
[Sumber gambar: dokumentasi penulis]
Penulis: Nurul Fauziah (mahasiswi PGSD, IKIP Siliwangi)
Pendidikan bukan hanya tentang bagaimana seorang anak mampu membaca, menulis, dan berhitung. Lebih dari itu, pendidikan adalah proses membentuk manusia yang memiliki pengetahuan, karakter, kepedulian, dan akhlak yang baik. Sekolah tidak cukup hanya menjadi tempat untuk menyampaikan materi pelajaran, tetapi juga harus menjadi lingkungan yang membantu peserta didik tumbuh dan berkembang sebagai manusia seutuhnya.
Pertanyaan menarik kemudian muncul: apakah kurikulum yang tertulis dalam dokumen pembelajaran benar-benar hadir dalam kehidupan sehari-hari peserta didik? Bagaimana guru menerjemahkan tuntutan kurikulum ke dalam kegiatan belajar? Dan apakah pendidikan karakter hanya menjadi slogan atau benar-benar dibiasakan dalam aktivitas sekolah?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadi salah satu hal yang menarik untuk diamati ketika melakukan kunjungan ke MIS Al-Furqon II. Dari hasil pengamatan, terlihat bahwa sekolah tidak hanya berupaya menjalankan kegiatan pembelajaran di kelas, tetapi juga membangun suasana pendidikan melalui pembiasaan keagamaan dan kegiatan pengembangan minat serta bakat peserta didik.
Kurikulum Berbasis Cinta: Pendidikan yang Lebih dari Sekadar Materi
Salah satu hal menarik yang ditemukan dalam observasi di MIS Al-Furqon II adalah penerapan Kurikulum Berbasis Cinta yang diinstruksikan oleh Kementerian Agama Kota Bandung. Kurikulum ini menjadi bagian dari arah pelaksanaan pendidikan yang diterapkan di lingkungan sekolah.
Kehadiran pendekatan berbasis cinta memberikan ruang bagi sekolah untuk memandang pendidikan tidak hanya sebagai proses transfer pengetahuan, tetapi juga sebagai proses menumbuhkan nilai-nilai kemanusiaan, kepedulian, dan pembentukan karakter. Sebab, anak-anak tidak cukup hanya dididik agar mengetahui sesuatu, tetapi juga perlu dibimbing agar memiliki kepedulian terhadap sesama, menghargai lingkungan, dan mencintai proses belajar.
Dalam konteks pendidikan dasar, pendekatan semacam ini penting. Anak-anak berada pada masa perkembangan yang membutuhkan keteladanan, perhatian, pembiasaan, dan lingkungan belajar yang mendukung. Guru bukan sekadar orang yang menjelaskan materi, melainkan juga sosok yang memberikan contoh melalui sikap dan perilakunya.
Namun, kurikulum berbasis cinta tentu tidak cukup hanya dicantumkan dalam dokumen atau disampaikan dalam kegiatan formal. Nilai cinta perlu terlihat dalam interaksi guru dengan siswa, cara guru memberikan teguran, bagaimana siswa menghargai temannya, serta bagaimana sekolah menciptakan lingkungan yang aman dan menyenangkan untuk belajar.
Guru Mengajar dengan Perencanaan
Dalam pelaksanaan pembelajaran, guru di MIS Al-Furqon II mempersiapkan modul dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Perencanaan tersebut mengacu pada buku paket pembelajaran masing-masing mata pelajaran.
Hal ini menunjukkan bahwa kegiatan belajar tidak semata-mata berlangsung secara spontan. Guru memiliki perangkat pembelajaran sebagai pedoman dalam menyampaikan materi dan mengarahkan kegiatan belajar peserta didik.
Perencanaan merupakan bagian penting dalam proses pembelajaran. Tanpa persiapan yang baik, kegiatan belajar berisiko kehilangan arah. Guru perlu mengetahui materi yang akan disampaikan, tujuan yang ingin dicapai, serta kegiatan yang sesuai dengan kebutuhan siswa.
Meski demikian, perangkat pembelajaran tidak seharusnya hanya menjadi kelengkapan administrasi. Modul dan RPP perlu benar-benar menjadi panduan yang hidup dalam praktik mengajar. Guru juga perlu memiliki fleksibilitas untuk menyesuaikan pembelajaran dengan kondisi kelas, kemampuan siswa, dan situasi yang terjadi selama kegiatan belajar berlangsung.
Di sinilah profesionalitas guru diuji. Sebab, pembelajaran yang baik bukan hanya ditentukan oleh lengkapnya dokumen perencanaan, tetapi juga oleh kemampuan guru menghidupkan rencana tersebut menjadi pengalaman belajar yang bermakna.
Kelas yang Tidak Hanya Mendengar, tetapi Juga Beraktivitas
Salah satu gambaran menarik dari kegiatan pembelajaran di MIS Al-Furqon II adalah keterlibatan peserta didik. Siswa terlihat aktif dalam kegiatan menulis, membaca, dan bertanya. Aktivitas tersebut merupakan bagian penting dalam membangun proses belajar. Membaca membantu siswa memperoleh informasi, menulis membantu mereka mengolah dan mencatat pemahaman, sedangkan bertanya menjadi salah satu jalan untuk mengembangkan rasa ingin tahu.
Siswa yang bertanya menunjukkan adanya keinginan untuk memahami sesuatu lebih jauh. Karena itu, guru perlu memberikan ruang yang cukup bagi peserta didik untuk menyampaikan pendapat dan pertanyaan tanpa merasa takut salah. Dalam praktiknya, pembelajaran ideal bukanlah kelas yang hanya dipenuhi suara guru. Kelas yang hidup justru memberikan kesempatan kepada siswa untuk terlibat, berpikir, bertanya, dan membangun pemahamannya sendiri dengan bimbingan guru.
Dari sisi media pembelajaran, kegiatan belajar di MIS Al-Furqon II menggunakan papan tulis putih atau whiteboard. Selain itu, tersedia pula perangkat proyektor atau infokus yang sesekali dimanfaatkan dalam pembelajaran.
media digital dapat membantu guru menyajikan materi secara lebih menarik melalui gambar, tayangan, maupun bahan presentasi. Namun, keberadaan teknologi tidak otomatis menjadikan pembelajaran lebih berkualitas. Hal yang lebih penting adalah bagaimana guru memilih media yang sesuai dengan materi dan menggunakannya untuk membantu siswa memahami pelajaran.
Infokus, misalnya, akan lebih bermakna apabila digunakan untuk menampilkan materi yang sulit dijelaskan hanya melalui tulisan di papan tulis. Dengan demikian, teknologi bukan sekadar pelengkap, melainkan alat bantu untuk memperkaya pengalaman belajar.
Belajar Tidak Berhenti Ketika Bel Pulang Berbunyi
Hal lain yang menarik dari MIS Al-Furqon II adalah adanya kegiatan ekstrakurikuler yang memberikan ruang bagi siswa untuk mengembangkan minat dan bakat.
Selain kegiatan Pramuka, sekolah memiliki beberapa kegiatan unggulan, yaitu ekstrakurikuler kaligrafi setiap Jumat sore, serta ekstrakurikuler bahasa Inggris dan tahfiz Al-Qur’an setiap hari Sabtu setelah kegiatan Pramuka.
Kegiatan tersebut memperlihatkan bahwa pengembangan kemampuan siswa tidak hanya diarahkan pada aspek akademik. Kaligrafi memberikan ruang bagi kreativitas dan keterampilan seni. Bahasa Inggris memperkenalkan siswa pada kemampuan berbahasa yang dapat menjadi bekal menghadapi perkembangan zaman. Sementara itu, tahfiz Al-Qur’an memberikan kesempatan kepada siswa untuk mendekatkan diri dengan Al-Qur’an melalui kegiatan menghafal.
Kegiatan ekstrakurikuler seperti ini memiliki nilai penting dalam pendidikan dasar. Setiap anak memiliki potensi dan ketertarikan yang berbeda. Ada yang menonjol dalam bidang seni, bahasa, olahraga, maupun kemampuan keagamaan. Sekolah perlu memberikan ruang agar potensi tersebut dapat dikenali dan dikembangkan.
Pendidikan tidak seharusnya hanya mengukur keberhasilan siswa melalui angka-angka dalam rapor. Kemampuan bekerja sama, kreativitas, kedisiplinan, keterampilan, dan kecintaan terhadap ilmu juga merupakan bagian dari perkembangan peserta didik yang patut diperhatikan.
Membiasakan Ibadah, Membentuk Karakter
Salah satu ciri yang cukup menonjol dalam kehidupan sekolah di MIS Al-Furqon II adalah pembiasaan ibadah. Siswa-siswi dikondisikan untuk melaksanakan salat wajib berjamaah Zuhur dan Asar di masjid yang berada di lingkungan sekolah.
Pembiasaan ini menjadi bagian dari pendidikan karakter yang tidak hanya disampaikan melalui teori di dalam kelas. Anak-anak memperoleh pengalaman langsung untuk melaksanakan ibadah secara berjamaah, belajar disiplin terhadap waktu salat, dan membangun kebiasaan beribadah bersama.
Hal ini menunjukkan bahwa pendidikan agama tidak cukup hanya diajarkan melalui hafalan atau pengetahuan tentang tata cara ibadah. Nilai-nilai keagamaan perlu diwujudkan dalam tindakan sehari-hari.
Namun, pembiasaan ibadah juga perlu disertai pemahaman. Anak-anak tidak cukup hanya diarahkan untuk melaksanakan salat, tetapi perlu dibimbing agar memahami makna salat, pentingnya kedisiplinan, serta nilai kebersamaan yang terkandung di dalamnya.
Dengan demikian, sekolah tidak hanya membentuk siswa yang terbiasa melakukan aktivitas keagamaan, tetapi juga membantu mereka memahami dan menumbuhkan kesadaran dalam menjalankannya.
Kurikulum yang Perlu Terus Dihidupkan
Dari pengamatan di MIS Al-Furqon II, terlihat adanya upaya mengintegrasikan pembelajaran di kelas, kegiatan pengembangan minat dan bakat, serta pembiasaan keagamaan. Hal ini menjadi gambaran bahwa pendidikan di sekolah dasar memiliki ruang yang luas untuk mengembangkan peserta didik secara lebih menyeluruh.
Meskipun demikian, masih ada ruang untuk terus meningkatkan kualitas pelaksanaan pembelajaran. Pemanfaatan infokus dapat lebih dimaksimalkan sesuai kebutuhan materi. Kegiatan bertanya dan berdiskusi dapat terus diperkuat agar siswa tidak hanya aktif mencatat dan membaca, tetapi juga terbiasa mengemukakan pendapat dan berpikir kritis. Selain itu, nilai-nilai dalam Kurikulum Berbasis Cinta perlu terus diwujudkan dalam interaksi dan budaya sekolah sehari-hari.
Sebagai mahasiswa PGSD, pengamatan ini memberikan pelajaran bahwa menjadi guru bukan sekadar menguasai materi pelajaran. Guru juga harus mampu merencanakan pembelajaran, memilih metode dan media yang tepat, memahami karakteristik peserta didik, serta menciptakan lingkungan yang mendukung perkembangan mereka.
Pada akhirnya, kurikulum terbaik bukanlah kurikulum yang hanya terlihat lengkap di atas kertas. Kurikulum yang bermakna adalah kurikulum yang benar-benar dirasakan manfaatnya oleh peserta didik melalui pengalaman belajar sehari-hari.
MIS Al-Furqon II memberikan gambaran bahwa pendidikan dapat dibangun melalui banyak jalan: pembelajaran di kelas, kegiatan ekstrakurikuler, pembiasaan ibadah, dan interaksi dalam kehidupan sekolah. Sebab, tugas sekolah bukan hanya melahirkan anak-anak yang pandai menjawab soal, tetapi juga generasi yang memiliki ilmu, keterampilan, kepedulian, dan akhlak mulia. Pendidikan bukan hanya tentang apa yang diketahui anak, tetapi juga tentang bagaimana ilmu itu membentuk cara mereka berpikir, bersikap, dan menjalani kehidupan.












Tinggalkan Balasan