Literatura Nusantara

Membumikan Sastra Melangitkan Kata

40 Anak dalam Satu Kelas: Cerita Guru di Tengah Kurikulum Merdeka

[Sumber gambar: dokumentasi penulis]

Penulis: Xena (Mahasiswi PGSD, IKIP Siliwangi)

Bayangkan sebuah ruang kelas yang dipenuhi 40 anak dengan karakter, kemampuan, dan kebiasaan belajar yang berbeda. Ada anak yang cepat memahami pelajaran, ada yang membutuhkan penjelasan berulang, ada yang aktif bertanya, tetapi ada pula yang lebih senang diam dan memperhatikan. Semuanya berada dalam satu ruangan, menghadapi materi yang sama, dan membutuhkan perhatian dari seorang guru yang sama. Di sinilah pekerjaan seorang guru menjadi tidak sederhana.

Pengalaman tersebut saya temukan ketika melakukan observasi pembelajaran di kelas III SDN 1 Cisomang. Dari kegiatan pengamatan dan wawancara dengan guru kelas, saya melihat bahwa penerapan Kurikulum Merdeka bukan sekadar urusan mengganti perangkat pembelajaran atau mengikuti aturan yang tertulis dalam dokumen. Ada banyak pekerjaan yang harus dilakukan guru, mulai dari mengenali karakter setiap anak, menyiapkan materi, memilih media pembelajaran, sampai memastikan tidak ada siswa yang tertinggal dalam memahami pelajaran.

Sekolah ini telah menerapkan Kurikulum Merdeka selama dua tahun dengan pendekatan Deep Learning. Pelaksanaannya mencakup kegiatan intrakurikuler, kokurikuler, dan ekstrakurikuler. Berbagai kegiatan tersebut didukung oleh perangkat pembelajaran seperti modul ajar, lembar kerja peserta didik (LKPD), serta sumber dan media pembelajaran lainnya.

Menurut guru kelas yang saya wawancarai, Kurikulum Merdeka terasa lebih fleksibel dan mudah diterapkan. Ia tidak bermaksud mengatakan bahwa kurikulum sebelumnya buruk, tetapi melihat bahwa kurikulum ini memberikan ruang yang lebih sesuai dengan perkembangan anak dan kebutuhan pembelajaran masa sekarang. Pandangan tersebut menarik karena kurikulum seharusnya memang tidak berhenti sebagai aturan yang harus dipatuhi. Kurikulum perlu hadir sebagai pedoman yang membantu guru menciptakan pengalaman belajar yang dekat dengan kehidupan peserta didik.

Hal yang cukup menarik terlihat dari cara guru mempersiapkan pembelajaran. Sebelum masuk ke materi, guru terlebih dahulu melakukan asesmen diagnostik, baik dari sisi kognitif maupun nonkognitif. Tujuannya untuk mengenali kemampuan awal, minat, dan karakteristik belajar siswa. Dari hasil pemetaan tersebut, guru kemudian menyusun tujuan pembelajaran dengan mempertimbangkan perbedaan kemampuan anak. Ada tujuan dasar yang perlu dicapai seluruh siswa dan ada pula kegiatan pengayaan bagi mereka yang dapat memahami materi lebih cepat.

Cara ini dikenal sebagai pembelajaran berdiferensiasi. Sederhananya, guru tidak memaksakan semua anak belajar dengan kecepatan dan cara yang sama. Siswa yang sudah memahami materi dapat mengerjakan LKPD secara lebih mandiri, sedangkan siswa yang masih membutuhkan bantuan mendapatkan pendampingan lebih intensif. Dalam praktiknya, siswa yang memerlukan bimbingan dikelompokkan di area tertentu agar guru lebih mudah membantu mereka.

Di sinilah makna merdeka belajar sebenarnya dapat ditemukan. Setiap anak memiliki kemampuan dan proses perkembangan yang berbeda. Karena itu, tugas guru bukan hanya menyampaikan materi sampai selesai, melainkan memastikan setiap anak memperoleh kesempatan untuk memahami apa yang dipelajari. Namun, kita juga perlu bertanya: bagaimana guru dapat memberikan perhatian kepada setiap anak ketika jumlah siswa dalam satu kelas mencapai 40 orang?

Dalam proses pembelajaran yang saya amati, guru memulai kegiatan dengan salam, doa, dan presensi. Setelah itu, siswa diajak mengingat kembali materi sebelumnya melalui pertanyaan pemantik atau gambar yang menarik. Pada kegiatan inti, mereka diberi kesempatan untuk mengamati, bertanya, mengeksplorasi, dan berdiskusi. Pembelajaran kemudian ditutup dengan penyimpulan materi bersama, refleksi, serta pesan atau tugas sederhana sebelum berdoa.

Guru juga menggunakan metode Problem-Based Learning atau pembelajaran berbasis masalah yang dipadukan dengan media visual dan tanya jawab interaktif. Pilihan ini cukup sesuai dengan karakteristik anak kelas III sekolah dasar. Anak-anak biasanya lebih mudah tertarik pada materi yang disampaikan melalui gambar, cerita, atau tantangan sederhana daripada penjelasan yang terlalu panjang. Dalam pengamatan saya, beberapa siswa tampak memperhatikan penjelasan guru, bahkan ada yang mengangkat tangan untuk memberikan tanggapan.

<text weight=”medium” size=”sm” color=”secondary”>Foto 1. Guru menjelaskan materi kepada siswa kelas III SDN 1 Cisomang.</text>

Hal lain yang menarik adalah upaya guru menghubungkan materi pelajaran dengan lingkungan sekitar. Ketika membahas lingkungan alam dan sosial, guru menggunakan contoh yang dekat dengan kehidupan masyarakat Cisomang. Materi juga dikaitkan dengan kegiatan pembiasaan budaya lokal, seperti Kamis Nyunda. Dengan cara ini, siswa tidak hanya mengenal sesuatu melalui buku, tetapi juga belajar memahami lingkungan tempat mereka tumbuh.

Pembelajaran seperti ini penting karena anak-anak sebenarnya hidup di tengah sumber pengetahuan yang sangat dekat dengan mereka. Lingkungan rumah, kebiasaan masyarakat, bahasa daerah, dan berbagai peristiwa sehari-hari dapat menjadi bahan pembelajaran. Guru tinggal menghubungkan pengalaman tersebut dengan materi yang sedang dipelajari. Bukankah sesuatu akan lebih mudah dipahami ketika kita pernah melihat atau mengalaminya sendiri?

Di tengah keterbatasan fasilitas sekolah, guru juga berusaha memanfaatkan teknologi. Proyektor menjadi salah satu media yang digunakan untuk menampilkan materi pembelajaran. Selain itu, guru membuat storyboard edukatif dan LKPD dengan ilustrasi digital bergaya animasi tiga dimensi menggunakan bantuan kecerdasan artifisial atau artificial intelligence (AI), seperti Gemini, ChatGPT, dan Claude.

Penggunaan gambar yang menarik ternyata menjadi salah satu cara untuk menjaga perhatian siswa. Anak-anak dapat melihat materi dalam bentuk visual yang lebih dekat dengan dunia mereka. Menariknya, guru tidak harus memiliki perangkat teknologi yang mahal untuk melakukan inovasi tersebut. Dengan kreativitas dan pemanfaatan teknologi yang tepat, media pembelajaran dapat dibuat lebih menarik. AI dalam hal ini menjadi alat bantu bagi guru, bukan pengganti peran guru dalam mendidik dan membimbing anak-anak.

Namun, pembelajaran tentu tidak berhenti ketika materi selesai disampaikan. Guru juga perlu mengetahui apakah siswa benar-benar memahami apa yang telah dipelajari. Untuk itu, penilaian dilakukan melalui beberapa cara. Kemampuan kognitif dinilai melalui tes tertulis, LKPD, dan pertanyaan lisan. Sikap siswa diamati melalui kedisiplinan, keberanian menyampaikan pendapat, dan kemampuan bekerja sama. Sementara itu, keterampilan dinilai melalui kegiatan praktik, termasuk presentasi hasil diskusi.

Guru juga memperhatikan kemampuan siswa dalam menjawab pertanyaan dan menjelaskan kembali materi menggunakan bahasa mereka sendiri. Jika masih ada anak yang belum mencapai tujuan pembelajaran, guru mencari tahu bagian mana yang belum dipahami. Selanjutnya, dilakukan remedial melalui pendekatan yang berbeda, seperti tutor sebaya atau pendampingan khusus di luar kegiatan inti dengan menggunakan media yang lebih sederhana.

Bagi saya, bagian ini menunjukkan bahwa penilaian seharusnya tidak hanya menjadi kegiatan memberikan angka atau menentukan siapa yang memperoleh nilai tinggi dan rendah. Penilaian juga menjadi cara bagi guru untuk mengetahui kebutuhan belajar anak dan memperbaiki proses pembelajaran berikutnya.

Meski demikian, ada persoalan yang tidak bisa diabaikan. Guru yang saya wawancarai menyampaikan bahwa perubahan kurikulum yang terlalu sering menjadi salah satu tantangan dalam dunia pendidikan. Setiap kali terjadi pergantian kurikulum, guru harus kembali mempelajari aturan, menyesuaikan perangkat pembelajaran, dan memahami pendekatan yang baru. Mereka juga dituntut meningkatkan kompetensi melalui berbagai pelatihan, workshop, maupun pembelajaran mandiri melalui platform Ruang GTK.

Upaya meningkatkan kemampuan guru tentu merupakan hal yang baik. Namun, persoalannya adalah waktu. Guru sudah memiliki tanggung jawab mengajar, mempersiapkan materi, menilai hasil belajar, dan mendampingi siswa. Ketika pelatihan dan penyesuaian kurikulum datang secara bersamaan, beban pekerjaan mereka semakin bertambah. Perubahan dalam dunia pendidikan seharusnya tidak hanya meminta guru untuk terus beradaptasi, tetapi juga memberikan dukungan yang memadai agar mereka dapat menjalankan perubahan tersebut dengan baik.

Tantangan lainnya terlihat jelas dari kondisi ruang kelas yang dihuni 40 siswa. Jumlah tersebut membuat guru harus membagi perhatian kepada banyak anak dengan kebutuhan yang berbeda. Untuk mengatasinya, guru berusaha berkeliling dari satu meja ke meja lainnya ketika siswa mengerjakan tugas. Siswa yang kurang aktif diberi pertanyaan pemantik, sementara mereka yang mengalami kesulitan mendapatkan penjelasan ulang menggunakan bahasa yang lebih sederhana atau bantuan alat peraga. Pujian juga diberikan untuk menghargai usaha siswa, sekecil apa pun perkembangannya.

<text weight=”medium” size=”sm” color=”secondary”>Foto 2. Suasana ruang kelas III SDN 1 Cisomang dengan 40 siswa.</text>

Saya melihat bahwa guru telah berusaha melakukan berbagai penyesuaian agar pembelajaran tetap berjalan. Namun, ada pertanyaan yang muncul setelah mengamati kondisi tersebut: sampai sejauh mana seorang guru dapat memberikan perhatian secara maksimal kepada 40 siswa dengan kebutuhan belajar yang berbeda? Pembelajaran berdiferensiasi membutuhkan waktu, pengamatan, dan pendampingan yang tidak sedikit. Jika seluruh tanggung jawab itu hanya dibebankan kepada guru, tentu pelaksanaannya tidak mudah.

Pengalaman di SDN 1 Cisomang memberikan pelajaran bahwa keberhasilan sebuah kurikulum tidak cukup ditentukan oleh bagusnya konsep yang tertulis dalam dokumen. Kurikulum membutuhkan guru yang memahami kebutuhan peserta didik, memiliki kreativitas, serta mendapatkan dukungan yang memadai. Guru juga membutuhkan kesempatan untuk mengembangkan kemampuan tanpa harus terus-menerus dibebani perubahan yang tidak disertai pendampingan.

Persoalan 40 siswa dalam satu kelas juga perlu menjadi perhatian bersama. Pemerintah dan pihak sekolah perlu memikirkan dukungan yang lebih nyata, mulai dari pengelolaan jumlah siswa, ketersediaan sarana pembelajaran, hingga pelatihan guru yang terencana. Sebab, pembelajaran yang berpihak kepada anak tidak cukup hanya dengan meminta guru memahami perbedaan setiap siswa. Guru juga harus memiliki waktu dan kesempatan untuk benar-benar melakukannya.

<text weight=”medium” size=”sm” color=”secondary”>Foto 3. Penulis bersama guru kelas III SDN 1 Cisomang setelah kegiatan observasi dan wawancara.</text>

Pada akhirnya, pengalaman mengamati pembelajaran di SDN 1 Cisomang membuat saya memahami bahwa pekerjaan guru jauh lebih luas daripada sekadar mengajar di depan kelas. Ada persiapan panjang, perhatian terhadap karakter anak, kreativitas dalam memilih media, serta kesabaran menghadapi berbagai persoalan pembelajaran. Di balik kelas yang dipenuhi 40 siswa, ada seorang guru yang berusaha memastikan setiap anak mendapatkan kesempatan untuk belajar.

Kurikulum Merdeka seharusnya tidak hanya memberikan ruang bagi anak untuk berkembang, tetapi juga memberikan ruang bagi guru untuk mengajar dengan baik. Jangan sampai kita terlalu sibuk membicarakan perubahan kurikulum, sementara persoalan nyata di dalam kelas belum mendapatkan perhatian yang cukup. Sebab, pendidikan yang baik bukan hanya tentang seberapa sering kurikulum diperbarui, melainkan tentang seberapa sungguh-sungguh kita memberikan kesempatan kepada setiap anak untuk tumbuh, belajar, dan menemukan masa depannya.


Eksplorasi konten lain dari Literatura Nusantara

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Categories:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *