
[Sumber gambar: dokumentasi penulis]
Penulis: Indri Akni Oktavia (mahasiswi PBSI, IKIP Siliwangi)
Ada orang yang dikenal karena jabatan yang pernah didudukinya, ada pula yang dikenang karena gagasan dan karya yang ditinggalkannya. B.J. Habibie termasuk sosok yang memiliki keduanya. Ia dikenal sebagai ilmuwan, teknokrat, dan Presiden Republik Indonesia ketiga. Namun, lebih dari sekadar perjalanan karier dan jabatan, Habibie meninggalkan sesuatu yang jauh lebih penting, yaitu keyakinan bahwa ilmu pengetahuan, teknologi, dan pemikiran yang baik harus diwujudkan menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi kehidupan manusia.
Gagasan tersebut dapat kita temukan dalam buku The Power of Ideas. Buku yang disunting dan dihimpun oleh A. Makmur Makka ini memuat berbagai pemikiran, pandangan, pengalaman, orasi, dan wawancara B.J. Habibie tentang banyak hal, mulai dari kehidupan, cinta, agama, keindonesiaan, teknologi, hingga masa depan bangsa. Buku ini menarik karena tidak hanya memperlihatkan Habibie sebagai seorang ilmuwan yang menguasai teknologi, tetapi juga sebagai manusia yang memiliki perhatian terhadap nilai-nilai kemanusiaan, kehidupan beragama, dan tanggung jawab sosial.
Untuk memahami gagasan-gagasan tersebut, kita dapat menggunakan pendekatan ekspresif dalam kajian sastra. Pendekatan ini mengajak kita melihat hubungan antara sebuah karya dan sosok yang melahirkan gagasan di dalamnya. Artinya, kita tidak hanya membaca apa yang disampaikan dalam sebuah tulisan, tetapi juga mencoba memahami pengalaman, latar kehidupan, pemikiran, dan pandangan dunia yang ikut membentuk gagasan tersebut.
Dalam pemikiran M. H. Abrams, pendekatan ekspresif menempatkan pengarang sebagai salah satu pusat perhatian dalam hubungan antara karya, pembaca, realitas, dan pengarang. Melalui pendekatan ini, karya dapat dipahami sebagai ruang ekspresi yang memperlihatkan bagaimana pengalaman hidup seseorang diolah menjadi pemikiran dan gagasan. Dalam konteks The Power of Ideas, perhatian kita diarahkan pada bagaimana perjalanan hidup Habibie tercermin dalam pemikirannya tentang ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, kepemimpinan, keluarga, dan kehidupan sosial.
B.J. Habibie lahir di Parepare, Sulawesi Selatan, pada 25 Juni 1936. Ia tumbuh dalam keluarga yang memberikan perhatian besar terhadap pendidikan, kedisiplinan, dan tanggung jawab. Lingkungan keluarga tersebut menjadi salah satu bagian penting dalam pembentukan karakter dan cara pandangnya terhadap kehidupan. Sejak muda, Habibie dikenal memiliki ketertarikan besar terhadap ilmu pengetahuan. Ketertarikan itu kemudian membawanya menempuh pendidikan tinggi di Jerman, khususnya di bidang teknik penerbangan pada RWTH Aachen University.
Perjalanan pendidikan Habibie bukan sekadar cerita tentang seseorang yang berhasil memperoleh gelar akademik di luar negeri. Ada proses panjang yang membentuk cara berpikirnya. Ia belajar memahami persoalan secara ilmiah, sistematis, dan terukur. Ia juga mengembangkan keahlian dalam teknologi penerbangan hingga memperoleh gelar doktor pada 1965. Pengalaman akademik tersebut kemudian menjadi salah satu fondasi pemikirannya tentang pentingnya ilmu pengetahuan dan teknologi bagi kemajuan bangsa.
Dalam buku The Power of Ideas, perhatian Habibie terhadap pendidikan dan teknologi memperlihatkan keyakinannya bahwa kemajuan tidak mungkin dibangun hanya dengan mengandalkan sumber daya alam atau kekayaan yang dimiliki suatu negara. Sebuah bangsa juga membutuhkan manusia yang memiliki pengetahuan, keterampilan, kreativitas, dan kemampuan untuk menghasilkan inovasi. Dengan kata lain, masa depan bangsa sangat bergantung pada kualitas manusia yang mengelolanya.
Pandangan tersebut terasa relevan ketika kita melihat bagaimana Habibie menjalani kehidupannya. Ia tidak berhenti pada penguasaan teori dan pengetahuan akademik. Ilmu yang dimilikinya digunakan untuk mengembangkan teknologi penerbangan dan membangun kemampuan industri strategis Indonesia. Ia percaya bahwa bangsa Indonesia tidak seharusnya hanya menjadi pengguna teknologi yang dihasilkan negara lain. Indonesia juga harus memiliki kemampuan untuk menciptakan dan mengembangkan teknologi sendiri.
Pemikiran ini memperlihatkan bahwa bagi Habibie, pendidikan bukan sekadar jalan untuk memperoleh ijazah atau gelar. Pendidikan merupakan proses membentuk manusia agar mampu berpikir, menciptakan sesuatu, dan memberikan manfaat bagi masyarakat. Seseorang yang memiliki pengetahuan seharusnya tidak hanya sibuk membuktikan kecerdasannya, tetapi juga memikirkan bagaimana pengetahuan tersebut dapat digunakan untuk menyelesaikan persoalan kehidupan.
Pandangan tentang pendidikan itu kemudian bertemu dengan pengalaman Habibie dalam pemerintahan. Ia pernah menjabat sebagai Menteri Negara Riset dan Teknologi, Wakil Presiden, hingga Presiden Republik Indonesia ketiga pada 1998–1999. Pengalaman tersebut memberinya kesempatan untuk melihat persoalan bangsa dari sudut pandang yang lebih luas. Ia tidak lagi hanya berhadapan dengan persoalan teknologi, tetapi juga dengan tantangan pembangunan, kebijakan publik, kondisi ekonomi, dan masa depan masyarakat Indonesia.
Ketika memasuki dunia pemerintahan, Habibie berhadapan dengan kenyataan bahwa membangun sebuah negara bukan pekerjaan sederhana. Kemajuan membutuhkan perencanaan, kepemimpinan, sumber daya manusia yang berkualitas, serta kemampuan mengambil keputusan di tengah berbagai kepentingan. Pengalaman tersebut dapat membantu kita memahami mengapa dalam The Power of Ideas pemikiran tentang Indonesia, kepemimpinan, dan pembangunan nasional mendapat perhatian.
Habibie melihat bahwa sebuah negara tidak cukup hanya memiliki kekayaan alam. Negara juga membutuhkan kemampuan mengelola pengetahuan dan teknologi untuk meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat. Pemimpin, dalam pandangannya, perlu memiliki wawasan, tanggung jawab, dan keberanian untuk menghadapi perubahan zaman. Kemajuan bangsa tidak boleh hanya menjadi slogan yang terus diulang, tetapi harus diwujudkan melalui kerja nyata.
Di sinilah hubungan antara pendidikan dan politik menjadi menarik. Pendidikan menghasilkan manusia yang memiliki pengetahuan dan kemampuan, sedangkan kebijakan pemerintahan dapat menciptakan ruang agar pengetahuan tersebut berkembang dan memberikan manfaat. Keduanya tidak dapat dipisahkan jika sebuah bangsa ingin bergerak maju. Gagasan Habibie tentang teknologi dan pembangunan memperlihatkan bahwa ilmu pengetahuan seharusnya menjadi bagian penting dalam menentukan arah kebijakan negara.
Namun, membaca Habibie hanya sebagai ilmuwan dan tokoh pemerintahan tentu belum cukup. Ada sisi lain yang juga penting, yaitu pandangannya tentang agama dan kehidupan manusia. Habibie merupakan seorang Muslim yang menempatkan nilai-nilai keagamaan sebagai bagian dari perjalanan hidupnya. Dalam The Power of Ideas, pemikiran tentang keislaman dapat dikaitkan dengan persoalan keimanan, moralitas, tanggung jawab, serta hubungan manusia dengan Tuhan dan sesamanya.
Salah satu gagasan yang menarik dalam buku ini adalah pernyataan Habibie, “Saya katakan, ilmu pengetahuan, teknologi dan agama Islam tidak saling mematikan. Toleran adalah pupuk bagi tumbuhnya ilmu pengetahuan.” Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa Habibie tidak memandang ilmu pengetahuan dan agama sebagai dua hal yang harus dipertentangkan. Keduanya justru dapat berjalan berdampingan dan saling melengkapi.
Ilmu pengetahuan membantu manusia memahami alam dan mengembangkan kemampuan berpikir, sedangkan agama memberikan landasan moral dan spiritual dalam menggunakan pengetahuan tersebut. Kecerdasan intelektual, dengan demikian, perlu berjalan bersama kesadaran etis. Seseorang boleh memiliki kemampuan yang luar biasa, tetapi kemampuan itu akan kehilangan maknanya jika tidak digunakan dengan tanggung jawab.
Pemikiran tersebut terasa penting di tengah perkembangan teknologi yang semakin cepat. Kemajuan teknologi memang dapat mempermudah kehidupan, tetapi tidak semua hal yang dapat dilakukan manusia melalui teknologi otomatis membawa kebaikan. Manusia tetap membutuhkan pertimbangan moral untuk menentukan bagaimana teknologi digunakan dan siapa yang memperoleh manfaat darinya. Habibie bahkan menegaskan, “Teknologi tidak boleh menyusahkan anggota masyarakat. Teknologi justru untuk meningkatkan kehidupan masyarakat.” Pernyataan ini memperlihatkan bahwa teknologi seharusnya berpihak kepada kebutuhan manusia, bukan justru menciptakan persoalan baru bagi kehidupan mereka.
Selain pendidikan, politik, dan agama, buku The Power of Ideas juga memperlihatkan perhatian Habibie terhadap cinta dan kehidupan keluarga. Pengalaman hidupnya bersama Hasri Ainun Besari menjadi salah satu konteks penting untuk memahami pandangannya mengenai hubungan antarmanusia. Kisah Habibie dan Ainun sering kali dipahami sebagai gambaran tentang kesetiaan, kepercayaan, dukungan, dan komitmen dalam kehidupan rumah tangga.
Dalam hubungan tersebut, cinta tidak hanya hadir sebagai perasaan romantis. Cinta juga membutuhkan kesediaan untuk mendampingi, memahami, dan memberikan ruang bagi pasangan untuk berkembang. Pengalaman Habibie bersama Ainun memperlihatkan bahwa keberhasilan seseorang tidak selalu berdiri sendiri. Ada dukungan, pengertian, dan pengorbanan orang-orang terdekat yang ikut membentuk perjalanan hidupnya.
Jika dilihat dari perspektif gender, pengalaman tersebut dapat menjadi pintu masuk untuk membicarakan pentingnya penghargaan terhadap peran laki-laki dan perempuan. Keduanya memiliki kesempatan untuk mengembangkan kemampuan, memperoleh pendidikan, dan memberikan kontribusi bagi keluarga maupun masyarakat. Hubungan yang sehat bukanlah hubungan yang membatasi salah satu pihak, melainkan hubungan yang dibangun melalui rasa hormat dan tanggung jawab bersama.
Dari berbagai pemikiran tersebut, terlihat bahwa gagasan Habibie memiliki hubungan yang saling berkaitan. Pendidikan membentuk kemampuan berpikir, teknologi menjadi sarana untuk menciptakan kemajuan, politik memberikan ruang bagi pembangunan, agama menjadi landasan moral, sedangkan kehidupan keluarga mengajarkan pentingnya cinta dan tanggung jawab. Semua unsur tersebut memperlihatkan bahwa kehidupan manusia tidak dapat dipahami hanya dari satu sisi.
Menariknya, The Power of Ideas bukanlah buku yang ditulis langsung oleh Habibie dalam bentuk satu naskah utuh. Buku ini dihimpun dan disunting oleh A. Makmur Makka, seorang jurnalis senior sekaligus sahabat Habibie, dengan mengumpulkan berbagai gagasan, orasi, wawancara, dan pemikiran Habibie. Penyusunan buku tersebut memperlihatkan usaha untuk mendokumentasikan gagasan seorang tokoh yang tidak hanya berbicara tentang perubahan, tetapi juga berusaha mewujudkan pemikirannya melalui tindakan.
Hal ini penting dalam pembacaan ekspresif karena gagasan Habibie tidak hanya dapat dipahami melalui kalimat-kalimat yang tertulis dalam buku. Kita juga perlu melihat perjalanan hidup dan karya nyata yang berkaitan dengan pemikiran tersebut. Ia memiliki kontribusi dalam bidang teori ilmiah dan kedirgantaraan, pengembangan rancangan pesawat terbang, penulisan buku, serta pengembangan institusi dan lembaga negara. Pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa gagasan bukan sekadar sesuatu yang menarik untuk dibicarakan, tetapi perlu diuji melalui tindakan dan hasil yang dapat dirasakan.
Habibie juga pernah berada dalam situasi ketika keahliannya di bidang teknologi harus berhadapan dengan persoalan ekonomi dan pemerintahan. Meskipun latar pendidikan dan keahliannya bukan ekonomi, ia terlibat dalam pengambilan keputusan ketika Indonesia menghadapi krisis. Hal tersebut menunjukkan bahwa perjalanan seseorang dapat membawanya menghadapi tanggung jawab yang lebih luas daripada bidang keahlian yang semula ditekuni.
Tentu saja, tidak semua pemikiran dalam buku ini harus dianggap sebagai cerminan langsung dari seluruh pengalaman pribadi Habibie. Ada proses penghimpunan, penyuntingan, dan penyajian gagasan oleh A. Makmur Makka. Namun, melalui pendekatan ekspresif, kita tetap dapat melihat hubungan antara latar kehidupan Habibie dan tema-tema yang berulang dalam pemikirannya. Pendidikan, teknologi, agama, kepemimpinan, cinta, dan tanggung jawab sosial menjadi bagian dari pandangan hidup yang saling terhubung.
Pada akhirnya, The Power of Ideas mengajak pembaca memahami bahwa kekuatan sebuah gagasan tidak terletak pada seberapa indah gagasan itu disampaikan, melainkan pada sejauh mana gagasan tersebut dapat diwujudkan dalam kehidupan. Habibie memperlihatkan bahwa ilmu pengetahuan harus menghasilkan manfaat, teknologi harus membantu manusia, kepemimpinan harus disertai tanggung jawab, dan kecerdasan perlu berjalan bersama nilai moral.
Melalui perjalanan hidup dan pemikirannya, kita dapat melihat bahwa keberhasilan seseorang bukan hanya tentang gelar akademik, jabatan, atau penghargaan yang pernah diperoleh. Ada tanggung jawab yang lebih besar, yaitu bagaimana pengetahuan dan kemampuan yang dimiliki dapat digunakan untuk memberikan manfaat kepada orang lain. Sebab, sebuah ide baru benar-benar memiliki kekuatan ketika ia tidak berhenti sebagai pemikiran, tetapi tumbuh menjadi tindakan yang membawa perubahan.
Itulah pesan penting yang dapat kita tangkap dari The Power of Ideas. Habibie mengingatkan bahwa bangsa yang besar tidak hanya membutuhkan orang-orang pintar, tetapi juga manusia yang bersedia menggunakan kecerdasannya untuk kepentingan bersama. Gagasan boleh lahir dari ruang pemikiran seseorang, tetapi nilainya akan semakin berarti ketika mampu keluar dari ruang tersebut dan memberi cahaya bagi kehidupan banyak orang.












Tinggalkan Balasan