Siti tidak ikut tertawa, justru ia semakin penasaran. Di kelas itu ada seorang murid bernama Beni, yaitu anak pendiam yang selalu duduk di bangku belakang. Ia jarang bicara dan sering sendirian saat jam istirahat. Beberapa minggu terakhir, Beni juga sering dimarahi karena tidak mengerjakan tugas.
Suatu siang, hujan turun deras setelah jam olahraga, kemudian anak-anak sibuk berlarian ke kelas. Saat itulah Bu Melati dipanggil ke ruang guru dengan tergesa-gesa, bahkan laci meja guru tertinggal sedikit terbuka. Siti menatapnya lama, rasa penasaran mengalahkan pikirannya. Ia mendekat perlahan lalu mengambil kertas lusuh itu, tangannya gemetar saat membuka lipatannya karena takut ketahuan bu Melati. Tulisan di dalamnya sudah sedikit pudar.
“Maaf karena saya sering membuat Ibu marah.” Siti membaca pelan.
“Saya sebenarnya ingin menjadi murid yang pintar seperti teman-teman yang lain.”
Mata Siti membesar, tulisan tangan itu sangat mirip dengan tulisan tangan milik Dimas. belum sempat ia melanjutkan membaca, suara langkah kaki terdengar dari luar kelas. Siti buru-buru melipat kembali surat itu dan memasukkannya ke laci.
Keesokan harinya, bangku Dimas kosong, hari berikutnya masih kosong. Sampai akhirnya Bu Melati berdiri di depan kelas dengan wajah muram.
“Anak-anak, Dimas pindah sekolah mulai hari ini.”
Kelas mendadak sunyi untuk pertama kalinya, Siti melihat Bu Melati menggenggam erat kertas lusuh itu di tangannya. Sepulang sekolah, Siti memberanikan diri bertanya.
“Bu… surat itu dari Dimas ya?”
Bu Melati tersenyum kecil, tetapi matanya tampak berkaca-kaca.
“Iya,” jawabnya lirih.
“Ternyata selama ini Dimas menyimpan banyak hal sendirian. Dia menulis surat ini setelah dimarahi karena tugasnya belum selesai.” Kata bu Melati sambil menatap kelas yang mulai sepi.
“Dia bukan anak nakal. Dia hanya tidak pandai menunjukkan perasaannya.”
Siti terdiam, kini ia mengerti kenapa kertas lusuh itu selalu disimpan rapi di laci guru. Karena terkadang, sebuah kertas sederhana bisa menyimpan penyesalan, perasaan, dan kenangan yang tidak pernah sempat diucapkan secara langsung.
Bionarasi Penulis
Halo, nama saya Sifa Wulansari, lahir di garut pada 01 Februari 2007. Saya merupakan mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) di IKIP Siliwangi. Saya merupakan seorang pribadi introvert yang lebih nyaman dengan suasana tenang dan sederhana. Meski cenderung pendiam, saya senang menuangkan pikiran dan perasaan melalui tulisan. Bagi saya, menulis bukan hanya sekadar hobi, tetapi juga cara untuk menyampaikan cerita, imajinasi, dan pesan yang ingin dibagikan kepada orang lain yang tidak bisa atau tidak berani disampaikan secara langsung. Melalui karya ini, saya berharap pembaca dapat menikmati cerita sekaligus mengambil makna baik di dalamnya.












Tinggalkan Balasan