
[Sumber gambar: AI]
Penulis: Nazwa Septyani Amanda Putri
Dulu, di sebuah ruang kelas sederhana dengan bangku-bangku kecil yang berderit pelan saat digeser, aku mengenal sosok yang sampai sekarang masih lekat dalam ingatan. Kami memanggilnya Bu YYH. Ia adalah guru kelasku saat kelas satu dan dua SD, masa di mana segala sesuatu masih terasa baru dan sering kali membingungkan. Tapi kehadirannya membuat semuanya terasa lebih mudah dijalani.
Di hadapan beliau, huruf-huruf yang awalnya terasa sulit perlahan mulai bisa kubaca. Angka-angka yang membuatku ragu, sedikit demi sedikit bisa kupahami. Bu YYH tidak pernah terburu-buru. Ia mengajar dengan cara yang sederhana, tapi penuh kesabaran. Saat kami belum mengerti, ia akan mengulang penjelasan tanpa terlihat kesal. Bahkan ketika kami melakukan kesalahan yang sama, ia tetap mencoba membimbing dengan tenang.
Ada satu kebiasaan yang sampai sekarang masih kuingat dengan jelas, yaitu kegiatan sebelum masuk kelas. Saat itu, ketika aku duduk di kelas dua, kami tidak langsung masuk begitu saja. Kami harus berbaris rapi di depan kelas terlebih dahulu. Bu YYH berdiri di depan kami, memperhatikan satu per satu dengan penuh ketelitian. Di momen itulah beliau sering memeriksa hal-hal kecil yang ternyata sangat penting, seperti kebersihan kuku, kerapian pakaian, dan kelengkapan atribut sekolah.
Jika ada yang kukunya panjang atau kotor, beliau tidak langsung memarahi dengan keras. Ia hanya menegur dengan tegas namun tetap tenang, lalu mengingatkan pentingnya menjaga kebersihan diri. Bagi kami yang masih kecil, kegiatan itu mungkin terasa sederhana, bahkan kadang membuat sedikit gugup karena takut diperiksa. Tapi sekarang aku menyadari bahwa kebiasaan itu memiliki makna yang besar. Bu YYH tidak hanya mengajarkan kami membaca dan berhitung, tetapi juga membentuk kebiasaan baik dalam kehidupan sehari-hari. Saat barisan sudah rapi dan semua sudah siap, barulah kami diizinkan masuk ke kelas. Kami masuk dengan lebih tertib, suasana pun menjadi lebih kondusif untuk belajar.
Selain itu, aku juga masih ingat bagaimana beliau dengan sabar mengajariku menulis tegak bersambung. Di awal, rasanya sulit sekali. Tanganku sering kaku, huruf-huruf yang kutulis tidak rapi dan sering keluar dari garis buku. Tapi Bu YYH tidak pernah menyerah mengajariku. Ia membimbing pelan demi pelan, memperbaiki setiap kesalahan, dan terus memberi semangat agar aku tidak mudah putus asa. Dari situ aku belajar bahwa proses itu memang tidak instan, tapi dengan latihan dan kesabaran, semua bisa berkembang.
Bahkan, dari perhatian dan bimbingannya, beliau pernah mengikut sertakanku dalam lomba, seperti Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN) dan juga lomba menggambar tingkat kecamatan di Cililin. Saat itu aku merasa sangat bangga sekaligus gugup. Tidak pernah terbayang sebelumnya bahwa aku akan mewakili sekolah dalam sebuah lomba. Bu YYH-lah yang melihat potensi itu dan memberiku kepercayaan. Meskipun hasilnya bukan yang utama, pengalaman itu menjadi hal yang sangat berharga dalam hidupku. Aku belajar tentang keberanian, mencoba hal baru, dan percaya pada kemampuan diri sendiri.
Aku masih ingat, dulu aku sering dianggap sebagai salah satu murid kesayangannya. Bukan karena aku paling pintar, tapi mungkin karena aku berusaha dan dekat dengannya. Ada rasa bangga yang sulit dijelaskan setiap kali beliau memanggil namaku dengan senyum. Bahkan saat aku sudah kelas tiga SD dan tidak lagi diajar langsung olehnya, Bu YYH masih mengingatku. Suatu waktu, beliau memberiku sebuah hadiah kecil. Benda itu mungkin sederhana, tapi bagiku sangat berarti. Dari situ aku merasa dihargai, diingat, dan dianggap penting sebagai seorang murid.
Namun, bukan berarti beliau tidak pernah marah. Ada saat-saat di mana suaranya menjadi tegas, terutama ketika kami terlalu ramai atau tidak memperhatikan. Waktu itu, aku sempat merasa takut. Tapi semakin aku bertambah usia, aku mulai memahami bahwa kemarahan itu bukan karena benci. Justru di balik ketegasannya, ada rasa peduli yang besar. Ia ingin kami belajar dengan baik, ingin kami tidak menyia-nyiakan kesempatan yang ada.
Hal yang paling membekas dariku adalah ketabahannya. Menghadapi murid-murid dengan berbagai karakter tentu bukan hal yang mudah. Ada yang cepat memahami, ada yang harus dibimbing berkali-kali. Tapi Bu YYH tidak pernah membedakan. Ia tetap sabar menghadapi semua muridnya. Ia tidak hanya mengajar, tapi juga benar-benar memperhatikan perkembangan setiap anak.
Selain itu, ada banyak kenangan kecil yang jika diingat sekarang terasa sederhana, tetapi saat itu sangat berarti. Misalnya ketika pagi hari kami datang ke kelas dengan wajah masih mengantuk, Bu YYH selalu menyapa satu per satu. Sapaan itu mungkin terdengar biasa, namun bagi anak kecil seperti kami, itu membuat suasana menjadi hangat. Kami merasa diperhatikan, seolah kehadiran kami di kelas benar-benar penting.
Bu YYH juga sering menggunakan cara-cara yang kreatif agar kami tidak bosan. Ia tidak hanya terpaku pada buku pelajaran. Kadang ia mengajak kami belajar sambil bernyanyi, atau menggunakan benda-benda di sekitar kelas sebagai alat bantu. Dengan cara itu, pelajaran yang awalnya terasa sulit menjadi lebih menyenangkan. Tanpa kami sadari, kami sebenarnya sedang belajar banyak hal, bukan hanya tentang materi, tetapi juga tentang cara menikmati proses belajar itu sendiri.
Aku juga masih mengingat bagaimana beliau memperlakukan murid yang kesulitan. Ia tidak pernah mempermalukan mereka di depan teman-temannya. Justru ia mendekati dengan pelan, berbicara dengan suara lembut, lalu membimbing secara perlahan. Sikap seperti itu membuat kami merasa aman. Kami tidak takut untuk mencoba, tidak takut untuk salah, karena kami tahu akan dibimbing, bukan dimarahi tanpa alasan.
Dalam hal kedisiplinan, Bu YYH memiliki cara tersendiri. Ia tidak selalu menghukum dengan keras, tetapi lebih sering memberikan pengertian. Ia menjelaskan mengapa kami harus tertib, mengapa harus menghargai waktu, dan mengapa harus saling menghormati. Dari situ, kami belajar bahwa aturan bukan sekadar sesuatu yang harus dipatuhi, tetapi ada nilai di baliknya.
Seiring berjalannya waktu, aku mulai menyadari bahwa pengaruh seorang guru tidak hanya terasa saat kita masih berada di dalam kelas. Nilai-nilai yang diajarkan bisa terbawa hingga kita tumbuh dewasa. Hal-hal sederhana seperti bersikap sabar, menghargai orang lain, dan tidak mudah menyerah, semuanya perlahan tertanam sejak masa kecil itu.
Dari beliau, aku belajar bahwa menjadi guru bukan sekadar menyampaikan materi pelajaran. Lebih dari itu, menjadi guru berarti harus siap menghadapi berbagai situasi dengan hati yang lapang. Guru bukan hanya mengajar, tapi juga membimbing, mengarahkan, bahkan kadang harus menahan emosi demi kebaikan muridnya.
Pengalaman bersama Bu YYH perlahan membentuk cara pandangku tentang seorang guru. Sosoknya menjadi gambaran tentang bagaimana seharusnya seorang pendidik bersikap. Ia tidak sempurna, tapi ketulusan dan kesabarannya membuatnya begitu berarti di mata murid-muridnya, termasuk aku.
Kini, saat aku belajar di bangku perkuliahan sebagai mahasiswa PGSD, aku sering membandingkan teori-teori yang kupelajari dengan pengalaman nyata yang pernah kurasakan. Dan tanpa disadari, banyak hal yang diajarkan oleh dosen sebenarnya sudah pernah kutemui dalam sosok Bu YYH. Seolah-olah beliau telah lebih dulu mempraktikkan hal-hal yang sekarang baru kupahami secara teori.
Aku juga mulai memahami bahwa setiap guru pasti memiliki tantangan masing-masing. Tidak semua hari berjalan dengan mudah. Ada kalanya murid sulit diatur, ada kalanya suasana kelas tidak kondusif. Namun dari apa yang kuteladani, seorang guru tetap harus berusaha memberikan yang terbaik, meskipun dalam kondisi yang tidak selalu ideal.
Bu YYH mungkin tidak pernah tahu sejauh apa pengaruhnya dalam hidupku. Ia mungkin hanya menjalankan tugasnya sebagai seorang guru. Tapi bagi seorang murid seperti aku, kehadirannya memiliki makna yang jauh lebih besar. Ia menjadi inspirasi, motivasi, sekaligus pengingat bahwa kebaikan sekecil apa pun bisa berdampak besar bagi orang lain.
Sekarang, ketika aku sedang berjuang untuk bisa menjadi guru sekolah dasar, ingatan tentang beliau sering muncul kembali. Ada keinginan dalam diriku untuk bisa mengikuti jejaknya. Aku ingin menjadi guru yang tidak hanya mengajar, tapi juga peduli. Guru yang mau membimbing dengan sabar, dan tidak mudah menyerah ketika menghadapi kesulitan.
Aku sadar bahwa menjadi guru bukanlah pekerjaan yang mudah. Akan ada banyak tantangan yang harus dihadapi. Tapi jika aku mengingat Bu YYH, aku merasa punya contoh nyata tentang bagaimana menjalani peran itu dengan baik. Ia mengajarkanku bahwa kesabaran dan ketulusan adalah hal yang paling penting.
Aku berharap, suatu saat nanti, aku bisa bertemu kembali dengannya dan mengucapkan terima kasih secara langsung. Terima kasih atas kesabaran, perhatian, dan semua hal yang telah beliau berikan. Karena tanpa itu semua, mungkin aku tidak akan berada di titik ini.
Suatu hari nanti, jika aku benar-benar berdiri di depan kelas sebagai seorang guru, aku ingin membawa sedikit dari apa yang pernah beliau berikan. Aku ingin menjadi guru yang bisa dikenang dengan baik oleh murid-muridku, seperti aku mengenang Bu YYH hari ini. Karena bagi seorang murid, kehadiran guru yang tulus bisa meninggalkan kesan yang tidak mudah dilupakan.
Dan pada akhirnya, aku percaya bahwa setiap guru memiliki kesempatan untuk menjadi “Bu YYH” bagi murid-muridnya. Menjadi sosok yang dikenang, bukan karena kesempurnaan, tetapi karena ketulusan. Itulah yang ingin kukejar dalam perjalanan menjadi seorang pendidik.
Dengan segala kenangan dan pelajaran yang telah kuterima, aku akan terus berusaha memperbaiki diri. Aku ingin memastikan bahwa ketika nanti aku berdiri di depan kelas, aku tidak hanya mengajar, tetapi juga mampu memberikan dampak yang berarti. Seperti yang pernah dilakukan oleh Bu YYH, guru yang akan selalu hidup dalam ingatanku.
Dan tanpa beliau sadari, Bu YYH telah menjadi bagian dari perjalanan hidupku. Ia bukan hanya mengajarkan pelajaran di kelas, tapi juga memberikan inspirasi yang terus hidup sampai sekarang. tapi juga memberikan inspirasi yang terus hidup sampai sekarang.












Tinggalkan Balasan