Literatura Nusantara

Membumikan Sastra Melangitkan Kata

Membaca Kegelisahan Seno Gumira Ajidarma dalam Cerpen “Saksi Mata”

[Sumber gambar: ilustrasi penulis]

Penulis: Raifani Dara Putri (Mahasiswi PBSI, IKIP Siliwangi)

Karya sastra tidak pernah benar-benar lahir dari ruang kosong. Di balik sebuah cerita, selalu ada seseorang yang membawa pengalaman, ingatan, kegelisahan, dan pandangan tertentu tentang kehidupan. Pengarang menulis bukan hanya karena ingin bercerita, tetapi juga karena ada sesuatu yang ingin disampaikan, dipertanyakan, bahkan mungkin digugat. Itulah salah satu hal yang menarik ketika kita membaca karya sastra melalui pendekatan ekspresif.

Secara sederhana, pendekatan ekspresif mengajak kita melihat karya sastra dari sisi pengarangnya. Abrams (dalam Siswanto, 2018:181) menjelaskan bahwa pendekatan ekspresif menitikberatkan perhatian pada ekspresi perasaan pengarang. Dengan pendekatan ini, sebuah karya tidak hanya dibaca sebagai rangkaian peristiwa atau permainan bahasa, tetapi juga sebagai ruang tempat pengarang menyampaikan pikiran, perasaan, dan sikapnya terhadap dunia.

Cerpen Saksi Mata karya Seno Gumira Ajidarma menjadi salah satu karya yang menarik dibaca melalui pendekatan tersebut. Cerpen ini berkisah tentang seseorang yang menyaksikan peristiwa pembunuhan. Karena kesaksiannya dianggap membahayakan, kedua matanya dicungkil. Namun, sesuatu yang ganjil kemudian terjadi: meskipun sudah tidak memiliki mata, ia tetap dihadirkan di pengadilan sebagai saksi mata. Kisah yang terasa absurd ini justru menyimpan kritik yang tajam tentang kekerasan, kekuasaan, dan usaha membungkam kebenaran.

Di balik cerita tersebut, kita dapat melihat kegelisahan Seno sebagai seorang pengarang sekaligus jurnalis yang pernah berhadapan dengan situasi pembatasan kebebasan pers pada masa Orde Baru. Dengan demikian, Saksi Mata bukan sekadar cerita tentang seseorang yang kehilangan penglihatan, melainkan juga gambaran tentang masyarakat yang dipaksa tidak melihat, tidak mendengar, dan tidak boleh mengatakan apa yang sebenarnya terjadi.

Mengenal Seno Gumira Ajidarma dan Dunia yang Membentuknya

Seno Gumira Ajidarma lahir di Boston, Amerika Serikat, pada tahun 1958 dan tumbuh besar di Yogyakarta. Ia dikenal sebagai penulis, sastrawan, sekaligus jurnalis yang memiliki perhatian besar terhadap persoalan sosial dan politik. Ia pernah menempuh pendidikan di Institut Kesenian Jakarta dan menjalani karier jurnalistik di sejumlah media, di antaranya Merdeka, Sinema Indonesia, Jakarta-Jakarta, dan Detik.

Pengalaman sebagai jurnalis menjadi bagian penting dalam perjalanan kepengarangan Seno. Dunia jurnalistik mempertemukannya dengan berbagai peristiwa nyata, mulai dari persoalan masyarakat, konflik, ketidakadilan, hingga praktik kekuasaan. Seorang wartawan tidak hanya dituntut mampu menulis, tetapi juga harus memiliki keberanian untuk mencari fakta dan menyampaikan informasi kepada publik. Namun, pekerjaan tersebut tidak selalu berjalan mudah, terutama ketika kebebasan pers berada di bawah tekanan.

Situasi politik Indonesia pada masa Orde Baru memberikan gambaran tentang bagaimana pemberitaan dapat dibatasi. Salah satu peristiwa penting yang menjadi perhatian publik adalah kekerasan terhadap warga sipil di Dili, Timor Timur, pada November 1991, yang dikenal sebagai Peristiwa Santa Cruz. Peristiwa tersebut memperlihatkan betapa seriusnya persoalan kekerasan dan pelanggaran kemanusiaan. Pada saat yang sama, pemberitaan mengenai peristiwa semacam itu tidak selalu dapat disampaikan secara bebas oleh media.

Tekanan terhadap kebebasan pers semakin terasa ketika pemerintah membredel sejumlah media pada 1994, termasuk Tempo, tempat Seno bekerja. Pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa menyampaikan fakta tidak selalu menjadi pekerjaan yang aman. Ada situasi ketika wartawan mengetahui sesuatu, memiliki informasi, bahkan ingin menyampaikannya kepada masyarakat, tetapi ruang untuk berbicara justru semakin dipersempit.

Dalam konteks inilah pernyataan Seno yang terkenal, “Ketika jurnalisme dibungkam, sastra harus bicara”, menjadi penting untuk memahami karya-karyanya. Pernyataan tersebut memperlihatkan keyakinannya bahwa ketika jalur pemberitaan tidak lagi memberikan ruang yang cukup untuk menyampaikan kebenaran, sastra dapat menjadi jalan lain. Cerita, tokoh, simbol, dan imajinasi dapat menyampaikan sesuatu yang mungkin sulit diungkapkan secara langsung.

Melalui sudut pandang tersebut, Saksi Mata dapat dibaca sebagai bentuk kegelisahan seorang pengarang yang tidak ingin diam ketika kekerasan dan pembungkaman terjadi. Seno tidak harus menuliskan sebuah laporan jurnalistik untuk menyampaikan kritik. Ia justru menggunakan cerita fiksi untuk membawa pembaca berhadapan dengan kenyataan yang terasa tidak masuk akal, tetapi memiliki hubungan erat dengan kehidupan sosial dan politik.

Ketika Mata Hilang, tetapi Kesaksian Tetap Hidup

Cerpen Saksi Mata menghadirkan sebuah peristiwa yang sejak awal terasa ganjil sekaligus mengerikan. Tokoh utamanya adalah seseorang yang menyaksikan pembunuhan. Kesaksiannya menjadi persoalan bagi pihak yang tidak ingin peristiwa tersebut diketahui. Karena itulah, ia mengalami kekerasan dengan cara kedua matanya dicungkil. Ia tidak lagi dapat melihat, tetapi tetap diminta hadir di pengadilan untuk memberikan kesaksian.

Di sinilah letak keunikan sekaligus kekuatan cerita Seno. Bagaimana mungkin seseorang yang sudah tidak memiliki mata tetap disebut saksi mata? Bukankah mata merupakan bagian tubuh yang memungkinkan seseorang melihat suatu peristiwa? Pertanyaan sederhana ini membawa pembaca pada persoalan yang jauh lebih besar: bagaimana jika seseorang mengetahui kebenaran, tetapi dipaksa kehilangan kemampuan untuk menyampaikannya?

Kejadian pencungkilan mata dalam cerpen ini dapat dibaca sebagai simbol pembungkaman. Mata bukan sekadar organ tubuh yang berfungsi untuk melihat, melainkan juga lambang pengetahuan dan kesaksian. Ketika mata dicungkil, yang dirusak bukan hanya tubuh seseorang, tetapi juga kemungkinan untuk menghadirkan kebenaran. Pelaku seolah-olah ingin menghapus apa yang telah dilihat oleh saksi, sekaligus menghilangkan bukti bahwa suatu peristiwa pernah terjadi.

Namun, Seno justru menghadirkan ironi yang menarik. Meskipun matanya telah hilang, saksi tersebut tetap menjadi saksi. Tubuhnya memang telah dirusak, tetapi kesaksiannya tidak serta-merta lenyap. Di sini, cerita seolah ingin mengatakan bahwa kebenaran tidak selalu dapat dimusnahkan hanya dengan menghilangkan orang yang melihatnya.

Jika dihubungkan dengan latar kehidupan Seno sebagai jurnalis, tokoh saksi mata dapat dibaca sebagai gambaran simbolis seseorang yang mengetahui kebenaran, tetapi menghadapi tekanan ketika hendak menyuarakannya. Ada kemiripan situasi antara saksi dalam cerita dan wartawan yang ruang geraknya dibatasi oleh sensor. Keduanya sama-sama berhadapan dengan persoalan tentang hak untuk menyampaikan apa yang diketahui.

Tentu saja, tokoh dalam cerpen tidak harus dianggap sebagai gambaran langsung diri pengarang. Namun, melalui pendekatan ekspresif, pengalaman dan kegelisahan Seno sebagai jurnalis dapat menjadi salah satu konteks untuk memahami mengapa persoalan kesaksian dan pembungkaman begitu kuat hadir dalam cerita ini.

Kemarahan yang Disampaikan dengan Cara Tenang

Hal menarik lainnya dari Saksi Mata adalah cara Seno menyampaikan kekerasan. Ia tidak selalu menggunakan kalimat yang penuh teriakan atau ungkapan kemarahan secara langsung. Sebaliknya, cerita ini justru bergerak melalui bahasa yang lugas, tenang, dan terkadang terasa seperti laporan peristiwa. Pilihan tersebut membuat kekejaman yang digambarkan terasa semakin mengganggu.

Bayangkan sebuah peristiwa yang sangat tidak manusiawi diceritakan dengan nada yang nyaris biasa. Pembaca tidak disuguhi luapan emosi yang berlebihan, tetapi justru diajak berhadapan dengan kenyataan yang begitu mengerikan. Ada jarak antara cara cerita disampaikan dan kekejaman yang sedang diceritakan. Dari jarak itulah ironi muncul.

Gaya bertutur seperti ini dapat dibaca sebagai cara Seno mengolah kemarahan melalui strategi estetik. Ia tidak perlu terus-menerus mengatakan bahwa kekerasan adalah sesuatu yang kejam. Ia cukup memperlihatkan peristiwa tersebut melalui cerita yang absurd, sehingga pembaca dapat merasakan sendiri betapa tidak masuk akalnya tindakan manusia yang dilakukan atas nama kekuasaan.

Kemarahan, duka, dan kekecewaan pengarang seolah hadir di balik ketenangan bahasa. Justru karena tidak disampaikan secara meledak-ledak, kritik dalam cerpen ini terasa lebih kuat. Pembaca tidak hanya diajak merasa ngeri terhadap kekerasan fisik yang dialami tokoh, tetapi juga diajak mempertanyakan sistem yang memungkinkan kekerasan tersebut terjadi.

Ironi juga terlihat ketika peristiwa itu dibawa ke ruang pengadilan. Pengadilan seharusnya menjadi tempat untuk mencari keadilan dan mengungkap kebenaran. Namun, dalam cerpen ini, seorang saksi yang matanya telah dicungkil tetap diminta memberikan kesaksian. Situasi tersebut menghadirkan pertanyaan besar tentang bagaimana hukum bekerja ketika kebenaran justru berada dalam tekanan.

Seno seolah memperlihatkan sebuah keadaan yang terbalik: tempat yang seharusnya melindungi kebenaran justru menjadi ruang yang memperlihatkan betapa rapuhnya kebenaran di hadapan kekuasaan. Melalui ironi tersebut, pembaca diajak melihat bahwa ketidakadilan tidak selalu hadir dalam bentuk kekerasan fisik. Ia juga dapat muncul melalui sistem, prosedur, dan lembaga yang seharusnya menjadi tempat perlindungan bagi masyarakat.

Gaya Jurnalistik yang Bertemu dengan Imajinasi Surealis

Latar belakang Seno sebagai wartawan dapat membantu kita memahami gaya penceritaannya. Ia terbiasa berhadapan dengan fakta, mengamati peristiwa, dan menyampaikan informasi melalui bahasa yang lugas. Kebiasaan tersebut tampak dalam cara ia menghadirkan detail cerita yang konkret. Namun, Seno tidak berhenti pada gaya jurnalistik. Ia menggabungkannya dengan unsur surealis dan absurd yang membuat kenyataan terasa semakin ganjil.

Perpaduan tersebut menjadi kekuatan tersendiri. Peristiwa yang sebenarnya berhubungan dengan persoalan sosial dan politik justru dihadirkan melalui situasi yang tidak biasa. Seorang saksi kehilangan mata, tetapi tetap disebut saksi mata. Keadaan ini mungkin terdengar seperti sesuatu yang mustahil, tetapi justru di situlah pembaca menemukan maknanya.

Kenyataan yang absurd dalam cerpen ini seolah menjadi cara untuk memperlihatkan betapa absurdnya situasi ketika kekuasaan berusaha mengendalikan kebenaran. Sesuatu yang seharusnya sederhana, seperti melihat dan memberikan kesaksian, berubah menjadi persoalan yang rumit karena adanya kekerasan dan kepentingan tertentu.

Pilihan menggunakan fiksi juga memberikan ruang bagi Seno untuk menyampaikan kritik melalui simbol dan imajinasi. Ia tidak harus menjelaskan seluruh persoalan politik secara langsung. Pembaca dapat menemukan maknanya melalui peristiwa, tokoh, dan keganjilan yang dibangun dalam cerita. Dengan cara itu, sastra menjadi ruang untuk menyampaikan kritik tanpa kehilangan kekuatan estetiknya.

Dalam konteks pendekatan ekspresif, gaya tersebut memperlihatkan bagaimana pengalaman jurnalistik dan pandangan kritis pengarang dapat bertemu dengan kebebasan imajinasi. Seno membawa kepekaan seorang wartawan ke dalam dunia fiksi, kemudian mengolahnya menjadi cerita yang tidak hanya menghibur, tetapi juga mengganggu kesadaran pembaca.

Sastra sebagai Ruang untuk Menjaga Kebenaran

Pada akhirnya, Saksi Mata tidak hanya berbicara tentang seseorang yang kehilangan penglihatan. Cerpen ini juga berbicara tentang keberanian untuk bersaksi, hak untuk menyampaikan kebenaran, dan tanggung jawab manusia ketika berhadapan dengan ketidakadilan.

Ada pesan kemanusiaan yang terasa kuat dalam cerita ini. Seseorang yang menyaksikan kekerasan seharusnya memiliki ruang untuk menyampaikan apa yang dilihatnya. Namun, ketika kekuasaan berusaha menutup kesaksian dengan ancaman dan kekerasan, persoalannya tidak lagi hanya menyangkut satu orang saksi. Hal itu menyangkut hak masyarakat untuk mengetahui kebenaran.

Seno juga memperlihatkan bahwa ingatan tidak selalu dapat dihapus melalui kekerasan. Mata boleh dicungkil, tetapi pengalaman yang telah disaksikan tidak serta-merta hilang. Tubuh dapat dilukai, suara dapat ditekan, dan pemberitaan dapat dibatasi, tetapi cerita masih memiliki kemungkinan untuk menyimpan sesuatu yang berusaha dilupakan.

Di sinilah sastra menemukan perannya. Sastra bukan pengganti jurnalistik, begitu pula sebaliknya. Keduanya memiliki cara kerja dan tanggung jawab yang berbeda. Namun, keduanya dapat bertemu dalam satu kepedulian: menjaga agar pengalaman manusia tidak begitu saja dihapus dari ingatan bersama.

Pesan tersebut terasa tetap relevan hingga sekarang. Kita hidup di tengah arus informasi yang begitu cepat, ketika fakta dapat diperdebatkan, dipelintir, bahkan ditenggelamkan oleh berbagai kepentingan. Pertanyaan tentang siapa yang boleh berbicara, siapa yang dipercaya, dan siapa yang suaranya diabaikan masih menjadi persoalan penting. Karena itu, Saksi Mata mengingatkan kita agar tidak mudah menyerahkan kebenaran kepada mereka yang memiliki kuasa untuk mengaturnya.

Kesimpulan

Melalui pendekatan ekspresif, cerpen Saksi Mata dapat dibaca sebagai salah satu bentuk ungkapan kegelisahan Seno Gumira Ajidarma terhadap kekerasan dan pembungkaman kebenaran. Pengalaman Seno sebagai jurnalis, terutama ketika kebebasan pers berada dalam tekanan pada masa Orde Baru, memberikan konteks penting untuk memahami persoalan yang diangkat dalam cerpen tersebut.

Tokoh saksi yang matanya dicungkil menjadi simbol kuat tentang usaha menghilangkan kesaksian. Namun, cerita ini justru memperlihatkan bahwa hilangnya mata tidak berarti hilangnya kebenaran. Melalui bahasa yang lugas, suasana absurd, dan ironi yang tajam, Seno menyampaikan kritik terhadap kekuasaan yang berusaha mengendalikan suara masyarakat.

Dengan demikian, Saksi Mata bukan sekadar cerita tentang seorang saksi yang kehilangan penglihatan. Cerpen ini juga menjadi pengingat bahwa kebenaran membutuhkan keberanian untuk disuarakan dan ingatan yang terus dijaga. Ketika seseorang tidak lagi diperbolehkan melihat, berbicara, atau bersaksi, sastra dapat menjadi salah satu ruang untuk menyimpan cerita yang tidak boleh dilupakan.


Eksplorasi konten lain dari Literatura Nusantara

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Categories:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *