Literatura Nusantara

Membumikan Sastra Melangitkan Kata

 Back to 90’s Back to Library

[Sumber gambar: AI]

Penulis: Arifa Khairunnisa

Perkembangan teknologi digital pada era sekarang membawa perubahan besar dalam dunia pendidikan sekolah dasar. Anak-anak generasi sekarang tumbuh berdampingan dengan gadget sejak usia dini sehingga kebiasaan membaca buku mulai menurun. Banyak siswa SD lebih tertarik menonton video pendek, bermain gim, atau membuka media sosial dibandingkan membaca buku pelajaran maupun buku cerita.

Bahkan suguhan video youtube berdurasi panjang pun belum bisa memuaskan mata mereka karena mereka malas menontonnya, dan tidak sedikit anak-anak yang tidak paham alur cerita film berdurasi 1 atau 2 jam seperti film-film layar lebar. Film kartun yang di dubbing lebih mereka minati ketimbang katun yang bersubtitle, itupun karena mereka lagi-lagi terlalu malas membaca artinya, padahal paduan antara Bahasa asing dan Bahasa Indonesia dalam subtitle bisa membantu anak-anak bisa menguasai beberapa Bahasa hanya dengan menonton saja.

 Kondisi ini berdampak pada rendahnya budaya literasi di sekolah maupun di rumah. Guru sering menemukan siswa yang cepat bosan ketika diminta membaca teks panjang atau mengerjakan tugas yang membutuhkan kesabaran. Bahkan dalam pembelajaran bahasa Inggris, banyak siswa tidak memahami cara mencari arti kata menggunakan kamus karena terbiasa menggunakan fitur terjemahan instan di gadget. Fenomena tersebut menunjukkan bahwa teknologi yang seharusnya membantu pembelajaran justru membuat sebagian anak menjadi kurang sabar dan kurang mandiri dalam belajar.

Masalah rendahnya literasi anak sekolah dasar saat ini menjadi perhatian penting dalam dunia pendidikan Indonesia. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa penggunaan gadget secara berlebihan dapat memengaruhi perkembangan emosi dan sosial anak. Penelitian dalam jurnal pendidikan menyebutkan bahwa penggunaan gadget yang terlalu sering menyebabkan menurunnya perhatian, berkurangnya interaksi sosial, serta memengaruhi kestabilan emosi anak sekolah dasar.

Kondisi inilah yang membuat anak menjadi lebih mudah marah ketika keinginannya tidak terpenuhi dan sulit fokus dalam proses belajar di kelas. Selain itu, kebiasaan mendapatkan hiburan secara cepat dari gadget membuat anak kurang mampu menikmati proses belajar yang membutuhkan ketekunan. Akibatnya, siswa cenderung ingin hasil instan tanpa mau melalui proses membaca, memahami, dan berpikir secara mendalam. Kondisi tersebut tentu menjadi tantangan besar bagi guru SD dalam membangun karakter sabar dan budaya literasi pada peserta didik.

Fenomena ketergantungan gadget pada anak sebenarnya sudah terlihat nyata di lingkungan masyarakat. Dalam berbagai diskusi masyarakat Indonesia di internet, banyak orang tua mengaku bahwa anak-anak mereka lebih memilih gadget dibanding buku bacaan. Ada anak yang marah ketika gadget diambil dan merasa bosan ketika harus membaca buku dalam waktu lama. Tidak sedikit pula informasi yang kami dapatkan dari orangtua siswa di sekolah dasar mengenai anak-anak yang emosinya meledak-ledak (tantrum) hanya karena urusan sepele diakibatkan tontonan di gadget atau gim yang menayangkan adegan kekerasan didalamnya

Di sisi lain, beberapa orang tua yang membiasakan anak membaca sejak kecil menunjukkan bahwa anak tetap bisa mencintai buku jika diberikan pendampingan yang tepat. Hal ini membuktikan bahwa budaya membaca tidak hilang sepenuhnya, tetapi membutuhkan inovasi yang menarik agar anak kembali dekat dengan buku dan perpustakaan. Sekolah memiliki peran penting dalam menciptakan lingkungan belajar yang mampu menyeimbangkan penggunaan teknologi dengan budaya literasi tradisional. Oleh karena itu, guru perlu menghadirkan inovasi pembelajaran yang tidak hanya menarik, tetapi juga mampu membentuk karakter siswa.

Berdasarkan permasalahan tersebut, inovasi pembelajaran yang dapat diterapkan adalah program “Back To 90’s Back To Library”. Program ini bertujuan menghidupkan kembali minat siswa terhadap buku dan perpustakaan melalui kegiatan yang menyenangkan, interaktif, dan menantang. Dalam inovasi ini, perpustakaan tidak lagi dianggap sebagai tempat yang membosankan, melainkan sebagai ruang petualangan ilmu pengetahuan.

Siswa akan diberikan misi membaca, tantangan pencarian informasi, permainan edukatif berbasis buku, serta penghargaan literasi setiap bulan. Guru tidak hanya meminta siswa membaca, tetapi juga mengajak mereka mengalami langsung manfaat membaca dalam kehidupan sehari-hari. Dengan konsep tersebut, anak-anak akan merasa bahwa membaca adalah kegiatan menarik dan bukan sekadar kewajiban sekolah. Program ini juga dirancang untuk mengurangi ketergantungan siswa terhadap gadget secara bertahap tanpa harus melarang teknologi secara total.

Salah satu implementasi utama dari inovasi ini adalah membuat “Pojok Literasi Tematik” di setiap kelas. Pojok literasi berisi buku cerita, ensiklopedia anak, komik pendidikan, kamus bahasa Inggris sederhana, dan majalah edukatif yang disesuaikan dengan usia siswa SD. Guru dapat mengganti tema bacaan setiap minggu agar siswa tidak merasa bosan. Misalnya minggu pertama bertema hewan, minggu berikutnya bertema luar angkasa, budaya Indonesia, atau tokoh inspiratif dunia.

Siswa diberi kesempatan membaca selama 15–20 menit sebelum pelajaran dimulai agar membaca menjadi kebiasaan harian. Setelah membaca, siswa dapat menceritakan kembali isi buku dengan bahasa sederhana di depan kelas. Kegiatan tersebut melatih keberanian berbicara, daya ingat, serta kemampuan memahami bacaan. Dengan cara ini, perpustakaan dan buku menjadi bagian menyenangkan dari kehidupan sekolah sehari-hari.

Dalam pembelajaran bahasa Inggris, inovasi ini dapat diterapkan melalui kegiatan “Dictionary Adventure” atau petualangan kamus. Guru mengajarkan siswa cara menggunakan kamus cetak untuk mencari arti kata bahasa Inggris secara mandiri. Siswa dibagi menjadi beberapa kelompok kecil dan diberikan tantangan menemukan arti kata tertentu dalam waktu tertentu. Kelompok yang paling cepat dan tepat akan mendapatkan poin literasi atau penghargaan sederhana.

Kegiatan ini bertujuan melatih kesabaran, ketelitian, dan kemampuan berpikir sistematis pada siswa. Anak-anak akan belajar bahwa menemukan jawaban membutuhkan usaha dan proses, bukan hanya mengetik di mesin pencarian. Selain itu, penggunaan kamus juga membantu siswa memahami urutan alfabet serta meningkatkan kosakata bahasa Inggris mereka. Melalui kegiatan tersebut, siswa menjadi lebih mandiri dan tidak selalu bergantung pada teknologi instan.

Inovasi berikutnya adalah menetapkan peraturan larangan membawa atau menggunakan gadget di lingkungan sekolah. Jika memang dibutuhkan, sekolah sudah memiliki fasilitas chromebook, mirroring tv, dan juga smart board dari pemerintah yang bisa digunakan untuk keperluan pembelajaran tertentu. Pada hari-hari tertentu, siswa diajak melakukan seluruh aktivitas pembelajaran tanpa menggunakan gadget sama sekali.

Sebagai gantinya, guru menghadirkan permainan edukatif, membaca bersama, mendongeng, diskusi kelompok, dan kegiatan kreatif berbasis buku. Dan saat mereka pulang kerumah, pengajar bisa menyarankan mereka untuk memilih tontonan yang mendidik dan bersubtitle lalu diberikan tugas untuk menyimak ceritanya yang kemudia akan mereka presentasikan kembali alur ceritanya didepan kelas seperti mereview sebuah film.

Mereka boleh juga mengkritik film tersebut dengan menjelaskan kelebihan dan kekurangannya ditambahkan tugas ‘‘vocab pocket‘‘ untuk pelajaran bahasa Inggris, yaitu saku kosakata, dimana mereka bisa menyebutkan berapa banyak kosakata baru yang mereka dapatkan hari ini beserta dengan artinya. Program ini bertujuan melatih fokus belajar siswa serta membangun interaksi sosial secara langsung dengan teman dan guru.

Anak-anak yang biasanya sibuk dengan layar gadget akan belajar menikmati komunikasi nyata dan aktivitas sederhana di lingkungan sekolah. Selain itu, permainan berbasis kerja sama juga dapat membantu mengurangi sifat individualis akibat penggunaan gadget berlebihan. Tidak jarang di lingkungan komplek atau bahkan perkampungan saat ini sudah langka sekali untuk bisa melihat pemandangan anak-anak bermain diluar rumah atau di lapangan dengan canda tawa ceritanya bahkan main dengan alam.

Mereka cenderung memilih maingim online dirumahnya masing-masing, kalaupun mereka berkelompok mereka tetap saja sibuk dengan gadgetnya masing-masing, sungguh pemandangan yang miris. Pernah juga penulis menemukan saat akan berangkat kerja setelah dini hari, sudah ada beberapa anak yang jongkok diluar rumah mencari sinyal wifi dan bersiap bermain roblox atau mobile legend. Maka dari itu, inovasi dalam masalah literasi dan membangun harmoni sosial dalam lingkungan pertemanan di sekolah ataupun dirumah sudah di titik urgensi yang tinggi, yang harus segera ditangani.

Agar inovasi berjalan efektif, sekolah juga perlu melibatkan orang tua dalam program literasi. Banyak kebiasaan anak sebenarnya terbentuk dari lingkungan rumah sehingga dukungan keluarga sangat penting. Sekolah dapat mengadakan program “15 Menit Membaca Bersama Orang Tua” setiap malam sebagai bagian dari pembiasaan literasi keluarga. Orang tua diminta mendampingi anak membaca buku cerita atau buku pengetahuan sebelum tidur.

Selain meningkatkan minat baca, kegiatan ini juga mempererat hubungan emosional antara anak dan keluarga. Penelitian dan pengalaman masyarakat menunjukkan bahwa anak yang dibiasakan membaca bersama orang tua cenderung memiliki ketertarikan lebih tinggi terhadap buku dibanding anak yang dibiarkan terus bermain gadget. Dengan adanya kerja sama antara sekolah dan keluarga, pendidikan karakter serta budaya literasi akan lebih mudah terbentuk secara konsisten.

Program inovasi ini juga dapat diperkuat melalui sistem penghargaan literasi yang menarik bagi siswa SD. Setiap buku yang selesai dibaca dapat dicatat dalam “Nerd Note” atau catatan si “kutu buku” dengan istilah-istilah unik yang menggelitik membuat image “kutu buku” tidak dipandang cupu tapi malah keren. Setelah mencapai jumlah tertentu, siswa memperoleh penghargaan seperti lencana literasi, sertifikat pembaca aktif, atau kesempatan menjadi “Duta Perpustakaan Kelas”. Atau bahkan hadiah-hadiah kecil seperti kudapan kesukaan anak yang disediakan guru juga bisa efektif memancing minat belajar khususnya membaca. Seperti hadiah coklat, buah-buahan atau apapun jajanan sehat bisa juga untuk menjadi reward berharga bagi anak-anak.

Penghargaan sederhana tersebut dapat meningkatkan motivasi anak untuk membaca lebih banyak buku. Namun, guru tetap harus menanamkan bahwa tujuan utama membaca bukan sekadar mendapatkan hadiah, melainkan memperoleh pengetahuan dan pengalaman baru. Selain itu, siswa yang aktif membaca juga dapat diminta merekomendasikan buku favorit kepada teman-temannya. Dengan begitu, budaya membaca dapat menyebar secara alami di lingkungan sekolah. Perpustakaan tidak lagi menjadi tempat sepi, tetapi menjadi pusat aktivitas belajar yang hidup dan menyenangkan.

Melalui inovasi “Back To 90’s Back To Library”, sekolah dasar dapat membantu mengatasi berbagai masalah pendidikan pada era digital saat ini. Program tersebut tidak hanya meningkatkan minat baca siswa, tetapi juga membentuk karakter sabar, mandiri, disiplin, dan mampu mengendalikan emosi. Anak-anak belajar bahwa pengetahuan tidak selalu diperoleh secara instan melalui gadget, melainkan melalui proses membaca dan memahami informasi dengan sungguh-sungguh.

Dalam pembelajaran bahasa Inggris, penggunaan kamus dan buku bacaan sederhana juga dapat meningkatkan kemampuan literasi bahasa secara bertahap. Selain itu, keterlibatan guru, sekolah, dan orang tua menjadi faktor penting keberhasilan program ini. Jika diterapkan secara konsisten, inovasi tersebut dapat menciptakan generasi yang lebih cerdas, berkarakter, dan memiliki budaya literasi yang kuat. Dengan demikian, perpustakaan sekolah dapat kembali menjadi jantung pendidikan yang membantu siswa berkembang secara akademik maupun emosional di tengah tantangan era digital.


Eksplorasi konten lain dari Literatura Nusantara

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Categories:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *