Literatura Nusantara

Membumikan Sastra Melangitkan Kata

Menyelami Suara Pengarang pada Novel Janji Karya Tere Liye: Kajian Ekspresif

[Sumber gambar: dokumentasi penulis]

Penulis: Kiki Lestari Amalia Putri

Karya sastra bukan hanya tempat bagi pengarang untuk menuangkan cerita dan imajinasi, tetapi juga sarana untuk menyampaikan pandangan hidup, pengalaman, perasaan, serta pemikirannya. Melalui karya sastra, pengarang dapat menghadirkan berbagai persoalan kehidupan yang mungkin pernah diamati, dirasakan, atau direnungkannya. Dalam kritik sastra, hubungan antara karya dan pengarang dapat dikaji melalui pendekatan ekspresif, yang mana menempatkan pengarang sebagai salah satu unsur penting dalam hubungan antara karya sastra, realitas, dan pembaca (M. H. Abrams, 1953). Dengan demikian, karya sastra dapat dipahami dengan menelusuri bagaimana pemikiran, pengalaman, dan pandangan hidup pengarang itu tercermin melalui tokoh serta peristiwa yang dibangun dalam cerita.

Novel Janji mengisahkan tentang tiga santri bernama Hasan, Baso, dan Kaharuddin. Ketiganya dikenal sebagai santri yang sering membuat onar di sekolah agama tempat mereka menuntut ilmu. Pada suatu waktu, mereka melakukan kenakalan dengan mencampurkan garam ke dalam cerek teh yang akan disajikan kepada tamu agung yang berkunjung ke sekolah tersebut.

Alih-alih memberikan hukuman fisik, guru mereka justru memberikan tugas untuk mencari seseorang yang 40 lalu pernah menjadi santri di sekolah agama yang sama, yaitu Bahar Safar. Bahar memiliki rekam jejak yang buruk karena perilakunya, tetapi kepergiannya membuat sang guru ingin menemukannya kembali. Dalam perjalanan mencari Bahar, ketiga santri tersebut perlahan menemukan berbagai cerita yang ternyata jauh lebih rumit daripada perkiraan mereka. Meskipun Bahar terlihat seperti orang yang berandalan, sering mabuk, dan berjudi, ternyata ia menyimpan hati yang terikat pada sebuah janji. Ia melewati banyak peristiwa yang membentuk dirinya menjadi seseorang yang berbeda dari penilaian orang-orang terhadap masa lalunya.

Hal tersebut yang kemudian membuat novel Janji menarik untuk dikaji melalui pendekatan ekspresif. Novel ini tidak hanya mengisahkan perjalanan mencari seseorang, tetapi juga mengangkat berbagai persoalan kehidupan, seperti penyesalan, agama, kepedulian sosial, dan tanggung jawab sebagai manusia. Melalui tokoh Bahar, pembaca diajak memahami bahwa nilai seseorang tidak selalu ditentukan oleh masa lalunya. Terkadang, orang yang dianggap buruk justru memiliki sisi kemanusiaan yang belum pernah benar-benar diketahui oleh orang lain.

Dari sudut pandang ekspresif, cerita tersebut dapat dibaca sebagai gambaran pandangan Tere Liye mengenai manusia dan kehidupan. Pengarang tidak hanya membangun tokoh Bahar sebagai seseorang yang memiliki masa lalu kelam, tetapi juga memperlihatkan bagaimana pengalaman hidup dapat mengubah cara seseorang memandang dunia dan memperlakukan orang lain.

Salah satu pemikiran yang cukup kuat terlihat dalam novel ini adalah bahwa manusia tidak seharusnya dinilai hanya berdasarkan kesalahan yang pernah dilakukannya pada masa lalu. Tokoh Bahar menjadi gambaran dari pemikiran tersebut. Ia pernah melakukan banyak kesalahan, tetapi masa lalunya tidak sepenuhnya menentukan siapa dirinya pada kemudian hari.

Hal ini dapat dibaca sebagai bentuk pandangan kemanusiaan Tere Liye. Ia seolah ingin mengingatkan bahwa setiap manusia memiliki kesempatan untuk berubah. Seseorang yang pernah dianggap buruk belum tentu akan terus menjadi buruk, begitupun seseorang yang terlihat baik belum tentu selalu memiliki kehidupan yang sempurna. Menurut saya, gagasan tersebut menjadi salah satu kekuatan novel Janji. Tere Liye tidak langsung memperkenalkan Bahar sebagai sosok yang patut dikagumi. Sebaliknya, pembaca terlebih dahulu diperlihatkan pada sisi buruk kehidupannya. Dengan demikian, perubahan karakter Bahar terasa lebih bermakna karena pembaca mengetahui perjalanan panjang yang telah dilaluinya.

Dunia Kepengarangan Tere Liye dalam Konstruksi Novel Janji

Pembacaan ekspresif terhadap novel Janji tidak dapat dilepaskan dari kedudukan Tere Liye sebagai pengarang yang membangun keseluruhan dunia cerita. Tere Liye merupakan nama pena dari Darwis, seorang penulis asal Indonesia yang lahir di Lahat, Sumatera Selatan, pada 21 Mei 1979. Ia menempuh pendidikan tinggi di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia dengan mengambil jurusan akuntansi. Meskipun latar belakang pendidikannya tidak berkaitan dengan kesusastraan, hal tersebut tidak menjadi pengahalang baginya untuk melahirkan karya-karya yang sekarang banyak digemari oleh para pembaca di Indonesia.

Tere Liye mulai dikenal melalui novel Hafalan Shalat Delisa yang terbit pada 2005. Sejak saat itu, ia terus menghasilkan karya dengan berbagai tema dan genre. Beberapa novelnya yang cukup dikenal antara lain Moga Bunda Disayang Allah, Bidadari-Bidadari Surga, Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin, Rembulan Tenggelam di Wajahmu, Negeri Para Bedebah, Hujan, Tentang Kamu, serta serial Bumi.

Jika diperhatikan, karya-karya Tere Liye tidak hanya berkutat pada satu jenis cerita. Ia menulis tentang keluarga, persahabatan, percintaan, agama, kehidupan sosial, politik, hingga petualangan dan fantasi. Keberagaman tersebut memperlihatkan bahwa ia memiliki ketertarikan untuk mengangkat berbagai sisi kehidupan manusia ke dalam cerita.

Dalam konteks sastra Indonesia, kontribusinya tampak dari kemampuannya memperluas jangkauan pembaca, terutama melalui novel populer. Bahasa yang relatif sederhana membuat cerita-ceritanya mudah dinikmati oleh berbagai kalangan, termasuk pembaca muda. Keberagaman tema yang diangkatnya juga memperlihatkan bahwa isu sosial dan pengalaman keseharian dapat diolah menjadi karya sastra yang menarik.

Menurut saya, daya tarik novel-novel Tere Liye juga terletak pada kepiawaiannya mengangkat persoalan yang cukup berat melalui kisah yang dekat dengan kehidupan, seperti yang tampak pada Janji. Pembaca tidak perlu memahami teori atau istilah yang rumit untuk menangkap pesan cerita. Mereka cukup mengikuti perjalanan tokoh, lalu menemukan sendiri pelajaran yang tersirat di dalamnya.

Ekspresi Pemikiran Tere Liye dalam Novel Janji

Jika ditelusuri lebih dalam, novel Janji tidak hanya menyoroti kehidupan pribadi Bahar. Tere Liye juga memasukkan berbagai persoalan sosial yang membuat kisahnya terasa dekat dengan realitas masyarakat. Pilihan tema tersebut dapat dimaknai sebagai bentuk ekspresi pengarang terhadap berbagai peristiwa dan kondisi kehidupan manusia.

Dari sisi sosial, novel ini memperlihatkan bahwa kehidupan seseorang dapat berubah akibat lingkungan dan pengalaman yang dialaminya. Masa kecil Bahar yang kehilangan orang tua dan tinggal bersama neneknya menjadi dasar penting untuk memahami latar kehidupannya. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa perilaku seseorang tidak dapat sepenuhnya dipisahkan dari lingkungan tempat ia tumbuh dan peristiwa yang membentuk dirinya.

Melalui perjalanan Hasan, Baso, dan Kaharuddin, pembaca diajak melihat kehidupan Bahar dari sudut pandang orang-orang yang pernah mengenalnya. Setiap pertemuan menghadirkan potongan informasi yang secara perlahan membentuk gambaran yang lebih utuh tentang dirinya. Cara penceritaan ini menegaskan bahwa seseorang tidak dapat dinilai hanya berdasarkan satu penilaian saja.

Dari sisi agama, Tere Liye menghadirkan pesan tentang keikhlasan, amanah, kepedulian, dan tanggung jawab. Latar pesantren menjadi ruang yang digunakan untuk mengangkat persoalan tersebut. Namun, pesan dalam novel ini tidak berhenti pada hubungan manusia dengan Tuhan. Pengarang juga menekankan bahwa nilai agama seharusnya diwujudkan melalui tindakan nyata terhadap sesama. Tokoh Bahar menjadi contoh yang menarik dalam hal ini. Meskipun memiliki masa lalu yang kelam, ia kemudian dikenal melalui berbagai tindakan baik yang dilakukannya kepada orang lain. Hal ini menunjukkan bahwa kebaikan tidak cukup hanya diucapkan, tetapi perlu dibuktikan melalui perbuatan nyata.

Selain persoalan sosial dan agama, Tere Liye juga menyentuh kehidupan politik. Hal ini tampak sejak awal cerita ketika seorang tokoh penting datang ke sekolah agama untuk mencari dukungan. Kehadiran tokoh tersebut memperlihatkan bahwa lembaga pendidikan dan kehidupan masyarakat dapat terlibat dalam kepentingan politik.

Menurut saya, bagian ini menarik karena Tere Liye tidak menjadikan politik sebagai tema utama, melainkan memasukkannya sebagai bagian dari kehidupan sosial. Dengan demikian, pembaca dapat melihat bahwa kehidupan manusia tidak berdiri sendiri; ada kepentingan, kekuasaan, dan hubungan sosial yang turut memengaruhi jalannya kehidupan masyarakat.

Persoalan ekonomi juga muncul melalui gambaran kehidupan Bahar setelah meninggalkan pesantren. Perjalanan hidupnya memperlihatkan bahwa manusia dapat mengalami kesulitan dan kemudahan dalam meraih keberhasilan. Namun, dalam novel ini, ukuran keberhasilan tidak hanya diukur dari kekayaan yang dimiliki seseorang. Justru, sikap dan tindakan seseorang terhadap orang lain menjadi hal yang lebih penting dan bermakna.

Sementara itu, dari sisi pendidikan, novel Janji memperlihatkan hubungan antara pendidik dan muridnya. Sosok Buya dan ayah Buya (panggilan guru di sekolah agama) menggambarkan bahwa mendidik bukan hanya soal memberikan aturan atau hukuman, tetapi juga membutuhkan kesabaran, kepedulian, dan pemahaman terhadap kondisi  yang dialami setiap murid. Penyesalan yang dirasakan ayah Buya setelah Bahar meninggalkan sekolah agama menunjukkan bahwa keputusan seorang pendidik dapat memberikan dampak besar terhadap kehidupan seseorang.

Berbagai persoalan tersebut memperlihatkan bahwa Tere Liye memiliki perhatian yang luas terhadap kehidupan manusia. Ia tidak hanya membahas persoalan individu, tetapi juga menghubungkannya dengan lingkungan sosial, agama, pendidikan, ekonomi, dan politik. Dengan demikian, novel Janji dapat dibaca sebagai ruang ekspresi pengarang dalam menyampaikan pandangannya tentang kehidupan yang lebih luas.

Kecenderungan Estetis dan Pandangan Kemanusiaan Tere Liye

Selain melalui persoalan yang diangkat, ekspresi pengarang juga dapat ditelusuri melalui cara ia membangun cerita. Dalam novel Janji, Tere Liye menggunakan perjalanan tiga tokoh untuk mengungkap kehidupan Bahar secara bertahap. Teknik penceritaan tersebut membuat pembaca terdorong untuk terus mengikuti cerita karena setiap pertemuan menghadirkan informasi baru.

Penggunaan tokoh Bahar sebagai pusat pencarian juga memiliki fungsi penting. Pembaca tidak langsung mengetahui seluruh kehidupan Bahar, melainkan memperoleh gambaran tentang dirinya melalui cerita orang-orang yang pernah bertemu dengannya. Dengan cara tersebut, pengarang memperlihatkan bahwa kehidupan seseorang memiliki banyak sisi yang terkadang tidak terlihat oleh orang lain.

Kecenderungan lain yang terlihat adalah penggunaan pesan moral sebagai bagian penting dalam cerita. Bahasa yang digunakan relatif sederhana dan tidak terlalu sulit dipahami. Hal ini menjadi kelebihan tersendiri karena pesan-pesan yang disampaikan pengarang dapat diterima oleh pembaca dari berbagai latar belakang.

Namun, menurut saya, terdapat pula bagian yang dapat menjadi catatan. Banyaknya pesan moral dalam novel ini terkadang membuat beberapa bagian cerita terasa seperti sedang menyampaikan nasihat secara langsung kepada pembaca. Bagi sebagian orang, hal tersebut mungkin terasa menyentuh. Akan tetapi, bagi pembaca yang lebih menyukai cerita dengan ruang penafsiran yang luas, penyampaian pesan yang terlalu jelas dapat mengurangi kesempatan untuk menemukan makna secara mandiri.

Selain itu, terdapat ketidakkonsistenan dalam sikap tokoh Bahar. Diceritakan bahwa Bahar tetap melaksanakan salat Subuh meskipun pada malam sebelumnya ia baru saja mabuk. Namun, pada bagian lain juga dijelaskan bahwa ia selalu terbangun ketika matahari sudah terbit. Kondisi ini menciptakan sedikit ketidaksesuaian dalam penggambaran karakternya.

Walaupun demikian, hal-hal tersebut tidak serta-merta mengurangi nilai novel Janji. Justru, hal itu memperlihatkan ciri khas Tere Liye yang sering mengangkat persoalan kehidupan dengan pesan moral sebagai bagian penting dari alur ceritanya. Dengan demikian, novel ini tetap menawarkan pengalaman baca yang bermakna dan mampu membuat pembaca merenungkan berbagai nilai kehidupan yang disampaikan melalui kisah para tokohnya.

Melalui pendekatan ekspresif, kekuatan novel ini dapat dilihat dari konsistensi pengarang dalam menghadirkan persoalan kemanusiaan. Tere Liye tidak hanya membangun cerita untuk menghibur, tetapi juga menyampaikan pemikirannya mengenai bagaimana manusia seharusnya menjalani kehidupan.

Pemetaan Ekspresivitas dalam Novel Janji

Jika ditelusuri lebih jauh, pemikiran Tere Liye dalam novel Janji dapat ditemukan melalui beberapa persoalan yang saling berkaitan. Persoalan itu tidak hanya menyangkut kehidupan pribadi Bahar, tetapi juga menyentuh aspek sosial, agama, pendidikan, ekonomi, dan politik. Dari berbagai hal tersebut, pengarang seolah menyampaikan pandangannya tentang bagaimana manusia seharusnya memahami dan menjalani kehidupan.

Pertama, sisi humanistik terlihat dari penggambaran Bahar yang memiliki masa lalu penuh kesalahan, tetapi tetap diberi ruang untuk berubah. Ia digambarkan bukan sebagai manusia yang sempurna; ia pernah melakukan kenakalan, melanggar aturan, dan menghadapi berbagai persoalan hidup. Meskipun demikian, perjalanan hidupnya menunjukkan bahwa seseorang masih memiliki kesempatan untuk memperbaiki diri. Melalui tokoh ini, Tere Liye tampak ingin menegaskan bahwa manusia tidak seharusnya dinilai hanya dari kesalahan masa lalunya. Bagi saya, gagasan ini menjadi salah satu pesan utama novel, yaitu pentingnya memandang manusia secara utuh dan tidak terburu-buru dalam menghakimi.

Kedua, sisi sosial muncul melalui kehidupan Bahar serta hubungannya dengan orang-orang di sekitarnya. Masa kecilnya yang tidak mudah, terutama setelah kehilangan orang tua dan hidup bersama neneknya, memperlihatkan bahwa keluarga dan lingkungan turut membentuk perjalanan hidup seseorang. Pencarian yang dilakukan Hasan, Baso, dan Kaharuddin juga memperlihatkan bahwa setiap orang memiliki cerita serta sudut pandang yang berbeda tentang seseorang. Hal ini menunjukkan perhatian pengarang terhadap hubungan antarmanusia dan pentingnya memahami keadaan orang lain sebelum memberikan penilaian.

Ketiga, sisi religius tampak dari latar pesantren serta nilai-nilai keagamaan yang dihadirkan dalam cerita. Tere Liye tidak memandang agama hanya sebagai aturan atau kewajiban, tetapi juga sebagai pedoman dalam menjalani kehidupan. Nilai keikhlasan, amanah, kepedulian, dan tanggung jawab menjadi bagian penting dalam perjalanan tokoh-tokohnya. Melalui kehidupan Bahar, pembaca diajak memahami bahwa nilai agama tidak cukup hanya diucapkan, tetapi perlu diwujudkan melalui tindakan nyata. Dari sini, tampak bahwa pengarang menilai kebaikan seseorang dari cara ia memperlakukan orang lain.

Keempat, sisi pendidikan terlihat dalam hubungan antara Buya, ayah Buya, dan para santri. Kehadiran Buya sebagai pendidik memperlihatkan bahwa mengajar bukan hanya soal menyampaikan ilmu atau memberikan hukuman, tetapi juga membutuhkan kesabaran serta pemahaman terhadap karakter setiap murid. Pengalaman ayah Buya dalam menghadapi Bahar juga menunjukkan bahwa keputusan seorang pendidik dapat memengaruhi kehidupan muridnya. Melalui bagian ini, pengarang seolah mengajak pembaca memahami bahwa mendidik bukan sekadar membentuk seseorang agar patuh pada aturan, tetapi juga membantunya menemukan arah hidup.

Kelima, sisi politik muncul sejak awal cerita ketika seorang tamu agung datang ke sekolah agama untuk mencari dukungan. Peristiwa tersebut memperlihatkan hubungan antara kepentingan politik dan kehidupan masyarakat. Kehadiran tokoh politik di lingkungan pendidikan agama juga menunjukkan bahwa lembaga pendidikan tidak sepenuhnya lepas dari kepentingan di luar dunia pendidikan. Menurut saya, penyisipan isu ini menarik karena Tere Liye tidak menjadikannya sebagai pusat cerita, melainkan menghadirkannya sebagai bagian dari realitas sosial yang dekat dengan kehidupan masyarakat.

Keenam, sisi ekonomi tampak dari perjalanan hidup Bahar yang mengalami masa sulit hingga mencapai keberhasilan. Kehidupannya memperlihatkan bahwa kondisi ekonomi dapat memengaruhi perjalanan seseorang. Namun, pengarang tidak menjadikan kekayaan sebagai satu-satunya ukuran keberhasilan. Melalui berbagai tindakan Bahar terhadap orang lain, pembaca diajak memahami bahwa nilai hidup tidak hanya ditentukan oleh apa yang dimiliki seseorang, tetapi juga oleh apa yang dapat ia berikan kepada orang lain. Pandangan ini memperlihatkan kecenderungan Tere Liye mengangkat isu ekonomi tanpa meninggalkan nilai kemanusiaan.

Selain keenam hal tersebut, terdapat pula sisi moral yang cukup kuat dalam novel ini, terutama melalui persoalan janji, amanah, penyesalan, dan tanggung jawab. Judul Janji menjadi benang merah yang menghubungkan berbagai peristiwa dalam cerita. Janji bukan sekadar ucapan, melainkan sesuatu yang mengandung tanggung jawab untuk ditepati. Melalui persoalan tersebut, Tere Liye menegaskan bahwa perkataan seseorang baru memiliki nilai ketika disertai kesungguhan untuk melaksanakannya.

Dari berbagai dimensi tersebut, novel Janji memperlihatkan kecenderungan ekspresivitas yang cukup luas. Namun, persoalan kemanusiaan, agama, dan sosial tampak paling menonjol. Ketiganya saling terkait dalam membentuk pandangan pengarang tentang kehidupan. Tere Liye tidak hanya menampilkan bagaimana seseorang menghadapi masa lalunya, tetapi juga bagaimana seseorang seharusnya hidup dengan lebih peduli, bertanggung jawab, dan tidak mudah menghakimi orang lain.

Dengan demikian, berbagai persoalan dalam novel Janji dapat dibaca sebagai bentuk ekspresi pemikiran Tere Liye terhadap kehidupan manusia. Melalui tokoh Bahar dan perjalanan hidupnya, pengarang menyampaikan bahwa setiap orang memiliki cerita yang belum tentu diketahui orang lain. Ada kesalahan yang pernah dilakukan, ada penyesalan yang harus diterima, dan ada kesempatan untuk melakukan kebaikan. Hal inilah yang membuat novel ini tidak hanya menarik sebagai cerita, tetapi juga memberi ruang bagi pembaca untuk merenungkan kembali cara mereka memandang kehidupan.

Simpulan

Melalui pembacaan kritik sastra ekspresif, novel Janji karya Tere Liye memperlihatkan bagaimana pemikiran dan pandangan hidup pengarang diwujudkan melalui tokoh, peristiwa, serta persoalan yang dibangun dalam cerita. Tokoh Bahar menjadi salah satu bagian penting untuk memahami pandangan pengarang tentang manusia, khususnya mengenai perubahan diri, kesempatan memperbaiki kesalahan, dan pentingnya berbuat baik kepada sesama.

Novel ini juga menunjukkan perhatian Tere Liye terhadap berbagai persoalan kehidupan, seperti sosial, agama, pendidikan, ekonomi, dan politik. Hal-hal tersebut bukan sekadar pelengkap cerita, melainkan ruang bagi pengarang untuk menyampaikan pemikirannya tentang kehidupan manusia.

Dalam perjalanan kariernya, Tere Liye telah menghasilkan banyak karya dengan tema dan genre yang beragam. Kontribusinya bagi sastra Indonesia tampak dari produktivitasnya, kemampuannya menjangkau pembaca dari berbagai kalangan, serta cara ia menyampaikan persoalan kehidupan melalui bahasa yang sederhana dan mudah dipahami. Melalui karya-karyanya, ia memperlihatkan bahwa sastra dapat menjadi sarana hiburan sekaligus ajakan untuk memikirkan kembali berbagai persoalan di sekitar kita.

Dengan demikian, Janji bukan hanya cerita tentang pencarian seorang mantan santri, tetapi juga pengingat bahwa kehidupan selalu memberi ruang bagi manusia untuk memperbaiki diri. Tere Liye menegaskan bahwa seseorang tidak seharusnya dinilai hanya dari kesalahan yang pernah dilakukannya. Masih ada kesempatan untuk berubah, kebaikan yang dapat dilakukan, dan tanggung jawab yang perlu ditunaikan.

Pada akhirnya, melalui perjalanan Bahar, pembaca diajak memandang manusia secara lebih utuh. Masa lalu memang menjadi bagian dari kehidupan seseorang, tetapi bukan berarti masa lalu harus menjadi satu-satunya ukuran untuk menilai menilainya. Di sinilah kekuatan novel Janji terlihat: ceritanya mampu mengajak pembaca memahami kehidupan bukan hanya dari apa yang tampak, melainkan juga dari nilai-nilai yang tersembunyi di balik perjalanan setiap manusia.

Penulis: 
Kiki Lestari Amalia Putri adalah mahasiswa baru program studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di IKIP Siliwangi Cimahi. Saat ini, ia sedang aktif mempelajari kritik sastra. Penulis berdomisili di Kab. Bandung, Jawa Barat.


Eksplorasi konten lain dari Literatura Nusantara

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Categories:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *