
[Sumber gambar: dokumentasi penulis]
Penulis: Nurhalimah (Mahasiswi PGSD, IKIP Siliwangi)
Pendidikan di sekolah dasar merupakan salah satu tahap penting dalam perjalanan tumbuh kembang anak. Pada usia sekitar 6–12 tahun, anak mulai mengenal banyak hal di luar lingkungan keluarga. Mereka belajar membaca, menulis, berhitung, berinteraksi dengan teman, memahami aturan, serta membangun kebiasaan dan karakter. Sekolah dasar bukan sekadar tempat untuk memperoleh pengetahuan, melainkan juga ruang bagi anak untuk belajar menjadi manusia yang mandiri, bertanggung jawab, dan mampu menghargai orang lain.
Setiap sekolah tentu memiliki visi untuk membentuk generasi yang cerdas, berkarakter, dan berbudi pekerti. Visi tersebut bukan hanya menjadi identitas lembaga pendidikan, tetapi juga komitmen yang perlu diwujudkan melalui kegiatan pembelajaran sehari-hari. Orang tua yang mempercayakan pendidikan anaknya kepada sekolah tentu berharap anak mereka mendapatkan pengalaman belajar yang baik. Namun, ada satu hal yang terkadang terlupakan: pendidikan anak tidak sepenuhnya menjadi tanggung jawab sekolah. Keluarga tetap memiliki peran penting dalam mendampingi proses tumbuh kembang anak.
Pada Kamis, 22 Oktober 2026, bertepatan dengan peringatan Hari Santri, suasana salah satu sekolah dasar tampak berbeda. Para siswa mengenakan pakaian muslim dengan rapi. Pagi itu, kegiatan sekolah berlangsung cukup meriah. Salah seorang guru memperkenalkan program “Kamis Nyunda” dengan menjelaskan berbagai perkakas tradisional yang biasa ditemukan dalam kehidupan masyarakat Sunda beserta kegunaannya. Kegiatan tersebut menjadi salah satu cara mengenalkan budaya lokal kepada siswa sejak dini. Di lingkungan sekolah, berbagai poster dan pajangan edukatif juga terlihat menghiasi dinding kelas, memberikan kesan bahwa sekolah berusaha menghadirkan suasana yang ramah, aman, dan nyaman bagi anak-anak.
Tepat pukul 08.00 WIB, kegiatan pembelajaran di kelas IV dimulai. Suasana kelas terasa hangat dan tertib. Kedatangan guru disambut dengan salam oleh para siswa. Kegiatan kemudian diawali dengan doa bersama yang dipimpin oleh ketua murid, dilanjutkan dengan pemeriksaan kehadiran. Ada satu hal menarik yang dilakukan guru ketika memanggil nama siswa. Ia tidak hanya memastikan siapa yang hadir dan tidak hadir, tetapi juga menanyakan bagaimana perasaan masing-masing anak pada pagi itu.
Kebiasaan sederhana tersebut sebenarnya memiliki makna penting. Guru tidak langsung mengajak siswa membuka buku atau mengerjakan tugas, tetapi terlebih dahulu mencoba memahami kondisi emosional mereka. Ada anak yang datang dengan penuh semangat, ada yang masih terlihat mengantuk, dan mungkin ada pula yang sedang menghadapi persoalan di rumah. Dengan menanyakan perasaan siswa, guru sedang membangun hubungan yang lebih dekat dengan mereka. Sebab, anak yang merasa diperhatikan biasanya akan lebih nyaman untuk mengikuti kegiatan pembelajaran.
Dalam penerapan Kurikulum Merdeka, guru memiliki ruang untuk merancang pembelajaran sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik peserta didik. Hal tersebut terlihat dari pemanfaatan berbagai fasilitas yang tersedia di sekolah, termasuk buku paket dan televisi pintar atau smart TV sebagai media pendukung pembelajaran.
Pada kegiatan yang saya amati, guru menggunakan metode ceramah, tanya jawab, dan diskusi sederhana dengan menerapkan pembelajaran berbasis masalah atau Problem-Based Learning. Sebelum masuk ke materi utama, guru memberikan apersepsi melalui pertanyaan pemantik, cerita singkat, serta gambar atau ilustrasi yang berkaitan dengan topik pembelajaran. Siswa tampak memperhatikan penjelasan dan beberapa di antaranya aktif memberikan jawaban.
Ketika guru memberikan tugas, suasana kelas mulai dipenuhi aktivitas. Ada siswa yang langsung mengerjakan, ada yang bertanya untuk memastikan kembali instruksi guru, dan ada pula yang masih kebingungan menentukan langkah awal. Guru berusaha merespons kondisi tersebut dengan berkeliling dari satu meja ke meja lainnya. Siswa yang sudah memahami materi terlihat saling bertukar pendapat dengan teman sebangku, sementara siswa yang masih mengalami kesulitan mendapatkan penjelasan tambahan. Meskipun demikian, beberapa siswa masih terlihat kurang percaya diri untuk menyampaikan pendapat dalam diskusi.
Dari pengamatan tersebut, saya melihat bahwa guru telah berusaha menciptakan pembelajaran yang melibatkan siswa secara aktif. Namun, di balik suasana kelas yang cukup kondusif, terdapat persoalan yang tidak bisa diabaikan. Beberapa siswa tampak kesulitan mempertahankan perhatian dan kurang bersemangat mengikuti pembelajaran. Hal yang lebih mengejutkan adalah masih ditemukannya beberapa siswa kelas IV yang belum lancar membaca.
Temuan tersebut menjadi semakin menarik ketika saya melakukan wawancara singkat dengan guru kelas. Di balik sikapnya yang ramah dan kesabarannya mendampingi siswa, ternyata ada kegelisahan yang selama ini dirasakan. Salah satu persoalan yang disampaikan adalah masih kurangnya keterlibatan sebagian orang tua dalam mendampingi proses belajar anak di rumah.
Menurut penuturan guru, masih ada orang tua yang menyerahkan hampir seluruh tanggung jawab pendidikan kepada sekolah. Ketika anak pulang ke rumah, kegiatan belajar sering kali tidak dilanjutkan. Pendampingan sederhana, seperti menemani anak membaca, mengulang pelajaran, atau mengerjakan tugas, terkadang terabaikan. Akibatnya, anak hanya mengandalkan waktu belajar yang tersedia di sekolah.
Kondisi ini tentu perlu menjadi perhatian bersama. Ketika seorang anak belum lancar membaca di kelas IV, misalnya, persoalannya tidak bisa langsung dibebankan kepada guru. Kita perlu melihat proses belajar anak secara lebih menyeluruh. Apakah anak mendapatkan pendampingan yang cukup di rumah? Apakah lingkungan keluarga mendukung kebiasaan membaca? Apakah metode pembelajaran di sekolah sudah sesuai dengan kebutuhan anak? Pertanyaan-pertanyaan tersebut penting diajukan agar kita tidak terburu-buru menyalahkan satu pihak.
Pendidikan memang tidak dapat berjalan hanya dengan mengandalkan sekolah. Guru dan orang tua memiliki tanggung jawab yang saling melengkapi. Guru membantu anak memperoleh pengetahuan, membangun karakter, dan mengembangkan keterampilan melalui kegiatan pembelajaran. Sementara itu, orang tua memiliki peran untuk memberikan perhatian, kasih sayang, serta membangun kebiasaan positif di lingkungan keluarga.
Jika diibaratkan sebagai tanaman, anak membutuhkan perawatan yang berkelanjutan agar dapat tumbuh dengan baik. Guru dapat diibaratkan sebagai pihak yang memberikan pupuk berupa pengetahuan, bimbingan, dan nilai-nilai kehidupan. Sementara itu, orang tua menjadi pihak yang menyirami dan merawatnya setiap hari melalui perhatian, kasih sayang, dan pendampingan. Tanaman tidak akan tumbuh optimal jika hanya mendapatkan pupuk tanpa air yang cukup. Begitu pula anak-anak. Pembelajaran di sekolah perlu diperkuat dengan perhatian dan kebiasaan belajar di rumah.
Tentu saja, tidak semua orang tua memiliki kesempatan yang sama untuk mendampingi anak. Ada yang harus bekerja sepanjang hari, memiliki keterbatasan waktu, atau menghadapi persoalan ekonomi dan keluarga. Karena itu, keterlibatan orang tua tidak harus selalu diwujudkan melalui pendampingan belajar yang panjang. Menemani anak membaca selama beberapa menit, menanyakan kegiatan di sekolah, memeriksa tugas, atau memberikan apresiasi terhadap usaha mereka merupakan bentuk perhatian yang sederhana, tetapi bermakna.
Secara umum, kegiatan pembelajaran di sekolah yang saya amati telah berlangsung dengan cukup baik. Guru berusaha memanfaatkan fasilitas yang tersedia, menerapkan pendekatan pembelajaran yang beragam, dan membangun komunikasi dengan siswa. Namun, persoalan siswa yang belum lancar membaca, kurang percaya diri, atau belum memiliki semangat belajar yang konsisten menunjukkan bahwa masih ada pekerjaan rumah yang perlu diselesaikan bersama.
Persoalan tersebut tentu tidak hanya mungkin ditemukan di satu sekolah. Di berbagai tempat, guru menghadapi tantangan serupa dengan kondisi dan latar belakang yang berbeda. Karena itu, penyelesaiannya tidak cukup dengan meminta guru bekerja lebih keras atau menyalahkan orang tua yang dianggap kurang peduli. Diperlukan komunikasi dan kerja sama antara sekolah, keluarga, serta lingkungan masyarakat agar kebutuhan belajar anak dapat diperhatikan secara lebih menyeluruh.
Pada akhirnya, pendidikan anak bukanlah pekerjaan yang dapat diselesaikan oleh satu pihak saja. Guru tidak bisa menggantikan sepenuhnya peran orang tua, sebagaimana orang tua juga tidak dapat menyerahkan seluruh tanggung jawab pendidikan kepada sekolah. Keduanya perlu berjalan beriringan, saling mendukung, dan saling memahami.
Sambutan hangat seorang guru di dalam kelas tentu menjadi awal yang baik bagi anak untuk merasa nyaman belajar. Namun, kehangatan itu perlu berlanjut ketika mereka kembali ke rumah. Jangan sampai anak merasa diperhatikan ketika berada di sekolah, tetapi kehilangan pendampingan ketika berada di lingkungan keluarganya sendiri. Sebab, keberhasilan pendidikan bukan hanya ditentukan oleh apa yang dipelajari anak di dalam kelas, melainkan juga oleh perhatian dan kebiasaan baik yang tumbuh dalam kehidupan sehari-hari. Guru mengajar, orang tua mendampingi, dan anak-anak mendapatkan kesempatan terbaik untuk tumbuh menjadi manusia yang berpengetahuan sekaligus berkarakter.












Tinggalkan Balasan