Literatura Nusantara

Membumikan Sastra Melangitkan Kata

Menjaga Harmoni Leluhur

[Sumber gambar: Dokumentasi Penulis]

Penulis: Herman Priatna

Menjaga Harmoni Leluhur: Situs Bumi Alit Kabuyutan dan Goong Renteng Embah Bandong di Lebakwangi

Di tengah kesejukan kaki Gunung Puntang, tepatnya di Desa Lebakwangi, Kecamatan Banjaran, Kabupaten Bandung, berdiri sebuah situs yang menyimpan napas panjang peradaban Sunda kuno. Namanya Situs Bumi Alit Kabuyutan, sebuah tempat yang bagi masyarakat setempat bukan sekadar bangunan tua, melainkan pusat spiritual dan warisan budaya yang terus dijaga dengan penuh hormat. Di tempat inilah tersimpan berbagai pusaka leluhur, termasuk Goong Renteng Embah Bandong, seperangkat gamelan tua yang diyakini memiliki nilai sakral sekaligus artistik tinggi.

Masyarakat menyebut tempat ini sebagai “kabuyutan”, kata yang dalam bahasa Sunda berarti tempat suci yang menjadi pusat kehidupan spiritual dan kultural nenek moyang. Sementara istilah “Bumi Alit” mengandung makna rumah kecil, melambangkan kesederhanaan dan kedekatan dengan alam. Gabungan dua istilah ini, Bumi Alit Kabuyutan, menjadi simbol kesatuan antara manusia, alam, dan Sang Pencipta, sebuah pandangan hidup yang menjadi ciri khas masyarakat Sunda tempo dulu.

Menurut tuturan para sesepuh, Bumi Alit Kabuyutan telah ada sejak masa Kerajaan Tanjungwangi pada era pra-Islam. Salah satu tokoh penting yang dikaitkan dengan situs ini adalah Embah Panggung Jayadikusumah, seorang tokoh karismatik yang dikenal bijak dan menjadi penjaga nilai-nilai adat di wilayah Lebakwangi dan sekitarnya. Dari dialah kemudian muncul garis keturunan para juru kunci dan penjaga situs hingga saat ini.

Situs ini dahulu menjadi tempat ngamumule karuhun, yaitu kegiatan memelihara dan menghormati leluhur. Di masa lalu, tempat seperti ini sering dijadikan pusat musyawarah adat, tempat belajar ilmu batin, hingga penyimpanan benda-benda pusaka yang diwariskan turun-temurun. Setelah masuknya Islam, tradisi di Bumi Alit Kabuyutan tidak ditinggalkan, melainkan bertransformasi. Nilai-nilai adat diselaraskan dengan ajaran Islam, sehingga kini kegiatan di situs ini tetap mengandung unsur religius, seperti dzikir, tahlil, dan syukuran bersama.


Bumi Alit Kabuyutan berdiri di atas lahan sekitar 1.600 meter persegi. Bangunannya sederhana, berbentuk rumah panggung dari kayu dan bambu, beratapkan ijuk, dengan dinding bilik yang sudah mulai menghitam dimakan usia. Tidak ada jendela, hanya satu pintu yang menghadap utara, seolah ingin mengingatkan bahwa kesederhanaan adalah jalan menuju kesejukan batin.

Di sekeliling bangunan utama terdapat beberapa fasilitas tambahan seperti Bale Panglawungan, Bale Adat, dan Goah Pusaka tempat penyimpanan benda-benda bersejarah. Pepohonan besar menaungi halaman situs, menciptakan suasana tenang dan teduh. Saat memasuki kawasan ini, pengunjung akan disambut aroma kayu tua dan tanah lembab yang khas, aroma masa lalu yang seolah masih hidup di antara desir angin pegunungan.

Salah satu benda paling berharga di situs ini adalah Goong Renteng Embah Bandong, seperangkat gamelan tradisional kuno yang diwariskan oleh leluhur. Nama “Embah Bandong” diambil dari tokoh yang dipercaya sebagai pembuat dan penjaga pertama gamelan tersebut.

Berbeda dari gamelan biasa, Goong Renteng memiliki laras khas yang disebut Laras Bandong, dan terdiri atas beberapa instrumen utama seperti saron, bonang, kendang, goong besar, serta alat tabuh dari kayu yang diukir tangan. Suaranya lembut, namun menggema dalam, seolah mengandung napas spiritual yang menembus ruang dan waktu.

Gamelan ini tidak dimainkan sembarangan. Hanya pada waktu-waktu tertentu, seperti acara Ngarumat Pusaka, Muludan, atau mapag taun anyar Sunda, alat musik ini dibunyikan dalam upacara yang penuh tata cara. Setiap bunyi dianggap mengandung doa dan pesan moral. Bahkan beberapa lagu tradisional yang dimainkan dipercaya menceritakan kisah asal-usul tanah Lebakwangi, peristiwa alam besar, dan nasihat kehidupan.

