Literatura Nusantara

Membumikan Sastra Melangitkan Kata

Membaca Ekspresi Hamka dalam Novel Tenggelamnya Kapal Van der Wijck

[Sumber gambar: Gemini AI]

Penulis: Mutia Puspita Sari

Ada kisah cinta yang berakhir karena dua orang tidak lagi saling mencintai. Namun, ada pula kisah cinta yang justru harus berakhir karena lingkungan tidak memberikan ruang bagi dua orang untuk bersama. Mereka saling menyayangi, memiliki harapan, bahkan membayangkan masa depan yang sama, tetapi harus berhadapan dengan tembok besar bernama adat, status sosial, dan pandangan masyarakat. Persoalan semacam inilah yang menjadi salah satu kekuatan novel Tenggelamnya Kapal Van der Wijck karya Hamka.

Novel ini bukan sekadar cerita tentang Zainuddin dan Hayati yang gagal membangun rumah tangga. Di balik kisah cintanya yang tragis, Hamka menghadirkan persoalan yang jauh lebih luas, yakni bagaimana adat dan lingkungan sosial dapat menentukan nasib seseorang, bahkan ketika keputusan tersebut harus dibayar dengan kebahagiaan dan kehidupan manusia itu sendiri.

Cerita bermula dari kehidupan Zainuddin, seorang pemuda yang lahir di Makassar. Ayahnya berasal dari Minangkabau, sedangkan ibunya merupakan keturunan Bugis. Setelah kedua orang tuanya meninggal, Zainuddin dibesarkan oleh orang lain hingga akhirnya memutuskan pergi ke tanah kelahiran ayahnya di Minangkabau. Ia berharap dapat mengenal asal-usul keluarganya sekaligus menemukan tempat untuk membangun kehidupan baru.

Namun, kedatangannya ke Minangkabau tidak serta-merta membuatnya diterima. Latar belakang keluarganya justru menjadi persoalan. Karena ibunya berasal dari Bugis, Zainuddin dianggap tidak sepenuhnya menjadi bagian dari masyarakat Minangkabau. Ia berada dalam posisi yang serba tanggung: memiliki darah Minang dari ayahnya, tetapi tidak dianggap memenuhi ukuran adat yang berlaku di lingkungan tersebut.

Di tengah situasi itu, Zainuddin bertemu Hayati, seorang gadis Minangkabau yang kemudian menjadi pusat perhatiannya. Keduanya saling jatuh cinta dan menjalin hubungan melalui surat-menyurat. Bagi Zainuddin, Hayati bukan sekadar perempuan yang dicintainya, melainkan juga harapan untuk menemukan kebahagiaan setelah perjalanan hidup yang penuh kehilangan.

Sayangnya, cinta mereka tidak berjalan semudah yang dibayangkan. Hubungan tersebut menjadi bahan pembicaraan masyarakat. Keluarga Hayati tidak menyetujui Zainuddin karena persoalan keturunan dan kedudukan sosialnya. Hayati kemudian diarahkan untuk menerima Aziz, seorang pemuda kaya yang berasal dari keluarga terpandang.

Zainuddin harus menerima kenyataan bahwa perempuan yang dicintainya menikah dengan orang lain. Patah hati membuat kehidupannya berantakan. Ia jatuh sakit dan kehilangan semangat hidup. Namun, bersama sahabatnya, Muluk, ia perlahan bangkit dan memutuskan merantau ke Jawa. Di tempat baru tersebut, Zainuddin mulai membangun kembali kehidupannya melalui dunia kepenulisan hingga akhirnya dikenal sebagai seorang penulis.

Sementara itu, kehidupan rumah tangga Hayati dan Aziz tidak berjalan sebagaimana yang diharapkan. Aziz yang gemar berjudi dan berfoya-foya membawa Hayati ke dalam kehidupan yang penuh masalah. Kondisi ekonomi mereka semakin memburuk hingga akhirnya harus tinggal di rumah Zainuddin di Surabaya tanpa mengetahui bahwa rumah tersebut merupakan milik orang yang dahulu pernah mencintai Hayati.

Pertemuan kembali itu menjadi salah satu bagian paling getir dalam cerita. Aziz kemudian menceraikan Hayati dan mengakhiri hidupnya sendiri. Sebelum meninggal, ia meninggalkan pesan agar Hayati dititipkan kepada Zainuddin. Hayati pun berharap dapat kembali menjalin hubungan dengan laki-laki yang dahulu dicintainya. Namun, luka masa lalu membuat Zainuddin belum mampu menerima kehadirannya kembali.

Hayati akhirnya diminta pulang ke kampung halaman. Ia menumpang kapal Van der Wijck untuk kembali ke Minangkabau. Namun, perjalanan tersebut berubah menjadi tragedi ketika kapal mengalami kecelakaan dan tenggelam. Zainuddin yang mendengar kabar itu segera menyusul. Ia sempat bertemu Hayati, tetapi perempuan tersebut akhirnya meninggal dunia. Kehilangan itu kembali menghancurkan kehidupan Zainuddin. Ia hidup dalam kesedihan hingga akhirnya meninggal dan dimakamkan tidak jauh dari makam Hayati.

Kisah tersebut memang tragis, tetapi justru melalui tragedi itulah Hamka menyampaikan kritik sosialnya. Pembaca tidak hanya diajak bersedih karena dua orang yang saling mencintai gagal bersatu, tetapi juga diajak mempertanyakan mengapa cinta harus kalah oleh aturan sosial yang begitu kaku.

Hamka dan Kegelisahan tentang Adat

Untuk memahami mengapa persoalan adat begitu kuat dalam novel ini, kita perlu mengenal sosok Hamka di balik karya tersebut. Hamka, yang memiliki nama lengkap Haji Abdul Malik Karim Amrullah, lahir di Sungai Batang, Maninjau, Sumatera Barat, pada 17 Februari 1908. Ia dikenal sebagai ulama, sastrawan, pemikir, sekaligus tokoh pembaru Islam di Indonesia.

Hamka tumbuh dalam lingkungan Minangkabau yang memiliki tradisi adat cukup kuat. Ia juga berasal dari keluarga yang dekat dengan dunia keagamaan dan pembaruan pemikiran Islam. Ayahnya, Haji Abdul Karim Amrullah atau Haji Rasul, merupakan salah satu tokoh pembaru Islam di Minangkabau. Lingkungan keluarga dan masyarakat tersebut membuat Hamka sejak muda berhadapan dengan pertemuan antara tradisi, agama, dan perubahan sosial.

Pengalaman hidupnya tidak berhenti di kampung halaman. Hamka pernah melakukan perjalanan ke berbagai daerah, termasuk Jawa dan Makkah. Ia juga pernah menetap di Medan dan mengembangkan aktivitas intelektual serta kepengarangannya di sana. Pengalaman merantau tersebut memberinya kesempatan untuk melihat kehidupan masyarakat dari berbagai sudut pandang.

Menjadi perantau tentu bukan sekadar berpindah tempat. Ada pengalaman tentang kehilangan kedekatan dengan kampung halaman, menghadapi lingkungan baru, beradaptasi dengan kebiasaan yang berbeda, dan terkadang merasa tidak sepenuhnya diterima. Pengalaman semacam ini menjadi salah satu konteks menarik ketika kita membaca kehidupan Zainuddin dalam novel Tenggelamnya Kapal Van der Wijck.

Zainuddin digambarkan sebagai seseorang yang memiliki hubungan darah dengan Minangkabau, tetapi justru mengalami penolakan ketika ingin menjadi bagian dari masyarakat tersebut. Ia tidak sepenuhnya diterima karena persoalan garis keturunan dari pihak ibu. Dalam konteks ini, Zainuddin dapat dibaca sebagai gambaran seseorang yang mengalami keterasingan di tengah lingkungan yang seharusnya menjadi tempatnya bernaung.

Kita dapat melihat bahwa persoalan yang dialami Zainuddin bukan sekadar persoalan cinta. Ia juga berhadapan dengan pertanyaan tentang identitas, asal-usul, dan hak seseorang untuk diterima dalam masyarakat. Mengapa seseorang harus ditolak hanya karena latar belakang keluarganya? Mengapa kedudukan sosial dan garis keturunan dapat menjadi ukuran untuk menentukan siapa yang pantas mencintai dan dicintai?

Pertanyaan-pertanyaan semacam itu memperlihatkan kegelisahan Hamka terhadap praktik adat yang diterapkan secara kaku. Ia tidak sedang menolak seluruh tradisi Minangkabau, tetapi memperlihatkan bahwa tradisi dapat kehilangan maknanya ketika digunakan untuk membatasi kebahagiaan dan merendahkan martabat manusia.

Ketika Pengalaman Hidup Menjadi Cerita

Jika kita membaca novel ini melalui pendekatan ekspresif, akan terlihat bagaimana pengalaman dan pandangan hidup Hamka memiliki hubungan dengan persoalan yang dibangun dalam cerita. Pendekatan ekspresif memandang karya sastra sebagai salah satu bentuk ungkapan pengarang. Pikiran, perasaan, pengalaman, dan pandangan hidup pengarang dapat hadir melalui tokoh, konflik, latar, maupun pesan yang dibangun dalam karya.

Dalam Tenggelamnya Kapal Van der Wijck, persoalan adat dan perantauan menjadi bagian penting yang dapat dikaitkan dengan pengalaman kehidupan Hamka. Zainuddin bukanlah Hamka, dan perjalanan hidup keduanya tidak dapat disamakan begitu saja. Namun, pengalaman Hamka yang tumbuh dalam lingkungan adat Minangkabau dan kemudian menjalani kehidupan sebagai perantau memberikan konteks untuk memahami mengapa persoalan identitas dan penerimaan sosial begitu kuat dalam novel tersebut.

Ada kemungkinan bahwa pengalaman dan pengamatan Hamka terhadap kehidupan masyarakat menjadi salah satu sumber kepekaan kreatifnya. Ia melihat bagaimana adat dapat menjadi pedoman kehidupan, tetapi juga dapat menjadi persoalan ketika penerapannya tidak mempertimbangkan keadilan dan kemanusiaan.

Melalui Zainuddin, Hamka menghadirkan seseorang yang harus menanggung akibat dari aturan sosial yang tidak memberinya ruang. Zainuddin tidak kehilangan Hayati karena kurang mencintai atau tidak memiliki kesungguhan. Ia kehilangan kesempatan untuk membangun kehidupan bersama karena masyarakat lebih mengutamakan ukuran keturunan dan kedudukan sosial.

Di sinilah cerita cinta berubah menjadi kritik sosial. Hamka seolah ingin mengatakan bahwa masyarakat tidak seharusnya mengukur nilai seseorang hanya berdasarkan asal-usul keluarganya. Kemuliaan manusia tidak semestinya ditentukan oleh status sosial, kekayaan, atau garis keturunan, melainkan juga oleh akhlak dan kualitas pribadinya.

Pandangan tersebut terasa sejalan dengan perhatian Hamka terhadap hubungan antara agama dan kehidupan sosial. Sebagai seorang ulama, ia banyak membicarakan persoalan moral, keadilan, tanggung jawab, dan kemanusiaan. Nilai-nilai tersebut dapat ditemukan dalam cara ia membangun konflik dan menghadirkan persoalan kehidupan dalam novel ini.

Kapal Van der Wijck, Simbol Cinta dan Harapan yang Karam

Salah satu hal paling menarik dari novel ini adalah pemilihan judulnya. Hamka tidak menggunakan nama Zainuddin atau Hayati sebagai judul, melainkan memilih nama sebuah kapal, yaitu Van der Wijck. Pilihan tersebut tentu memiliki daya tarik tersendiri karena kapal itu bukan sekadar kendaraan yang membawa Hayati pulang ke kampung halaman. Kapal tersebut menjadi bagian penting dari tragedi yang menentukan akhir kehidupan para tokohnya.

Kata “tenggelam” dalam judul menghadirkan gambaran tentang sesuatu yang hilang ke dasar laut. Kapal yang seharusnya menjadi sarana perjalanan justru berubah menjadi tempat berakhirnya sebuah harapan. Secara simbolis, peristiwa tenggelamnya kapal dapat dibaca sebagai gambaran tentang cinta, kebahagiaan, dan masa depan yang tidak pernah berhasil dicapai oleh Zainuddin dan Hayati.

Ada hubungan menarik antara tragedi kapal dengan perjalanan kehidupan kedua tokoh tersebut. Sebelum kapal Van der Wijck tenggelam, harapan mereka sebenarnya telah lebih dahulu mengalami keretakan. Cinta yang pernah tumbuh harus berhadapan dengan adat, keputusan keluarga, pernikahan yang tidak bahagia, dan luka masa lalu. Kapal yang karam kemudian menjadi puncak dari rangkaian penderitaan tersebut.

Dalam pembacaan simbolik, kapal Van der Wijck dapat dipahami sebagai gambaran perjalanan manusia yang tidak selalu sampai pada tujuan. Hayati memang sedang melakukan perjalanan pulang, tetapi perjalanan itu justru membawanya menuju akhir kehidupan. Sementara itu, Zainuddin yang selama ini berusaha membangun kembali kehidupannya harus kembali berhadapan dengan kehilangan.

Simbolisme tersebut memperlihatkan kecermatan Hamka dalam membangun tragedi. Ia tidak hanya menyampaikan kesedihan melalui dialog atau ungkapan perasaan tokoh, tetapi juga menggunakan sebuah peristiwa besar sebagai gambaran kehancuran harapan. Kapal yang tenggelam seolah menjadi representasi dari cinta yang tidak pernah menemukan tempat untuk berlabuh.

Di sinilah judul novel memperoleh kekuatan emosionalnya. Pembaca mungkin sejak awal telah mengetahui bahwa cerita ini akan berakhir dengan tragedi. Namun, semakin jauh mengikuti perjalanan Zainuddin dan Hayati, semakin terasa bahwa tenggelamnya kapal bukan hanya peristiwa fisik, melainkan juga simbol dari berbagai harapan yang telah lebih dahulu dihancurkan oleh keadaan.

Membaca Hamka melalui Zainuddin dan Hayati

Melalui pendekatan ekspresif, tokoh Zainuddin dan Hayati dapat dibaca sebagai bagian dari cara Hamka menyampaikan pandangan dan kegelisahannya terhadap kehidupan. Zainuddin menghadirkan persoalan identitas dan keterasingan, sedangkan Hayati memperlihatkan posisi seseorang yang harus berhadapan dengan tekanan keluarga dan lingkungan sosial.

Keduanya menjadi gambaran tentang manusia yang tidak selalu memiliki kebebasan penuh dalam menentukan jalan hidupnya. Ada kekuatan di luar diri yang ikut menentukan keputusan, bahkan ketika keputusan tersebut bertentangan dengan keinginan pribadi.

Hamka memperlihatkan bahwa persoalan semacam itu tidak selalu selesai hanya dengan kesabaran atau keteguhan cinta. Ada struktur sosial yang perlu dipertanyakan. Ada kebiasaan yang perlu ditafsirkan kembali. Ada aturan yang seharusnya tidak ditempatkan lebih tinggi daripada nilai kemanusiaan.

Namun, novel ini juga tidak hanya berbicara tentang adat. Ia menghadirkan persoalan moral melalui karakter Aziz yang memperlihatkan bagaimana kekayaan dan kedudukan sosial tidak selalu berjalan seiring dengan kematangan kepribadian. Aziz memiliki status sosial yang lebih baik daripada Zainuddin, tetapi perilakunya justru membawa kehancuran dalam kehidupan rumah tangganya.

Kontras antara Zainuddin dan Aziz memperlihatkan kritik Hamka terhadap kebiasaan masyarakat yang terlalu mudah menilai seseorang berdasarkan penampilan, kekayaan, dan kedudukan. Zainuddin yang semula dianggap tidak pantas justru mampu membangun kehidupannya melalui kerja keras dan kemampuan menulis. Sebaliknya, Aziz yang dipandang lebih layak ternyata tidak mampu menjaga tanggung jawab dalam rumah tangga.

Dengan cara tersebut, Hamka mengajak pembaca melihat bahwa ukuran kemuliaan manusia tidak selalu berada pada apa yang tampak dari luar. Ada nilai moral dan tanggung jawab yang jauh lebih penting untuk diperhatikan.

Pada akhirnya, Tenggelamnya Kapal Van der Wijck bukan sekadar novel tentang cinta yang berakhir tragis. Novel ini merupakan ruang bagi Hamka untuk menghadirkan kegelisahan tentang adat, identitas, status sosial, agama, dan kemanusiaan. Pengalaman hidupnya sebagai orang Minangkabau, perjalanan merantau, serta keterlibatannya dalam pemikiran keagamaan memberikan konteks yang menarik untuk memahami lahirnya berbagai persoalan dalam cerita tersebut.

Melalui kisah Zainuddin dan Hayati, Hamka memperlihatkan bahwa cinta dapat menjadi korban ketika manusia terlalu tunduk pada ukuran sosial yang kaku. Ia mengingatkan bahwa adat seharusnya menjadi pedoman untuk membangun kehidupan bersama, bukan menjadi tembok yang menghalangi seseorang memperoleh kebahagiaan.

Barangkali, itulah yang membuat novel ini tetap terasa dekat meskipun telah terbit sejak puluhan tahun lalu. Persoalan tentang perbedaan latar belakang, penilaian masyarakat, tekanan keluarga, dan kebebasan menentukan pilihan hidup masih dapat kita temukan dalam kehidupan sekarang.

Kapal Van der Wijck memang telah tenggelam dalam cerita. Namun, pertanyaan yang ditinggalkan Hamka tidak ikut tenggelam bersama kapal tersebut. Sampai hari ini, kita masih dapat bertanya: apakah tradisi yang kita pertahankan benar-benar membawa kebaikan bagi manusia, atau justru tanpa sadar telah membuat seseorang kehilangan haknya untuk bahagia? Sebab, sebuah tradisi seharusnya membuat manusia menemukan tempat untuk pulang, bukan justru membuatnya merasa asing di tanah kelahirannya sendiri.

Penulis: 
Mutia Puspita Sari
adalah mahasiswa baru dari prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di IKIP Siliwangi. Penulis suka membaca buku-buku terutama buku novel. Penulis berdomisili di Kab. Bandung Barat, Jawa Barat.

Eksplorasi konten lain dari Literatura Nusantara

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Categories:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *