
[Sumber gambar: AI]
Penulis: Refi Murfianto
Film merupakan tayangan audio-visual yang sangat umum bagi masyarakat Indonesia maupun dunia. Film sudah lumrah dianggap sebagai hiburan berupa tontonan yang digunakan untuk mengisi waktu luang masyarakat di sela-sela rutinitas harian. Masyarakat umumnya menikmati film hanya sebagai cerita yang disajikan berbentuk audio-visual saja. Pemahamannya hanya baru sebatas pada bagaimana ceritanya, tokohnya, efek visual dan lain-lainnya. Dalam artian film masih dipandang secara sederhana sebagai cerita hiburan saja dan menonton film masih bersifat pasif sebagai penikmat saja.
Namun demikian, tontonan film yang banyak di konsumsi oleh masyarakat menjadi potensi dan modal penting untuk dijadikan media penyampaian pengetahuan yang barangkali kurang disadari oleh masrakat. Kesadaran akan nilai-nilai di dalam film itulah yang patut dijadikan sebagai media untuk memperoleh pengetahuan, ilmu dan wawasan.
Metode pembelajaran yang konvensional sering kali bertumpu pada aktifitas membaca teks yang seringkali belum menjangkau pada kebutuhan belajar individu. Hal tersebut bisa disebabkan karena gaya belajar yang berbeda, kemampuan untuk berkonsentrasi lama, beberapa cenderung mampu menyerap pembelajaran secara audio, beberapa mampu secara visual dan masih banyak lagi. Membaca teks panjang sebuah pembelajaran berisi huruf-huruf bisa jadi hal yang sangat membosankan bagi beberapa siswa, seringkali beberapa siswa menginginkan bacaan yang memiliki gambar. Hal ini cukup logis karena dengan penggambaran secara visual kita dapat melihat gambaran nyata dari sebuah bacaan.
Film sebagai tayangan audio-visual sangat layak untuk dijadika alternatif pembelajaran, dimana film menyajikan dialog-dialog interaktif dan penggambaran gerak yang mencerminkan ekspresi, gaya, dan pengetahuan tokohnya. Misalnya dalam film Soekarno Karya Sutradara Hanung Bramantyo tahun 2013 yang mana Soekarno diperankan Ario Bayu, disana ada satu adegan bagaimana proses jalannya sidang BPUPKI, dari sana kita dapat melihat secara audio-visual kondisi dan kenyataan sidang bukan hanya sebatas teks yang menceritakan peristiwa dan situasinya. Atau bagaimana film lain misalnya Ketika Cinta Bertasbih yang diangkat dari novel dan di filmkan sutradara Chaerul Umam menggambarkan kehidupan mahasiswa di Mesir dengan karakter yang kuat dan kebahasaan yang puitis mengantarkan penonton terhanyut di dalamnya.
Paparan diatas menerangkan contoh dan pemikiran bahwa film lebih dari sekedar tontonan. Ia adalah representasi nilai-nilai kebudayaan, keilmuan dan kebahasaan yang tanpa kita sadari bisa merangkung berbagai ilmu dan pengetahuan yang menarik untuk dikaji. Bagaimana film menggambarkan peristiwa sejarah, bagaimana film menjelaskan keseharian dan kebudayaan suatu bangsa. Sineas film terkadang menuliskan prolog-prolog di awal film tentang ihwal peristiwa-peristiwa sejarah atau jalan cerita yang terjadi. Film seringkali menggunakan tempat-tempat menarik, situs-situs peninggalan sejarah, atau menampilkan kebudayaan yang menjadi latar belakang yang kalau di cermati hal itu bisa menjadi nilai-nilai pengetahuan bahkan media untuk mempromosikan kebudayaan, wisata, karakter dan bahkan referensi.
Budaya K-Pop dan drakor atau drama korea yang sering disebut juga K-Drama hari ini dengan berbagai cerita dan penampilannya cukup banyak menghipnotis masyarakat Indonesia terutama kalangan muda untuk menggandrunginya. Banyak orang yang ingin mengunjungi korea setelah menonton film atau K-drama, atau banyak juga yang ingin mencoba makanan khas korea, atau berpenampilan ala-ala drama korea mencoba menggunakan pakaian tradisionalnya hanbok. Kebudayaan, pariwisata dan gaya hidup di korea digambarkan melalui sebuah film dan tayangan audio-visual lainnya yang berhasil menyedot perhatian dan menarik banyak minat penontonnya. Tentu saja film-film itu dipandang sedikit banyak mencerminkan ehidupan orang korea, bagaimana sejarahnya, makanannya, tempatnya dan kesehariannya.
Film-fim Indonesia hari ini juga tidak kalah menarik dibandingkan dengan film-film luar, kemajuan film Indonesia semakin berkembang dari waktu ke waktu. Dan kompleksnya unsur-unsur film serta berbagai makna tersurat dan tersirat cukup layak dijadikan sebagai media pembelajaran. Siswa bisa diajak untuk berdiskusi tentang film yang disajikan di dalam kelas, setiaap tayangan di kritisi dan dikaitkan dengan kehidupan nyata siswa, kemudian film bisa dijadikan penguatan dalam materi ajar sebagaimana yang disiunggung sebelumnya. Atau contoh lain kita bisa menganalisis kebahasaan dari tokoh yang ada di dalam film, kita bisa menarik kesimpulan atau informasi yang di dapat dari dialog yang ada di dalamnya. Selain itu film juga bisa dijadikan referensi, misalnya kita bisa menganalogikan peristiwa di dalam film dengan peristiwa nyata di kehidupan. Kita bisa mengutip umgkapan atau kata-kata bermakna di dalam film yang bisa kita jadikan referensi dalam tulisan, dalam diskusi atau dalam pidato misalnya.
Pada intinya film bukan hanya sekedar sebuah tontonan teman keseharian di sela-sela kesibukan saja. Akan tetapi ia menjadi sebuah media pembelajaran yang kompleks, dimana di dalamnya bisa memuat berbagai unsur pembelajaran dan pengetahuan yang bisa dikaji secara kritis atau dijadikan referensi, karena tidak sedikit film mempengaruhi pandangan, pola pikir, dan gaya hidup seorang penonton. Jika sedemikian berpengaruhnya film maka kenapa tidak film dijadikan sebagai media pembelajaran yang dikaji untuk kebaikan dan kebermanfaatan peserta didik. Pada prakteknya bisa saja seorang pendidik mengulas diahir setelah selesai pembelajaran atau bisa saja seorang pendidik mengulas di tengah cerita ketika sedang terjadi peristiwa yang relevan dan banyak strategi lainnya yang bisa digunakan.












Tinggalkan Balasan