Bagi masyarakat setempat, Goong Renteng bukan sekadar alat musik, tetapi media komunikasi antara manusia dan alam semesta, antara generasi kini dengan leluhur mereka.

Setiap tahun, pada bulan Rabi’ul Awal (Mulud), masyarakat mengadakan upacara Ngarumat Pusaka, yakni tradisi membersihkan dan memuliakan benda-benda warisan karuhun. Upacara ini dimulai dengan doa bersama, pembacaan ayat suci Al-Qur’an, lalu dilanjutkan dengan prosesi membuka dan membersihkan pusaka menggunakan bunga dan air kembang.

Acara ini bukan sekadar ritual, tetapi juga momen silaturahmi dan penguatan nilai gotong royong. Warga dari berbagai dusun datang, membawa tumpeng dan hasil bumi sebagai simbol rasa syukur. Malam harinya digelar pagelaran seni tradisional, seperti tembang Sunda dan permainan Goong Renteng, yang disertai ceramah kebudayaan.

Ritual-ritual seperti ini menjadi bukti nyata bagaimana masyarakat Lebakwangi masih menjaga keseimbangan antara agama, adat, dan kebudayaan lokal. Tidak ada dikotomi antara tradisi dan modernitas; yang ada hanyalah keharmonisan dan rasa hormat terhadap akar sejarah.

Dari sudut pandang filosofis, Bumi Alit Kabuyutan mengajarkan tiga nilai utama: kesetiaan terhadap alam, prinsip silih asih, silih asah, silih asuh, serta hidup sederhana tanpa keserakahan. Nilai-nilai tersebut sejalan dengan falsafah Sunda “Hirup kudu cageur, bageur, bener, pinter, tur singer” hidup harus sehat, baik, jujur, cerdas, dan sigap.

Bagi dunia pendidikan, keberadaan Bumi Alit Kabuyutan dan Goong Renteng Embah Bandong merupakan sumber belajar kontekstual yang sangat berharga. Situs ini bisa dijadikan bahan pembelajaran lintas disiplin, khususnya untuk mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia. Dalam pembelajaran sastra, siswa dapat mempelajari cerita rakyat dan legenda yang berkembang di sekitar situs, menulis ulang kisah Embah Bandong dalam bentuk naskah drama, atau membuat puisi terinspirasi dari bunyi Goong Renteng.

Sementara dalam pembelajaran bahasa, kegiatan seperti wawancara dengan juru kunci, penulisan laporan observasi, atau pembuatan artikel budaya dapat memperkaya kemampuan literasi siswa. Dengan demikian, pembelajaran menjadi lebih bermakna, kontekstual, dan berakar pada budaya lokal. Siswa tidak hanya belajar tentang tata bahasa, tetapi juga mengenal nilai-nilai luhur yang menjadi bagian dari identitas bangsanya.

Meski memiliki nilai budaya yang tinggi, Bumi Alit Kabuyutan masih menghadapi berbagai tantangan. Lokasinya yang agak terpencil membuat kunjungan wisata budaya belum terlalu ramai. Beberapa bagian bangunan juga mulai lapuk dimakan usia, membutuhkan perawatan rutin yang tentu memerlukan biaya dan dukungan dari pemerintah maupun masyarakat.

Namun, semangat warga Lebakwangi tidak pernah surut. Para juru kunci, tokoh adat, dan pemuda desa terus berupaya melestarikan situs ini melalui kegiatan edukatif dan pariwisata budaya, seperti pentas seni Sunda, pelatihan gamelan tradisional, serta kunjungan sekolah. Generasi muda mulai dilibatkan agar mereka tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga pewaris aktif kebudayaan leluhur.

Situs Bumi Alit Kabuyutan dan Goong Renteng Embah Bandong bukan sekadar peninggalan masa lalu, melainkan cermin perjalanan spiritual dan kebudayaan masyarakat Sunda yang terus hidup hingga kini. Di tengah arus modernisasi, keberadaannya mengingatkan kita akan pentingnya akar, sejarah, dan nilai-nilai luhur yang membentuk jati diri bangsa.

Melalui pelestarian situs ini, kita tidak hanya menjaga warisan benda, tetapi juga merawat jiwa kebudayaan, sebuah ruh yang membuat masyarakat tetap berpijak pada nilai-nilai kearifan lokal. Situs ini layak menjadi pusat edukasi budaya, laboratorium pembelajaran bahasa dan sastra, sekaligus ruang refleksi tentang bagaimana manusia modern dapat hidup selaras dengan alam, sejarah, dan spiritualitasnya sendiri.


Eksplorasi konten lain dari Literatura Nusantara

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Categories:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *