
[Sumber gambar: dokumentasi penulis]
Penulis: Nanda Tri Aulia (Mahasiswi PGSD, IKIP Siliwangi)
Ketika mengalami kesulitan, siswa bertanya. Guru menjelaskan, lalu siswa mendapat kesempatan menjelaskan kembali. Pergantian peran antara berbicara dan mendengarkan itulah yang menarik perhatian saya saat mengamati pembelajaran di kelas III SD Negeri 2 Cikalongwetan pada Senin, 2 November 2026.
Kelas yang berisi 28 anak itu tampak tenang, dan para siswa terlihat senang mengikuti kegiatan. Namun, ketenangan bukan satu-satunya hal yang penting. Anak-anak tetap berani bertanya ketika menghadapi kesulitan, dan guru menanggapi dengan penjelasan, bukan membiarkannya berlalu.
Pengalaman itu mengingatkan saya bahwa kelas yang baik tidak cukup dinilai dari sedikitnya suara atau banyaknya halaman yang selesai. Pertanyaan yang lebih penting adalah apakah anak memiliki ruang untuk mengatakan bahwa ia belum paham. Pembelajaran sulit diperbaiki jika kesulitan siswa tidak pernah diketahui.
Mengenal Kurikulum yang Digunakan Sekolah
Berdasarkan wawancara dengan guru, SD Negeri 2 Cikalongwetan menggunakan Kurikulum Merdeka sejak tahun ajaran 2023/2024. Guru yang mulai mengajar pada 2017 itu mengatakan bahwa perubahan yang paling ia rasakan terdapat pada fokus pembelajaran. Perhatian kini lebih diarahkan pada pemahaman anak, bukan sekadar menghabiskan buku.
Pernyataan itu sejalan dengan kegiatan yang saya amati. Ketika siswa kesulitan, guru memberikan penjelasan, lalu siswa diberi kesempatan menyampaikan pemahamannya. Proses belajar tidak hanya bergerak dari penjelasan guru menuju penyelesaian tugas, tetapi juga memberi ruang untuk memeriksa pemahaman.
Namun, mendahulukan pemahaman bukan berarti mengabaikan target materi. Tantangannya, menurut guru, adalah perbedaan kemampuan siswa. Dalam kelas dengan 28 anak, ia harus memperhatikan siswa yang cepat memahami sekaligus membantu mereka yang masih kesulitan. Di titik inilah tuntutan kurikulum bertemu dengan pekerjaan nyata guru: menentukan kapan melanjutkan pembelajaran dan kapan memberikan bantuan tambahan.
Guru juga menyebut kegiatan kokurikuler. Di kelas rendah dilakukan melalui bermain dan bercerita, sedangkan di kelas tinggi melalui proyek kecil. Kegiatan ini tidak saya amati langsung, sehingga saya mencatatnya sebagai informasi dari wawancara.
Rencana yang Bertemu Keadaan Kelas
Guru menyampaikan bahwa modul ajar tersedia sebagai bagian dari perencanaan. Isi modul itu belum saya telaah secara rinci sehingga saya tidak dapat menilai kesesuaiannya dengan kegiatan yang berlangsung. Namun, pengamatan menunjukkan bahwa pelaksanaan pembelajaran memberi tempat bagi respons siswa: ketika muncul pertanyaan, guru berhenti dan membantu mengatasi kesulitan.
Bagi saya sebagai calon guru, hal ini menjadi pelajaran penting. Perencanaan diperlukan agar pembelajaran memiliki arah, tetapi pelaksanaannya perlu membuka kemungkinan penyesuaian. Rencana baru bermakna ketika digunakan untuk mendampingi anak, bukan hanya disimpan sebagai dokumen.
Praktik Pembelajaran: Guru Menjelaskan, Siswa Juga Menjelaskan
Dalam wawancara, guru menyebut bahwa pembelajaran biasanya dimulai dengan salam, doa, lalu pertanyaan atau cerita singkat. Untuk materi sulit, ia menggunakan benda nyata dan contoh kehidupan sehari-hari. Diskusi kelompok dan praktik menjadi metode yang paling sering dipilih. Penjelasan awal berlangsung sekitar 15–20 menit, lalu siswa mengerjakan kegiatan, sementara guru memeriksa pemahaman dengan berkeliling dan bertanya langsung.
Pada kegiatan yang saya amati, hal yang menonjol adalah pembagian kesempatan menjelaskan antara guru dan siswa. Pembagian ini tidak diukur sebagai waktu yang sama persis. Yang terlihat, guru bukan satu-satunya pihak yang memberikan penjelasan.
Melalui penjelasan siswa dengan kata-kata sendiri, guru dapat memperhatikan bagian yang sudah dipahami dan bagian yang masih membutuhkan bantuan. Dibanding hanya menanyakan “Sudah paham?”, meminta siswa menjelaskan kembali memberi kesempatan mendengar pemahaman mereka secara lebih konkret.
Tentu, mendapat giliran berbicara belum berarti menguasai seluruh materi. Isi penjelasan tetap perlu diperhatikan, dan pengamatan satu kali belum cukup untuk memastikan semua siswa mendapat kesempatan yang sama. Namun, pola ini menunjukkan upaya melibatkan anak lebih jauh da ripada sekadar mendengarkan.
Keterlibatan Siswa: Tenang, tetapi Tidak Takut Bertanya
Kelas yang tenang dapat memberi kesan bahwa pembelajaran berjalan lancar. Namun, anak bisa diam karena memperhatikan, bisa pula karena malu atau takut salah. Di kelas ini, ketenangan disertai keberanian bertanya, sehingga guru dapat mengetahui kebutuhan yang mungkin tidak terlihat dari pekerjaan tertulis.
Menurut guru, anak yang pendiam biasanya merasa malu atau takut salah. Ia mengajak mereka berbicara perlahan dan memberikan pertanyaan yang lebih mudah. Pendekatan ini memperhatikan keberanian anak untuk terlibat, bukan hanya ketepatan jawabannya. Untuk kerja kelompok, guru mengatur anggota dengan kemampuan beragam agar siswa belajar bersama, meski pembagian peran tetap perlu diperhatikan agar kegiatan tidak hanya dikerjakan beberapa anak.
Pengalaman berkesan bagi guru adalah menemukan bakat tersembunyi pada anak pendiam. Ia tidak merinci bakat itu, tetapi keterangannya mengingatkan bahwa anak yang jarang berbicara tidak dapat langsung dianggap kurang mampu. Mungkin ia membutuhkan kesempatan lain untuk menunjukkan kemampuannya.
Media dan Sumber Belajar
Guru menyebut penggunaan alat peraga, lingkungan sekolah, dan sesekali video. Alat peraga dibuatnya sendiri dari bahan bekas, dengan waktu persiapan sekitar satu hingga dua jam. Proyektor tersedia tetapi digunakan bergiliran; ketika tidak dapat dipakai, guru beralih ke papan tulis dan gambar. Keterangan ini diperoleh melalui wawancara, bukan seluruhnya dari pengamatan langsung.
Dari penjelasan tersebut, terlihat bahwa persiapan pembelajaran membutuhkan pilihan cadangan agar kegiatan tidak kehilangan arah ketika satu perangkat tidak tersedia. Kreativitas guru juga perlu didukung pengelolaan fasilitas sekolah. Media, sederhana maupun digital, perlu dinilai dari kegunaannya: bukan hanya apakah membuat anak tertarik, tetapi apakah membantu mereka memahami penjelasan.
Tantangan Pembelajaran dan Peluang Perbaikan
Ketika ditanya tentang pekerjaan yang paling melelahkan, guru menyebut administrasi. Dokumennya berbentuk cetak, dan ia berharap bebannya dikurangi. Ini tidak berarti administrasi harus dihapus; perencanaan dan pencatatan tetap diperlukan. Namun, manfaatnya perlu kembali pada pembelajaran, bukan sekadar menambah tumpukan dokumen.
Untuk materi yang tertinggal, guru memberikan jam tambahan atau tugas ringkas. Upaya ini menunjukkan adanya tindak lanjut. Meski demikian, bantuan perlu disesuaikan dengan penyebab kesulitan. Anak yang belum memahami konsep mungkin membutuhkan cara menjelaskan yang berbeda, bukan hanya tambahan pekerjaan.
Salah satu peluang perbaikan adalah catatan singkat tentang kesulitan siswa dan bantuan yang dibutuhkan. Catatan itu dapat menghubungkan pengamatan guru dengan rencana pertemuan berikutnya, tanpa melahirkan formulir baru yang berlebihan.
Refleksi: Pelajaran bagi Calon Guru
Kunjungan ini belum cukup untuk menggambarkan seluruh kehidupan sekolah. Namun, praktik yang saya lihat sejalan dengan penjelasan guru dalam wawancara: pemahaman anak mendapat perhatian, dan siswa diberi ruang untuk terlibat.
Sebagai mahasiswa PGSD, saya membawa tiga pelajaran. Pertama, pertanyaan siswa merupakan informasi untuk memperbaiki pembelajaran, bukan gangguan. Kedua, kesempatan menjelaskan kembali membantu guru mendengar pemahaman anak. Ketiga, perencanaan perlu membuka ruang bagi penyesuaian ketika siswa mengalami kesulitan.
Halaman buku dapat berpindah dengan cepat, tetapi pemahaman anak tidak selalu mengikuti kecepatan yang sama. Mendampingi 28 siswa berarti berusaha mengetahui siapa yang sudah memahami dan siapa yang masih membutuhkan bantuan. Kelas yang memberi ruang untuk mengatakan “belum paham” adalah awal penting bagi usaha itu.












Tinggalkan Balasan