
[Sumber gambar: dokumentasi penulis]
Penulis: Qory Salistia Dewi (Mahasiswi PBSI, IKIP Siliwangi)
Sejarah tidak selalu hadir melalui buku pelajaran, catatan peristiwa, atau dokumen resmi. Ada kalanya sejarah justru menemukan suaranya melalui karya sastra. Melalui tokoh, dialog, dan rangkaian peristiwa yang dibangun dalam cerita, sastra mampu menghadirkan kembali pengalaman manusia yang mungkin terlupakan. Hal tersebut dapat ditemukan dalam novel Laut Bercerita karya Leila S. Chudori. Novel yang terbit pada 2017 ini mengangkat kisah tentang aktivis mahasiswa yang mengalami penculikan dan penghilangan paksa menjelang berakhirnya pemerintahan Orde Baru. Di balik kisah tersebut, terdapat persoalan kemanusiaan, kehilangan, ingatan, dan perjuangan untuk memperoleh keadilan.
Untuk memahami karya ini, pendekatan ekspresif dapat digunakan sebagai salah satu cara membaca hubungan antara pengarang dan karya yang dihasilkannya. Pendekatan ekspresif memandang karya sastra sebagai bentuk ungkapan pikiran, perasaan, pengalaman, serta pandangan hidup pengarang. M. H. Abrams dalam The Mirror and the Lamp (1953) menjelaskan bahwa pendekatan ini memberikan perhatian pada hubungan karya sastra dengan penciptanya. Dengan demikian, sebuah karya tidak hanya dilihat dari cerita yang disampaikan, tetapi juga dari latar belakang dan pengalaman pengarang yang ikut memengaruhi proses penciptaannya.
Leila Salikha Chudori, atau lebih dikenal sebagai Leila S. Chudori, lahir di Jakarta pada 12 Desember 1962. Ia tumbuh dalam lingkungan keluarga yang dekat dengan dunia jurnalistik. Ayahnya, Mohammad Chudori, merupakan seorang wartawan. Sejak usia belia, Leila sudah mengenal dunia kepenulisan. Ketika berusia sekitar dua belas tahun, cerpen-cerpennya mulai dimuat di sejumlah majalah anak, termasuk Si Kuncung. Kebiasaan menulis tersebut kemudian berkembang menjadi perjalanan panjang dalam dunia sastra dan jurnalistik.
Pendidikan turut membentuk cara pandang Leila terhadap kehidupan sosial dan politik. Ia pernah menempuh pendidikan di Lester B. Pearson College of the Pacific, Kanada, kemudian melanjutkan studi di Trent University dengan bidang Political Science dan Comparative Development Studies hingga memperoleh gelar sarjana pada 1988. Latar pendidikan tersebut memperlihatkan kedekatannya dengan kajian politik dan pembangunan. Setelah kembali ke Indonesia, Leila bergabung dengan majalah Tempo sebagai wartawan pada 1989. Pengalaman jurnalistiknya membuat ia berhadapan langsung dengan berbagai persoalan sosial, politik, dan kemanusiaan.
Sebagai penulis, Leila menghasilkan sejumlah karya, di antaranya kumpulan cerpen Malam Terakhir dan 9 dari Nadira, serta novel Pulang dan Laut Bercerita. Karya-karyanya kerap menghadirkan persoalan sejarah Indonesia melalui kehidupan tokoh-tokoh yang memiliki pengalaman personal. Novel Pulang, misalnya, mengangkat kehidupan orang-orang Indonesia yang berada di luar negeri setelah peristiwa 1965. Sementara itu, Laut Bercerita membawa pembaca pada pengalaman para aktivis dan keluarga mereka di sekitar peristiwa menjelang Reformasi 1998. Melalui karya-karya tersebut, Leila memperlihatkan ketertarikannya pada hubungan antara sejarah besar dan kehidupan manusia biasa.
Latar belakang jurnalistik Leila menjadi salah satu hal penting untuk memahami lahirnya Laut Bercerita. Novel ini tidak muncul hanya dari imajinasi tanpa pijakan peristiwa. Dalam sebuah wawancara dengan Indonesia Forum dari University of Melbourne, Leila menjelaskan bahwa proses riset novel dimulai pada 2013. Ia mewawancarai sejumlah penyintas penculikan aktivis, termasuk Nezar Patria, serta keluarga korban dan pihak-pihak yang mengetahui peristiwa tersebut. Pengalaman para narasumber kemudian menjadi salah satu sumber inspirasi dalam membangun dunia cerita.
Kesaksian Nezar Patria yang pernah dimuat dalam edisi khusus majalah Tempo tentang Soeharto pada 2008 juga menjadi salah satu pemantik bagi Leila untuk mengembangkan cerita ini. Namun, penting dipahami bahwa Biru Laut bukanlah gambaran langsung dari satu orang tertentu. Tokoh tersebut merupakan tokoh fiksi yang dibentuk melalui gabungan pengalaman beberapa penyintas dan imajinasi pengarang. Leila juga menegaskan bahwa pengalaman para aktivis yang diwawancarainya tidak sekadar dipindahkan ke dalam novel, melainkan diolah menjadi dunia fiksi dengan tokoh dan alur tersendiri.
