
[Sumber gambar: dokumentasi penulis]
Penulis: Nasya Nursifa Al Insani (Mahasiswi PGSD, IKIP Siliwangi)
Selasa 27 Oktober 2026, Pukul 07.15 pagi di SDN Cinangsi, Kecamatan Cipatat, suasana sudah ramai. Bukan karena bel, tapi karena teriakan siswa kelas 2 yang berebut ingin memegang papan huruf warna-warni di depan kelas. Hari itu saya hadir sebagai mahasiswa PGSD IKIP Siliwangi semester 3 untuk observasi mata kuliah Kurikulum Pembelajaran.
Jika di banyak sekolah saya mendengar keluhan kelas yang sepi dan pasif, di kelas 2 SDN Cinangsi justru sebaliknya. Kelas ini sangat hidup. Dan dari kelas yang hidup inilah saya melihat seperti apa Kurikulum Merdeka itu ketika benar-benar dijalankan, bukan hanya ditempel di dinding.
1. Kurikulum yang Dipakai: Merdeka yang Sudah Membumi
SDN Cinangsi secara resmi sudah menggunakan Kurikulum Merdeka. Ini terlihat jelas dari dokumen yang ditunjukkan guru, Ibu Tita. Beliau tidak lagi menggunakan RPP K13 yang tebal, melainkan Modul Ajar yang lebih sederhana dan fleksibel.
Yang menarik, modul itu tidak kaku. Di modul tertulis tujuan pembelajaran: “Siswa mampu mengenal huruf vokal dan konsonan melalui permainan.” Namun dalam pelaksanaannya, Ibu N memodifikasi sesuai kondisi siswa. Ketika melihat siswa sudah cepat bosan, beliau langsung mengubah strategi.
Saat wawancara, beliau berkata, “Kalau di Kurikulum Merdeka, kita diberi kebebasan. Kalau anaknya belum paham, ya kita ulang. Tidak harus kejar tayang materi. Yang penting anak paham, bukan modul selesai.”
Inilah esensi Merdeka Belajar yang sebenarnya. Bukan sekadar ganti istilah dari RPP menjadi Modul Ajar, tapi keberanian guru untuk menyesuaikan kurikulum dengan kebutuhan nyata siswa kelas 2 yang masih berada di fase fondasi literasi dan numerasi. Di kelas ini, kurikulum tidak lagi di atas kertas, tapi sudah membumi.
2. Praktik Pembelajaran: Ketika Guru Bukan Satu-satunya yang Bicara
Berbeda dengan bayangan saya tentang kelas rendah yang harus ditenangkan terus, praktik pembelajaran di kelas 2 ini justru sangat partisipatif.
Guru membuka pelajaran tidak dengan ceramah, melainkan dengan ice breaking “Tepuk Huruf”. Semua siswa berdiri, bertepuk tangan sambil menyebutkan huruf A-Z. Suasana langsung cair. Setelah itu, guru tidak langsung menjelaskan, tapi bertanya, “Hari ini kita mau jadi detektif huruf, siapa yang mau ikut?” Responsnya luar biasa. Hampir 15 dari 20 siswa mengacungkan tangan sambil berteriak, “Saya, Bu! Saya!”
Pembelajaran berlangsung dengan metode permainan dan kerja kelompok. Guru membagi siswa menjadi 4 kelompok kecil. Masing-masing kelompok diberi misi mencari kartu huruf yang disembunyikan di sekitar kelas. Metode ini adalah bagian dari pembelajaran berdiferensiasi dan pembelajaran berbasis aktivitas yang ditekankan di Kurikulum Merdeka.
Keaktifan siswa sangat tinggi. Mereka tidak takut salah. Ada seorang siswa bernama Rafi yang salah menyebut huruf ‘b’ menjadi ‘d’, tapi temannya langsung membantu, “Bukan, itu perutnya di depan, Rafi.” Tidak ada ejekan. Guru pun memberikan penguatan positif, “Hebat, saling membantu itu keren.”
Dari pengamatan saya, guru di sini berperan sebagai fasilitator, bukan sebagai satu-satunya sumber ilmu. Beliau berkeliling, mendampingi setiap kelompok, memberikan pertanyaan pancingan. Evaluasi pun tidak melulu tes tulis, tapi observasi langsung dan pemberian bintang prestasi di papan apresiasi.
3. Media dan Sumber Belajar: Kolaborasi Digital dan Alat Peraga
Ini adalah bagian paling menarik. Jika banyak SD terkendala media, di kelas 2 ini justru menjadi contoh bagaimana keterbatasan bisa diatasi dengan kreativitas.
Media yang digunakan adalah kombinasi cerdas antara digital dan manual.
Pertama, alat peraga konkret. Guru menggunakan Papan Huruf Pintar, yaitu papan magnet dengan huruf-huruf lepas berwarna-warni, dan Kartu Suku Kata. Untuk anak kelas 2 yang masih berpikir konkret, melihat dan memegang huruf secara langsung jauh lebih efektif daripada hanya melihat tulisan di papan tulis. Siswa bisa menyusun kata “b-u-k-u” menjadi “buku” dengan tangannya sendiri.
Kedua, media digital sederhana tapi berdampak. Guru menggunakan smart tv untuk menampilkan video animasi lagu alfabet dari YouTube. semua siswa duduk melingkar mendekat. Mereka bernyanyi dan menari bersama. Setelah itu, guru menggunakan aplikasi kuis sederhana untuk game tebak huruf. Suara “pintar!” dari aplikasi membuat anak-anak bersorak kegirangan.
Kombinasi ini sangat efektif. Alat peraga menjawab kebutuhan perkembangan kognitif siswa kelas 2 yang butuh benda nyata, sementara media digital menjawab kebutuhan akan variasi agar tidak bosan.
4. Refleksi dan Persoalan Pembelajaran
Di balik kelas yang sangat aktif itu, ada persoalan dan tantangan nyata yang saya temukan berdasarkan pengamatan dan wawancara singkat dengan guru. Sesuai arahan observasi, saya mencatat hal menarik, kendala yang dihadapi guru, serta peluang perbaikan, dengan melengkapi wawancara yang berfokus pada kurikulum, perencanaan, pelaksanaan, dan tantangan guru.
Hal menariknya adalah siswa sangat aktif karena medianya tepat. Namun, tantangan dan kendala yang dihadapi adalah guru perlu menyesuaikan diri dengan perubahan pendekatan pembelajaran yang lebih berpusat kepada peserta didik (student-centered).
Dulu polanya teacher-centered, guru menjelaskan siswa mendengarkan. Sekarang di Kurikulum Merdeka, guru dituntut menjadi fasilitator. Perubahan mindset ini tidak mudah.
“Kalau berpusat pada siswa, saya harus menyiapkan media yang banyak, harus keliling ke setiap kelompok, harus siap dengan jawaban yang tidak terduga dari anak. Jujur, lebih capek, tapi hasilnya lebih kelihatan,” ujar Ibu Tita.
Ada 3 kendala spesifik yang saya catat:
a. Perencanaan: Untuk membuat pembelajaran berdiferensiasi dengan alat peraga dan video, guru butuh waktu persiapan 2x lebih lama. Kartu huruf harus dicari, dicetak, dan digunting sendiri di malam hari.
b. Pelaksanaan: Karena siswa sangat aktif, manajemen kelas menjadi tantangan. Kelas yang hidup mudah menjadi terlalu ramai. Guru harus punya trik “tepuk diam” untuk mengembalikan fokus tanpa memarahi.
c. Sarana dan Perbedaan Kemampuan: Ada 20 siswa dengan kecepatan berbeda, ada yang sudah merangkai 3 suku kata, ada yang masih tertukar b dan d. Ditambah keterbatasan WiFi dan guru masih pakai kuota pribadi
Peluang perbaikannya: sekolah bisa membuat bank media agar alat peraga dipakai bergantian, menyediakan WiFi di kelas, dan membuat komunitas belajar antar guru untuk berbagi trik mengelola kelas aktif.
Sebagai calon guru SD jurusan PGSD, observasi ini menyadarkan saya bahwa Merdeka Belajar bukan berarti guru santai. Justru guru merdeka adalah guru yang mau terus belajar beradaptasi. Tantangan perubahan dari teacher-centered ke student-centered memang berat, tapi terbayar lunas ketika melihat mata siswa berbinar karena berhasil menyusun kata “BUKU” dengan tangannya sendiri.
Kelas ideal bukan kelas yang paling diam dan tertib, tapi kelas yang paling ramai oleh pertanyaan polos anak-anak.












Tinggalkan Balasan