
[Sumber gambar: dokumentasi penulis]
Penulis: Suci Ainaya (mahasiswi PBSI, IKIP Siliwangi)
Membaca Novel Laut Bercerita Karya Leila S. Chudori melalui Pendekatan Ekspresif
Ada peristiwa sejarah yang tidak pernah benar-benar selesai meskipun waktu telah bergerak begitu jauh meninggalkannya. Peristiwa itu mungkin sudah tercatat dalam buku sejarah, dibicarakan dalam ruang-ruang diskusi, atau dikenang melalui berbagai peringatan. Namun, bagi orang-orang yang mengalaminya, sejarah bukan sekadar catatan masa lalu. Ia bisa menjelma kehilangan, luka, kerinduan, bahkan pertanyaan yang terus hidup dari satu generasi ke generasi berikutnya. Persoalan semacam inilah yang menjadi salah satu kekuatan novel Laut Bercerita karya Leila S. Chudori.
Melalui novel ini, Leila tidak hanya mengajak pembaca mengenal pergolakan politik Indonesia, tetapi juga memperlihatkan bagaimana peristiwa politik dapat masuk ke ruang paling pribadi dalam kehidupan manusia. Persahabatan, cinta, keluarga, perjuangan, dan kehilangan menjadi bagian dari cerita yang mempertemukan sejarah dengan pengalaman manusia. Karena itu, membaca Laut Bercerita bukan hanya membaca sebuah kisah tentang masa lalu, melainkan juga berhadapan dengan ingatan tentang manusia yang pernah hidup, berharap, berjuang, dan mengalami ketidakadilan.
Untuk memahami kekuatan cerita tersebut, kita dapat melihatnya melalui pendekatan ekspresif. Pendekatan ini menempatkan pengarang sebagai salah satu pintu masuk untuk memahami karya sastra. Artinya, pembaca tidak hanya memperhatikan apa yang diceritakan dalam novel, tetapi juga mencoba memahami latar kehidupan, pengalaman, pendidikan, dan pandangan dunia pengarang yang mungkin memiliki hubungan dengan lahirnya karya tersebut. Dalam konteks ini, perjalanan hidup Leila S. Chudori menjadi bagian penting untuk memahami mengapa persoalan sejarah, politik, dan kemanusiaan begitu kuat hadir dalam karya-karyanya.
Leila Salikha Chudori, yang lebih dikenal sebagai Leila S. Chudori, merupakan salah satu penulis dan jurnalis Indonesia yang dikenal melalui karya-karya bertema sejarah, politik, keluarga, dan kemanusiaan. Ia tumbuh dalam lingkungan keluarga yang dekat dengan dunia jurnalistik. Ayahnya, Mohammad Chudori, merupakan wartawan senior. Lingkungan tersebut memperkenalkan Leila pada dunia bacaan, pengetahuan, diskusi, dan berbagai persoalan sosial sejak usia dini.
Kedekatan dengan dunia tulis-menulis tampaknya bukan sesuatu yang datang secara tiba-tiba dalam kehidupan Leila. Bakat kepenulisannya sudah terlihat ketika ia masih berusia sekitar sebelas atau dua belas tahun. Cerpen pertamanya, Pesan Sebatang Pohon Pisang, dimuat di majalah anak-anak Si Kuncung sekitar tahun 1973โ1974. Setelah itu, tulisan-tulisannya mulai hadir di sejumlah majalah, seperti Kawanku, Hai, dan Gadis. Pengalaman tersebut menjadi awal perjalanan panjangnya dalam dunia sastra.
Leila juga memiliki ketertarikan terhadap berbagai bidang seni, termasuk tari dan teater. Pengalaman serta ketertarikan terhadap seni ini ikut memperkaya cara pandangnya dalam membangun cerita. Ia tidak memandang sastra hanya sebagai kegiatan menyusun kata-kata, tetapi sebagai ruang untuk menghadirkan pengalaman dan kenyataan hidup manusia melalui bahasa dan imajinasi.
Perjalanan pendidikannya turut membentuk wawasan Leila. Ia pernah belajar di Lester B. Pearson College of the Pacific, Kanada, sebelum melanjutkan pendidikan di Trent University. Di universitas tersebut, ia mempelajari Ilmu Politik dan Comparative Development Studies. Bidang pendidikan ini mempertemukannya dengan berbagai persoalan mengenai kekuasaan, ideologi, perubahan sosial, pembangunan, dan hubungan antarnegara.
Latar pendidikan tersebut menjadi bekal penting bagi Leila dalam memahami bahwa persoalan politik tidak pernah berdiri jauh dari kehidupan masyarakat. Kebijakan negara, pertarungan ideologi, dan perubahan kekuasaan pada akhirnya selalu memiliki konsekuensi terhadap manusia. Ada keluarga yang kehilangan anggota, ada individu yang kehilangan kebebasan, dan ada masyarakat yang harus menjalani kehidupan di tengah situasi yang tidak selalu mereka kehendaki.
Pandangan semacam itu juga dapat ditemukan dalam perjalanan karier jurnalistik Leila. Selama puluhan tahun, ia bekerja sebagai wartawan di majalah Tempo hingga mencapai posisi Redaktur Senior. Dalam profesinya, ia berkesempatan meliput berbagai persoalan dan mewawancarai sejumlah tokoh penting, baik dari Indonesia maupun dunia, di antaranya Nelson Mandela, Yasser Arafat, Cory Aquino, Robert Mugabe, dan H.B. Jassin.
Pengalaman jurnalistik tersebut tentu memberikan ruang bagi Leila untuk berhadapan langsung dengan beragam peristiwa dan persoalan manusia. Jurnalistik menuntut ketelitian dalam mengumpulkan informasi, keberanian dalam menyampaikan fakta, serta tanggung jawab terhadap apa yang ditulis. Kemampuan itu kemudian menjadi salah satu kekuatan dalam karya fiksinya. Leila dikenal memberi perhatian besar pada penelitian dan pengumpulan informasi sebelum mengembangkan cerita, terutama ketika berhadapan dengan latar sejarah.
Di sinilah hubungan antara perjalanan hidup pengarang dan karya sastra menjadi menarik untuk diperhatikan. Pengalaman jurnalistik Leila memberinya kedekatan dengan fakta, sedangkan sastra memberinya kebebasan untuk mengolah fakta tersebut menjadi pengalaman batin tokoh-tokohnya. Sejarah tidak hanya hadir sebagai rangkaian tanggal dan peristiwa, tetapi juga sebagai kehidupan manusia yang memiliki perasaan, hubungan, dan harapan.
Dalam Laut Bercerita, perhatian terhadap pengalaman manusia itu terlihat melalui kisah perjuangan mahasiswa, hubungan persahabatan, dan penderitaan keluarga yang kehilangan anggota keluarganya. Persoalan politik tidak semata-mata ditampilkan sebagai pertarungan antara kelompok atau kekuatan tertentu, tetapi juga sebagai sesuatu yang dapat mengubah kehidupan seseorang secara mendasar. Di balik peristiwa besar, ada manusia biasa yang harus menanggung akibatnya.
Jika dibaca melalui pendekatan ekspresif, novel ini memperlihatkan bagaimana perhatian Leila terhadap sejarah dan persoalan kemanusiaan menemukan bentuknya dalam karya sastra. Latar pendidikan Ilmu Politik dan pengalaman panjangnya sebagai jurnalis dapat membantu menjelaskan mengapa persoalan kekuasaan, kebebasan berpendapat, dan ketidakadilan memperoleh tempat penting dalam cerita. Namun, hubungan tersebut tidak berarti bahwa setiap tokoh atau peristiwa dalam novel merupakan gambaran langsung pengalaman pribadi pengarang. Pendekatan ekspresif lebih tepat digunakan untuk memahami kemungkinan hubungan antara latar kehidupan pengarang dan kecenderungan pemikiran yang hadir dalam karyanya.
Salah satu hal yang membuat Laut Bercerita terasa dekat dengan pembaca adalah keberhasilannya mempertemukan persoalan sosial dan politik dengan kehidupan keluarga. Ketika seseorang mengalami kehilangan, misalnya, peristiwa tersebut tidak berhenti pada individu yang mengalaminya. Keluarga ikut merasakan dampaknya. Orang-orang terdekat harus berhadapan dengan ketidakpastian, pertanyaan, dan ingatan yang mungkin tidak pernah memperoleh jawaban. Dengan cara ini, Leila memperlihatkan bahwa sejarah memiliki wajah yang sangat manusiawi.
Aspek sosial menjadi bagian penting dalam pembacaan novel ini. Persahabatan, solidaritas, hubungan keluarga, dan kepedulian terhadap sesama memperlihatkan bahwa manusia tidak pernah sepenuhnya hidup sendiri. Dalam situasi sulit, hubungan antarmanusia dapat menjadi sumber kekuatan sekaligus ruang tempat kehilangan dirasakan. Novel ini mengajak pembaca melihat bahwa perjuangan bukan hanya persoalan keberanian individu, tetapi juga menyangkut ikatan dan kepedulian terhadap orang lain.
Aspek politik juga menjadi salah satu lapisan utama cerita. Latar belakang pendidikan dan pengalaman jurnalistik Leila memberikan konteks untuk memahami perhatiannya terhadap kekuasaan, kebebasan berekspresi, serta pelanggaran hak asasi manusia. Akan tetapi, kekuatan sastra justru terletak pada kemampuannya menghadirkan persoalan tersebut melalui pengalaman tokoh. Pembaca tidak hanya diajak mengetahui bahwa ketidakadilan pernah terjadi, tetapi juga diajak membayangkan bagaimana rasanya hidup di tengah ketidakpastian dan kehilangan.
Sementara itu, aspek pendidikan dapat dilihat melalui cara tokoh-tokoh memahami keadaan, mengembangkan pemikiran, dan mengambil keputusan. Pendidikan dalam konteks ini tidak sekadar berkaitan dengan sekolah atau perguruan tinggi, tetapi juga dengan kesadaran kritis terhadap lingkungan sosial. Adapun aspek ekonomi dan gender dapat dikaji lebih lanjut melalui peristiwa serta penggambaran tokoh yang benar-benar hadir dalam novel. Keduanya tidak perlu dipaksakan menjadi tema utama apabila bukti tekstualnya belum cukup kuat.
Kontribusi Leila S. Chudori dalam sastra Indonesia dapat dilihat dari kemampuannya mempertemukan fakta sejarah dan imajinasi sastra. Melalui novel seperti Pulang dan Laut Bercerita, ia menghadirkan pengalaman manusia yang terdampak oleh peristiwa politik dan sejarah. Ia memberikan ruang kepada kisah-kisah yang tidak selalu memperoleh tempat dalam narasi besar tentang bangsa. Dengan demikian, sastra menjadi sarana untuk merawat ingatan, membuka ruang empati, dan mengajak pembaca memahami masa lalu dari sudut pandang manusia yang mengalaminya.
Di sisi lain, perjalanan Leila sebagai jurnalis memperlihatkan kontribusinya dalam dunia pers. Pengalaman panjang di Tempo membentuk kedisiplinan dalam mengolah informasi dan kepekaan terhadap persoalan sosial-politik. Dua bidang tersebut, sastra dan jurnalistik, kemudian saling melengkapi dalam perjalanan kreatifnya. Jurnalistik membantunya mendekati fakta, sedangkan sastra memberinya ruang untuk menggali perasaan, imajinasi, dan kompleksitas kehidupan manusia.
Pada akhirnya, Laut Bercerita memperlihatkan bahwa sebuah novel dapat menjadi ruang pertemuan antara sejarah dan kemanusiaan. Melalui pendekatan ekspresif, kita dapat memahami bahwa perhatian Leila terhadap persoalan politik, kebebasan, dan kehilangan tidak dapat dilepaskan begitu saja dari perjalanan intelektual serta pengalaman profesionalnya. Latar keluarga yang dekat dengan jurnalistik, pendidikan politik, dan pengalaman panjang sebagai wartawan menjadi konteks yang membantu pembaca memahami kecenderungan pemikiran dalam karya tersebut.
Laut dalam novel ini seolah-olah bukan hanya bentangan air yang menyimpan gelombang dan kedalaman, melainkan juga ruang metaforis tempat cerita, ingatan, dan kehilangan terus bergerak. Ada kisah yang mungkin tidak selesai ketika halaman terakhir ditutup. Ada ingatan yang tetap hidup meskipun peristiwa telah berlalu. Dan ada suara-suara manusia yang perlu terus didengarkan agar sejarah tidak hanya menjadi sesuatu yang kita hafalkan, tetapi juga sesuatu yang kita pahami melalui rasa kemanusiaan.












Tinggalkan Balasan