
[Sumber gambar: dokumentasi penulis]
Penulis: Karina Maulinda
Pernahkah kita berpikir bahwa kegiatan belajar di sekolah tidak hanya bergantung pada apa yang disampaikan guru di depan kelas? Sebelum siswa mulai belajar, ada banyak hal yang harus dipersiapkan, mulai dari menentukan tujuan pembelajaran, memilih metode, menyiapkan media, hingga mempertimbangkan kondisi siswa. Semua itu menjadi bagian penting dalam menciptakan pembelajaran yang terarah dan bermakna.
Perubahan kurikulum menjadi salah satu upaya untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia. Namun keberhasilan kurikulum tidak cukup dilihat dari aturan dan kelengkapan perangkat ajar. Hal yang lebih penting adalah bagaimana kurikulum tersebut diterapkan dalam kegiatan pembelajaran sehari-hari.
Melalui kunjungan ke salah satu sekolah dasar di Kota Cimahi, penulis memperoleh gambaran mengenai penerapan Kurikulum Merdeka melalui observasi dan wawancara dengan seorang guru kelas IV. Dari kegiatan terlihat bahwa penerapan kurikulum membutuhkan perencanaan yang matang sekaligus kemampuan guru untuk menyesuaikan pembelajaran dengan kondisi di sekolah. Hal ini terlihat dari penyusunan modul ajar, pemanfaatan lingkungan sebagai sumber belajar, kerja sama antarsiswa, hingga berbagai tantangan yang dihadapi selama proses pembelajaran.
Di Balik Pembelajaran, Ada Perencanaan yang Harus Disiapkan
Kegiatan belajar di kelas tidak berlangsung begitu saja. Sebelum pembelajaran dilaksanakan, guru perlu mempersiapkan berbagai hal agar materi yang disampaikan memiliki arah dan tujuan yang jelas. Dalam penerapan Kurikulum Merdeka, guru menggunakan Capaian Pembelajaran (CP), Tujuan Pembelajaran (TP), dan Alur Tujuan Pembelajaran (ATP) sebagai acuan dalam merancang kegiatan belajar.
Berdasarkan hasil wawancara, guru kelas IV menyusun modul ajar dengan memperhatikan program tahunan dan program semester. Modul ajar tersebut menjadi pedoman dalam menentukan materi, tujuan, langkah-langkah pembelajaran, media, hingga evaluasi yang akan digunakan. Dengan adanya perencanaan kegiatan belajar diharapkan tidak hanya berfokus pada penyelesaian materi, tetapi juga pada pencapaian tujuan pembelajaran.
Meskipun demikian, rencana yang telah disusun tidak selalu berjalan sesuai harapan. Guru menjelaskan bahwa terkadang materi pada pertemuan sebelumnya belum selesai sehingga perlu dilanjutkan pada pertemuan berikutnya. Kegiatan sekolah yang muncul secara mendadak juga dapat mengurangi waktu belajar dan membuat rencana pembelajaran perlu disesuaikan.
Kondisi ini menunjukkan bahwa guru tidak cukup hanya memiliki perangkat pembelajaran yang lengkap. Guru juga perlu mampu mengambil keputusan ketika menghadapi situasi yang tidak sesuai dengan rencana. Perencanaan memang menjadi pedoman, tetapi pelaksanaannya tetap harus mempertimbangkan kebutuhan dan pemahaman siswa. Menyelesaikan seluruh materi sesuai jadwal belum tentu menjamin siswa benar-benar memahami apa yang dipelajari.
Belajar Lebih Dekat dengan Kehidupan Sehari-hari
Pembelajaran akan lebih mudah dipahami ketika materi dihubungkan dengan kehidupan sehari-hari. Anak-anak usia sekolah dasar membutuhkan pengalaman belajar yang dekat dengan lingkungan mereka. Karena itu, kegiatan belajar tidak harus selalu berpusat pada buku dan penjelasan guru.
Hal tersebut juga terlihat dari penjelasan guru yang diwawancarai. Dalam menentukan media pembelajaran, guru berusaha menyesuaikannya dengan materi dan kebutuhan siswa. Lingkungan sekitar dan benda konkret lebih diutamakan apabila sesuai dengan materi yang dipelajari. Seperti ketika membahas tumbuhan, siswa dapat diajak mengamati tumbuhan secara langsung sehingga mereka tidak hanya mengenal bagian-bagiannya melalui gambar dalam buku.
Selain memanfaatkan lingkungan, guru menggunakan media digital, alat peraga, dan permainan interaktif sesuai kebutuhan. Penggunaan media tersebut menjadi alternatif agar pembelajaran tidak terasa monoton. Namun, menariknya pembelajaran tidak selalu ditentukan oleh kecanggihan teknologi. Benda-benda sederhana di sekitar sekolah pun dapat menjadi sumber belajar apabila dimanfaatkan dengan tepat.
Cara tersebut sejalan dengan pendekatan pembelajaran mendalam (deep learning), yang mendorong siswa untuk memahami materi, menghubungkan pengetahuan dengan pengalaman, dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Pembelajaran tidak hanya berhenti pada kegiatan menghafal informasi, tetapi memberikan pengalaman yang lebih bermakna bagi siswa.
Kelas Bukan Hanya Tempat Mendengarkan Guru
Pembelajaran yang baik tidak cukup hanya dengan guru menjelaskan materi dan siswa mendengarkan. Siswa perlu memperoleh kesempatan untuk bertanya, berdiskusi, menyampaikan pendapat, dan bekerja sama. Salah satu cara yang digunakan untuk mendorong keterlibatannya adalah pembelajaran kelompok.
Berdasarkan keterangan guru, salah satu metode yang cukup sering digunakan adalah Cooperative Learning atau pembelajaran kooperatif. Siswa dikelompokkan dengan kemampuan yang beragam agar mereka dapat saling membantu ketika mengalami kesulitan memahami materi. Siswa yang lebih dahulu memahami pembelajaran dapat berbagi pengetahuan dengan teman lainnya.
Siswa kelas IV umumnya cukup kooperatif dan cepat memahami instruksi. Meskipun demikian, tidak semua siswa selalu aktif ketika mengikuti kegiatan kelompok. Ada kalanya beberapa siswa masih membutuhkan dorongan dari teman maupun pendampingan langsung dari guru. Untuk mengatasinya, guru berusaha mendorong pembagian tugas yang merata agar setiap anggota kelompok memiliki tanggung jawab.
Hal ini menjadi pengingat bahwa kegiatan kelompok tidak otomatis membuat seluruh siswa berpartisipasi secara aktif. Guru tetap perlu memperhatikan proses kerja sama yang berlangsung. Jangan sampai hanya beberapa siswa yang mengerjakan tugas, sedangkan anggota lainnya hanya mengikuti hasil pekerjaan teman. Setiap anak perlu memperoleh kesempatan untuk berkontribusi sesuai kemampuannya.
Ketika Rencana Bertemu dengan Berbagai Kendala
Meskipun berbagai persiapan telah dilakukan, pelaksanaan pembelajaran tetap memiliki tantangan. Salah satu kendala yang disampaikan guru adalah pengelolaan waktu. Kegiatan sekolah yang muncul secara tiba-tiba dapat mengurangi waktu pembelajaran sehingga guru perlu menyesuaikan materi dan tujuan yang telah direncanakan.
Untuk mengantisipasi keadaan, guru perlu menyiapkan alternatif kegiatan. Jika rencana awal tidak memungkinkan untuk dilaksanakan, guru dapat menggunakan pilihan lain tanpa menghilangkan tujuan utama pembelajaran. Hal ini memperlihatkan bahwa kemampuan beradaptasi menjadi salah satu hal yang dibutuhkan dalam menjalankan Kurikulum Merdeka.
Evaluasi juga menjadi bagian penting untuk mengetahui pemahaman siswa. Guru menjelaskan bahwa penilaian sumatif dilakukan pada akhir bab. Hasil penilaian tersebut dapat digunakan untuk mengetahui sejauh mana siswa memahami materi yang telah dipelajari serta bagian mana yang masih membutuhkan penguatan.
Tantangan lainnya berkaitan dengan dukungan keluarga. Setiap siswa memiliki kondisi keluarga yang berbeda. Tidak semua anak memperoleh pendampingan atau perlengkapan belajar yang sama dari rumah. Ketika pembelajaran membutuhkan alat dan bahan untuk kegiatan praktik, keterbatasan tersebut terkadang menjadi kendala bagi sebagian siswa.
Kondisi ini menunjukkan bahwa keberhasilan pembelajaran tidak hanya bergantung pada guru dan sekolah. Lingkungan keluarga juga memiliki peran dalam mendukung proses belajar anak. Oleh sebab itu, guru perlu mempertimbangkan keadaan siswa ketika merancang kegiatan agar pembelajaran tetap dapat diikuti tanpa membebani keluarga.
Kurikulum Berjalan, Guru Terus Belajar
Dari hasil kunjungan, pengamatan, dan wawancara , dapat dipahami bahwa penerapan Kurikulum Merdeka membutuhkan kesiapan dan penyesuaian secara berkelanjutan. Guru tidak hanya dituntut memahami kurikulum, tetapi juga harus mampu mengembangkan pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik siswa dan kondisi sekolah.
Pengembangan kompetensi guru menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan. Pelatihan, lokakarya, webinar, dan kegiatan berbagi pengalaman dapat membantu guru memperoleh pengetahuan dan ide baru dalam melaksanakan pembelajaran. Komunikasi antara sekolah dan orang tua perlu diperkuat agar kebutuhan belajar siswa dapat didukung bersama.
Pengalaman dari kunjungan ini memberikan pemahaman bahwa pelaksanaan pembelajaran di sekolah dasar memiliki banyak hal yang perlu diperhatikan. Ada rencana yang disusun sebelum mengajar, metode yang dipilih agar siswa terlibat, media yang disesuaikan dengan materi, serta berbagai kendala yang harus dihadapi guru. Semua itu saling berkaitan dalam menciptakan pengalaman belajar yang bermakna.
Pada akhirnya, keberhasilan Kurikulum Merdeka tidak cukup dilihat dari lengkapnya modul ajar atau banyaknya materi yang berhasil disampaikan. Hal yang lebih penting adalah bagaimana siswa memperoleh pemahaman, pengalaman, dan kesempatan untuk mengembangkan kemampuannya. Kurikulum menjadi pedoman, tetapi guru memiliki peran penting dalam menghadirkan pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan siswa. Sebab, pendidikan yang bermakna bukan hanya tentang apa yang diajarkan, melainkan juga tentang bagaimana setiap anak mendapatkan kesempatan untuk belajar dan berkembang.
Bionarasi Penulis
Karina Maulinda merupakan mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) di IKIP Siliwangi. Saat ini, ia sedang menempuh pendidikan semester lima. Ketertarikannya pada dunia pendidikan mendorongnya untuk mempelajari berbagai persoalan pembelajaran di sekolah dasar, khususnya mengenai penerapan kurikulum, strategi pembelajaran, dan perkembangan peserta didik. Melalui tulisan ini, ia berharap dapat membagikan pengalaman dan pandangannya mengenai praktik pendidikan dasar kepada masyarakat.












Tinggalkan Balasan