Dalam Laut Bercerita, pembaca diperkenalkan kepada Biru Laut, seorang mahasiswa yang terlibat dalam gerakan aktivisme bersama teman-temannya. Mereka memiliki kegelisahan terhadap keadaan sosial dan politik Indonesia pada masa itu. Perjuangan yang mereka lakukan membawa mereka berhadapan dengan situasi yang penuh tekanan. Cerita kemudian memperlihatkan pengalaman penculikan dan ketidakpastian yang dialami para aktivis, sekaligus dampak kehilangan tersebut terhadap keluarga yang ditinggalkan.
Novel ini disampaikan melalui dua sudut pandang utama. Bagian pertama menghadirkan cerita melalui Biru Laut, sedangkan bagian berikutnya beralih kepada Asmara Jati, adik Biru Laut. Pergantian sudut pandang tersebut membuat pembaca tidak hanya memahami peristiwa dari sisi orang yang mengalaminya, tetapi juga dari sisi keluarga yang harus hidup dalam ketidakpastian. Kehadiran Asmara Jati memperlihatkan bahwa sebuah peristiwa politik tidak berhenti pada orang-orang yang menjadi korban. Peristiwa tersebut juga meninggalkan kesedihan, pertanyaan, dan perjuangan panjang bagi keluarga mereka.
Jika dibaca melalui pendekatan ekspresif, pengalaman Leila sebagai wartawan memiliki hubungan yang kuat dengan persoalan yang diangkat dalam novel. Sebagai seorang jurnalis, ia terbiasa berhadapan dengan fakta, kesaksian, dan berbagai informasi dari narasumber. Pengalaman tersebut memberikan bekal dalam membangun cerita yang memiliki pijakan sosial dan sejarah. Akan tetapi, Leila tidak menempatkan dirinya sebagai tokoh yang mengalami langsung seluruh peristiwa dalam novel. Ia justru mengolah kesaksian orang lain dengan kepekaan seorang penulis, kemudian menghadirkannya melalui tokoh-tokoh fiktif.
Latar sosial dan politik Indonesia pada masa Orde Baru juga menjadi bagian penting dari dunia yang dibangun dalam novel. Pembatasan kebebasan berpendapat, tekanan terhadap kelompok yang dianggap berseberangan, serta persoalan penghilangan paksa menjadi konteks yang membentuk konflik cerita. Melalui latar tersebut, Leila memperlihatkan bagaimana keadaan politik dapat memengaruhi kehidupan individu. Mahasiswa yang seharusnya memiliki ruang untuk menyampaikan gagasan justru digambarkan harus menghadapi ancaman karena pandangan dan aktivitasnya.
Sementara itu, kehidupan keluarga dalam novel memperlihatkan sisi kemanusiaan yang tidak kalah penting. Kehilangan seseorang tanpa kepastian merupakan pengalaman yang meninggalkan pertanyaan panjang. Melalui Asmara Jati dan keluarganya, pembaca diajak memahami bahwa ingatan terhadap orang yang hilang tidak mudah dihapus oleh waktu. Keluarga tetap berusaha mencari jawaban dan mempertahankan ingatan tentang orang yang mereka cintai. Di sinilah persoalan politik tidak lagi terasa sebagai sesuatu yang jauh, melainkan hadir dalam kehidupan sehari-hari.
Menariknya, Leila tidak hanya menghadirkan tokoh laki-laki sebagai pusat cerita. Ia juga memberikan ruang kepada tokoh perempuan untuk memperlihatkan pengalaman dan peran mereka dalam situasi politik yang represif. Kehadiran tokoh-tokoh perempuan memperluas gambaran tentang perjuangan, sebab dampak peristiwa sejarah tidak hanya dirasakan oleh mereka yang berada di garis depan gerakan, tetapi juga oleh orang-orang yang mendampingi, menunggu, dan berusaha mempertahankan kehidupan setelah kehilangan.
Melalui pendekatan ekspresif, dapat dipahami bahwa Laut Bercerita merupakan karya yang memperlihatkan pertemuan antara kepekaan pribadi pengarang, pengalaman jurnalistik, latar pendidikan, dan keadaan sosial-politik Indonesia. Meskipun demikian, hubungan antara pengarang dan karya tidak berarti seluruh isi novel merupakan pengalaman pribadi Leila. Karya sastra tetap memiliki ruang imajinasi. Pengalaman dan kesaksian nyata menjadi bahan yang kemudian diolah melalui kreativitas pengarang hingga membentuk cerita yang berdiri sebagai karya fiksi.
Pada akhirnya, Laut Bercerita bukan sekadar novel tentang aktivis yang mengalami penculikan, melainkan juga tentang manusia yang berusaha mempertahankan ingatan di tengah ketidakpastian. Melalui pendekatan ekspresif, pembaca dapat melihat bagaimana latar belakang Leila S. Chudori ikut memberi warna pada karya tersebut. Pengalaman jurnalistiknya membuat cerita memiliki kedekatan dengan realitas, sedangkan kepekaan sastranya menghadirkan sisi emosional dari peristiwa sejarah. Novel ini mengingatkan bahwa sejarah tidak hanya terdiri atas tanggal dan nama peristiwa, tetapi juga tentang kehidupan manusia yang pernah mengalami, kehilangan, dan terus berusaha mendapatkan keadilan.













Tinggalkan Balasan