
[Sumber gambar: dokumentasi penulis]
Penulis: Vaniza Revina Zahra
Lie dan Hal-Hal yang Tertinggal dalam Ingatan
Membaca Antologi Cerpen Sajak-Sajak tentang Lie karya Heri Isnaini
Antologi cerpen Sajak-Sajak tentang Lie karya Heri Isnaini mengajak pembaca menelusuri rindu yang tidak selalu memiliki alamat. Rindu dalam buku ini tidak berhenti pada keinginan untuk bertemu seseorang, tetapi bergerak ke berbagai ruang pengalaman: rumah yang pernah ditinggali, orang tua yang membentuk ingatan, masa kanak-kanak yang menjauh, serta bagian diri yang perlahan asing karena terlalu lama ditinggalkan. Rangkaian cerita di dalamnya mempertemukan cinta, kehilangan, doa, mitos, keganjilan, humor, dan pertanyaan yang tidak selalu membutuhkan jawaban. Rindu menjadi pengalaman yang berlapis, kadang terasa dekat, tetapi pada saat bersamaan sulit dijelaskan dengan kata-kata.
Nama Lie menjadi simpul yang mempertautkan cerita-cerita dalam antologi ini. Ia hadir bukan semata-mata sebagai nama tokoh, melainkan sebagai kemungkinan makna yang berubah mengikuti perjalanan cerita dan pembacanya. Dalam cerita pembuka, Lie mendengar suara yang mula-mula dianggap berasal dari luar dirinya. Namun, suara itu justru mengarahkan perhatian pada bagian diri yang telah lama terabaikan. Adegan tersebut memberi dimensi lain pada pengertian rindu: seseorang tidak selalu merindukan orang lain, sebab yang dicari bisa jadi adalah dirinya sendiri, diri yang dahulu pernah hidup dengan cara berbeda dan kini terasa jauh dari jangkauan.
Perjalanan dalam buku ini kemudian membawa pembaca memasuki lorong-lorong ingatan yang tidak seluruhnya terang. Sajak-sajak anonim hadir seperti gema dari masa lalu, samar tetapi cukup kuat untuk membangkitkan sesuatu yang pernah dianggap selesai. Melalui perpaduan cerita, simbol, dan suasana yang ganjil, Heri menghadirkan pengalaman membaca yang tidak selalu bertumpu pada peristiwa besar. Hal-hal sederhana justru dapat menjadi pintu menuju pertanyaan yang lebih luas tentang keberadaan, kehilangan, dan cara manusia memahami pengalaman hidupnya. Bahasa yang natural dan reflektif membuat berbagai kemungkinan makna itu terasa dekat, tanpa harus menjelaskan seluruh rahasia yang disimpan oleh setiap cerita.
Salah satu daya tarik antologi ini terletak pada cara cinta dan rindu diperlakukan tanpa tuntutan akan kepastian. Tidak semua hubungan memperoleh akhir yang jelas; tidak semua ingatan dapat dipulihkan secara utuh; dan tidak setiap pertanyaan menemukan jawaban yang memuaskan. Namun, ketidakpastian itu tidak serta-merta menghilangkan makna. Justru di sanalah pembaca diajak memberi ruang bagi tafsirnya sendiri. Rindu dapat bertahan meskipun pertemuan tidak terjadi, sebagaimana kenangan dapat terus bekerja meskipun orang atau peristiwa yang melahirkannya telah menjauh. Dalam ruang semacam ini, sastra tidak menawarkan penyelesaian yang seragam, melainkan membuka kemungkinan bagi setiap pembaca untuk mengenali pengalaman dirinya melalui pengalaman tokoh-tokohnya.
Membaca Sajak-Sajak tentang Lie berarti berhadapan dengan hal-hal yang mungkin pernah kita tinggalkan tanpa benar-benar selesai: suara yang terlupakan, rumah yang menetap dalam ingatan, seseorang yang terus hadir meskipun telah jauh, atau diri sendiri yang tidak lagi kita kenali sepenuhnya. Lie menjadi semacam penanda bagi pencarian yang tidak selalu berujung pada penemuan, tetapi tetap layak dijalani. Antologi ini mengingatkan kita bahwa ingatan bukan sekadar tempat menyimpan masa lalu; ia juga ruang tempat masa lalu terus berkelindan dengan kehidupan hari ini. Barangkali, setelah menutup buku ini, yang tertinggal bukanlah satu jawaban tentang siapa Lie sesungguhnya, melainkan pertanyaan yang lebih personal: dari sekian banyak hal yang kita rindukan, berapa banyak yang sebenarnya sedang kita cari kembali di dalam diri sendiri?












Tinggalkan Balasan