
[Sumber gambar: AI]
Penulis: Heri Isnaini
Ayahku meninggal pada hari Senin, ketika hujan pertama bulan Juni turun di kampung kami. Persis di tanggal yang sama dengan tanggal kelahiranku 27 tahun yang lalu. Ibu bilang, pagi itu ayah masih sempat pergi ke sawah seperti biasa. Memakai caping tua yang bagian pinggirnya mulai sobek, sarung cokelat yang dilipat setinggi lutut, dan kaus abu-abu kusam bertuliskan nama pupuk yang hurufnya sudah hampir hilang dimakan matahari.
“Ayahmu masih sempat nyariin cangkul kecil,” kata ibu waktu aku pulang setelah pemakaman. “Katanya kemarin dipakai kamu waktu bersihin rumput halaman.” Aku diam. Aku bahkan tidak ingat terakhir kali memegang cangkul itu.
Rumah terasa penuh orang hari itu. Tetangga keluar masuk sambil membawa piring, gelas, dan suara belasungkawa yang terdengar seperti gema jauh. Bau kopi hitam bercampur tanah basah memenuhi ruang tengah.
Namun, di antara semua keramaian itu, ada sesuatu yang terasa kosong. Sandal jepit ayah masih tergeletak di dekat pintu dapur. Ada bekas lumpur sawah yang mengering di alasnya. Entah kenapa aku tidak sanggup memindahkannya.
***
Semasa kecil, aku percaya ayah bisa memperbaiki apa saja. Ia bisa memperbaiki genteng bocor hanya dengan kawat dan semen sisa. Bisa membuat kandang ayam dari bambu bekas. Bisa menghidupkan radio tua dengan memukul bagian belakangnya dua kali.
Dan yang paling hebat, ayah selalu tahu bagaimana membuatku berhenti menangis. Ketika aku jatuh dari pohon jambu dan lututku berdarah, ayah tidak panik. Ia hanya meniup lukaku pelan sambil berkata, “Luka itu supaya tubuhmu belajar jadi kuat.” Waktu aku takut petir, ayah menggendongku ke teras sambil menghitung jarak kilat dan suara guruh. “Kalau suaranya lama datang,” katanya, “berarti petirnya jauh. Tidak usah takut.”
Aku percaya semua perkataannya. Semasa kecil, ayah adalah seseorang yang tahu jawaban seluruh dunia. Sore adalah waktu terbaik bersama ayah. Sepulang dari sawah, ia biasanya mandi di sumur belakang. Aku sering diam-diam memperhatikannya menyiram tubuh dengan gayung hijau retak yang pegangan plastiknya diikat kawat. Kulit punggung ayah gelap dan penuh bekas matahari. Kadang ada lumpur dan beberapa rumput liar yang menempel di betisnya.
Setelah mandi, ia duduk di kursi kayu depan rumah sambil mengeringkan rambut dengan handuk tipis. Bau sabun colek bercampur angin sawah selalu mengingatkanku pada masa kecil. “Ayo,” katanya sambil tersenyum, “Kita cari angin.” Itu kode untuk bermain layang-layang.
Kami berjalan melewati pematang sawah yang sempit. Aku selalu berjalan di belakang ayah sambil memegang gulungan benang. Langit sore waktu itu terasa sangat luas. “Ayah,” tanyaku suatu hari, “kenapa layang-layang bisa terbang?” Ayah tertawa kecil. “Karena dia tahu caranya berteman sama angin.”
“Awas, nariknya jangan terlalu keras,” kata ayah sambil memegang benang layangan. Aku tertawa. Angin petang meniup rambutku. Langit berwarna jingga. Burung-burung pulang melintasi pematang sawah yang mulai gelap. “Ayah,” tanyaku lagi, “kalau layang-layang putus, dia pergi ke mana?” Ayah diam sebentar. Matanya melihat langit. “Mungkin pulang ke tempat angin dilahirkan.” Aku tidak benar-benar mengerti. Tapi aku suka mendengarnya. Aku mengangguk meski tidak benar-benar mengerti.
Ayah adalah lelaki yang percaya bahwa kebahagiaan bisa dibuat dari hal-hal sederhana. Ia membuat mobil-mobilan dari kulit jeruk bali. Membuat seruling dari batang padi. Membuat layang-layang dari kertas semen bekas. Dan aku, anak kecil yang waktu itu percaya bahwa ayah bisa memperbaiki apa saja dan aku selalu mengikutinya ke mana pun dia pergi.
***
Ketika SMP, aku mulai malu berjalan bersama ayah. Ia selalu memakai kaus oblong lusuh dan sandal jepit ke mana-mana. Tangannya kasar karena terlalu sering memegang cangkul. Bau matahari dan lumpur sawah menempel di tubuhnya. Sementara teman-temanku mulai dijemput motor baru.
Aku mulai berjalan lebih dulu jika pulang dari sekolah. Mulai jarang mencium tangannya. Mulai lebih banyak diam. Ayah tidak pernah marah. Ia hanya tersenyum kecil seperti seseorang yang diam-diam mengerti bahwa anaknya sedang bertumbuh menjadi dewasa.
Pernah suatu siang hujan turun deras dan semua anak dijemput keluarganya. Ayah datang membawa jas hujan kuning yang robek di bagian pundak. “Naik, Nak.” katanya sambil tersenyum. Aku pura-pura sibuk memasukkan buku ke tas. “Bentar dulu, Yah.”
Aku menunggu teman-temanku pulang lebih dulu karena malu dilihat mereka. Sampai sekarang, ingatan itu masih menjadi duri paling tajam dalam hidupku. Ayah tidak marah. Ia hanya berdiri di bawah hujan sambil memegang motor tua kami yang knalpotnya sering batuk. Waktu perjalanan pulang, kami hampir tidak bicara. Aku masih ingat punggung ayah yang basah oleh air hujan.
Aku mulai jarang ikut ke sawah. Jarang membantu memperbaiki kandang ayam. Jarang duduk di teras saat ayah bercerita tentang musim tanam. Aku mulai sibuk dengan dunia sendiri. Ayah tetap sama. Ia masih mengetuk pintu kamarku tiap subuh. “Bangun. Jangan kesiangan.” Masih menyisihkan paha ayam untukku meski ia sendiri makan tempe dan sambal. Masih memperbaiki tasku diam-diam saat talinya putus. Namun, aku mulai tumbuh menjadi anak yang terlalu ingin cepat dewasa.
Sampai suatu malam, ketika listrik padam dan kami duduk di teras ditemani lampu cempor, ayah berkata pelan, “Nanti kalau kamu sudah besar, jangan malu pulang ke rumah.” Aku tertawa kecil waktu itu. “Memangnya aku mau ke mana, Yah?” Dan Ayah tidak menjawab. Sekarang aku tahu, orang tua kadang bisa melihat masa depan lebih jauh daripada anak-anaknya sendiri.
Saat kuliah di kota, aku makin jarang pulang. Ayah selalu menelepon malam-malam hanya untuk bertanya hal-hal kecil. “Kamu sudah makan?” “Hujan nggak di sana?” “Uangnya cukup?” Aku sering menjawab pendek karena merasa terganggu. “Iya, Yah.” “Aman.” “Nanti dulu, lagi sibuk.” Kadang teleponnya kubiarkan berdering sampai mati. Dan anehnya, ayah tidak pernah marah. Manusia memang baru menyadari suara paling penting dalam hidupnya justru ketika suara itu hilang.
Seminggu setelah ayah meninggal, aku belum bisa tidur dengan normal. Aku sering terbangun pukul empat pagi karena merasa mendengar suara batuk ayah dari dapur. Kadang aku mendengar bunyi sandal diseret menuju sumur belakang. Pernah suatu malam aku refleks berkata, “Yah, tolong kecilin TV-nya,” sebelum sadar rumah sudah sunyi sejak lama.
Rasa kehilangan ternyata tidak datang sebagai ledakan besar. Ia datang pelan-pelan. Masuk lewat hal-hal kecil. Lewat kursi kosong di teras. Lewat topi caping yang masih tergantung di dinding. Lewat kebiasaan ingin memanggil “Ayah” ketika listrik mati. Yang paling menyiksa adalah rasa bersalah. Aku terus mengingat semua momen ketika aku malu padanya. Malu dicium di depan teman-teman. Malu dibonceng motor tuanya. Malu pada bau lumpur sawah di bajunya. Kini aku rela melakukan apa saja hanya untuk sekali lagi dibangunkan subuh oleh suaranya.
Petang ini, aku duduk sendiri di pematang sawah membawa layang-layang tua buatan ayah. Kertasnya sudah kusam. Bambu penyangganya mulai retak. Angin berembus pelan seperti napas seseorang yang lelah. Aku mencoba menerbangkannya. Gagal. Kucoba lagi. Jatuh lagi. Entah kenapa tiba-tiba aku menangis. Tangisku pecah begitu saja di tengah sawah yang mulai gelap.
Aku menangis bukan hanya karena ayah telah pergi. Aku menangis karena baru sadar bahwa selama ini aku terlalu sibuk tumbuh besar sampai lupa bahwa ayahku diam-diam sedang menua. Dan di antara suara jangkrik serta bau tanah sehabis hujan, akhirnya aku mengerti satu hal, tidak semua orang yang kita cintai sempat kita bahagiakan.
Bandung, 20 Mei 2026












Tinggalkan Balasan