
[Sumber gambar: dokumentasi penulis]
Penulis: Salma Salsabila
Teknologi membuka banyak sumber pengetahuan, tetapi siswa tetap perlu belajar membedakan informasi yang benar dan yang keliru.
Bayangkan seorang siswa sekolah dasar sedang mencari jawaban dari sebuah pertanyaan melalui internet. Ia membuka Google, kemudian mencoba mencari informasi melalui ChatGPT dan Gemini. Namun, ternyata penjelasan yang diperoleh tidak selalu sama. Lantas, mana yang harus dipercaya? Pertanyaan seperti ini mungkin terlihat sederhana, tetapi menjadi persoalan menarik ketika teknologi mulai digunakan sebagai bagian dari kegiatan pembelajaran di sekolah dasar.
Perkembangan teknologi telah membawa perubahan dalam cara siswa memperoleh informasi. Jika dahulu buku pelajaran dan penjelasan guru menjadi sumber utama pengetahuan, sekarang siswa dapat menemukan berbagai informasi hanya melalui perangkat digital. Namun, kemudahan tersebut juga menghadirkan tantangan baru. Anak-anak bukan hanya perlu mengetahui cara mencari informasi, tetapi juga perlu belajar memahami, membandingkan, dan memeriksa kebenaran informasi yang mereka temukan.
Hal tersebut menjadi salah satu temuan menarik dari kegiatan observasi dan wawancara yang dilakukan penulis di SD Kartika XIX-5. Dalam observasi tersebut, penulis berkesempatan melihat secara langsung pelaksanaan pembelajaran sejarah di kelas. Sementara itu, melalui wawancara dengan salah satu guru kelas, penulis memperoleh gambaran mengenai penerapan Kurikulum Merdeka, penggunaan teknologi dalam pembelajaran, keterlibatan siswa, serta tantangan yang dihadapi guru dalam mendampingi siswa.
Ketika Kelas Tidak Lagi Berpusat pada Guru
Sekolah tersebut telah menerapkan Kurikulum Merdeka. Menurut guru yang diwawancarai, pembelajaran saat ini lebih banyak memberikan kesempatan kepada siswa untuk terlibat secara aktif. Guru tidak lagi menjadi satu-satunya pihak yang menjelaskan materi, tetapi bertugas membimbing, mengarahkan, dan memberikan penguatan terhadap pemahaman siswa. Siswa diberi kesempatan untuk mengeksplorasi informasi, mengidentifikasi masalah, mencari penyelesaian, hingga mempresentasikan hasil temuannya.
Salah satu pendekatan yang sering digunakan guru adalah Problem Based Learning (PBL) atau pembelajaran berbasis masalah. Dalam pendekatan ini, siswa tidak langsung diberikan jawaban atas suatu persoalan. Mereka terlebih dahulu diajak mengenali masalah, kemudian mencari informasi untuk menemukan penyelesaiannya. Setelah itu, guru memberikan tanggapan dan memastikan bahwa pemahaman yang diperoleh siswa sudah tepat. Dengan demikian, proses pembelajaran tidak hanya berisi kegiatan menerima penjelasan, tetapi juga melibatkan usaha siswa dalam menemukan pengetahuan.
Mencari Informasi Belum Tentu Memahami Kebenaran
Penggunaan teknologi menjadi salah satu bagian yang mendukung proses tersebut. Guru menceritakan bahwa setiap hari Kamis biasanya terdapat kegiatan ketika siswa diperbolehkan membawa tablet, telepon genggam, atau laptop untuk digunakan dalam pembelajaran. Siswa kemudian mencari informasi sesuai dengan materi yang sedang dipelajari. Mereka dapat menggunakan berbagai sumber, termasuk Google, ChatGPT, dan Gemini. Menariknya, siswa tidak hanya diminta mencari satu jawaban, tetapi juga membandingkan hasil pencarian dari beberapa platform tersebut.
Ketika jawaban yang ditemukan berbeda, siswa diajak mencari tahu penyebab perbedaannya. Mereka berusaha menemukan kesamaan informasi dan menentukan penjelasan yang paling tepat. Kegiatan ini memberikan pengalaman bahwa informasi yang tersedia di internet tidak selalu memiliki isi yang sama. Karena itu, siswa perlu membiasakan diri untuk tidak langsung mempercayai setiap jawaban yang muncul di layar.
Menurut penulis, bagian inilah yang menarik dari penerapan teknologi dalam pembelajaran. Selama ini, penggunaan telepon genggam atau laptop oleh anak sekolah dasar sering kali dikaitkan dengan kegiatan bermain. Padahal, apabila diarahkan dengan tepat, perangkat tersebut dapat menjadi sarana untuk memperluas pengetahuan. Teknologi tidak hanya digunakan untuk memperoleh jawaban secara cepat, tetapi juga dapat membantu siswa belajar mempertanyakan informasi dan mencari alasan di balik suatu jawaban.
Meskipun demikian, kemampuan menggunakan teknologi belum tentu sejalan dengan kemampuan memahami informasi. Guru mengungkapkan bahwa siswa terkadang memiliki rasa ingin tahu yang besar, tetapi juga terburu-buru dalam mengambil kesimpulan. Mereka bisa saja menemukan suatu informasi, kemudian langsung meyakininya dan mempertahankan pendapat tersebut ketika berdiskusi. Padahal, informasi yang diperoleh belum tentu sudah benar. Kondisi ini menunjukkan bahwa kemampuan berpikir kritis perlu terus dilatih agar siswa tidak hanya pandai mencari informasi, tetapi juga mampu mempertimbangkan kebenarannya.
Di Balik Teknologi, Guru Tetap Punya Peran Penting
Tantangan tersebut tentu berkaitan erat dengan peran guru. Dalam pembelajaran, guru tidak cukup hanya mengarahkan siswa untuk membuka perangkat dan mencari jawaban. Guru juga harus membantu mereka memahami cara memilih sumber informasi, membandingkan penjelasan, serta membedakan informasi yang memiliki dasar kuat dengan informasi yang belum dapat dipastikan kebenarannya. Bahkan, ketika guru sendiri belum mengetahui jawaban atas pertanyaan siswa, kegiatan mencari informasi dapat dilakukan bersama-sama. Dengan begitu, pembelajaran menjadi proses untuk saling belajar, bukan sekadar kegiatan guru memberikan jawaban kepada siswa.
Di samping pemanfaatan teknologi, pembelajaran juga tetap membutuhkan media dan sumber belajar lainnya. Guru menjelaskan bahwa buku masih menjadi sumber yang wajib digunakan. Sekolah juga memanfaatkan perangkat seperti infokus dan layar interaktif atau PID. Penggunaan berbagai media tersebut disesuaikan dengan kebutuhan pembelajaran. Namun, guru mengakui bahwa siswa yang sudah terbiasa menggunakan berbagai metode dan media tidak selalu menunjukkan antusiasme berlebihan ketika ada pergantian media. Hal ini memperlihatkan bahwa menariknya suatu pembelajaran tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan alat yang digunakan, tetapi juga oleh bagaimana kegiatan belajar tersebut dirancang.
Hal menarik lainnya terlihat dalam upaya guru memberikan kesempatan belajar kepada seluruh siswa, termasuk siswa berkebutuhan khusus. Berdasarkan penjelasan guru, materi pembelajaran tetap mengacu pada topik yang sama, tetapi tingkat kesulitan tugas disesuaikan dengan kemampuan masing-masing anak. Siswa yang membutuhkan pendampingan memperoleh penjelasan secara langsung dari guru. Dengan cara tersebut, mereka tetap dapat mengikuti pembelajaran bersama teman-temannya meskipun membutuhkan bantuan yang berbeda.
Pendidikan karakter juga tidak ditinggalkan dalam kegiatan pembelajaran. Guru menjelaskan bahwa nilai-nilai Pancasila diintegrasikan melalui pembiasaan sehari-hari. Selain itu, siswa telah dibiasakan melakukan kegiatan seperti salat lima waktu, salat duha, mengaji, membaca buku, dan membantu orang tua di rumah. Kebiasaan tersebut dilaporkan secara mingguan dengan melibatkan orang tua. Menurut guru, karena kegiatan tersebut sudah diterapkan sejak sebelumnya, siswa telah terbiasa melakukannya tanpa merasa terbebani.
Dari berbagai pengalaman tersebut, terlihat bahwa pembelajaran di sekolah dasar menghadapi kebutuhan yang semakin beragam. Siswa perlu memperoleh pengetahuan, membangun karakter, belajar bekerja sama, sekaligus mengembangkan kemampuan menggunakan teknologi secara bijak. Semua hal tersebut membutuhkan perencanaan dan pendampingan guru. Kurikulum tidak cukup hanya dipahami sebagai seperangkat aturan, tetapi perlu diterjemahkan menjadi kegiatan yang benar-benar memberikan pengalaman belajar kepada siswa.
Pada akhirnya, teknologi dapat membantu anak menemukan banyak jawaban, tetapi tidak semua jawaban harus langsung dipercaya. Anak-anak tetap membutuhkan bimbingan untuk memahami informasi yang mereka peroleh. Justru di tengah kemudahan akses teknologi, kemampuan bertanya, membandingkan, dan memeriksa kebenaran menjadi semakin penting. Pembelajaran yang baik bukan hanya menghasilkan siswa yang cepat menemukan jawaban, melainkan juga siswa yang mampu berpikir sebelum mempercayai sesuatu. Sebab, tantangan pendidikan saat ini bukan lagi sekadar membuat anak mampu mencari informasi, tetapi membimbing mereka agar tidak mudah tersesat di tengah banyaknya informasi.
Tentang Penulis
Salma Salsabila lahir di Bandung, Jawa Barat. Saat ini, ia merupakan mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) di IKIP Siliwangi. Ia memiliki ketertarikan pada dunia pendidikan dasar, khususnya inovasi pembelajaran, pengembangan karakter peserta didik, dan penerapan Kurikulum Merdeka di sekolah dasar. Melalui tulisan ini, ia berbagi refleksi dan pandangannya sebagai calon pendidik mengenai pentingnya menciptakan pembelajaran yang bermakna, menyenangkan, dan berpihak pada kebutuhan setiap anak.












Tinggalkan Balasan