Literatura Nusantara

Membumikan Sastra Melangitkan Kata

Merindukan Majapahit di Tengah Krisis Identitas

[Sumber gambar: AI]

Penulis: Herman Priatna

Di tengah dunia yang bergerak semakin cepat, generasi hari ini hidup dalam ironi yang tidak selalu mereka sadari. Mereka terhubung dengan ribuan orang melalui media sosial, memiliki akses hampir tanpa batas terhadap informasi, dan dapat mengetahui peristiwa di belahan dunia lain hanya dalam hitungan detik. Namun di balik kemudahan itu, banyak yang diam-diam kehilangan sesuatu yang lebih mendasar: rasa memiliki akar.

Kita hidup di zaman ketika identitas sering dibangun dari apa yang ditampilkan, bukan dari apa yang benar-benar dipahami. Anak muda hari ini bisa mengenal tren global, mengikuti budaya populer lintas negara, bahkan fasih mendiskusikan tokoh-tokoh dunia, tetapi pada saat yang sama belum tentu memiliki kedekatan emosional dengan sejarah bangsanya sendiri. Dalam situasi seperti inilah novel MADA karya Gigrey menjadi menarik untuk dibaca—bukan sekadar sebagai fiksi sejarah, tetapi sebagai gejala budaya.

Novel ini tidak hanya membawa pembaca memasuki dunia masa lalu, ke era kejayaan Gajah Mada dan kebesaran Majapahit. Lebih dari itu, MADA menghadirkan pengalaman emosional yang membuat pembaca modern merasa memiliki hubungan personal dengan sejarah. Melalui tokoh Gendhis—perempuan dari masa kini yang terlempar ke masa lalu—pembaca seakan diajak bukan hanya melihat sejarah, tetapi tinggal di dalamnya.

Di titik inilah pertanyaan penting muncul: mengapa generasi modern begitu mudah jatuh cinta pada kisah-kisah sejarah yang telah diberi sentuhan romantis?

Barangkali jawabannya bukan semata karena cerita cinta, konflik politik, atau kemegahan kerajaan. Barangkali karena di tengah dunia modern yang serba cair, cepat, dan kadang dangkal, sejarah menawarkan sesuatu yang mulai langka: identitas, makna, dan rasa keterhubungan.

Yang menarik, ketertarikan generasi muda terhadap novel MADA sebenarnya tidak bisa dilepaskan dari cara generasi hari ini membangun identitasnya. Di era digital, identitas sering kali menjadi sesuatu yang cair. Seseorang dapat menjadi versi berbeda dari dirinya di ruang yang berbeda—di media sosial, di lingkungan kerja, di komunitas pertemanan, bahkan di ruang keluarga. Identitas tidak lagi selalu lahir dari akar budaya, sejarah keluarga, atau pengalaman kolektif bangsa, melainkan sering dibentuk oleh algoritma, tren, dan kebutuhan untuk terlihat relevan.

Akibatnya, tidak sedikit generasi muda yang tampak terhubung dengan dunia, tetapi justru merasa asing dengan dirinya sendiri. Mereka mengetahui apa yang sedang viral di berbagai platform, mengenal budaya populer dari berbagai negara, tetapi belum tentu mengenal kisah besar yang pernah membentuk bangsanya. Mereka akrab dengan tokoh-tokoh fiksi global, tetapi kadang memiliki jarak emosional dengan figur sejarah seperti Gajah Mada, Hayam Wuruk, atau peristiwa-peristiwa yang membentuk imajinasi kebangsaan.

Di sinilah MADA bekerja dengan cara yang menarik. Novel ini tidak menyajikan sejarah seperti yang biasa ditemukan di ruang kelas—penuh nama, tahun, dan hafalan. Sebaliknya, sejarah dihadirkan sebagai pengalaman emosional. Pembaca diajak mencintai tokohnya terlebih dahulu, menghayati konfliknya, merasakan ketegangannya, lalu secara perlahan masuk ke ruang sejarah itu sendiri. Dengan kata lain, MADA membuat sejarah terasa manusiawi.

Barangkali di titik inilah kita menemukan kritik yang cukup penting terhadap pendidikan kita. Selama bertahun-tahun, sejarah sering diajarkan sebagai kumpulan fakta yang harus diingat, bukan sebagai kisah manusia yang perlu dipahami. Akibatnya, sejarah terasa jauh, kaku, bahkan membosankan. Ketika sebuah novel seperti MADA hadir dengan sentuhan romansa, intrik kekuasaan, dan pergulatan batin, generasi muda justru menemukan pintu masuk yang lebih dekat untuk mengenal masa lalu.

Namun, di balik daya tarik itu, ada pertanyaan lain yang layak diajukan: apakah generasi muda sedang benar-benar mencari sejarah, atau sebenarnya sedang mencari identitas yang hilang?

Bisa jadi, romantisasi masa Majapahit dalam MADA bukan hanya bentuk ketertarikan terhadap masa lalu, tetapi juga cerminan kegelisahan masa kini. Ketika realitas modern terasa semakin kompetitif, individualistis, dan penuh ketidakpastian, masa lalu sering tampak lebih utuh, lebih heroik, dan lebih bermakna. Sejarah kemudian bukan hanya dibaca, tetapi dijadikan tempat pulang secara emosional.

Pada akhirnya, membaca MADA bukan hanya tentang mengikuti perjalanan tokoh, menikmati romansa, atau membayangkan kemegahan Majapahit. Lebih dari itu, novel ini membuka satu pertanyaan yang jauh lebih personal: di tengah dunia modern yang terus berubah, sebenarnya siapa diri kita?

Generasi hari ini hidup dengan banyak pilihan, banyak informasi, dan banyak kemungkinan. Namun ironisnya, kelimpahan itu tidak selalu melahirkan kejelasan. Banyak yang tahu ke mana harus pergi, tetapi tidak benar-benar tahu dari mana mereka berasal. Banyak yang berusaha membangun citra diri, tetapi diam-diam masih mencari makna dirinya sendiri. Dalam kondisi seperti itu, sejarah sering hadir bukan sekadar sebagai pengetahuan, melainkan sebagai ruang untuk menemukan kembali rasa keterhubungan.

Mungkin karena itulah MADA menemukan tempatnya di hati banyak pembaca muda. Ia tidak hanya menawarkan kisah masa lalu, tetapi juga menyediakan cermin bagi masa kini. Melalui kisah Gajah Mada, konflik kekuasaan, dan perjalanan batin tokohnya, pembaca seperti diingatkan bahwa identitas tidak dibangun hanya dari apa yang sedang tren, apa yang sedang viral, atau apa yang sedang banyak disukai. Identitas dibangun dari kesadaran tentang akar, sejarah, dan nilai yang diwariskan.

Barangkali, yang membuat generasi modern jatuh cinta pada kisah-kisah sejarah bukan semata karena mereka merindukan masa kejayaan Nusantara. Bisa jadi, yang sebenarnya mereka rindukan adalah sesuatu yang lebih dalam: rasa memiliki, rasa terhubung, dan rasa mengenal dirinya sendiri.

Dan di situlah MADA bekerja bukan hanya sebagai novel sejarah, tetapi sebagai pengingat bahwa di tengah dunia yang terus bergerak maju, manusia tetap membutuhkan satu hal yang tidak pernah usang—akar.


Eksplorasi konten lain dari Literatura Nusantara

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Categories:

2 tanggapan untuk “Merindukan Majapahit di Tengah Krisis Identitas”

  1. Avatar RM
    RM

    Pendapat saya kenapa toko asing ataupun tokoh cerita lebih akrab dengan generasi hari ini. Hal ini karena banyak tayangan yang lebih banyak tentang mereka dibanding tentang tokoh Indonesia. Singkatnya bisa dibilang proporsi konten nya, tokoh asing di gambarkan dalam drama pendek, drama series, film, yang bahkan satu tokoh bisa di ceritakan beberapa versi. Padahal kalau dilihat dari perjalanana waktu, kita punya banyak sejarah yang bisa dijadikan cerita di layar lebar maupun berbagai media…

    1. Avatar
      Anonim

      Terima kasih atas pandangannya. Saya justru sangat sepakat. Salah satu alasan mengapa tokoh asing terasa lebih dekat dengan generasi hari ini memang karena mereka terus “dihidupkan” melalui berbagai media sepert film, serial, animasi, komik, sehingga tokoh-tokoh itu tidak hanya dikenali, tetapi juga dialami secara emosional.

      Sementara kita sebenarnya memiliki kekayaan sejarah yang luar biasa—mulai dari Gajah Mada, Hayam Wuruk, hingga banyak kisah Nusantara lainnya—tetapi belum selalu hadir secara konsisten dalam budaya populer.

      Barangkali di situlah menariknya novel MADA. Ia bukan hanya menghadirkan cerita, tetapi juga menjadi pengingat bahwa sejarah Indonesia sebenarnya punya daya hidup yang kuat—asal diberi ruang untuk diceritakan dengan bahasa yang dekat dengan generasi hari ini.

      Jadi mungkin persoalannya bukan generasi muda tidak mencintai sejarah bangsanya, tetapi sejarah kita belum cukup sering hadir dalam bentuk yang membuat mereka merasa dekat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *