Literatura Nusantara

Membumikan Sastra Melangitkan Kata

Dari “Orang Have” hingga “In This Economy”: Representasi Kelas Sosial dalam Bahasa Gaul Gen Z di Indonesia

[Sumber gambar: dokumentasi penulis]

Penulis: Asri Andarini

            Bahasa gaul bergerak dinamis mengikuti cara anak muda berinteraksi dengan lingkungannya. Beberapa waktu yang lalu,  istilah-istilah pansos, spill, healing, dan flexing mewarnai media sosial seperti TikTok, X, dan Instagram. Kini, muncul ungkapan lain yang tak kalah menarik, salah satunya “orang have“. Sebutan ini biasanya ditujukan kepada orang yang dianggap berkecukupan atau memiliki kemampuan ekonomi lebih baik. Dari sana, muncul pula variasinya, seperti “orang haven’t”, “orang had”, “orang not yet”, dan “orang inside”. Sementara itu, frasa bahasa Inggris “in this economy?” juga sering digunakan untuk menanggapi harga-harga barang, gaya hidup, hingga keputusan-keputusan fianansial sehari-hari.

            Sekilas, istilah-istilah tersebut mungkin terdengar seperti permainan kata yang lucu dan mengundang tawa. Meskipun  menyimpang dari  tata bahasa baku, candaan ini  memperlihatkan cara anak muda memandang perbedaan sosial. Ada persoalan tentang siapa yang bisa membeli sesuatu, siapa yang perlu berhemat, dan siapa yang memiliki akses terhadap gaya hidup tertentu.

            Fungsi sosial bahasa gaul sebenarnya sudah dibahas dalam kajian bahasa. Penelitian Iswatiningsih, Fauzan, dan Pangesti (2021) mengungkapkan bahwa bahasa gaul di media sosial dapat digunakan untuk membangun keakraban, bercanda, menyindir, dan mengekspresikan diri. Bentuknya pun beragam, mulai dari penyingkatan dan plesetan hingga pergeseran makna serta pencampuran bahasa Indonesia dengan bahasa asing. Karena itu, ujaran seperti orang have sebenarnya bukan sesuatu yang aneh dalam perkembangan bahasa. Yang menarik justru adalah makna sosial yang melekat pada bentuk tersebut.

            Dilihat dari tata bahasa Inggris, frasa “orang have” memang tidak tepat. Kata have adalah verba yang berarti “memiliki”, bukan kata sifat yang lazim diletakkan setelah kata “orang”. Namun, ketepatan tata bahasa tampaknya dianggap tidak terlalu penting dalam ungkapan ini. Penuturnya mengambil makna have sebagai “punya”, lalu mengolahnya dengan pola ungkapan bahasa Indonesia. Hasilnya adalah plesetan “orang punya” menjadi “orang have”.

            Dalam pemakaian sehari-hari, “orang have” juga tidak selalu merujuk pada orang yang benar-benar kaya. Seseorang bisa mendapat sebutan itu karena membeli tiket konser mahal, bepergian ke tempat wisata, makan di restoran tertentu, atau memakai ponsel keluaran baru. Aktivitas yang terlihat membutuhkan banyak uang sudah cukup untuk memunculkan label tersebut. Artinya, dalam percakapan di era digital, kesan tentang kelas sosial sering dibentuk dari apa yang tampak di layar medsos.

            Fenomena ini dapat dibaca melalui konsep distinction atau pembedaan sosial dari Pierre Bourdieu (1984). Bourdieu menjelaskan bahwa posisi sosial tidak hanya berkaitan dengan pendapatan. Selera, gaya hidup, pola konsumsi, dan pilihan sehari-hari juga dapat membedakan satu kelompok dari kelompok lain. Media sosial membuat berbagai penanda itu semakin mudah diamati. Restoran yang dikunjungi, pakaian yang dikenakan, tujuan wisata, konser yang ditonton, bahkan kopi yang dibeli bisa ditafsirkan sebagai gambaran kemampuan ekonomi seseorang.

            Dalam situasi seperti itulah “orang have” menjadi istilah yang mudah dipahami. Orang tidak perlu tahu berapa penghasilan seseorang untuk menilai gaya hidupnya. Cukup dengan melihat unggahan seseorang di medsos, lalu muncul komentar, “Beda memang kalau orang have!” Berbagai gaya hidup yang rumit seakan diringkas menjadi satu ungkapan singkat.

            Di sisi lain, muncul juga istilah “orang haven’t”. Jika “orang have” dipakai untuk mereka yang dianggap mampu, “orang haven’t” sering menjadi candaan tentang diri sendiri atau orang lain yang belum memiliki kemampuan serupa. Kalimat “aku masih orang haven’t”, misalnya, terasa lebih ringan daripada mengatakan “saya tidak mampu membelinya”. Begitu juga istilah “orang not yet” yang disematkan pada orang yang masih “berusaha untuk sampai ke tingkat have”.

            Permainan kata tersebut berlanjut pada istilah “orang had”. Dalam bahasa Inggris, had merupakan bentuk lampau dari have. Jika logika ini diterapkan secara bercanda pada kondisi ekonomi, “orang had” dapat dimaknai sebagai “orang yang dulu berpunya”. Kelucuannya muncul karena bentuk waktu dalam tata bahasa Inggris dipakai untuk menggambarkan perubahan kemampuan ekonomi. Di balik itu, ada pengakuan sederhana bahwa keadaan finansial seseorang bisa berubah. Orang yang dulu mampu membeli banyak hal belum tentu berada dalam kondisi yang sama sekarang.

            Berbeda dari istilah-istilah tadi, “in this economy” tidak langsung memberi label kepada seseorang. Frasa ini lebih sering digunakan sebagai tanggapan ironis terhadap rencana atau kebiasaan yang dianggap mahal dalam situasi ekonomi saat ini. Keinginan membeli kendaraan, minum kopi mahal,  rencana liburan, atau mengadakan pesta, misalnya, bisa langsung disambut dengan komentar, “in this economy?”

            Pertanyaan itu biasanya tidak membutuhkan jawaban. Penuturnya bukan sedang meminta penjelasan tentang kondisi perekonomian, melainkan mengajak orang lain memahami kegelisahan yang sama: biaya hidup terasa tinggi dan pengeluaran perlu dipertimbangkan lebih cermat. Dalam pembicaraan di Indonesia, ungkapan ini juga kerap dikaitkan dengan kekhawatiran anak muda mengenai daya beli, pekerjaan, dan masa depan keuangan mereka.

            Perbedaan antara “orang have” dan “in this economy” terlihat pada cara keduanya menempatkan penutur. “Orang have” cenderung membangun jarak antara “mereka” yang mampu dan “kita” yang mengamati. Sebaliknya, “in this economy” dapat menghadirkan rasa senasib. Fokusnya bergeser dari “dia punya, saya tidak” menjadi “kita sama-sama harus memikirkan keadaan ekonomi sekarang”.

            Candaan semacam ini memberi ruang untuk membicarakan persoalan ekonomi yang sensitif. Keterbatasan uang dan perbedaan gaya hidup bisa diungkapkan tanpa harus terdengar terlalu serius. Dengan menertawakan keadaan, penutur seolah mengambil sedikit jarak dari kesulitan yang sedang dihadapi. Humornya tidak menghilangkan persoalan ekonomi, tetapi membuatnya lebih mudah untuk dibicarakan.

            Dari sini terlihat bahwa bahasa gaul Gen Z lebih dari sekadar kumpulan kata lucu atau bentuk bahasa yang menyimpang dari kaidah baku. Melalui istilah yang singkat dan mudah menyebar, anak muda sedang membicarakan ketimpangan sosial di sekitar mereka. Semua itu hadir dalam percakapan yang tampak santai, tetapi sebenarnya menyimpan kegelisahan.

            Pada akhirnya, ungkapan seperti “orang have” dan “in this economy” menunjukkan bahwa pembicaraan tentang kelas sosial tidak selalu menggunakan istilah “kelas atas”, “kelas menengah”, atau “kelas bawah”. Dalam keseharian, persoalan itu justru muncul lewat hal yang lebih nyata, siapa yang bisa membeli, siapa yang punya akses, siapa yang harus berhemat, dan siapa yang masih bisa menikmati sesuatu ketika orang lain menanggapinya sambil bercanda, “in this economy?”

Penulis:
Asri Andarini saat ini beraktivitas sebagai guru Bahasa Indonesia di SMP Al Kautsar LabSchool, Bandung. Perjalanan sebagai guru bahasa ini berawal dari kecintaannya terhadap dunia membaca dan menulis. Sejumlah karya tulisnya pernah dimuat di beberapa media cetak, seperti Pikiran Rakyat, Republika, Kompas Mingggu, majalah Bobo, Sekar, dan AyahBunda. Alumnus Politeknik Negeri Bandung dan Universitas Sangga Buana ini juga telah menulis tiga buku keterampilan yang diterbitkan oleh penerbit mayor serta beberapa antologi cerpen. Dalam bidang literasi anak, ia pernah menulis 2 buah buku anak yang diterbitkan oleh Yayasan Litara – Let’s Read Indonesia. Tahun 2023 dan 2025, ia juga pernah terpilih sebagai penulis dalam proyek penulisan buku cerita anak dwibahasa yang diselenggarakan oleh Balai Bahasa Provinsi Jawa Barat. Saat ini, Asri tengah menempuh studi Magister Pendidikan Bahasa Indonesia di IKIP Siliwangi, Cimahi. Asri dapat dihubungi melalui surel asriandarini@gmail.com.

Eksplorasi konten lain dari Literatura Nusantara

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Categories:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *