
[Sumber gambar: dokumentasi penulis]
Penulis: Nabilah Fauziyyah
Pernahkah kita membayangkan bagaimana rasanya belajar di dalam kelas ketika setiap anak memiliki kemampuan dan kebutuhan yang berbeda? Ada siswa yang dapat memahami pelajaran dengan cepat, sementara siswa lainnya membutuhkan pendampingan lebih untuk memahami materi yang sama. Lalu, bagaimana seharusnya guru menciptakan suasana belajar agar semua anak tetap mendapatkan kesempatan untuk berkembang?
Pertanyaan tersebut menjadi menarik ketika melihat praktik pembelajaran di sekolah dasar. Dalam satu kelas, perbedaan kemampuan bukanlah sesuatu yang dapat dihindari. Salah satu gambaran nyata terlihat dari pengalaman seorang guru di SD Kartika XIX-5 yang menerapkan Kurikulum Merdeka. Salah satu hal yang menarik dari hasil wawancara adalah keberadaan siswa berkebutuhan khusus (ABK) di kelas yang diajarnya. Menariknya, siswa tersebut tetap belajar bersama teman-temannya. Bahkan, teman-teman sekelasnya turut memberikan dukungan dan bantuan ketika diperlukan. Situasi ini menunjukkan bahwa sekolah bukan hanya tempat untuk memperoleh pengetahuan, tetapi juga ruang bagi anak-anak untuk belajar menerima perbedaan, peduli, dan tumbuh bersama.
Belajar Bersama di Tengah Perbedaan
Berdasarkan hasil wawancara dengan guru kelas V di SD Kartika XIX-5 pada hari Rabu,21 Oktober 2026 terdapat siswa berkebutuhan khusus di kelas yang diajarnya. Meskipun memiliki kebutuhan belajar yang berbeda, siswa tersebut tetap mengikuti kegiatan pembelajaran bersama teman-temannya. Guru berusaha menyesuaikan pembelajaran agar setiap siswa dapat mengikuti materi sesuai dengan kemampuan masing-masing.
Salah satu contohnya terlihat dalam pembelajaran matematika. Guru menjelaskan bahwa terdapat siswa yang sudah mampu mengerjakan soal dengan bilangan ribuan, sedangkan siswa lainnya masih berada pada tingkat puluhan atau ratusan. Meskipun tingkat kesulitannya berbeda, materi yang dipelajari tetap berkaitan. Dengan cara tersebut, setiap siswa tetap memiliki kesempatan untuk memahami materi tanpa harus dipaksakan mengikuti tingkat pemahaman yang sama.
Selain menyesuaikan tugas, guru juga memberikan pendampingan secara langsung kepada siswa yang membutuhkan bantuan lebih. Terkadang, siswa tersebut ditempatkan di dekat guru agar lebih mudah mendapatkan arahan. Guru membantu membacakan soal dan menjelaskan materi yang sedang dipelajari sehingga siswa tetap dapat mengikuti kegiatan pembelajaran.
Hal menarik lainnya adalah keinginan siswa yang mendapatkan pendampingan tersebut untuk tetap mengerjakan tugas yang sama dengan teman-temannya. Guru berusaha memenuhi keinginan tersebut dengan memberikan penyesuaian sesuai kemampuan siswa. Hal ini menunjukkan bahwa kesempatan untuk terlibat dalam kegiatan kelas merupakan sesuatu yang penting bagi setiap anak.
Tidak hanya guru yang berperan dalam menciptakan suasana belajar yang nyaman. Dukungan teman sebaya juga menjadi bagian penting dalam proses pembelajaran. Berdasarkan penuturan guru, siswa berkebutuhan khusus tersebut tidak dijauhkan dari lingkungan pertemanannya. Justru, teman-temannya turut memberikan dukungan dan saling membantu ketika diperlukan.
Menurut saya, hal ini menjadi gambaran bahwa pembelajaran tidak hanya mengajarkan siswa untuk memahami materi pelajaran, tetapi juga membangun kepedulian terhadap sesama. Ketika siswa terbiasa membantu teman yang mengalami kesulitan, mereka secara tidak langsung belajar mengenai kebersamaan, kerja sama, dan menghargai perbedaan.
Bantuan yang diberikan mungkin terlihat sederhana, tetapi memiliki makna penting bagi kehidupan di dalam kelas. Siswa belajar bahwa setiap orang memiliki kemampuan dan kebutuhan yang berbeda, tetapi perbedaan tersebut bukan alasan untuk menjauhkan diri satu sama lain. Sebaliknya, setiap anak tetap memiliki tempat dan kesempatan untuk menjadi bagian dari lingkungan belajarnya.
Kurikulum Merdeka dan Pembelajaran yang Memperhatikan Kebutuhan Siswa
Praktik pembelajaran tersebut menjadi salah satu gambaran penerapan Kurikulum Merdeka di sekolah dasar. Guru menjelaskan bahwa dalam kurikulum ini siswa diberikan kesempatan lebih luas untuk terlibat dalam proses pembelajaran. Guru tidak hanya menjadi sumber informasi utama, tetapi juga berperan mengarahkan dan mendampingi siswa selama kegiatan belajar berlangsung.
Salah satu metode yang sering digunakan guru adalah Problem Based Learning (PBL). Melalui metode ini, siswa diajak mengenali suatu permasalahan, mencari informasi, dan berusaha menemukan penyelesaiannya. Setelah memperoleh jawaban, siswa dapat meminta guru untuk memberikan penegasan mengenai kebenaran informasi yang ditemukan.
Meskipun demikian, pelaksanaan pembelajaran tetap perlu memperhatikan kondisi setiap siswa. Tidak semua anak dapat menyelesaikan kegiatan melalui langkah dan tingkat kesulitan yang sama. Siswa yang mampu belajar secara mandiri mungkin dapat mengikuti kegiatan dengan lebih mudah, sedangkan siswa yang membutuhkan pendampingan perlu mendapatkan bantuan tambahan.
Oleh karena itu, guru perlu memahami karakteristik dan kebutuhan peserta didik. Penyesuaian tingkat kesulitan tugas serta pendampingan secara langsung menjadi salah satu upaya untuk memberikan ruang belajar yang sesuai bagi setiap anak. Penerapan Kurikulum Merdeka dengan demikian bukan hanya berkaitan dengan metode pembelajaran yang digunakan, tetapi juga bagaimana guru memahami kondisi siswa di dalam kelas.
Selain metode pembelajaran, guru juga memanfaatkan berbagai media dan sumber belajar. Buku tetap digunakan sebagai sumber belajar, tetapi siswa juga diperkenalkan dengan sumber digital. Pada hari Kamis, misalnya, siswa diperbolehkan membawa tablet, telepon genggam, atau laptop untuk mencari informasi sesuai materi pelajaran. Guru juga menggunakan proyektor interaktif atau PID yang memungkinkan siswa berinteraksi langsung dengan tampilan pembelajaran.
Penggunaan media tersebut memberikan variasi dalam kegiatan belajar. Namun, kecanggihan teknologi tetap perlu diimbangi dengan pendampingan guru agar penggunaannya sesuai dengan kebutuhan siswa. Hal ini penting karena setiap anak memiliki kemampuan dan tingkat pemahaman yang berbeda.
Guru juga menceritakan adanya pembiasaan positif yang diberikan kepada siswa, seperti melaksanakan salat, mengaji, membaca buku, dan membantu orang tua membersihkan rumah. Kebiasaan tersebut menjadi bagian dari upaya membangun karakter siswa dalam kehidupan sehari-hari. Menurut saya, pembiasaan seperti ini juga dapat mendukung terciptanya lingkungan pendidikan yang mengutamakan kepedulian, tanggung jawab, dan sikap saling menghargai.
Setiap Anak Berhak Memiliki Kesempatan untuk Berkembang
Dari pengalaman guru tersebut, terdapat satu hal yang dapat menjadi bahan refleksi bahwa setiap anak memiliki kemampuan dan kebutuhan belajar yang berbeda. Perbedaan tersebut seharusnya tidak membuat siswa kehilangan kesempatan untuk terlibat dalam kegiatan pembelajaran. Justru, kondisi tersebut perlu dipahami agar guru dan lingkungan sekolah dapat memberikan dukungan yang sesuai.
Praktik yang diceritakan guru menunjukkan bahwa upaya menciptakan pembelajaran yang inklusif dapat dimulai dari hal-hal sederhana, seperti menyesuaikan tingkat kesulitan tugas, memberikan pendampingan secara langsung, serta melibatkan siswa dalam kegiatan bersama. Dukungan teman sebaya juga menjadi bagian penting karena penerimaan tidak hanya datang dari guru, tetapi juga dari lingkungan pertemanan.
Menurut saya, pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa keberhasilan pendidikan tidak seharusnya hanya diukur dari nilai atau kemampuan akademik siswa. Cara siswa memperlakukan teman, kemampuan bekerja sama, serta sikap menghargai perbedaan juga merupakan bagian penting dari proses pendidikan.
Kurikulum Merdeka memberikan ruang bagi guru untuk memperhatikan karakteristik peserta didik dalam pelaksanaan pembelajaran. Namun, penerapannya tetap membutuhkan kepedulian dan kesadaran bahwa setiap anak mempunyai kebutuhan yang perlu diperhatikan. Guru, teman sebaya, dan lingkungan sekolah memiliki peran masing-masing dalam menciptakan suasana belajar yang mendukung semua siswa.
Pada akhirnya, kelas yang baik bukanlah kelas yang seluruh siswanya memiliki kemampuan yang sama, melainkan kelas yang mampu menerima perbedaan dan memberikan kesempatan kepada setiap anak untuk berkembang. Ketika guru bersedia mendampingi dan siswa terbiasa saling membantu, sekolah tidak hanya menjadi tempat untuk memperoleh pengetahuan, tetapi juga tempat belajar tentang kepedulian, kebersamaan, dan menghargai sesama. Karena setiap anak, apa pun kebutuhan dan kemampuannya, berhak memiliki tempat untuk belajar.
Tentang Penulis:
Nabilah Fauziyyah merupakan mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) di IKIP Siliwangi. Saat ini, ia aktif menjalani kegiatan perkuliahan dan berbagai aktivitas akademik sebagai bagian dari proses belajarnya. Melalui tulisan ini, ia mencoba menuangkan hasil pengamatan dan pemikirannya mengenai kehidupan di lingkungan sekolah, khususnya tentang keberagaman dan kebersamaan dalam proses pembelajaran.












Tinggalkan Balasan