Literatura Nusantara

Membumikan Sastra Melangitkan Kata

Dari Menghafal Menjadi Memahami: Mengubah Cara Belajar Siswa melalui Kurikulum Merdeka

[Sumber gambar: dokumentasi penulis + AI]

Penulis: Kania Naisa Fitri (mahasiswi PGSD, IKIP Siliwangi)

Pernahkah kita menjumpai seorang siswa yang mampu menghafalkan materi pelajaran di luar kepala, tetapi kebingungan ketika diminta menjelaskan kembali apa yang telah dihafalkannya? Ia mungkin bisa menyebutkan rumus Matematika dengan lancar, mengingat definisi dalam buku pelajaran, bahkan memperoleh nilai bagus saat ujian. Namun, ketika dihadapkan pada persoalan sederhana yang berkaitan dengan materi tersebut, ia justru tidak tahu harus berbuat apa.

Fenomena seperti ini masih menjadi tantangan dalam dunia pendidikan. Selama ini, belajar terkadang dipahami sebatas kegiatan membaca buku, mendengarkan penjelasan guru, menghafalkan materi, lalu mengerjakan soal ujian. Tidak mengherankan jika sebagian siswa lebih sibuk mengingat jawaban daripada memahami persoalan yang sebenarnya sedang dipelajari. Padahal, bukankah tujuan pendidikan jauh lebih besar daripada sekadar membuat siswa pandai menghafal? Pendidikan seharusnya membantu anak memahami sesuatu, berpikir kritis, menemukan hubungan antara pengetahuan dan kehidupan, serta mampu menggunakan apa yang dipelajarinya untuk menghadapi berbagai persoalan.

Di sinilah Kurikulum Merdeka memberikan ruang bagi perubahan cara belajar. Pembelajaran tidak lagi hanya berpusat pada guru sebagai sumber informasi, tetapi memberikan kesempatan lebih luas kepada siswa untuk bertanya, mencoba, berdiskusi, mengamati, dan menemukan pengetahuan melalui pengalaman mereka sendiri. Gambaran menarik mengenai perubahan tersebut dapat dilihat melalui kegiatan observasi dan wawancara dengan guru di SDN Tangsijaya. Dari kegiatan tersebut, terlihat bagaimana guru berupaya menghadirkan pembelajaran yang tidak hanya membuat siswa mengetahui sesuatu, tetapi juga memahami alasan dan manfaat dari apa yang mereka pelajari.

Berdasarkan hasil wawancara, guru di SDN Tangsijaya berusaha menghadirkan pembelajaran melalui contoh-contoh yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Tujuannya sederhana, yaitu membuat materi yang awalnya terasa abstrak menjadi lebih mudah dipahami. Misalnya, ketika mengajarkan pecahan dalam pelajaran Matematika. Guru tidak hanya menuliskan simbol ½ di papan tulis, lalu meminta siswa menghafalkan bahwa simbol tersebut dibaca setengah. Guru dapat membawa sebuah kue atau buah, kemudian membaginya menjadi dua bagian yang sama besar. Dari kegiatan sederhana itu, siswa bisa melihat secara langsung bahwa pecahan merupakan bagian dari suatu keseluruhan.

Cara mengajar seperti ini mungkin terlihat sederhana, tetapi dampaknya cukup berarti. Anak-anak mendapatkan kesempatan untuk menghubungkan apa yang mereka lihat dengan konsep yang sedang dipelajari. Mereka tidak hanya mengenal angka dan simbol, tetapi juga memahami makna di baliknya. Guru juga membiasakan siswa menjawab pertanyaan seperti “Mengapa?” dan “Bagaimana kalau?” sehingga proses belajar tidak berhenti pada menerima jawaban dari guru. Kelas pun menjadi lebih hidup. Siswa tidak hanya duduk, mendengarkan, dan mencatat, tetapi mulai terlibat dalam proses menemukan pengetahuan.

Setiap anak memiliki cara belajar yang berbeda. Ada yang lebih mudah memahami sesuatu melalui gambar, ada yang senang belajar sambil bermain, dan ada pula yang baru benar-benar mengerti setelah mencoba atau mempraktikkannya secara langsung. Karena itu, pembelajaran tidak seharusnya selalu bergantung pada penjelasan lisan. Guru perlu menghadirkan pengalaman belajar yang beragam agar siswa memiliki kesempatan memahami materi melalui berbagai cara.

Dalam wawancara dengan guru di SDN Tangsijaya, dijelaskan bahwa penggunaan gambar, permainan, dan kegiatan praktik dapat membantu siswa memahami pelajaran dengan lebih baik. Contohnya dalam pembelajaran IPAS tentang tumbuhan. Daripada hanya meminta siswa membaca buku mengenai akar, batang, daun, dan bunga, guru dapat mengajak mereka mengamati tanaman yang tumbuh di halaman sekolah. Anak-anak bisa melihat bentuk akar, memperhatikan batang, mengamati daun, bahkan mengenali bunga secara langsung. Mereka kemudian dapat membandingkan apa yang ditemukan dengan informasi yang terdapat dalam buku pelajaran.

Bukankah pengalaman seperti ini lebih menarik daripada sekadar menghafalkan nama bagian-bagian tumbuhan? Hal menarik lainnya, kegiatan belajar semacam itu sebenarnya tidak membutuhkan fasilitas yang mahal. Lingkungan sekolah bisa menjadi ruang belajar yang sangat kaya. Tanaman, halaman, pepohonan, benda-benda di sekitar kelas, bahkan aktivitas sehari-hari dapat dimanfaatkan sebagai sumber pengetahuan. Dengan kreativitas guru, pembelajaran dapat berlangsung lebih menyenangkan tanpa harus selalu bergantung pada teknologi canggih atau media pembelajaran yang mahal.

Meskipun pembelajaran yang berpusat pada siswa terdengar menarik, pelaksanaannya tentu tidak selalu berjalan mudah. Di balik kelas yang aktif dan menyenangkan, ada berbagai persiapan dan tantangan yang harus dihadapi guru. Salah satu tantangan yang ditemukan di SDN Tangsijaya adalah perbedaan kemampuan belajar siswa. Dalam satu kelas, ada anak yang cepat memahami penjelasan guru, tetapi ada pula yang membutuhkan waktu lebih lama. Sebagian siswa cukup memahami materi melalui satu contoh, sementara siswa lainnya masih membutuhkan penjelasan berulang.

Situasi seperti ini membuat guru harus memiliki strategi pembelajaran yang fleksibel. Guru tidak bisa menggunakan satu cara untuk semua siswa, sebab kebutuhan dan kemampuan mereka tidak selalu sama. Selain itu, guru juga perlu mempersiapkan berbagai kebutuhan pembelajaran, mulai dari media, Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD), hingga kegiatan praktik yang sesuai dengan materi. Keterbatasan waktu dan fasilitas terkadang menjadi kendala tersendiri. Namun, apakah keterbatasan fasilitas harus membuat pembelajaran menjadi kurang menarik? Tentu tidak.

Guru dapat memanfaatkan benda-benda sederhana yang tersedia di lingkungan sekitar. Untuk mengajarkan penjumlahan, misalnya, guru bisa menggunakan pensil, kelereng, atau stik es krim. Siswa dapat menghitung lima benda, kemudian menambahkan tiga benda lainnya untuk mengetahui jumlah keseluruhannya. Melalui kegiatan tersebut, siswa tidak hanya melihat angka di papan tulis, tetapi juga memahami proses penjumlahan melalui benda yang dapat mereka pegang dan hitung sendiri. Pada akhirnya, kreativitas guru menjadi salah satu kunci penting dalam menghadirkan pembelajaran yang bermakna. Fasilitas memang membantu, tetapi kemampuan guru dalam merancang pengalaman belajar tetap memiliki peran yang sangat besar.

Ada satu pertanyaan menarik yang perlu diperhatikan dalam dunia pendidikan: bagaimana kita mengetahui bahwa seorang siswa benar-benar memahami pelajaran? Selama ini, hasil ujian sering kali menjadi salah satu ukuran keberhasilan belajar. Siswa yang mendapatkan nilai tinggi dianggap telah menguasai materi, sedangkan siswa dengan nilai rendah dianggap belum memahami pelajaran. Padahal, kemampuan siswa tidak selalu dapat digambarkan melalui angka. Ada kalanya seorang anak mampu menjawab soal dengan benar karena mengingat contoh yang pernah diberikan guru, tetapi belum tentu mampu menerapkan pengetahuan tersebut dalam situasi yang berbeda.

Guru di SDN Tangsijaya menjelaskan bahwa keberhasilan belajar juga dapat dilihat melalui kemampuan siswa menjelaskan kembali materi menggunakan bahasa sendiri, menjawab pertanyaan, mengikuti diskusi, dan menerapkan pengetahuan dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, setelah mempelajari materi tentang lingkungan bersih, siswa tidak hanya diminta mengerjakan soal pilihan ganda. Guru dapat mengajak mereka mengamati halaman sekolah yang mungkin masih terdapat sampah berserakan. Kemudian, guru mengajukan pertanyaan sederhana, “Kalau kalian melihat sampah berserakan di halaman sekolah, apa yang sebaiknya dilakukan?”

Pertanyaan tersebut mungkin terdengar biasa, tetapi dapat memperlihatkan sejauh mana siswa memahami materi yang telah dipelajari. Apakah mereka hanya mengetahui bahwa kebersihan itu penting, atau sudah memahami tindakan nyata yang perlu dilakukan untuk menjaga lingkungan? Dengan demikian, penilaian tidak hanya berorientasi pada kemampuan menjawab soal, tetapi juga memperhatikan proses berpikir dan kemampuan siswa menerapkan pengetahuan. Sebab, anak yang benar-benar memahami sesuatu seharusnya tidak hanya mampu mengingat jawaban, tetapi juga dapat menjelaskan alasan dan menunjukkan penerapannya.

Dalam sebuah kelas, kita tidak bisa berharap semua anak memahami pelajaran pada waktu yang bersamaan. Ada yang cepat menangkap penjelasan, ada yang perlu mengulang beberapa kali, dan ada pula yang membutuhkan pendekatan berbeda. Kondisi tersebut merupakan bagian dari kenyataan dalam proses pendidikan. Setiap anak memiliki perjalanan belajar masing-masing. Berdasarkan hasil wawancara, guru di SDN Tangsijaya berusaha memberikan pendampingan kepada siswa yang mengalami kesulitan. Langkah pertama yang dilakukan adalah mencari tahu bagian materi yang belum dipahami. Setelah itu, guru mencoba menjelaskan kembali menggunakan bahasa yang lebih sederhana atau bantuan media konkret.

Sebagai contoh, ketika seorang siswa belum memahami penjumlahan, guru dapat menggunakan pensil, kelereng, atau stik es krim. Siswa diminta menghitung lima benda, kemudian menambahkan tiga benda lainnya. Dari situ, mereka dapat melihat bahwa penjumlahan merupakan proses menggabungkan dua kelompok benda. Pendekatan seperti ini membantu siswa memahami konsep melalui pengalaman langsung. Mereka tidak sekadar diminta menghafalkan bahwa lima ditambah tiga sama dengan delapan, tetapi mengetahui bagaimana hasil tersebut diperoleh.

Hal penting yang perlu dipahami adalah siswa yang lambat menangkap materi bukan berarti tidak mampu belajar. Bisa jadi, mereka hanya membutuhkan cara penyampaian yang berbeda, waktu yang lebih panjang, atau pendampingan yang lebih intensif. Di sinilah kesabaran dan kepekaan guru diuji. Guru bukan hanya bertugas menyampaikan materi kepada siswa yang sudah memahami, tetapi juga membantu mereka yang masih berusaha menemukan jalan untuk memahami pelajaran.

Pernahkah kita bertanya mengapa anak-anak perlu belajar Matematika, IPAS, Bahasa Indonesia, dan berbagai mata pelajaran lainnya? Salah satu jawabannya adalah karena pengetahuan tersebut memiliki hubungan dengan kehidupan sehari-hari. Sayangnya, siswa terkadang belum melihat hubungan itu. Mereka menganggap pelajaran di sekolah hanya sebatas materi dalam buku yang harus dipahami untuk menghadapi ujian. Padahal, banyak hal yang mereka pelajari sebenarnya hadir di sekitar mereka.

Dalam wawancara dengan guru di SDN Tangsijaya, terdapat contoh menarik mengenai pembelajaran Matematika tentang uang. Guru dapat mengajak siswa melakukan simulasi jual beli sederhana di kelas. Ada yang berperan sebagai penjual dan ada pula yang menjadi pembeli. Melalui kegiatan tersebut, siswa belajar menghitung harga barang, menentukan jumlah uang yang harus dibayarkan, serta menghitung uang kembalian. Tanpa disadari, mereka sedang belajar Matematika melalui situasi yang mungkin sering dijumpai ketika berbelanja di warung atau toko.

Contoh lainnya terdapat dalam pembelajaran IPAS tentang lingkungan. Siswa dapat diajak mengamati sampah di sekitar sekolah, kemudian membedakan sampah organik dan anorganik. Kegiatan tersebut membuat siswa memahami bahwa menjaga kebersihan bukan sekadar materi yang harus dihafalkan. Ada tindakan nyata yang perlu dilakukan, mulai dari membuang sampah pada tempatnya hingga membiasakan diri menjaga lingkungan. Pembelajaran menjadi lebih bermakna ketika siswa mampu menemukan hubungan antara apa yang dipelajari di sekolah dengan pengalaman yang mereka temui di rumah maupun lingkungan sekitar.

Dari kegiatan observasi dan wawancara di SDN Tangsijaya, kita dapat melihat bahwa perubahan cara belajar tidak selalu harus dimulai dengan sesuatu yang besar. Ada banyak langkah sederhana yang dapat dilakukan guru untuk membuat pembelajaran lebih bermakna. Menggunakan benda-benda di sekitar kelas, memberikan contoh yang dekat dengan kehidupan siswa, mengajak mereka berdiskusi, melakukan pengamatan, hingga memberikan kesempatan untuk praktik langsung merupakan beberapa cara yang dapat dikembangkan dalam pembelajaran.

Kurikulum Merdeka memberikan ruang bagi guru untuk merancang pembelajaran yang lebih fleksibel dan sesuai dengan kebutuhan siswa. Namun, penerapannya membutuhkan kreativitas, kesabaran, serta kemampuan memahami karakteristik setiap anak. Guru perlu menyadari bahwa keberhasilan pembelajaran bukan semata-mata ditentukan oleh banyaknya materi yang disampaikan atau tingginya nilai yang diperoleh siswa ketika ujian. Hal yang jauh lebih penting adalah ketika siswa mampu memahami apa yang dipelajari, berani bertanya, menyampaikan pendapat, menjelaskan dengan bahasanya sendiri, dan menggunakan pengetahuannya dalam kehidupan sehari-hari.

Sebab, pendidikan bukan perlombaan untuk mengetahui siapa yang paling cepat menghafal atau siapa yang paling tinggi mendapatkan nilai. Pendidikan adalah proses membantu setiap anak menemukan kemampuan terbaiknya. Belajar seharusnya bukan hanya tentang mengingat apa yang disampaikan guru, melainkan memahami mengapa sesuatu perlu dipelajari dan bagaimana pengetahuan itu dapat digunakan. Dari menghafal menjadi memahami, dari sekadar mendengarkan menjadi berani mencoba. Barangkali, di situlah makna sesungguhnya dari pembelajaran yang merdeka: ketika anak tidak hanya pulang membawa jawaban dari sekolah, tetapi juga membawa pemahaman yang dapat digunakan dalam kehidupannya.


Eksplorasi konten lain dari Literatura Nusantara

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Categories:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *