Literatura Nusantara

Membumikan Sastra Melangitkan Kata

Diseminasi Tugas Akhir “Kedaulatan Tubuh dan Hak Perempuan dalam Aksara”

[Sumber gambar: Dokumentasi Syahla Fitria]

Penulis: Heri Isnaini

Tangan yang Luka dan Kedaulatan Tubuh: Membaca Een Bittere Justheid sebagai Narasi Trauma Perempuan

Ada novel yang hanya dibaca sebagai cerita. Ada pula novel yang sejak sampulnya sudah mengirimkan luka kepada pembaca. Een Bittere Justheid: Kegetiran Perempuan Teraniaya karya Syahla Fitria termasuk jenis kedua. Bahkan sebelum halaman pertama dibuka, novel ini telah memperlihatkan dunia yang akan dimasukinya, yakni dunia merah, tubuh yang retak, mawar yang gelap, dan tangan yang tampak hidup sekaligus terluka.

Cover novel tersebut menampilkan tangan kiri pucat dengan garis-garis menyerupai retakan, urat, atau jahitan luka. Jemarinya melengkung ambigu yang seolah hendak meraih sesuatu, tetapi juga seperti meminta pertolongan. Di sekelilingnya tumbuh mawar-mawar gelap dalam latar merah marun yang pekat seperti darah lama. Tidak ada wajah manusia. Tidak ada ilustrasi kolonialisme secara literal. Namun justru karena itu, cover ini terasa mengganggu secara psikologis.

Tangan dalam tradisi sastra dan seni selalu memiliki makna simbolik yang kuat. Ia dapat menjadi lambang kuasa, kekerasan, sentuhan, doa, kehilangan, bahkan kematian. Dalam cover Een Bittere Justheid, tangan itu tampak seperti tubuh yang telah rusak. Garis-garis di permukaannya menyerupai kulit yang dijahit kembali setelah mengalami penghancuran. Maka tangan tersebut dapat dibaca sebagai simbol trauma perempuan.

Interpretasi itu menemukan bentuk konkretnya ketika pembaca memasuki isi novel. Pada bagian awal cerita, Syahla Fitria memperkenalkan Knoerja sebagai representasi kekuasaan kolonial yang predatoris. Ia bukan sekadar pejabat VOC yang kejam, tetapi manusia yang menikmati dominasi dan ketakutan orang lain. Bahkan perempuan dipandangnya sebagai “mawar” yang harus dipetik secara paksa. Dalam salah satu bagian, ia menyebut Rahayu dan Ratih sebagai “dua mawar merah yang kucari-cari.” Mawar dalam novel ini karena itu bukan simbol romantik, melainkan metafora tubuh perempuan yang sedang diburu.

Di sinilah hubungan antara cover dan isi novel menjadi sangat kuat. Mawar-mawar pada cover ternyata merupakan simbol kesucian yang terancam, sementara tangan yang retak menjadi lambang tubuh yang telah dihancurkan oleh kekuasaan kolonial dan patriarki. Warna merah marun yang mendominasi cover juga menemukan maknanya di dalam cerita, yakni darah, tanah basah, hujan, pembunuhan, dan trauma terus-menerus hadir sepanjang novel.

Novel ini menggunakan teknik multiple point of view atau sudut pandang jamak. Bab-babnya berganti antara Rahayu, Knoerja, Ratih, Juminten, dan tokoh-tokoh lain. Teknik ini membuat pembaca tidak hanya melihat penderitaan korban, tetapi juga masuk ke psikologi pelaku. Akibatnya, horor dalam novel terasa lebih personal dan mengganggu. Pembaca dipaksa melihat bagaimana kolonialisme bekerja bukan hanya sebagai sistem politik, tetapi juga sebagai kerusakan mental manusia yang memegang kuasa absolut.

Pergantian sudut pandang tersebut sekaligus membangun struktur sekuen yang kuat. Kehidupan keluarga Rahayu pada awal cerita berfungsi sebagai keseimbangan awal. Kehadiran Knoerja menjadi gangguan yang menghancurkan ketenangan itu. Penembakan ayah Rahayu menjadi fungsi utama yang menggerakkan seluruh cerita menuju trauma, pelarian, eksploitasi tubuh perempuan, hingga proses penyembuhan luka. Dengan demikian, novel ini bergerak dari rumah menuju neraka sosial, lalu perlahan menuju pemulihan.

Yang menarik, Een Bittere Justheid tidak hanya berhenti sebagai cerita tragedi perempuan. Novel ini kemudian diposisikan dalam ruang akademik melalui kegiatan diseminasi bertema “KEBAYA: Kedaulatan Tubuh dan Hak Perempuan dalam Aksara.”

Kegiatan tersebut dilaksanakan pada:

  • Selasa, 19 Mei 2026
  • Pukul 13.00 WIB
  • Ruang Sidang Promosi Doktor, Lantai 4, Gedung FPBS UPI

Dalam poster kegiatan tersebut, tampak bahwa novel ini dibimbing oleh:

  • Dr. Memen Durachman, M.Hum.
  • Prof. Dr. Yulianeta, M.Pd.

[Dr. Memen Durachman, M.Hum. dan Syahla Fitria]

[Prof. Dr. Yulianeta, M.Pd. dan Syahla Fitria]

serta divalidasi oleh:

  • Dr. Heri Isnaini, M.Hum.

Kehadiran para akademisi tersebut menunjukkan bahwa novel ini tidak hanya dipandang sebagai karya hiburan, melainkan sebagai teks budaya yang layak dikaji secara ilmiah, terutama dalam perspektif feminisme, poskolonialisme, dan psikologi trauma.

Tema “Kedaulatan Tubuh dan Hak Perempuan dalam Aksara” sangat relevan dengan isi novel. Jika di dalam cerita, tubuh perempuan diperlakukan sebagai objek kolonial dan arena kekuasaan, dalam forum akademik tubuh perempuan dibicarakan sebagai wilayah kedaulatan. Dengan kata lain, diseminasi itu mengubah perempuan dari objek penderitaan menjadi subjek pembicaraan intelektual.

Kata “kebaya” dalam tema acara juga sangat simbolik. Selain sebagai akronim dari “Kedaulatan Tubuh dan Hak Perempuan dalam Aksara”, kebaya juga bukan hanya dapat dimaknai sekadar pakaian tradisional, melainkan representasi tubuh perempuan Nusantara, seperi tubuh budaya, tubuh identitas, sekaligus tubuh yang sering dikontrol oleh norma sosial dan kekuasaan. Ketika dikaitkan dengan novel ini, kebaya menjadi simbol perempuan yang berusaha mempertahankan martabat tubuhnya di tengah kolonialisme dan patriarki.

Poster kegiatan diseminasi pun mempertahankan atmosfer novel. Warna merah gelap, ornamen mawar, dan cover tangan retak tetap dipertahankan sehingga seminar akademik tersebut terasa bukan sekadar forum ilmiah, melainkan ruang refleksi emosional mengenai trauma perempuan. Kehadiran akademisi dan validator juga mengangkat posisi novel ini dari sekadar karya fiksi menjadi teks budaya yang layak dibaca melalui pendekatan feminis, poskolonial, dan psikologis.

Pada akhirnya, kekuatan Een Bittere Justheid terletak pada kemampuannya menyatukan estetika dan luka. Cover, simbol mawar, tangan retak, struktur multiple POV, hingga tema diseminasi akademiknya saling terhubung membentuk satu gagasan besar: tubuh perempuan adalah ruang perebutan kuasa sekaligus ruang perlawanan.

Dengan demikian, tangan pada cover novel ini dapat dibaca sebagai simbol paling penting dari keseluruhan cerita, yakni tangan perempuan yang terluka, tetapi belum menyerah untuk menggenggam kembali dirinya sendiri.

Bandung, 19 Mei 2026


Eksplorasi konten lain dari Literatura Nusantara

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Categories:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *